NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Sang Pengawal

Terjerat Cinta Sang Pengawal

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Buna_Ama

Siena Hartmann, gadis keras kepala dan sedikit bar-bar, selalu bisa membuat ayahnya pusing tujuh keliling. Tapi siapa sangka, di balik tingkahnya yang bebas, ada pria yang diam-diam selalu ada saat dia butuh.

Bastian Asher Grayson, muncul di hidupnya sebagai bodyguard baru dikeluarga Hartmann. Dia profesional, dingin, tapi entah kenapa selalu berhasil membuat hati Siena berdebar meski dia menolak mengakuinya.

Hingga skandal di malam wisuda membuat mereka terpaksa berada dalam satu atap, dan keputusan mengejutkan pun diambil. Namun, sesuatu tentang pria itu masih disembunyikan. sesuatu yang bila terungkap, bisa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna_Ama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE DUA PULUH TIGA

"Astaga! Ada apa ini Sie? Apa yang terjadi?" ibu Margaret memekik terkejut ketika melihat putrinya memapah Bastian masuk kedalam rumah.

Bukankah seharusnya Siena yang dipapah atau digendong oleh Bastian tapi malah justru sebaliknya.

"Nanti Siena ceritakan, Bu. Sekarang tolong bantu aku bawa Bastian keruang tamu dulu". Pinta Siena seraya membenarkan posisi lengan Bastian yang melingkar dilehernya.

Ia yang memiliki postur badan yang kecil dan ramping, harus memapah Bastian yang berperawakan tinggi, tegap dan besar membuat Siena seperti tak nampak.

"Ya, mari ibu bantu". Dengan sigap ibu Margaret membantu Siena memapah Bastian, membawa pria itu keruang tamu.

Dengan hati-hati Siena dan Ibu Margaret mendudukkan Bastian dikursi sofa panjang. Terlihat raut wajah Bastian makin pucat, matanya terpejam tapi tidak tidur.

"Cepat ambil kotak obat didalam laci nakas itu, Sie". Kata Ibu Margaret seraya menunjuk nakas yang ada dibawah televisi.

Siena mengangguk dan lekas mengambil nya.

.

Diluar, Rani dan yang lainnya bergegas menyusul masuk. Dilihatnya, Ibu Margaret dengan telaten membersihkan luka dipelipis Bastian dan Siena sibuk menyiapkan kapas serta cairan antiseptik di atas meja.

Ruangan itu dipenuhi aroma obat-obatan dan keheningan yang aneh. Tak ada yang benar-benar berani berbicara keras.

"Pelan, Bu… lukanya masih berdarah," ujar Siena lirih, tangannya refleks menahan pergelangan tangan ibunya agar lebih berhati-hati.

Bastian sedikit mengerutkan kening saat cairan antiseptik itu menyentuh lukanya, namun tak satu pun keluhan keluar dari bibirnya. Rahangnya mengeras, seolah rasa sakit hanyalah sesuatu yang biasa ia telan tanpa suara.

"Anak ini… lukanya bukan luka kecil," gumam Ibu Margaret pelan. "Kalian sebenarnya habis dari mana?"

Siena terdiam sesaat. Tatapannya jatuh pada wajah Bastian yang pucat, lalu pada jemari pria itu yang masih mengepal kuat di atas pahanya, seperti sedang menahan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar luka fisik.

"Bastian melindungi kami, Bu," jawab Siena akhirnya, nyaris berbisik.

Pada saat itu, kelopak mata Bastian bergerak perlahan. Ia membuka matanya sedikit, menatap Siena sekilas, hanya tatapan singkat namun dalam, sebelum kembali memejamkan mata, seolah kelelahan akhirnya mulai mengambil alih tubuhnya.

Dan entah kenapa, melihat pria itu melemah justru membuat dada Siena terasa jauh lebih sesak.

Rani berdiri tidak jauh dari sofa, kedua tangannya terlipat didepan dada. Tatapannya tak lepas dari sosok Bastian yang duduk diam meski jelas menahan sakit.

"Aku bilang juga apa…" bisiknya pelan pada Dena.

Dena melirik cepat. "Jangan mulai lagi."

"Tapi kamu lihat sendiri, kan?" Rani mencondongkan tubuhnya sedikit. "Orang normal habis berkelahi pasti mengaduh atau minimal meringis. Dia malah diam saja. Bahkan dari tadi tidak mengeluh sama sekali."

Livia ikut memperhatikan dari samping, alisnya berkerut tipis. "Yang lebih aneh bukan itu."

"Kamu juga sadar?" Rani langsung menoleh antusias.

Livia mengangguk kecil. "Cara dia memperhatikan sekitar. Dari masuk tadi, matanya selalu bergerak. Seperti memastikan setiap sudut ruangan aman."

Dena terdiam sejenak. Kini ia ikut memperhatikan lebih saksama. Dan benar saja, meski terlihat lemah, posisi duduk Bastian tetap tegak. Bahunya siaga, seolah tubuhnya menolak benar-benar rileks.

"Itu refleks kerja," ujar Dena akhirnya, mencoba terdengar yakin. "Dia seorang bodyguard jadi wajar."

Rani mendecih pelan. "Bodyguard, iya. Tapi bukan bodyguard biasa."

Ketiganya terdiam saat Siena berlutut di depan Bastian, wajah gadis itu dipenuhi kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan.

Dan untuk pertama kalinya, mereka melihat sesuatu yang berbeda.

Bukan seperti Bastian yang menjaga Siena.

Tapi Siena yang juga mulai menjaga Bastian.

Dena, Livia dan Rani yang melihat Siena berlutut sontak membulatkan matanya dan saling pandang.

Sungguh demi apapun, selama hampir empat tahun mereka mengenal dan bersahabat dengan Siena. Belum pernah sekalipun mereka melihat gadis itu berlutut dihadapan seorang pria, bahkan didepan Evan sekalipun.

Siena tidak pernah melakukan itu. Tidak pernah.

Siena duduk berlutut di depan sofa, jemarinya bergerak hati-hati mengoleskan obat. Sesekali ia meniup pelipis pria itu pelan, refleks seperti yang biasa dilakukan seorang ibu pada anak kecil yang terluka.

"Bisa tahan?" tanya Siena, suaranya terdengar lirih namun lembut

Bastian membuka mata perlahan. Tatapannya jatuh tepat pada wajah Siena yang begitu dekat. Ada garis khawatir yang jelas di sana. Tatapan tulus, tanpa dibuat-buat.

"Hm," jawab Bastian singkat.

Namun tangannya yang semula menggenggam ujung sofa perlahan mengendur.

Mungkin karena obatnya mulai bekerja atau karena sikap Siena?

Siena tidak menyadari tatapan itu. Ia justru semakin fokus mengoleskan obat itu dipelipis Bastian. Alisnya sedikit bertaut saat melihat luka yang cukup dalam.

"Kamu ini keras kepala sekali," gumamnya pelan. "Sudah terluka masih bilang tidak apa-apa."

Sudut bibir Bastian bergerak tipis, hampir seperti senyum, sesuatu yang jarang terlihat darinya.

"Anda mengkhawatirkan saya nona?"

Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir Bastian, membuat Siena membeku ditempat. Bahkan, ibu Margaret juga langsung menoleh menatap kearah putri semata wayangnya itu.

Ia seolah penasaran dengan jawaban yang akan Siena ucapkan. Sebab, Ibu Margaret sangat tau jika putrinya itu tidak akan pernah menaruh rasa khawatir pada orang asing, selain dirinya dan ayah Alex juga ketiga temannya.

Siena tak langsung menjawab, bibirnya terlipat kedalam. Jemarinya yang masih memegang kapas berhenti bergerak di udara, seolah otaknya sedang mencari jawaban yang aman.

Ruangan itu tiba-tiba terasa terlalu sunyi.

Rani bahkan menahan napas tanpa sadar, sementara Dena pura-pura sibuk memperhatikan lukisan di dinding meski telinganya jelas waspada.

"Aku…" Siena berdeham kecil, menghindari tatapan Bastian. "Aku hanya tidak mau ada orang lain yang terluka karena ku".

Jawaban itu terdengar netral. Terlalu netral.

Namun justru itulah yang membuat Ibu Margaret menyipitkan mata tipis.

Bastian menatap Siena beberapa detik lebih lama, seakan mencoba membaca sesuatu yang tidak diucapkan gadis itu. Lalu perlahan ia mengangguk.

"Baik," gumamnya pelan.

Tidak membantah. Tidak menggoda lagi.

Anehnya, sikap itu malah membuat Siena merasa sedikit kehilangan keseimbangannya.

Ia kembali mengoleskan obat, kali ini lebih cepat, seolah ingin segera mengakhiri momen yang membuat jantungnya berdetak tidak wajar.

"Sudah," kata Siena pelan setelah selesai menempelkan plester kecil bergambar kartun kucing biru di pelipis pria itu. "Jangan disentuh dulu."

Bastian mengangguk lagi, namun sebelum Siena sempat berdiri, pria itu berkata dengan suara yang terdengar rendah,

"Terima kasih."

Dua kata sederhana.

Tapi cukup membuat Siena terdiam sesaat.

Karena untuk pertama kalinya, suara Bastian terdengar tidak seperti seorang pria yang selalu kuat dan tak tersentuh, melainkan seseorang yang benar-benar lelah. Dan, Siena menyadari itu.

.

.

.

Bersambung....

1
vnablu
wahh apakah jodohnya Han juga akan muncul di cerita ini buna??...aku setuju banget kalau emang iyaa😄😄😄
Buna_Ama 🌺: mau request siapa jodohnya han 😅
total 1 replies
vnablu
ayooo Buna minimal kasihh visual lahh biar nggak kepo aku nya😌😌
Buna_Ama 🌺: besok yaa kapan2 buna kasih visual 🫶
total 1 replies
vnablu
kurang ajar kamu bas🤭😭
Buna_Ama 🌺: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
💝F&N💝
mana up nya hari ini
Buna_Ama 🌺: bentar yaa.. nunggu lulus review 🙏🫶
total 1 replies
vnablu
lanjut bunaa semangat terus 😄😄
Naufal Affiq
lanjut kak
💝F&N💝
soo sweet bingit, kak
ayo lanjut lagi

secangkir kopi susu manis untukmu
sebagai teman up date

ok👍👍👍
Buna_Ama 🌺: terimakasih 🥰🫶🫶
total 1 replies
vnablu
hukumnya cium ak Bas🤭😭
Buna_Ama 🌺: heii antriii, buna duluan yaa 😌🤣
total 1 replies
Naufal Affiq
oh bastian kau yang terbaik untuk siena,buat siena jatuh cinta sama mu bas,aku mendukungmu
Buna_Ama 🌺: 🫶🫶🫶🫶🫶
total 1 replies
Naufal Affiq
lanjut buna
Buna_Ama 🌺: beberapa hari ini buna up nya cuma satu bab dulu aja ya. di rl lagi sibuk 🙏🙏🫶
total 1 replies
💝F&N💝
ayo lanjut lagi yg banyak
tetap semangat yaaaaa
vnablu
ciee yang udah mulai dekat 😄😄🤭
vnablu
kamu pikirr Bastian 🐶 menggonggong 😭
Buna_Ama 🌺: 🤣🤣🤣🤣😭😭😭
total 1 replies
Naufal Affiq
memang yang terbaik kau seina,babang tampan sudah menunggu mu
Buna_Ama 🌺: siena bukan seina😭
total 1 replies
💝F&N💝
good👍👍
lanjut
vnablu
ayoo Bas sebaiknya jujur takutnya nanti Siena salah paham nanti ngira kamu itu mata mata 🤭🤭
vnablu
kira" apa yang penting yaa Emmm 🤔🤔 curiga ak Van sma kamu apa kamu adaa wanita lain di belakang Siena😄😄
💝F&N💝
up lagi dooooooong
Buna_Ama 🌺: sabar ya nunggu lulus review dulu 🙏
total 1 replies
vnablu
kalauuu rindu bilang lahh😄😄
Eliermswati
lnjut q tunggu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!