"Di depanmu aku tetap buta, tapi di belakangmu aku sedang menggali kuburanmu!"
Gwen, sang pewaris kaya, terbangun dari kebutaannya. Namun, hal pertama yang ia lihat justru suaminya sedang bercumbu dengan sahabatnya sendiri—tepat di samping ranjangnya!
Bukannya melabrak, Gwen memilih tetap berakting buta. Ia menyusun rencana balas dendam yang rapi di bawah hidung mereka.
Keadaan makin panas saat ia menyewa Elang, bodyguard dingin yang menyimpan dendam pada keluarga Gwen. Diam-diam, Elang tahu Gwen hanya berpura-pura.
"Nona, aktingmu hebat. Tapi di depanku, matamu tidak bisa berbohong," bisik Elang.
Bisakah Gwen menghancurkan para pengkhianat itu sebelum rahasianya dibongkar oleh sang bodyguard misterius?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: DETAK JANTUNG YANG TERANCAM
Bau antiseptik dan suara mesin monitor jantung yang monoton memenuhi ruangan VIP rumah sakit pribadi milik keluarga Adiguna. Gwen duduk di samping tempat tidur Elang, matanya sembap namun sorot matanya tetap tajam. Ia tidak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Elang yang dingin.
Elang selamat dari serangan Viper, namun musuh meninggalkan "hadiah" yang lebih mematikan daripada luka sayatan. Chip merah bertuliskan Project Nemesis yang ditemukan Gwen ternyata adalah sebuah transmiter frekuensi tinggi. Saat Viper menyentuh Elang di pesta tadi, ia telah menyuntikkan virus digital yang kini menyerang sistem residu di jantung Elang.
"Detak jantungnya tidak stabil, Nona," Dokter Aris masuk dengan wajah tegang, memandangi layar monitor yang menunjukkan grafik yang melonjak tak beraturan. "Virus Nemesis ini memaksa chip di jantung Tuan Elang untuk bekerja melampaui batas. Jika ini terus berlanjut dalam 24 jam ke depan, chip itu akan mengalami overheat dan... meledak di dalam dadanya."
Gwen berdiri, rahangnya mengeras. "Apa tidak ada cara untuk menonaktifkannya, Dok?"
"Hanya ada satu cara," Dokter Aris menatap Gwen dengan ragu. "Kita butuh Cooling Agent cair yang dikembangkan oleh The Hive. Tanpa itu, melakukan operasi saat sistem sedang panas seperti ini sama saja dengan bunuh diri bagi Tuan Elang."
Gwen menatap wajah Elang yang sedang terlelap karena pengaruh obat bius. Ia membungkuk, mencium kening pria itu dengan lembut. "Tunggu aku, Elang. Aku tidak akan membiarkanmu mati setelah semua yang kita lalui."
Markas Tim Intelijen, 02.00 WIB.
Gwen berdiri di depan layar raksasa yang menampilkan peta bawah tanah kota Jakarta. Hendra berdiri di sampingnya, sibuk mengutak-atik keyboard laptop.
"Data dari chip merah yang Nona temukan menunjukkan sinyal aktif dari sebuah laboratorium rahasia," Hendra menunjuk ke sebuah titik di bawah kawasan industri tua di pinggiran Jakarta. "Itu adalah gudang tua milik perusahaan cangkang Maximilian. Laboratoriumnya berada lima puluh meter di bawah tanah."
"Siapkan tim," perintah Gwen singkat.
"Tapi Nona, ini sangat berbahaya. Viper pasti ada di sana. Dan sistem keamanannya menggunakan sensor biometrik tingkat tinggi," Hendra memperingatkan.
Gwen mengeluarkan botol kecil berisi sampel darah ayahnya, Arthur, dan miliknya sendiri yang telah dicampur dengan formula kimia khusus hasil riset ibunya. "Aku adalah kunci berjalan, Hendra. Mereka menginginkan darahku, kan? Aku akan memberikannya, tapi dengan caraku sendiri."
Laboratorium Bawah Tanah "Sector 9".
Kegelapan menyelimuti gudang tua yang tampak tak berpenghuni itu. Namun di balik dinding beton yang berlumut, terdapat sebuah lift industri yang membawa Gwen dan tim kecilnya turun ke perut bumi.
Gwen mengenakan pakaian taktis serba hitam, rambutnya diikat kuda, dan sebuah senjata laras pendek tersampir di bahunya. Ia bukan lagi sosialita yang gemar berpesta; ia adalah seorang prajurit yang sedang berjuang demi nyawa kekasihnya.
TING.
Pintu lift terbuka. Mereka disambut oleh lorong putih bersih dengan lampu neon yang menyilaukan.
"Hendra, matikan sistem pengawasan di sektor A," bisik Gwen melalui radio.
"Berhasil, Nona. Anda punya waktu lima menit sebelum patroli otomatis lewat."
Gwen bergerak dengan sangat lincah. Setiap langkahnya penuh perhitungan. Ia berhasil melewati gerbang biometrik pertama dengan menggunakan sidik jari ayahnya yang telah ia cetak ulang menggunakan teknologi 3D.
Namun, saat mencapai ruang penyimpanan Cooling Agent, lampu merah mendadak menyala di seluruh lorong.
ALARM! PENYUSUP TERDETEKSI DI SEKTOR PENYIMPANAN.
"Sial! Mereka sudah mengganti protokolnya!" umpat Hendra di radio.
Pintu baja di depan Gwen tertutup rapat, dan dari arah belakang, sekelompok penjaga berseragam The Hive merangsek maju.
"Jangan tembak Nona Adiguna! Tuan Besar menginginkannya hidup-hidup!" teriak salah satu penjaga.
Gwen tersenyum sinis. "Itu kesalahan terbesar kalian."
Gwen melepaskan tembakan gas air mata ke arah mereka, lalu menggunakan momen kekacauan itu untuk memanjat pipa ventilasi di atasnya. Ia merayap dengan cepat, jantungnya berdegup kencang. Ia bisa merasakan waktu semakin menipis bagi Elang.
Ia mendarat tepat di dalam ruang penyimpanan utama. Di tengah ruangan, di dalam tabung kaca kedap udara, terdapat cairan biru bercahaya—Nemesis Cooling Agent.
Gwen segera memasukkan kode akses yang ia curi dari data Viper.
[ACCESS GRANTED]
Tabung kaca itu terbuka. Gwen mengambil dua botol cairan tersebut dan menyimpannya di sabuk taktisnya. Namun, sebelum ia sempat berbalik, suara tepuk tangan bergema di ruangan yang sunyi itu.
"Luar biasa. Putri mahkota Adiguna benar-benar punya nyali," suara itu serak dan penuh kemenangan.
Gwen berbalik. Di sana, bersandar pada pilar besi, berdiri Viper. Bahunya masih dibalut perban akibat tembakan Arthur kemarin, namun auranya tetap mematikan.
"Serahkan cairannya, Gwen. Dan mungkin aku akan membiarkanmu melihat detik-detik terakhir Elang lewat video," ucap Viper sambil menarik pedang tipisnya.
Gwen tidak gentar. Ia menarik pistolnya dan membidik tepat ke jantung Viper. "Aku sudah muak mendengar suaramu, Viper. Cairan ini akan menyelamatkan Elang, dan kau... kau akan membusuk di sini."
"Kau pikir kau bisa menang melawanku tanpa anjing penjagamu?" Viper menerjang maju dengan kecepatan kilat.
Gwen melepaskan tembakan, namun Viper terlalu cepat. Pedang Viper menyabet lengan Gwen, membuat darah segar menetes di lantai putih. Gwen meringis, namun ia tidak mundur. Ia menggunakan teknik bela diri yang diam-diam diajarkan Elang padanya selama masa pemulihan di villa.
Gwen menjatuhkan diri, menendang tumpuan kaki Viper, lalu menghantamkan siku tangannya ke dagu pria itu.
BRAK!
Viper terhuyung. Gwen tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia menekan tombol lockdown manual di panel dinding yang ia pelajari dari peta Hendra.
"Apa yang kau lakukan?!" teriak Viper.
"Mengunci kita berdua di sini sampai timku datang menghancurkan tempat ini," jawab Gwen dengan senyum yang menantang maut. "Jika Elang harus mati, maka kau dan seluruh data Nemesis ini akan ikut bersamanya ke neraka!"
Viper tampak panik. Ia tidak menyangka Gwen akan senekat itu. Di saat yang sama, suara ledakan terdengar dari bagian atas laboratorium. Hendra dan tim bantuan telah memulai penghancuran gudang tua tersebut.
"Kau gila, Gwen Adiguna!" Viper mencoba menyerang lagi, namun sebuah tembakan jitu dari ventilasi atas mengenai kaki Viper.
Hendra melompat turun dari ventilasi. "Nona, kita harus pergi sekarang! Sektor ini akan runtuh dalam dua menit!"
Gwen mengambil pistolnya yang sempat terjatuh, menatap Viper yang terkapar di lantai. "Bawa dia, Hendra. Ayahku punya banyak pertanyaan untuknya."
Mereka berlari menuju jalur keluar darurat saat langit-langit laboratorium mulai runtuh. Debu dan puing-puing berjatuhan di sekitar mereka. Gwen mendekap botol cairan biru itu di dadanya seolah-olah itu adalah jantung Elang sendiri.
Rumah Sakit, 04.30 WIB.
Gwen sampai dengan napas tersengal dan pakaian yang kotor oleh debu serta darah. Ia memberikan botol itu kepada Dokter Aris. "Lakukan sekarang, Dok!"
Proses penyuntikan Cooling Agent dilakukan melalui selang infus khusus yang terhubung langsung ke area dada Elang. Seluruh ruangan mendadak sunyi saat Dokter Aris menekan tombol injeksi.
Monitor jantung yang tadinya berbunyi cepat dan tidak teratur, perlahan-lahan mulai melambat. Grafik yang tadinya merah membara berubah menjadi hijau stabil.
Pip... pip... pip...
Suaranya kini tenang dan ritmis.
Gwen jatuh terduduk di kursi samping tempat tidur Elang. Ia menangis sejadi-jadinya—tangis kelegaan yang luar biasa. Ia meraih tangan Elang dan menciumnya.
"Terima kasih sudah bertahan, Sayang," bisik Gwen.
Tiba-tiba, jemari Elang bergerak. Kelopak matanya perlahan terbuka. Ia menatap Gwen dengan pandangan yang masih sedikit kabur.
"Gwen... kau... kau terluka?" suara Elang sangat lemah, namun penuh kecemasan saat melihat noda darah di lengan Gwen.
Gwen tersenyum di balik air matanya. "Hanya goresan kecil. Kamu sudah aman, Elang. Aku sudah mendapatkan penawarnya."
Elang mencoba tersenyum, meski tampak sangat lelah. "Kau... bukan lagi Nona yang butuh dilindungi. Kau adalah pelindungku sekarang."
Namun, kedamaian mereka terganggu oleh getaran ponsel Gwen. Sebuah pesan video masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Gwen membukanya. Di layar, tampak Maximilian Adiguna duduk di sebuah ruangan megah yang dipenuhi layar monitor. Di belakangnya, tampak ratusan orang berseragam The Hive sedang bersiap.
"Permainan yang bagus, Gwen. Kau menyelamatkan satu nyawa malam ini," suara Maximilian terdengar dingin. "Tapi kau lupa satu hal. Virus Nemesis bukan hanya menyerang chip Elang. Itu adalah kunci untuk mengaktifkan seluruh satelit komunikasi di Asia. Dalam satu jam, seluruh sistem digital di benua ini akan berada di bawah kendaliku... kecuali kau menyerahkan dirimu padaku di Pelabuhan Merak."
Gwen menatap Elang, lalu menatap layar ponselnya. Ia tahu, pertempuran terakhir untuk menentukan masa depan imperium Adiguna baru saja dimulai.
masih saja dikhianati atau mungkin sejak awal tujuan Reno memang bukan membentuk keluarga yang bahagia