Kai di reinkarnasi setelah mengalami kecelakaan mobil akibat menolong anak kecil , setelah di Reinkarnasi , ia kembali menjalani kehidupan keduanya , tetapi suatu hari ini malah masuk kedunia ketiga , apakah ada sesuatu yang direncanakan ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Kai hanya mengangguk.
Petugas itu kemudian menyerahkan sebuah kartu logam tipis dengan lambang guild terukir di permukaannya.
“Dengan ini, pendaftaran Anda resmi selesai. Mulai sekarang, mohon kerja samanya, petualang baru Kai-san.”
“Baik.”
Kai menerima kartu itu. Ia terlihat sedikit ragu, seperti ingin mengatakan sesuatu.
Petugas itu memperhatikan ekspresinya. “Ada yang ingin Anda tanyakan?”
Kai menggaruk pipinya pelan. “Tidak ada yang penting. Hanya saja… tadi aku mendengar ada pembicaraan tentang penyihir misterius yang muncul.”
Petugas itu memegang kepalanya dengan kedua tangan, wajahnya benar-benar terlihat lelah.
“Anda tahu tidak,” katanya dengan nada frustrasi, “gara-gara kejadian itu bukan cuma guild yang heboh. Seluruh negara jadi gempar.”
Kai berkedip pelan.
“Loh, kok?”
“Bukannya ini harusnya jadi cerita hebat? Semacam legenda baru gitu?”
Petugas itu langsung menegakkan badan dan hampir berteriak.
“Ini bukan sesuatu yang bisa dianggap enteng!”
Beberapa petualang di sekitar mereka sampai menoleh.
“White Snow saja tidak bisa mengatasinya! Dan sekarang terbukti bahwa spesies naga legendaris benar-benar ada!”
Petugas itu menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri.
“Padahal itu saja sudah cukup bikin pusing. Lalu muncul pula penakluk naga yang identitasnya tidak diketahui. Menurut mu itu kabar baik?”
Wajah Kai mulai berkeringat.
“Le-legendaris?”
“Spesies naga?”
“Tunggu… tunggu sebentar…”
Ia bergumam pelan, hampir tak terdengar.
“Jadi monster itu sama sekali bukan kadal raksasa biasa…?”
Kai terdiam.
Ia lalu bertanya pelan, “Memangnya… White Snow memang sehebat itu?”
Petugas itu langsung berubah serius.
“Tentu saja. Mereka adalah party terkuat di kerajaan ini.”
Ia mulai menghitung dengan jarinya.
“Marina, seorang Archmage yang mampu mengendalikan tiga elemen sihir sekaligus.”
“Nia, prajurit dengan kekuatan fisik setara manusia super. Dulunya tentara bayaran.”
“Violet, spesialis penyusupan dan pengintaian. Hampir tak pernah gagal dalam misi rahasia.”
“Cecil, anggota termuda sekaligus murid penyihir ternama.”
“Dan pemimpin mereka, pendekar pedang jenius Amane Garden.”
Petugas itu menatap lurus ke arah Kai.
“Di antara mereka ada dua petualang dengan level 102 dan 104. Kelas terkuat.”
“Itulah White Snow. Party dengan kekuatan terhebat di seluruh kerajaan ini.”
“Sekarang Anda paham?” tanya petugas itu.
Kai hanya tersenyum tipis.
Dalam pikirannya justru muncul pertanyaan lain.
“Dengan kekuatan seperti itu… kenapa mereka masih kesulitan?”
Lalu tiba-tiba—
“EH?!”
Kai tanpa sadar berteriak cukup keras hingga membuat petugas itu tersentak.
Beberapa petualang menoleh lagi.
Kai langsung menundukkan kepalanya.
“Aku… aku menolong sekelompok orang terkuat itu?”
Ia mulai bergumam cepat.
“Dan tadi dibilang naga legendaris… itu berarti harta karun nasional dong? "
Petugas itu ikut membungkuk sedikit, khawatir.
“Anu… Kai-san? Anda baik-baik saja? Wajah Anda terlihat pucat.”
Kai berdiri perlahan.
Saat Kai masih belum sepenuhnya mencerna ucapan itu petugas itu kembali berkata...
" Kemungkinan seluruh negara akan mengerahkan pasukan untuk mencari orang misterius itu "
Kai kembali melotot , tanpa berkata apapun , dan tanpa menoleh lagi ia berjalan keluar dengan tubuh sempoyongan.
Sesampainya di rumah, Kai langsung berbaring di kasur.
“Bagaimana ini…” “Sekarang aku jadi buronan dari semua negara.”
Kai mengurung diri selama beberapa hari. Karena tak ingin terus tenggelam dalam stres, akhirnya ia memutuskan pergi ke guild petualang.
Saat ia masuk kata kata soal penyihir itu masih terdengar di telinganya.
“Selamat datang kembali, Kai-san. Mau ambil misi hari ini?”
“Iya. Tolong beri aku misi.”
Kini Kai berada di hutan. Di depannya, segerombolan goblin berkumpul.
Kai mengucapkan satu kalimat pelan, “Kalian akan ku jadikan pelampiasan.”
Ia berlari maju. Para goblin ikut menyerbu.
SHING… SHING… SHING…
Satu per satu goblin itu roboh.
“Saat aku pergi ke guild, aku diberi satu tes… mengalahkan 10 goblin.”
“Setelah menyelesaikan ini, aku bisa memenuhi syarat kekuatan dasar.”
“Aku akhirnya bisa menjadi seorang petualang.”
“Dan aku tidak ingin jadi mencolok lagi.”
Baru beberapa detik berlalu, sepuluh goblin sudah tergeletak tak bernyawa.
“Ini terlalu mudah… Aku bahkan belum merasa puas.”
Kai memungut batu kristal yang muncul setelah para goblin mati.
Kita hanya perlu memasukkan batu kristal itu ke dalam kartu. Setelah itu, serikat akan memindainya ulang nanti.
Karena belum merasa puas, Kai berjalan lebih dalam ke hutan.
Saat melewati bebatuan besar, ia berhenti.
Di sana berdiri seekor goblin besar memakai mahkota dan memegang pentungan kayu raksasa.
Di depannya, sekitar tubuh puluh goblin kecil berjaga, melindunginya.
— KING GOBLIN —
Kai berjalan mendekat kearah kawanan itu para goblin yang melihat Kai dari kejauhan langsung bersiaga.
“Kebetulan sekali…”
Kai mengucapkan dua kata itu dengan senyum lebar terukir di wajahnya.
Ia berlari cepat ke arah gerombolan tersebut.
SHING… SHING… SHING…
“Hahaha… hahahahaha…”
Kai tertawa puas menikmati pembantaian itu.
Goblin-goblin berjatuhan satu per satu. Darah menyembur, tubuh mereka berubah menjadi batu kristal.
Hingga akhirnya, tersisa King Goblin dan dua jenderalnya.
Kini kai berdiri berhadapan dengan ketiga goblin itu katananya meneteskan darah perlahan.
Sebelum kedua jenderal itu sempat maju, Kai sudah berada di belakang mereka.
SLASH!
Dalam satu ayunan, tubuh kedua jenderal goblin itu terbelah.
Kini hanya tersisa King Goblin.
Makhluk itu mengayunkan senjatanya ke arah Kai, tetapi Kai seakan mengejeknya—menghilang lalu muncul kembali.
Ia melakukan itu berulang kali.
Satu ayunan pedang—
Satu tangan King Goblin terlepas.
Makhluk itu meraung, mencoba menyerang dengan sisa kekuatannya. Namun Kai kembali menghilang.
Ayunan berikutnya—
Tangan satunya lagi terpenggal.
“ARRRRGH!”
Darah mengalir deras dari kedua lengannya.
Kai muncul tepat di hadapannya, tersenyum puas.
Satu tebasan fatal mengakhiri hidup King Goblin itu.
Kai menghentakkan kedua pedangnya darah terpental seperti air dari bilah tajam pedang itu , setelahnya kai menyarungkan kembali pedangnya.
Di hadapannya, batu-batu kristal berserakan begitu banyak.
Namun Kai tidak memungutnya.
Ia justru membakarnya.
Di jalan kota yang ramai, Nia dan Amane berjalan santai sambil berbincang. Suasana sore itu begitu hangat meskipun dipenuhi suara pedagang dan langkah para pejalan kaki.
“Jadi kita benar-benar akan mencarinya? Si penyihir misterius itu?” tanya Nia sambil melirik ke samping.
“Tentu saja,” jawab Amane tanpa ragu.
“Beraninya dia pergi begitu saja… bahkan tidak memberiku kesempatan untuk mengucapkan terima kasih.”
Langkah Amane terhenti. Ia menoleh pada Nia, tatapannya berubah serius.
“Dengan cara apa pun akan ku gunakan.”
“Aku bersumpah akan menemukannya.”
Nia menyeringai, wajahnya dipenuhi ekspresi jahil.
“Oh ya? Setelah berterima kasih…” katanya pelan, sengaja menggantung kalimatnya.
Ia menutup mulutnya dengan satu tangan, pura-pura terkejut.
“Jangan-jangan kamu ingin sesuatu yang lebih dari sekadar ucapan terima kasih? Menghabiskan waktu berdua atau semacamnya?”
“Hei-hei, Nia!” Amane langsung membantah.
“Jangan menggodaku!”
Namun wajahnya sudah lebih dulu memerah, membuat Nia makin sulit menahan tawanya.
semoga semua sehat selalu ya,
Aamiin