Bagaimana jika orang yang kamu cintai malah dijodohkan dengan kakakmu sendiri?
Lalu cinta itu tumbuh di tempat yang salah dan harus disembunyikan dari semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20 - Truth Untold
Setelah berdiskusi sebentar, kami akhirnya sepakat makan siang di sebuah restoran Sunda. Restoran Sunda tempat kami makan siang berada di lantai dua sebuah ruko sederhana. Ruangannya luas, berpendingin udara, dengan meja-meja kayu rendah dan alas duduk lesehan yang membuat suasananya terasa hangat dan akrab.
Henry duduk di seberangku. Di sampingnya, ada Pak Arman, lalu Fera dan Riki. Di sisi tempatku duduk, Caca dan Arvin duduk berjejer. Dari posisiku, aku bisa melihat dengan jelas wajah Henry yang tetap dingin—tanpa senyum, tanpa sapaan, tanpa sekilas pun tatapan yang bisa kubaca.
“Silakan pesan apa saja yang kalian mau.” ucapnya datar, tanpa menatap siapa pun.
“Baik, Pak.” jawab kami hampir bersamaan.
Caca menoleh padaku. “Kamu mau pesan apa, Li?”
Aku pura-pura menatap menu. “Sama kayak kamu aja, lah.”
Tak lama, pelayan datang dan mencatat pesanan kami satu per satu. Setelah semua makanan dipesan, percakapan bergeser membahas survei di supermarket tadi—tentang kemasan, warna, dan posisi display yang paling menarik perhatian pelanggan. Henry sesekali menimpali dengan singkat, tapi ekspresinya tak berubah sedikit pun.
Beberapa menit kemudian, makanan datang. Meja kami dipenuhi nasi liwet dalam bakul kecil, ayam goreng, sambal terasi, sayur asem, dan sepiring besar udang goreng tepung yang aromanya menggoda. Semua terlihat hangat dan mengundang selera.
Kami mulai makan dalam suasana santai. Aku sesekali melirik Henry yang hanya mengambil sedikit nasi, sayur, dan ayam goreng, tanpa menyentuh piring udang sama sekali.
Pak Arman memperhatikan hal itu. “Pak, Bapak cuma makan itu saja? Ini udangnya enak, lho.”
Henry menggeleng pelan. “Tidak, saya ini saja.”
“Kenapa, Pak? Coba sedikit, enak kok.”
Tanpa sadar, aku spontan menimpali, “Pak Henry alergi udang.”
Suasana langsung hening. Sendok di tangan Fera berhenti di udara. Semua menatap ke arahku.
Pak Arman mengerjap. “Benar begitu, Pak?”
Henry terlihat sedikit kaku. “I… iya, benar.”
Pak Arman kembali menatapku penasaran. “Lia, kok kamu tahu Pak Henry alergi udang?”
Aku terdiam. Panik. Lidahku mendadak kelu.
“Oh… itu…”
Henry buru-buru menimpali, “Saya pernah memberitahu Lili dulu.”
Aku cepat mengangguk. “Ah, iya benar.”
Aku menghela napas lega. Setidaknya Henry masih berusaha menutupinya. Meskipun bersikap dingin padaku sejak kemarin, ternyata dia masih peduli. Masih menjaga rahasia hubungan kami yang tak boleh diketahui siapa pun di kantor ini.
Namun sebelum suasana kembali normal, Arvin tiba-tiba angkat bicara. “Kenapa Bapak cuma memberitahu Mbak Lia soal alergi Bapak?”
Henry menatapnya datar. “Karena hanya Lili yang pernah bertanya.”
“Oh…” Arvin menatap Henry dengan ekspresi penasaran. “Pak, kenapa Bapak memanggil Mbak Lia ‘Lili’, sih?”
Henry menatapnya sekilas lalu menjawab datar, “Saya hanya terbiasa memanggilnya begitu.”
Arvin tersenyum kecil, nada suaranya terdengar menggoda. “Saya pikir Bapak suka sama Mbak Lia.”
Aku spontan menatap Arvin tajam, memberi isyarat agar ia segera diam. Tapi sebelum aku sempat bicara, Henry sudah lebih dulu menimpali dengan nada tenang, namun sedikit kaku.
“Tidak,” katanya singkat. “Saya tidak menyukai Lili.”
Kata-katanya terdengar tegas, tapi justru menusuk hatiku. Aku tahu Henry hanya berpura-pura, tapi tetap saja ada rasa nyeri yang sulit kujelaskan.
Henry menatap Arvin, alisnya sedikit terangkat. “Arvin, sepertinya kamu perhatian sekali dengan Lili. Jangan-jangan kamu yang menyukai Lili?”
Arvin tersenyum tipis. “Tidak ada larangan pacaran antar karyawan, kan, Pak?”
Aku sontak menatapnya, kaget.
“야! 몇 번에 말해? 나를 좋아하지마! (Hei! Udah berapa kali aku bilang? Jangan suka aku!)” seruku spontan.
Arvin menatapku kesal. “Kamu kenapa sih, Mbak, gitu banget? Kamu kan nggak punya pacar.”
Aku menghela napas panjang. “Karena aku nggak suka kamu.”
Riki yang duduk di samping Fera langsung menimpali, “Astaga… sabar ya, bro…”
Arvin justru tertawa kecil. “Jangan bilang nggak suka dulu. Waktu bisa mengubah segalanya, lho.”
Aku mendengus. “아니야. 언제까지라도 나는 너를 좋아하지 않을 거야. (Nggak. Sampai kapan pun aku nggak akan suka kamu.)”
Arvin menatapku menantang. “Kita lihat aja nanti.”
Pak Arman yang sejak tadi hanya mengamati akhirnya menepuk meja pelan. “Aduh, kalian ini… bisa-bisanya ngobrolin begituan di sini. Ada Pak Henry, lho! Apa kalian nggak malu? Dan Lia, kamu tadi ngomong apa sih? Bisa tidak sehari saja kamu nggak pakai Bahasa Korea?”
Aku menunduk cepat. “Maaf, Pak…”
Arvin ikut menunduk. “Maaf, Pak…”
Pak Arman melirik Henry. “Maafkan mereka ya, Pak.”
Henry hanya tersenyum tipis. “Tidak apa-apa.”
Setelah itu, suasana kembali tenang. Hanya suara sendok dan garpu yang terdengar. Tak ada lagi percakapan berarti sampai makan siang selesai. Begitu semua piring kosong, kami segera kembali ke kantor.
Namun sepanjang jalan, pikiranku tidak bisa tenang.
Kalimat dingin Henry terus terngiang di kepala—
“Saya tidak menyukai Lili.”
Dan entah kenapa, meskipun tahu itu bohong, hatiku tetap terasa sakit.
Setelah sampai di kantor, Fera dan Riki kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Aku pun mencoba memusatkan perhatian pada layar komputer, tapi pikiranku justru sibuk berkelana ke tempat lain. Entah mengapa, kejadian di supermarket dan rumah makan tadi terus berputar di kepalaku. Terlebih, sikap dingin Henry membuat dadaku terasa sesak.
Begitu jam pulang tiba, aku tidak bisa menahan diri lebih lama lagi. Aku harus bicara dengannya.
Angin sore menyentuh wajahku saat aku mengendarai motor menuju apartemennya. Hati ini gelisah — campuran antara cemas, takut, dan rindu. Setelah memarkirkan motor di basement, aku melangkah masuk ke lift dan menekan tombol lantai tempat unitnya berada. Begitu pintu terbuka, aku langsung berjalan ke depan unit Henry dan duduk di sana, menunggunya pulang.
Seandainya aku tahu kata sandinya, aku pasti sudah masuk sejak tadi. Tapi aku tidak tahu. Jadi aku hanya bisa menunggu.
Waktu terasa berjalan sangat lambat. Hingga akhirnya suara langkah kaki yang begitu kukenal terdengar mendekat. Saat aku mendongak, di sanalah dia — Henry — menatapku dengan raut terkejut.
“Lili? Apa yang kamu lakukan di sini?” tanyanya.
Aku berdiri, menatapnya dengan wajah penuh tanya. “Aku mau bicara, Kak.”
“Bicara apa? Kan bisa lewat pesan.”
“Pesanku kan kemarin nggak Kakak balas.” jawabku lirih.
Henry terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, “Ah, itu…”
“Kakak marah sama aku?” tanyaku pelan.
“Ayo kita bicara di dalem aja.”
Ia menekan kata sandi pintu apartemennya. Aku memperhatikan jemarinya dengan seksama, mencoba menebak. Tapi pola angka yang ditekan terasa sangat familiar. Setelah terdengar bunyi beep tanda pintu terbuka, aku menahan tangannya dan menatap layar angka itu lagi.
“Ulangi.” kataku.
Henry menatapku heran. “Apanya?”
“Kata sandinya. Masukkan lagi.”
Ia menurut. Satu per satu angka itu muncul. Aku terdiam. Tidak salah lagi — itu tanggal ulang tahunku.
“Itu… tanggal ulang tahunku, kan?” suaraku bergetar.
Henry menatapku, lalu tersenyum lembut. “Ya.”
“Kenapa kata sandinya tanggal ulang tahunku?”
“Karena aku menyukaimu.”
Aku menatapnya tak percaya. “Sejak kapan tanggal ulang tahunku jadi kata sandi apartemenmu?”
Henry menarik napas pelan. “Sejak aku benar-benar sadar bahwa aku menyukaimu. Mungkin sekitar dua tahun yang lalu.”
Hatiku seakan berhenti berdetak. Air mataku menetes tanpa bisa kutahan. Henry terkejut, buru-buru mengusap pipiku.
“Kenapa kamu menangis?” tanyanya lembut.
Aku menggeleng. “Karena aku terharu. Mama dan Papa pun sering lupa ulang tahunku… tapi Kakak malah menjadikannya kata sandi apartemenmu.”
Henry tersenyum kecil. “Itu karena aku ingin selalu mengingatmu.”
Tanpa berpikir panjang, aku langsung memeluknya. Aku hanya ingin berada di dekatnya, merasakan hangatnya pelukan itu.
“Lili,” bisiknya di dekat telingaku, “sebaiknya kita bicara di dalam. Nggak enak kalau ada penghuni lain yang lewat.”
Aku mengangguk pelan dan melepaskan pelukanku. Ia kembali menekan kata sandi lagi, lalu membuka pintu.
“Masuklah.” katanya.
Kami duduk di sofa ruang tengah.
“Kenapa Kakak nggak bales pesanku kemarin? Dan kenapa Kakak dingin banget hari ini? Kakak marah?” tanyaku akhirnya.
Henry menghela napas. “Aku nggak marah. Cuma… agak kesel aja kamu akrab banget sama Arvin.”
Aku menatapnya tidak percaya. “Aku sama Arvin nggak akrab, Kak. Kami cuma sama-sama suka Korea dan bisa Bahasa Korea. Itu aja.”
Henry menunduk. “Nah, itu yang bikin aku iri. Rasanya kayak ada dunia yang cuma bisa kalian pahami.”
Aku menggenggam tangannya erat. “Kak, meski begitu… aku nggak pernah suka sama Arvin. Orang yang aku suka cuma kamu. Jadi jangan marah, jangan diemin aku lagi, ya? Hanya kamu tempatku bersandar. Kalau kamu marah, aku nggak tahu lagi harus bersandar ke siapa.”
Ia menatapku lama, lalu mengangguk kecil. “Aku nggak akan marah lagi. Dan aku akan percaya sama kamu.”
Aku tersenyum lega, lalu memeluknya. “Makasih, Kak. Aku sayang Kakak.”
Henry membalas pelukanku lembut. “Aku juga sayang kamu.”
Aku perlahan melepaskan pelukanku, menatap matanya dalam-dalam. Tatapan itu hangat, tapi juga membuat dadaku berdebar hebat.
“Lili,” katanya lirih, “kenapa kamu menatapku begitu?”
Aku tidak menjawab. Aku hanya mengalungkan kedua lenganku ke lehernya dan berbisik pelan, “Aku ingin merasakannya lagi.”
“Merasakan apa?” tanyanya heran.
“Bibirmu.” jawabku jujur.
Ia tampak terkejut. “Apa?!”
Sebelum sempat ia berkata lebih jauh, aku menutup jarak di antara kami dan mencium bibirnya.
Ciuman itu lembut di awal, namun perlahan semakin dalam. Ia sempat terdiam, tapi kemudian membalasnya — seolah semua perasaan yang selama ini kami tahan akhirnya menemukan jalan keluar.
Aku menutup mata, membiarkan waktu berhenti. Saat itu, dunia di sekitarku menghilang; yang ada hanya kami berdua. Segala ragu, cemburu, dan salah paham seakan mencair di antara debar jantung yang berpadu.
Untuk pertama kalinya, aku benar-benar yakin — aku mencintainya, dan dia juga mencintaiku.