Niat hati hanya ingin menolong Putri dari mantan majikan Kakeknya yang hendak melarikan diri, Asep justru di paksa untuk menikahinya.
Hanya tiga bulan, itu yang ia katakan, namun apa benar dalam waktu tiga bulan tak akan ada perasaan yang tumbuh diantara mereka?
Asep ada kecoak! Asep ada tikus! Asep, Asep, Asep, Asep!
“Sial, kenapa dikit-dikit gue terus manggil nama dia?” Ziya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Whidie Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 - Guling versi hidup
Malam harinya acara pun di adakan, sejak siang tadi Ziya tak sekalipun bisa bicara dengan Asep secara langsung dia selalu sibuk dengan berbagai hal seolah sengaja menghindari Ziya.
‘Dia sengaja ngehindarin gue kan? Pasti dia marah.’ Ziya melipat tangan di dada sambil memperhatikannya yang tengah membantu para pekerja menyiapkan nasi kotak.
Acara pun selesai hampir tengah malam, acara pengajian dan santunan anak yatim, sekitar liam ratus anak yatim di undang menghadiri acara ini dan acara pun sukses besar.
Asep masuk kedalam kamar. Ruangan ini sudah nampak gelap sang pemilik kamar pasti sudah tertidur, itu seharusnya. Namun saat Asep masuk, lampu pun tiba-tiba menyala.
Plak...
Seketika ruangan pun berubah terang.
Ziya berdiri sambil melipat tangan di dada di dekat saklar lampu, “Neng belum tidur?” Asep menyapa tanpa melihat lawan bicaranya.
“Seperti yang lu lihat,” sahutnya.
“Oh,” Asep mengangguk pelan.
Dia mengambil baju ganti di tasnya, “permisi atuh Neng, saya mau ganti baju dulu,” ucapnya entah mengapa Ziya selalu merasa risih dengan postur tubuh Asep yang sedikit membungkuk saat berjalan melewatinya.
“Tegakin tubuh lu Sep, gue gak suka lu membungkuk di hadapan gue,” keluh Ziya.
“Maaf atuh Neng, tapi di tempat saya ini bersikap sopan.” Sanggahnya.
Ziya berdiri di hadapan Asep menghalangi pergerakannya, “kenapa lu harus bersikap sopan sama gue, siapa gue bagi lu?”
“Neng ya Neng, siapa lagi atuh,” Asep bingung dengan pertanyaan Ziya.
Ziya mendengus kasar, “gue tanya sekali lagi, siapa gue bagi lu?” dia mengulangi perkataannya menuntut jawaban yang memuaskan.
Asep merubah ekspresi wajahnya menatap Ziya dengan tatapan berbeda, “Neng ingin saya menganggap Neng siapa, Istri? Neng sendiri menganggap saya apa? Suami? Enggak kan,” senyum sinis tersungging di bibirnya, senyum yang belum pernah Ziya liat sebelumnya.
Dia berjalan melewati Ziya, hendak ke kamar mandi, namun perkataan Ziya membuat langkahnya urung.
“Lu liat gue sama Regan kan tadi siang?”
“Kalau saya lihat memangnya kenapa?” tanggapnya.
“Lu cemburu kan, liat gue di peluk sama dia?”
Asep memejamkan matanya berusaha tetap bersikap rasional, “kenapa saya harus cemburu, dia pacarnya Neng, sementara saya siapa?” sahutnya tanpa melihat lawan bicaranya.
“Kenapa sih lu gak mau jujur soal perasaan lu Sep, gue tahu lu suka kan sama gue!”
Pupil mata Asep melebar seketika, ternyata selama ini Ziya tahu soal perasaannya yang berusaha ia tutupi serapi mungkin. Dia mengepalkan tangannya, tersenyum pahit.
“Jadi Neng tahu, baguslah jadi saya gak harus mengatakannya, selama ini saya selalu berusaha menutupinya, takut Neng benci sama saya, tapi ternyata Neng udah tahu,” ucapnya getir.
Ziya menarik tangan Asep membuatnya berbalik menatap kearahnya, “kenapa gue harus benci sama lu, apa lu gak sadar kalau gue juga suka sama lu Sep?”
Untuk beberapa saat Asep terpaku, otaknya seakan begitu lambat untuk mencerna ucapan Ziya barusan.
“A-apa N-neng ju-juga suka sama saya?” dia menatap tak percaya.
“Apa? Harus banget gue ulangi?” ucap Ziya dengan nada judes namun bibir tersenyum.
Ziya berjalan mendekat mengikis jarak di antara mereka, kakinya sedikit berjinjit untuk mengimbangi tingginya tubuh Asep, cup... Satu buah kecupan singkat mendarat di bibir Pria itu.
Deg... Jantung Asep berdebar kencang, tubuhnya membeku seketika.
“Itu jawaban gue,” dia tersenyum sambil berjalan mundur.
Asep menyentuh bibirnya, bibir Ziya seakan masih menempel disana, dia menelan Salivanya sambil menatap kearah Ziya dengan tatapan linglung.
Sementara Ziya sudah duduk manis di tepi ranjang, “katanya mau ganti baju, kenapa masih berdiri disana?” tegur Ziya.
“Ah i-iya sa-saya lupa,” ucapnya sambil menunduk malu.
Ziya menutup mulut menahan tawa, sikap Asep benar-benar membuatnya gemas, dan ingin terus menjahili Suaminya itu.
“Asep-asep, lu sadar gak sih kalau lu tuh lucu,” gumam Ziya pelan.
Cukup lama Asep di dalam kamar mandi, entah apa saja yang tengah dia lakukan di dalam sana, “Ngapain aja sih dia, ko lama banget,” keluh Ziya, dia mengambil majalah untuk mengusir bosan.
Tak berselang lama, Asep pun keluar sudah dengan pakaian yang berbeda, dia duduk di sisi bagian tempat tidur yang kosong, kemudian berbaring perlahan.
Ziya tersenyum tipis, dia mematikan lampu kemudian berbaring sambil memeluk tubuh Asep.
Asep menghembuskan nafas kasar, dia tidak menolak ataupun membalas pelukan Ziya, dia diam seperti patung. Namun jantungnya seakan sedang lari maraton, dan itu bisa Ziya dengar dengan jelas karena kepalanya bersandar di dada pria itu.
“Tidur Sep,” ucap Ziya karena terus mendengar Asep menghembuskan nafasnya.
“Saya gak bisa tidur atuh Neng, kalau Neng tidur sambil meluk saya begini,” ujarnya.
“Kalau gitu mulai sekarang lu harus membiasakan diri tidur sambil meluk gue, anggap aja gue ini pengganti guling tapi versi hidup,” ucapnya enteng.
🤣😄😍💪❤❤❤
dari bemci jadi bucin.
🤣😄😍❤💪💪❤❤
jgn2 sarah ikutan ngabisin dueit ziya..
❤❤❤❤
2x up hari ini ..
😍😍❤❤❤💪💪
keren banget Asseeepppp..
😄😍❤💪💪❤❤😍😍
🤣😄😍😍😍💪❤❤❤💪💪
biar tuh regan kena mental....
😄😍😍💪💪💪