Cassia Bellvania Anahera adalah personifikasi keanggunan di SMA Kencana, dengan rambut panjang yang menjadi simbol harga diri dan kasih sayang kakaknya, Kalingga. Namun, dunia Cassia yang berwarna merah muda seketika berubah menjadi kelabu saat ia mendapati kekasihnya, Zidane, dan sahabatnya, Elara, mengkhianatinya. Penghinaan Zidane terhadap dirinya—yang dianggap hanya sebagai "pajangan membosankan"—memicu ledakan luka yang mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aspal dan rahasia
Malam itu, kawasan industri tua terasa lebih mencekam dari biasanya. Bau ban terbakar dan bensin menyengat di udara. Deru mesin motor saling bersahutan, menciptakan simfoni liar di bawah lampu jalan yang temaram.
Anggota Acheron berkumpul di sisi kiri lintasan, sementara di sisi kanan, geng The Vipers—yang dikenal licik dan kasar—sudah bersiap dengan motor-motor modifikasi mereka yang bising.
"Mana si Hantu itu? Apa dia takut setelah dengar nama The Vipers?" teriak salah satu anggota Vipers sambil tertawa mengejek.
Kalingga yang berdiri di dekat garis start hanya melipat tangan di dada. "Sabar. Kalau dia memang pembalap sejati, dia pasti datang."
Tepat saat itu, raungan mesin yang dalam dan stabil memecah keramaian. Sebuah motor hitam doff tanpa stiker, tanpa nomor, muncul dari kegelapan. Pengendaranya, Phantom, mengenakan jaket kulit yang tampak kebesaran, menyembunyikan lekuk tubuhnya dengan sempurna. Masker hitam menutupi leher hingga dagunya, dan helm full face gelapnya menutup rapat segala ekspresi.
Cassia, di balik helm itu, mengatur napasnya. Jantungnya berdegup kencang, tapi bukan karena takut. Ini adalah adrenalin. Di sini, dia bukan adik Kalingga yang malang. Di sini, dia bukan manekin Zidane.
"Sepuluh juta. Tunai," suara Cassia terdengar berat karena tertutup masker dan helm.
"Berani juga lu, Bocah," pimpinan Vipers maju, seorang cowok bertubuh gempal yang dikenal sering bermain curang. "Kalau lu kalah, motor lu jadi milik gue."
Cassia hanya mengangguk kecil. Ia memosisikan motor Nyx-nya di garis start.
Di sudut yang gelap, jauh dari kerumunan, Galaksi mengawasi dari atas motornya. Matanya tak lepas dari sosok Phantom. Ia tahu itu Cassia. Ia tahu betapa gilanya gadis itu nekat berada di sini. Tangannya sudah bersiap di atas kopling; jika terjadi sesuatu yang membahayakan Cassia, ia akan menjadi orang pertama yang menerjang masuk.
BUM!
Kembang api kecil diledakkan sebagai tanda start. Kedua motor melesat bak anak panah.
Vipers memimpin di awal, ia sengaja memepet motor Cassia ke arah trotoar. Cassia bisa merasakan panas dari knalpot lawan. Namun, Cassia bukan pembalap amatir yang mudah panik. Ia mengingat setiap lekuk jalan ini. Saat tikungan tajam pertama, Cassia melakukan late braking—ia mengerem di titik terakhir yang tidak masuk akal.
Sreeet!
Ban belakang Nyx berdecit, Cassia memiringkan motornya hingga nyaris menyentuh aspal, lalu melesat keluar dari tikungan, menyalip Vipers dari sisi dalam yang sangat sempit.
"Gila! Dia berani ambil sudut sesempit itu!" seru salah satu anggota Acheron. Kalingga bahkan sampai berdiri dari duduknya, terpukau. "Siapa sih sebenarnya dia?"
Di trek lurus terakhir, Vipers yang emosi mencoba menendang motor Cassia. Cassia melihat gerakan itu dari sudut matanya. Ia dengan sengaja menurunkan kecepatan sedikit, membuat Vipers kehilangan keseimbangan karena tendangannya meleset mengenai angin, lalu Cassia menarik gas sedalam mungkin (full throttle).
Nyx melesat, melewati garis finis dengan selisih tiga motor.
Sorak-sorai pecah. Cassia segera mengerem jauh di depan, ia tidak ingin dikerubungi. Mang Dadang dengan sigap menghampirinya, mengambil tas berisi uang taruhan, dan membisikkan sesuatu.
"Cepat pergi, anak-anak Vipers nggak terima kalah."
Cassia mengangguk. Namun, sebelum ia sempat memutar balik, sebuah motor biru tua besar menghadang jalannya. Itu Galaksi.
"Ikut gue," ucap Galaksi singkat lewat interkom helmnya yang tersambung frekuensi umum pembalap di sana.
Tanpa pilihan, Cassia mengikuti Galaksi menjauh dari kerumunan, menembus gang-gang sempit hingga sampai di sebuah taman kota yang sepi. Mereka berdua berhenti. Galaksi turun dari motor, melepas helmnya, dan menatap motor hitam Cassia.
"Buka helm lo, Cassie," perintah Galaksi. Suaranya tidak membentak, tapi penuh otoritas.
Cassia terdiam cukup lama. Perlahan, ia melepas helmnya. Rambut aslinya yang pendek kini basah oleh keringat, berantakan, namun matanya memancarkan api keberanian yang belum pernah Galaksi lihat sebelumnya.
"Sejak kapan?" tanya Galaksi pelan.
"Sejak aku sadar kalau jadi adik yang manis nggak bisa melindungiku dari rasa sakit," jawab Cassia menantang.
Galaksi melangkah mendekat, tangannya terulur untuk menghapus noda oli di pipi Cassia. "Lingga bakal hancur kalau tahu adiknya bertaruh nyawa di jalanan."
"Maka dari itu, jangan kasih tahu dia," sahut Cassia.
Tiba-tiba, suara motor lain terdengar mendekat. Itu motor Kalingga! Rupanya Kalingga curiga melihat Galaksi pergi mengejar pembalap misterius itu.
"Sembunyi!" Galaksi menarik Cassia ke balik tembok besar sebuah paviliun taman, menekan tubuh gadis itu agar tidak terlihat, sementara motor hitam Cassia sudah ditutupi terpal yang memang disiapkan Galaksi di sana.
Napas Cassia tertahan saat punggungnya bersentuhan dengan dada bidang Galaksi. Jantungnya berdegup lebih kencang daripada saat balapan tadi.
"Sheq? Lo di sana?" teriak Kalingga dari kejauhan, lampunya menyorot ke arah taman.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...