Andrean Wibisono dikenal sebagai jurnalis paling perfeksionis, disiplin, dan menegangkan —menurut para rekan kerjanya. Hidupnya diatur oleh data dan struktur berita yang rapi.
Masalah hidup Andrean muncul setiap kali dia harus berurusan dengan Alena Maharani yang santai, spontan, percaya insting, dan entah bagaimana selalu selamat meski hobi sekali mepet deadline. Bagi Andrean, Alena adalah clickbait berjalan yang selalu santai menghadapi apapun, sedangkan bagi Alena, Andrean adalah robot jurnalistik yang siap mengingatkan Alena tentang kode etik jurnalistik dalam situasi apapun.
Ketika sebuah proyek liputan spesial memaksa mereka menjadi partner, bencana pun dimulai. Bagaimana kelanjutan kisah dua jurnalis yang saling bertolak belakang ini? Simak dalam Hotnews: I Love You
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Paham, Salah Orang, Serba Salah
Setelah sehari sebelumnya mengumpulkan data dan menemukan bukti yang cukup kuat terkait laporan minyak goreng oplosan, Andrean dan Alena hari ini memutuskan untuk terjun ke lapangan menemui pihak pelapor.
Pak Indra sudah menghubungi pihak pelapor untuk mengkonfirmasi kedatangan Andrean dan Alena untuk meminta keterangan lebih lanjut terkait laporan yang diberikan. Setelah memastikan semua siap, Andrean berangkat.
Atas permintaan Alena, Andrean menjemput Alena di rumahnya yang ternyata tak terlalu jauh dari kantor redaksi. Ternyata Alena sudah menunggu di depan rumah —yang terbilang cukup mewah— sambil berdiri bersandar di pagar saat Andrean tiba.
"Sorry," kata Andrean saat Alena memasuki mobilnya.
"Eh?"
"Lo udah nunggu," kata Andrean datar.
"Oooh... Nggak apa-apa. Biar cepet aja. Daripada lo harus turun. Kalo gue nunggu di depan kan lebih hemat waktu," kata Alena sambil memasang sabuk pengaman. Andrean hanya mengangguk.
Mobil Toyota Rush Andrean melaju perlahan menuju destinasi. Membutuhkan waktu sekitar tiga jam lebih untuk sampai ke alamat saksi kunci. Alena, yang duduk di kursi penumpang, mencoba melihat destinasi mereka dalam maps di ponselnya.
"Keknya tujuan kita pelosok banget deh," kata Alena sambil mengerutkan kedua alisnya saat melihat maps.
"Iya. Kemungkinan terburuknya nggak ada sinyal disana," kata Andrean santai.
"Hmmm..."
Andrean menoleh ke arah Alena yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Lo pertama kali liputan kek gini?" tanya Andrean, mencoba mencari bahan pembicaraan.
"Investigasi maksud lo? Pernah sekali sih. Cuma tempatnya nggak pelosok kek gini," kata Alena.
Andrean jadi teringat rumah Alena. Andrean kemudian berpikir bahwa Alena akan merasa jijik saat tiba di lapangan nanti.
"Kalo capek, gue gantiin," kata Alena.
"Gue pernah nyetir lebih jauh dari ini. Sendirian," kata Andrean datar.
"Oh! Iya. Kan lo robot ya? Mana kenal capek? Ya udah. Ntar kalo udah sampe bangunin ya," kata Alena lalu memejamkan matanya. Andrean sedikit terkejut mendengar respons Alena. Bukannya terkesan, Alena justru meledek Andrean.
'Sial,'
***
Tiga jam berlalu. Kini mobil Andrean memasuki sebuah jalan kecil khas pedesaan dengan kanan kiri hamparan area persawahan yang hijau seluas mata memandang. Alena menggeliat pelan. Hampir dua jam penuh dia tidur nyenyak —setidaknya begitu yang tampak di mata Andrean.
"Belum sampe?" tanya Alena pelan sambil menguap.
"Masih jauh," jawab Andrean datar sambil fokus melihat jalanan dan maps bergantian.
"Udah tiga jam belum nyampe juga? Bukannya estimasi waktunya sampe dalam tiga jam?" tanya Alena sambil melihat maps dan jam tangannya bergantian.
"Gue tidur dulu tadi. Sebentar," kata Andrean. Alena menoleh ke arah Andrean.
"Jadi lo bisa capek? Kenapa nggak bangunin gue, Robot?" kata Alena gemas.
"Bangunin lo udah kek bangunin orang mati. Sia-sia," kata Andrean, bohong. Dia hanya tak suka mengganggu tidur orang lain, apalagi yang terlihat nyenyak.
"Nggak ada ya gue dibangunin susah. Denger suara nyamuk aja gue bangun," kata Alena membantah.
"Dalam dua ratus meter belok kiri," mbak-mbak operator maps berhasil melerai perdebatan Andrean dan Alena.
Mobil Andrean berhenti di depan gang. Setelah melihat sepertinya mustahil mobilnya masuk gang, Andrean memutuskan untuk memarkir mobilnya di bahu jalan sebelum masuk gang.
"Akhirnya sampe juga!" kata Alena sambil keluar meregangkan tubuhnya. Andrean hanya mendengus sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Abis ini gue yang bawa mobil lo," kata Alena sambil berjalan di samping Andrean.
"Abis ini kita nyari narsum kedua," kata Andrean.
"Makan dulu,"
"Sambil jalan,"
"Kan gue yang bawa mobil,"
"Gue belum bilang iya,"
"Nah tuh. Udah,"
Perdebatan selesai. Andrean merasa tenaganya sudah menguap bersama bahan bakar mobilnya. Dia melihat Alena yang berjalan melenggang dengan santai dan antusias seperti anak SD tengah outing class. Siluet Alena yang segar kontras sekali dengan background pemukiman menengah ke bawah yang mereka kunjungi.
Rumah-rumah kecil berhimpit seperti tak ingin menyisakan tanah satu senti pun untuk tempat bernafas rumah mereka. Banyak rumah yang masih terbuat dari kayu yang bahkan beberapa sisi atapnya terlihat ambrol —mirip rumah hantu di film horor. Banyak warga lokal yang sedang menjemur gabah di hampir separo jalan gang yang mereka lewati.
Andrean berjalan perlahan sambil melihat ke sekeliling. Warga lokal yang tengah sibuk menjemur gabah terlihat menatap Andrean dan Alena dengan penuh tanda tanya. Alena terlihat sibuk mengambil gambar dengan kameranya yang entah sejak kapan sudah ia keluarkan.
"Permisi Bu," kata Alena pada seorang ibu-ibu muda yang sedang menggendong balita.
"Ya, Neng?"
"Mau tanya. Rumahnya Pak Slamet dimana ya?" tanya Alena ramah.
"Waduh. Pak Slamet siapa ya, Mbak? Disini yang namanya Slamet ada banyak. Suami saya juga namanya Slamet," kata ibu-ibu itu sambil tersenyum. Alena melongo sambil menatap Andrean.
"Kenapa?" tanya Andrean ketika sudah berdiri di samping Alena.
"Oooo.... Pak Slamet!" seketika ibu muda itu berteriak seakan tahu Pak Slamet mana yang Alena maksud. Alena dan Andrean saling tatap.
"Mari-mari saya antar, Mbak, Mas," kata ibu muda itu sambil tersenyum penuh makna.
Andrean dan Alena dengan ragu-ragu berjalan mengikuti ibu muda itu. Keduanya saling bertukar pandang, bingung.
"Pak Slamet emang udah terkenal dimana-mana, Mbak, Mas. Banyak yang berhasil," kata ibu muda itu sambil berjalan menyusuri gang. Andrean menoleh ke arah Alena sambil mengerutkan alis. Alena mengangkat kedua bahunya melihat ekspresi Andrean.
"Maaf, Bu. Berhasil apa ya?" tanya Alena ragu-ragu. Ibu muda itu menoleh ke arah Alena yang berjalan di belakangnya sambil tersenyum penuh makna.
"Mbaknya sudah berapa tahun?" tanya ibu muda itu, tak menjawab pertanyaan Alena. Alena mengerutkan alis, semakin bingung. Andrean menggelengkan kepalanya, tak paham tentang arah tujuan ibu muda itu —baik langkah kakinya atau pertanyaannya.
"Saya?" tanya Alena memastikan. Ibu muda itu mengangguk.
"Saya sudah dua puluh delapan tahun, Bu," jawab Alena.
"Lhoh. Bukan itu maksud saya," kata ibu muda itu sambil tertawa kecil.
"Trus? Apa, Bu?" tanya Alena penasaran.
"Nah. Ini. Rumah Pak Slamet," kata ibu muda itu sambil berhenti di sebuah rumah.
Rumahnya berbeda dengan rumah kebanyakan penduduk sekitar yang sempit dan berhimpit. Rumah —yang katanya milik Pak Slamet— ini lebih besar dari rumah-rumah di sekitarnya. Bahkan memiliki halaman rumah yang cukup luas. Terlihat beberapa anak usia belum sekolah sedang bermain di halaman itu.
"Mari," kata ibu muda itu sambil memandu Andrean dan Alena memasuki kawasan rumah Pak Slamet.
Andrean dan Alena lagi-lagi saling bertukar pandang. Keduanya merasakan perasaan aneh. Seperti ada yang salah. Tapi, apa?
"Ini, Mbak, Pak Slamet. Dukun yang bisa bikin Mas dan Mbak cepet punya momongan," kata ibu muda itu sambil memperkenalkan sosok pria paruh baya dengan rambut gondrong beruban dan jenggot putih tipis yang cukup panjang. Andrean dan Alena saling menatap satu sama lain.
'Hah? Cepet punya momongan?!'
***
ceritanya menarik, selalu dinanti.
🥰❤