Kaniya, seorang wanita muda yang berani, menolak perjodohan yang diatur oleh orang tuanya. Dia kabur dari rumah dan mencari perlindungan di perusahaan tempatnya bekerja. Di sana, dia bertemu dengan atasannya, Agashtya, yang juga kabur dari perjodohan orang tua. Mereka berdua bekerjasama untuk menjaga rahasia masing-masing, tapi suatu malam, mereka tak sengaja tidur bersama.
Beberapa bulan kemudian, mereka berdua terkejut ketika mengetahui bahwa orang yang dijodohkan oleh orang tua mereka tak lain adalah mereka sendiri. Kaniya dan Agashtya harus menghadapi kenyataan bahwa mereka telah jatuh cinta, tapi adakah kesempatan bagi mereka untuk bersama? Dan apa yang terjadi ketika adik mereka, Bintang dan Shanaya, juga saling jatuh cinta satu sama lain?
Kaniya dan Agashtya duduk di ruang kantor, mencoba memahami situasi mereka.
"Apa bapak percaya ini?" tanya Kaniya, suaranya hampir tidak terdengar
Agashtya menggelakkan kepalanya. "Saya tidak tahu apa yang harus dikatakan. Aku tidak pernah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Wilis , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada Apa Dengan Dadi Maa
Kaniya akhirnya berpamitan untuk ke kamarnya karena kepalanya serasa berputar.
"Ma, aku mau tidur dulu, ya. Aku ngerasa gak enak badan banget hari ini..." ucapnya dengan suara melemah
Mama Anindika yang sedang mengomeli Kaniya karena pulang bukannya langsung kerumah malah bikin repot Bu Siti, langsung berhenti ketika mendengar ucapan Kaniya.
"Apa kamu masih sakit, iya?" tanya Mama Anindika dengan nada yang berubah menjadi peduli
Shanaya yang berdiri di sebelah Kaniya, langsung memegang bahu Mama Anindika.
"Ma, jangan diomeli lagi, ya. Kak Kaniya memang lagi gak enak badan. Biarin dia istirahat dulu," ucap Shanaya dengan nada yang lembut
Mama Anindika mengangguk, "Oke, sayang. Kamu pergi tidur dulu, ya. Mama akan bikinkan kamu ramuan nanti..."
Kaniya mengangguk lemah dan pergi ke kamarnya, disusul oleh Shanaya yang ingin memastikan kakaknya baik-baik saja. Setelah Kaniya berbaring di tempat tidur, Shanaya membantunya menutup selimut dan memberinya segelas air.
"Kak kamu butuh apalagi biar nyaman?" tanya Shanaya
Kaniya menggelakkan kepala, "Gak, gue udah mendingan. Thanks, Shan..."
Shanaya tersenyum dan pergi meninggalkan kamar Kaniya, meninggalkan kakaknya yang beranjak tidur.
Agashtya tampak kacau sekali penampilannya petang ini ketika memasuki kawasan rumahnya. Bahkan ia mencari kedua orang tuanya, namun tak ada satu pun yang terlihat.
"Mom...mom...mo......" teriaknya memanggil mommy nya yang biasanya berada di rumah ketika jam segini
Tiba-tiba saja asisten rumah tangganya yang bernama Naomi menghampirinya.
"Tuan Agashtya sudah pulang. Tadi Tuan dan Nyonya Besar berpesan jika Tuan Agas dan Tuan Bintang pulang, saya disuruh menyampaikan pesan bahwa Tuan dan Nyonya sedang keluar negeri untuk menjenguk Dadi Maa. Katanya Dadi Maa jatuh pingsan di kamar mandi karena serangan jantung tiba-tiba...."
Agashtya pun terkejut dan berkata, "Apa? Dadi Maa terkena serangan jantung?"
Agashtya pun panik, dan disaat yang bersamaan, Bintang pun menuruni anak tangga dengan menyeret tas kopernya. Agashtya pun mendongak menatap adiknya yang bersiap untuk pergi.
Sementara Bintang berkata, "Bhai, ayo kita ke Agra sekarang juga! Dadi Maa kritis..."
Agashtya pun bergegas ingin menyiapkan pakaiannya terlebih dahulu, namun Bintang berkata, "Sudah ada dalam koper, dan aku juga udah bilang ke Alex buat handle perusahaan untuk sementara waktu..."
Kemudian mereka pun bergegas masuk ke mobil Bintang yang dikendarai oleh Pak Karta, mereka menuju bandara.
"Kita harus sampai di Agra, secepatnya," ucap Bintang dengan nada yang tegas
Agashtya hanya mengangguk, masih terlihat panik dan pikirannya pun juga masih kacau. Niatnya ingin memberitahu mommy nya mengenai hubungannya dengan Kaniya malah dirinya dikejutkan dengan adanya kabar bahwa neneknya tengah mengalami serangan jantung.
Mereka pun tiba di bandara, Bintang dengan sigap langsung menuju loket untuk membeli dua tiket menuju New Delhi malam ini juga. Sementara itu, Pak Karta berpamitan pulang setelah menurunkan dua koper milik kedua tuan mudanya.
"Pak Karta, terima kasih ya. Tolong jaga rumah baik-baik," ujar Bintang santun
Pak Karta mengangguk, "Baik, tuan Bintang. Semoga Dadi Maa cepat sembuh..."
Bintang dan Agashtya pun mengaminkan doa Pak Karta, kemudian mereka berdua menunggu antrian sesuai dengan prosedur yang ada. Selang 2 jam berlala, akhirnya terdengar pengumuman bahwa pesawat tujuan New Delhi akan segera berangkat dalam waktu 30 menit lagi.
"Bhai ayo, kita harus segera naik," ajak Bintang sambil mengecek jam tangannya
Agashtya mengangguk, "Oke..."
Mereka berdua lalu menuju ke gate keberangkatan, berharap dapat tiba di Agra secepatnya dan menemui Dadi Maa yang sedang kritis. Mereka berdua mempercepat langkah menuju gate keberangkatan, melewati security check dengan cepat, dan akhirnya tiba di ruang tunggu keberangkatan.
Bintang mengambil napas dalam-dalam, "Kita harus kuat, bhai, dadi maa pasti bisa sembuh..."
Agashtya menggenggam tangan Bintang, "Kita akan sampai di sana, secepatnya..."
Mereka memasuki pesawat yang akan segera terbang dengan tujuan New Delhi, dikarenakan penerbangan yang tersedia dari Jakarta ke India hanya ada beberapa pilihan, yaitu diantaranya Mumbai, New Delhi, Chennai, dan Bangalore.
Jarak tempuh penerbangan pun selama 6-12 jam, belum lagi transit, rute jalur darat yang paling dekat dari New Delhi ke Agra ialah sekitar 3-4 jam jarak tempuh perjalanan. Mereka memilih penerbangan menuju New Delhi dikarenakan mencari yang terdekat dengan Agra, kota tujuan mereka.
Bintang memejamkan mata, "Semoga kita bisa sampai di sana secepatnya..."
Agashtya menggenggam tangan Bintang, "Kita hanya berusaha dan berdoa yang terbaik, Bintang..."
Pesawat mulai bergerak, meninggalkan Jakarta menuju New Delhi. Bintang memejamkan matanya, memikirkan kondisi Dadi Maa nya, berharap-harap cemas. Sementara Agashtya, pikirannya bercabang, khawatir tentang Dadi Maa, tentang perusahaan, tentang keluarga dan tentang Kaniya tentunya. Hening, hanya ada suara deru mesin pesawat yang menghiasi suasana langit malam hari ini.
Di sisi lain, Dadi Maa berkata pada Pak Narendra bahwa dia memiliki satu keinginan yang harus dituruti, yaitu dirinya ingin melihat cucu pertamanya, Agashtya, menikah secepatnya.
"Mujhe main apne pote-poti ki shaadi jald se jald dekhna chahta hoon, Narendra... (Aku ingin melihat cucu laki-lakiku segera menikah secepatnya,Narendra...)"
ucapnya dengan suara lembut namun tegas
Pak Narendra mengangguk, "Kripya sabeer rakhein, maa. Hum is par kaam kar rahe hain....(Sabar mah, kami sedang mengusahakan nya...)"
Mommy Arunika hanya memegangi tangan kanan ibu mertuanya itu dengan harap-harap cemas, sementara itu Sabeer, adik laki-laki Pak Narendra, tampak terkejut dengan ucapan keinginan ibunya itu, begitu pula dengan Kavitha istrinya. Tak hanya itu, bahkan adik perempuan Pak Narendra, lebih tepatnya si bungsu yang tak lain adalah Sharmila, juga terkejut dengan ucapan ibunya barusan.
"Maa chahti hai ki, Agashtya jald hi shaadi kar le...?(Apa yang barusan dikatakan oleh ibu, ibu ingin Agashtya segera menikah?)" gumam Sharmila dalam hati
Sabeer pun akhirnya berusaha keluar dari ruangan, dikarenakan tidak ingin terlihat sedih di hadapan keluarganya.
"Maaf, mujhe thoda kaam hai, main thodi der mein aata hoon... (Maaf, permisi aku ingin keluar, ada sedikit urusan penting...)"ucapnya dengan suara yang dipaksa normal, lalu meninggalkan ruangan dengan cepat
Sharmila memperhatikan kakaknya itu, "Bhaiya hamesha aise hi karte hain, woh doosron ke saamne kamzor nahi dikhna chahte... (Kakak selalu saja begitu, dia tidak ingin terlihat lemah dihadapan semua orang...)"
Dadi Maa pun menanyakan kapan Agashtya dan Bintang tiba di Agra.
"Narendra ve yahaan kab pahunchenge...?(Narendra kapan mereka tiba disini?)" tanya dadi maa tak sabaran ingin melihat kedua cucunya
Bagaimana dadi maa tidak merindukan kedua cucunya dikarenakan sudah 7 tahun tidak pernah ia lihat, dikarenakan pak Narendra yang selalu sibuk dan tak memiliki waktu untuk mudik ke Agra dan juga Agashtya dan Bintang yang belum pernah pergi ke Agra tanpa kedua orangtuanya dikarenakan bahasa Hindinya yang kurang fasih karena sedari kecil sudah tinggal di Jakarta.
Pak Narendra pun memegang tangan kiri dadi maa dan menjawab dengan lembut, "Dhairya rakhein, ji maa. Unhone New Delhi ki flight se ek ghanta pehle hi suchna di thi. Sambhav hai ki ve abhi raste mein hain... (Sabarlah ma, Mereka baru saja mengabariku satu jam yang lalu sebelum pesawat terbang. Kemungkinan saat ini mereka sedang dalam perjalanan...)" ✈
Dadi maa semakin gelisah menunggu kedatangan kedua cucunya yang bertahun-tahun jauh darinya itu. Ia begitu sangat merindukan Agashtya dan Bintang dan rasa ingin memeluk serta memanjakan kedua pemuda itu.
Padahal di sisinya ada cucu-cucu lainnya yang sangat dekat dengannya terlebih Sanchiwali yang masih berusia remaja belasan tahun itu sangat dekat dan menyayanginya, Sanchiwali tak lain adalah putri dari pernikahan Sharmila dan Gaurav.
Akan tetapi mungkin benar sebuah pepatah yang mengatakan "Jika dekat tidak tercium harum atau lebih tepatnya bau 💩 dan jika jauh maka akan tercium harum seperti bunga 🌺🌻🌹🌷"
Bersambooo...
Dibab ini kita tamasya ya guys yah...ke Agra, India Utara salah satu kota di Utar Pradesh... 🤭🌹
Visualnya Dadi Maa ya guys yah... 🤭🌹