Lima tahun Arabella Reese bertahan dalam pernikahan sepi bersama Devano Altair Wren, seorang dokter forensik jenius yang lebih mencintai mayat dan masa lalunya daripada istrinya sendiri. Devan yang dingin dan kaku hanya menganggap pernikahan mereka sebagai hutang budi keluarga.
Puncaknya, di malam ulang tahun pernikahan kelima, dunia Ara runtuh dua kali. Ia menemukan bukti perselingkuhan Devan dengan Liliana, cinta masa lalu suaminya. Di saat yang sama, berita kecelakaan maut merenggut nyawa orang tuanya.
Ara memilih pergi membawa surat cerai, namun takdir justru memaksanya kembali bersinggungan dengan Devan. Saat kebenaran tentang konspirasi kematian orang tua mereka mulai terungkap melalui jejak forensik, Devan sadar ia telah kehilangan satu-satunya wanita yang tulus mencintainya. Kini, sang dokter harus memilih: membedah misteri masa lalu yang kelam, atau menjahit kembali hati istrinya yang telah ia hancurkan berkeping-keping.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penebusan di Atas Kertas
Pagi itu, kediaman Wren tidak lagi terasa seperti istana es, melainkan sebuah markas besar yang sibuk. Devan tidak kembali ke ruang otopsinya di kepolisian. Ia duduk di meja ruang makan yang luas, namun kali ini meja itu dipenuhi oleh tumpukan berkas hukum, laptop yang menyala, dan puluhan bukti digital yang selama ini ia abaikan.
Di hadapannya, tiga pengacara papan atas dan seorang detektif swasta duduk dengan tegang.
"Aku tidak ingin ada celah sedikit pun," suara Devan terdengar rendah, tenang, namun mengandung ancaman yang mematikan. "Pastikan Liliana tidak hanya dipenjara karena penculikan, tapi juga atas pencemaran nama baik, pemalsuan bukti video, dan keterlibatannya dalam penggelapan aset keluarga Reese. Dan untuk Kakek..."
Devan terdiam sejenak, menatap kunci perak di tangannya. "Gunakan rekaman suara Ayah Ara. Buktikan bahwa Kakek melakukan intimidasi dan pembunuhan berencana terhadap Ibuku. Aku ingin dia menghabiskan sisa hidupnya di sel paling gelap, tanpa akses ke satu rupiah pun dari harta Wren."
"Tapi Dokter Devan," sela salah satu pengacara, "itu akan menghancurkan reputasi keluarga Anda juga. Anda akan kehilangan segalanya."
"Aku sudah kehilangan segalanya saat aku mengabaikan istriku," jawab Devan tanpa keraguan sedikit pun. "Lakukan."
Di lantai atas, Ara berdiri di balkon, memperhatikan mobil-mobil pengacara yang mulai meninggalkan pelataran rumah. Ia sudah mengganti pakaiannya, sebuah koper kecil berdiri di samping kakinya. Meskipun Devan sudah bersujud dan mulai menghancurkan "kerajaan berdarah" kakeknya, luka lima tahun tidak bisa dijahit dalam semalam.
Devan muncul di ambang pintu balkon. Ia melihat koper itu, dan jantungnya serasa berhenti berdetak.
"Kau akan pergi?" tanya Devan lirih. Ia tidak berani mendekat lebih dari dua meter.
Ara berbalik, menatap pria yang kini tampak begitu rapuh meski baru saja memerintahkan perang hukum. "Aku butuh ruang, Mas. Melihatmu setiap hari hanya mengingatkanku pada pintu yang terkunci itu. Aku tidak bisa berpura-pura semuanya sembuh hanya karena kau sudah ingat."
Devan menunduk. "Aku mengerti. Aku sudah menyiapkan apartemen atas namamu, bukan apartemen Jasper, tapi atas namamu sendiri. Kau tidak perlu berhutang pada siapa pun."
Ara tersenyum pahit. "Kau masih saja mencoba mengatur segalanya, Mas."
"Bukan mengatur, Ra. Hanya memastikan kau aman," Devan memberanikan diri menatap mata Ara. "Apakah... apakah kau akan pergi pada Alaska?"
Ara menghela napas panjang, menatap langit sore yang mendung. "Kau dan Alaska... kalian berdua sama saja. Kalian memperebutkan aku seolah-olah aku adalah piala atau objek kepemilikan. Kau dengan obsesi dan rasa bersalahmu, dan Alaska dengan ambisi penyelamatnya."
Ara melangkah maju, berdiri tepat di depan Devan. "Dengar, Mas. Aku tidak memilih di antara kalian. Aku tidak memilihmu, tapi aku juga tidak memilih Alaska. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku ingin memilih diriku sendiri. Aku ingin menjadi Arabella yang bukan istri seorang dokter forensik, dan bukan sahabat seorang CEO."
Devan terpaku. Jawaban itu lebih menyakitkan daripada melihat Ara bersama Alaska. Karena itu berarti ia benar-benar telah kehilangan tempat di hati Ara.
"Berapa lama?" bisik Devan.
"Aku tidak tahu. Mungkin selamanya, mungkin sampai aku bisa melihatmu tanpa merasa sesak," jawab Ara. Ia meraih pegangan kopernya. "Terima kasih karena sudah mengurus proses hukum untuk Ayah. Itu adalah hal paling benar yang pernah kau lakukan."
Saat Ara berjalan melewati Devan, Devan tidak menahannya. Ia hanya memejamkan mata, membiarkan aroma lily yang terakhir kalinya menyentuh indra penciumannya.
"Ara," panggil Devan saat istrinya sudah di tangga.
Ara berhenti tanpa menoleh.
"Aku akan terus mengirimkan laporan perkembangan kasus itu setiap minggu. Bukan untuk mengganggumu, tapi agar kau tahu... bahwa keadilan untuk orang tuamu sedang berjalan. Dan aku..." Devan menelan ludah yang terasa pahit. "Aku akan menunggumu di depan pintu ini. Dan kali ini, pintunya tidak akan pernah terkunci lagi."
Ara tidak menjawab. Ia terus melangkah keluar, masuk ke dalam taksi yang sudah menunggunya, meninggalkan Devan yang berdiri sendirian di rumah besar yang kini benar-benar menjadi kosong.
tuh kan .... Ara mah emang kedemenan nya ama Devan /Sob/
kasian Alaska🤭
ada 2 tim nih ,
tim Devan & tim Alaska
awalnya aku tim Alaska ....
pas dibaca terus kok ..... Devan berubah yaa...
/Chuckle//Chuckle/
bantu vote.. /Chuckle/