––Tak ada angin, tak ada hujan, Ailena di ajak oleh seorang laki-laki yang entah muncul darimana tiba-tiba menarik nya menuju kantor urusan agama (KUA).
"Cepat katakan nama mu! Dan tanda tangan setelah nya" desak Haikal dengan nada tegas.
"Tapi kita nggak saling kenal!"
"Nanti kenalan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hanisanisa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(23) Makasih Tikus
Ailena nampak termenung di closet wc rumah nya, ia sedang panggilan alam dengan tenang walau telinga sejak tadi gelisah mendengar bunyi grasak-grusuk dari atas plafon.
Srak srak
Dug dug dug
Ailena berdecak dan segera menyelesaikan panggilan nya. Sesekali ia melongok ke atas dengan raut was-was.
Gubrak
Saat Ailena sedang memasang celana nya, tiba-tiba seekor tikus jatuh beserta plafon yang menang sudah rapuh dan naas nya terinjak oleh tikus yang seperti nya sedang kejar-kejaran dengan sesama tikus.
"AAAAAAA! HAIKAAAAAAALLL!" pekik Ailena dengan suara nyaring yang memantul karena pintu kamar mandi yang tertutup.
"HAIKAAAAALLLL! ADA TIKUUUUUSSSS!" Ailena kembali berteriak dan air mata yang sudah mengenang di pelupuk mata.
Ailena sendiri berteriak dengan mundur-mundur, untung nya kaki nya tidak masuk ke dalam lubang closet.
Dengan kaki gemetar dan jantung yang berdegup ia memicingkan mata melihat tikus yang menatap nya balik dengan siaga seperti nya juga.
Brak
Pintu pun terbuka dan langsung menampilkan Haikal dengan raut cemas, ia sedang mencuci motor di luar jadi tak terlalu mendengar teriakan Ailena.
Tikus yang sempat bersitatap dengan Ailena pun segera kabur tunggang langgang melewati Haikal dengan secepat kilat.
Grep
"Hiks.. Aku takut.. Tikus" isak tangis Ailena langsung teredam di kaos oblong Haikal setelah tikus tadi meleset kabur.
Haikal segera mendekap dan menggendong Ailena ala koala, plafon wc juga nampak nya juga begitu rapuh hingga berserakan di lantai wc.
Haikal membiarkan Ailena menangis di dalam gendongan layak nya seorang anak kecil yang mengadu mainan nya di ambil oleh teman nya yang lain.
Hingga beberapa saat, tangisan Ailena mereda tapi masih dalam posisi di gendong oleh Haikal.
"Nanti ku perbaiki plafon nya ya, biar tikus yang lain nggak jatuh waktu main di atas" ujar Haikal mendapat gelengan kepala dari Ailena yang malah keenakan di dalam gendongan Haikal.
"Kalau nggak di perbaiki, nanti kamu nggak bisa pipis atau e*k lagi dong Yang" ucap Haikal setelah mendapat tanggapan berupa gelengan.
"Rumah kamu.. Ada tikus nya nggak?" tanya Ailena di sela sesenggukan yang masih belum bisa reda.
Ia bahkan bersandar di pundak Haikal menghadap ke leher Haikal, membuat nafas nya yang hangat langsung menerpa kulit Haikal.
"Nggak ada kok Sayang.. Jadi, kamu mau pindah rumah?" jawab Haikal sudah dapat menebak dari pertanyaan Ailena.
Ailena mengangguk. "Kalau sampai ada tikus lagi.. Pindah rumah lagi, nggak mau tau" gumam Ailena, karena lelah menangis mata nya pun terpejam dalam gendongan Haikal.
Haikal menghela nafas pelan. "Aku harus bilang makasih ke tikus kalau kayak gini cara nya" gumam Haikal setelah mendengar dengkuran halus dari Ailena.
Haikal sendiri tak merasa keberatan Ailena tidur dalam gendongan nya, karena berat badan Ailena yang masih ringan membuat Haikal terlihat santai tanpa kelelahan.
Hingga kaki Haikal terasa kebas kelamaan berdiri, baru lah ia membawa Ailena masuk ke dalam kamar dan menaruh nya dengan pelan di kasur yang tak empuk itu.
Lalu Haikal kembali melanjutkan kegiatan nya mencuci motor yang sudah hampir selesai dengan buih-buih sabun yang sudah mengalir ke tanah.
Setelah menyelesaikan mencuci motor, Haikal duduk di teras sejenak sembari mengetik sesuatu di layar hp nya.
Tak lama terdengar bunyi telepon yang langsung segera Haikal angkat dan di tempelkan ke telinga.
"Ya, segera bawa ke jalan yang sudah saya share lokasi tadi, tak banyak bawaan nya hanya perkakas yang mungkin istri saya masih ingin pakai"
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
❤️❤️❤️❤️❤️
sehat-sehat ya kakkk ❤️