NovelToon NovelToon
Penerus Warisan Dewa Season 2

Penerus Warisan Dewa Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:27.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

(PENERUS WARISAN DEWA SEASON 2)

Tiga Tahun Kemudian.
Dunia Tianyun, Alam Fana. Kerajaan Zhao.

Ini adalah sebuah dunia yang tidak memiliki konsep Qi, tidak ada kultivator yang membelah gunung, dan tidak ada dewa yang menginjak-injak langit. Ini adalah alam yang murni fana, di mana baja dan kuda adalah senjata tertinggi, dan umur seratus tahun adalah sebuah mukjizat.

Di halaman belakang Istana Kerajaan Zhao, bunga persik sedang bermekaran dengan indahnya. Angin musim semi berhembus sejuk.

Di atas hamparan tikar bambu yang mewah, seorang anak laki-laki berusia tiga tahun sedang duduk diam menatap kelopak bunga yang jatuh. Wajahnya sangat tampan namun memancarkan ketenangan yang tidak wajar untuk anak seusianya. Matanya hitam pekat, sedalam lautan malam.

Ia adalah Zhao Xuan, Pangeran Ketiga dari Kerajaan Zhao.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 132: Pembantaian di Garis Utara

Asap hitam dan bau darah yang memuakkan menyelimuti Langit Utara. Benteng Baja Serigala, pertahanan terkuat Kerajaan Zhao di perbatasan, kini nyaris runtuh.

Di bawah tembok benteng, ribuan prajurit Kerajaan Yan mengaum layaknya binatang buas. Mata mereka merah menyala, otot-otot mereka menonjol merobek zirah besi, dan luka tebasan di tubuh mereka beregenerasi dengan kecepatan mengerikan berkat Pil Darah Iblis Surgawi. Pasukan fana Zhao yang bertahan di atas tembok hanya bisa menembakkan panah dengan putus asa, melihat musuh mereka memanjat tembok dengan tangan kosong layaknya lautan semut merah.

Di garis depan, Jenderal Tu Kuang dari Kerajaan Yan tertawa menggelegar. Tubuhnya telah bermutasi setinggi tiga meter, diselimuti oleh aura Qi berdarah tingkat Core Formation (Pembentukan Inti) Awal.

"Hancurkan gerbangnya! Bantai para pria dan bawa kepala Pangeran Ketiga mereka kepadaku!" raung Tu Kuang. Ia mengangkat sebuah gada besi raksasa berbobot ribuan kati, bersiap menghantam gerbang utama Benteng Serigala. "Di hadapan kekuatan dewa Kerajaan Yan, Kerajaan Zhao hanyalah kotoran!"

Namun, sebelum gada besi itu menyentuh gerbang...

BOOOOOOM!

Sebuah bayangan melesat dari langit seperti meteor, menghantam tanah tepat di antara Jenderal Tu Kuang dan gerbang benteng. Gelombang kejut dari pendaratan itu mementalkan puluhan prajurit mutan Yan hingga tubuh mereka hancur berkeping-keping.

Debu perlahan menipis. Berdirilah sesosok pemuda raksasa bertelanjang dada. Otot-ototnya memancarkan pendaran perunggu yang sangat padat, dan urat nadinya berdenyut dengan kekuatan murni tanpa sedikit pun Qi sihir yang kotor. Itu adalah Tie Ba, Pemimpin Paviliun Fisik Sekte Langit Asura.

Tie Ba memutar lehernya hingga berbunyi krak, lalu menatap Jenderal Tu Kuang dengan tatapan menilai.

"Mutasi yang sangat buruk," Tie Ba menggelengkan kepalanya kecewa. "Otot tidak seimbang, dan postur kuda-kudamu berantakan. Mengandalkan pil murahan untuk membesarkan badan? Kau adalah aib!"

Tu Kuang merasa sangat terhina. "Bocah sombong! Akan kujadikan kau pasta daging!"

Jenderal raksasa itu mengayunkan gada besinya yang dilapisi Qi berdarah ke arah kepala Tie Ba. Udara bergetar hebat. Prajurit Zhao di atas tembok menutup mata mereka, ngeri melihat pemuda tak bersenjata itu akan mati.

Namun, Tie Ba tidak menghindar. Ia hanya mengangkat lengan kanannya dengan santai.

TRANGGG!

Suara benturan logam bergema ke seluruh medan perang. Gada besi raksasa yang diayunkan dengan kekuatan Core Formation itu... tertahan sepenuhnya oleh lengan bawah Tie Ba! Kulit pemuda itu bahkan tidak tergores sedikit pun!

"A-Apa?!" Mata merah Tu Kuang nyaris melompat keluar. Tangannya mati rasa akibat bentrokan mengerikan.

"Seni Pembongkar Tulang Asura, Lapis Ketiga," geram Tie Ba. Ia mencengkeram gada besi itu, lalu meremasnya. KRAAAK! Besi padat itu penyok layaknya tanah liat.

Tie Ba kemudian menarik lengan kirinya ke belakang, memusatkan seluruh kekuatannya, dan melepaskan satu pukulan lurus tepat ke dada Jenderal Tu Kuang.

BAM!

Pukulan itu tidak meledak dengan api atau sihir, namun gaya murni yang dihasilkannya merobek udara. Dada Jenderal Tu Kuang melesak ke dalam. Tulang rusuk, jantung, dan paru-parunya hancur lebur menjadi kabut darah dalam sepersekian detik. Tubuh raksasa setinggi tiga meter itu terlempar ke belakang sejauh ratusan meter, menyapu pasukannya sendiri sebelum akhirnya ambruk sebagai mayat tanpa dada.

Keheningan seketika menyelimuti medan perang. Pasukan mutan Yan yang haus darah tiba-tiba berhenti mengaum, insting binatang mereka bergetar ketakutan.

"Satu lalat mati," Tie Ba menepuk tangannya.

Di saat yang sama, dari atas awan berdarah, jenderal kedua Kerajaan Yan, Jenderal Xue Hen, yang memiliki sayap kelelawar hasil mutasi, melesat turun dengan kecepatan kilat. Ia memegang dua bilah pedang beracun, mengincar leher Tie Ba dari titik buta di udara.

"Mati kau, monster otot!" teriak Xue Hen.

Namun, sebelum pedang racun itu menyentuh targetnya, sebuah hembusan angin yang sangat dingin meniup medan perang. Angin itu tidak membawa daun gugur, melainkan membawa untaian Niat Pedang yang sangat murni dan mematikan.

Di atas salah satu menara benteng, Jian Yi, Pemimpin Paviliun Pedang, berdiri memejamkan mata. Tangan kanannya bertumpu pada gagang pedang berkaratnya.

"Terlalu lambat," bisik Jian Yi pelan. "Jalan pedangmu kotor oleh keserakahan."

Jian Yi menarik pedangnya setengah inci dari sarungnya, lalu memasukkannya kembali. Kling.

Hanya satu suara gesekan besi yang terdengar. Namun di langit, tepat di jalur terbang Jenderal Xue Hen, sebuah garis cahaya perak setipis rambut tiba-tiba muncul membelah ruang spasial.

Tubuh Jenderal Xue Hen yang sedang melesat di udara tiba-tiba terbelah menjadi dua bagian yang sangat simetris, dari kepala hingga ke selangkangan. Sayap, tulang, dan Qi berdarahnya terpotong tanpa perlawanan sedikit pun. Darah hujan membasahi pasukan Yan di bawahnya saat dua potongan mayat itu jatuh berdebum ke tanah.

Jian Yi bahkan tidak repot-repot melihat hasil tebasannya. Ia hanya mengelap pedang berkaratnya dengan secarik kain. "Paviliun Pedang, bersihkan sisa sampah yang terbang. Xin'er, bakar yang di tanah."

Dari balik bayangan Benteng Serigala, ratusan murid Sekte Langit Asura berpakaian hitam muncul layaknya hantu. Xin'er menyebarkan kabut racun pemakan Qi yang membuat mutasi pasukan Yan berbalik memakan tubuh mereka sendiri, sementara Jue Ying dan murid-muridnya memenggal kepala para komandan Yan dari dalam bayangan.

Hanya dalam waktu lima belas menit, invasi mengerikan yang seharusnya meruntuhkan Kerajaan Zhao berubah menjadi ladang pembantaian sepihak. Pasukan mutan yang kebal senjata itu dipotong-potong layaknya rumput gandum di musim panen.

Sepuluh Mil dari Medan Perang. Puncak Tebing Hitam.

Tiga sosok berjubah berdiri mematung di atas tebing, mengawasi pembantaian di bawah sana dengan mata yang terbelalak ngeri. Mereka adalah Tiga Utusan Bencana dari Alam Iblis: Gui Huo, Xue Ying, dan Po Sui.

Mereka sengaja memberikan Pil Darah kepada Kerajaan Yan untuk menguji kekuatan "Dewa Pelindung" Kerajaan Zhao. Mereka mengira akan melihat pertempuran magis yang sengit, atau setidaknya memancing dewa itu keluar dengan susah payah.

Namun, kenyataan menampar mereka dengan sangat keras.

Bukan ahli tingkat Nirvana yang keluar. Melainkan sekelompok pemuda berusia awal dua puluhan! Dan pemuda-pemuda ini... membantai pasukan Core Formation tanpa menggunakan sihir yang mencolok, hanya mengandalkan kebrutalan fisik, teknik membunuh murni, dan Niat Pedang yang melampaui usia mereka!

"T-Tidak mungkin..." Utusan Xue Ying melangkah mundur, cakar darahnya gemetar. "Gaya bertarung mereka... mereka bukan kultivator fana biasa! Teknik tulang itu, niat pedang pembunuh itu... mereka diajari oleh eksistensi yang sangat mematikan. Mereka bertarung seperti iblis dari jurang terdalam!"

Utusan Po Sui, raksasa bermata empat, menggertakkan giginya. "Kerajaan ini bukan dilindungi oleh dewa. Kerajaan ini adalah sarang pembunuh bayaran tingkat tinggi! Pantas saja Jenderal Ba-Ghul musnah tanpa jejak!"

Utusan Gui Huo, yang tubuhnya terbalut api hijau, memadamkan auranya sekecil mungkin. Teror absolut mencengkeram intinya. Jika murid-muridnya saja sekuat dan sebrutal ini, monster macam apa guru yang melatih mereka di balik bayang-bayang Ibukota Zhao?

"Rencana kita gagal," desis Gui Huo dengan suara parau. "Menculik gadis Yin Primordial itu secara langsung sama saja dengan bunuh diri. Kita harus segera kembali ke Gerbang Neraka terdekat! Kita harus melapor kepada Raja Iblis Xue Sha bahwa Kerajaan Zhao adalah zona kematian!"

Ketiga utusan tingkat Nascent Soul itu, yang biasanya sombong dan menganggap nyawa manusia seperti semut, kini berbalik arah dengan panik. Mereka merobek ruang dimensi untuk melarikan diri dengan ekor di antara kedua kaki mereka.

Namun, tepat saat mereka membalikkan badan...

Udara di atas tebing itu mendadak terasa sangat berat. Suhu anjlok drastis, bukan karena es, melainkan karena Niat Membunuh yang sangat pekat, sedingin luar angkasa yang hampa.

Seorang pemuda, mengenakan jubah hitam elegan dengan pita giok di rambutnya, sedang duduk santai di atas batu besar tepat di jalur pelarian mereka. Ia memegang sebuah apel merah di tangan kirinya, dan melemparkannya ke atas lalu menangkapnya kembali.

Zhao Xuan menatap ketiga utusan iblis itu dengan mata hitamnya yang menyerupai lubang hitam.

"Tamu dari Alam Iblis," sapa Zhao Xuan, suaranya renyah namun mengandung tekanan gravitasi dari Roda Bintang Pertamanya yang langsung membuat ketiga iblis itu kesulitan bernapas. "Kalian yang menabur racun di halamanku, mengapa kalian buru-buru pergi sebelum pestanya selesai?"

Mata ketiga utusan iblis itu menyusut. Pemuda ini... muncul tanpa memicu fluktuasi ruang sedikit pun!

Zhao Xuan menggigit apel merahnya dengan suara yang renyah.

"Duduklah. Mari kita mengobrol tentang Raja Iblis kalian," senyum sang Asura melebar, dan bagi ketiga iblis itu, senyuman tersebut adalah pemandangan paling mengerikan yang pernah mereka lihat dalam ribuan tahun usia mereka.

1
Yanka Raga
😎🤩
Yanka Raga
🤩😎
Yanka Raga
😎🤩
alexander
bagus ceritanya
Yanka Raga
🤩😎
saniscara patriawuha.
gasssdd deuiiii manggg minnnn
saniscara patriawuha.
sikatttttt sudahhhhh
abyman😊😊😊
Hahahah🤣
saniscara patriawuha.
gassssdddd...
Rinaldi Sigar
lnjut
abyman😊😊😊
Bantaiiiiiiiiiiii 💪💪💪
saniscara patriawuha.
wadohhhhhh wadohhhhh
Rinaldi Sigar
lanjut
Yanka Raga
😎🤩
Rinaldi Sigar
lnjut
saniscara patriawuha.
ohh yessss
Yanka Raga
🤩😎
saniscara patriawuha.
bantaiiii habisssd manggg suannnn
saniscara patriawuha.
apa nggak terkencing kencing itu...
Yanka Raga
😎🤩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!