NovelToon NovelToon
Benih Yang Tertukar

Benih Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Hamil di luar nikah / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Enemy to Lovers
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Eliana Rovelle

Isabella Harper adalah wanita muda dan mandiri yang tidak pernah kalah dalam perdebatan. Dia merasa hidupnya akhirnya sesuai dengan keinginannya. Dia memiliki pekerjaan yang bagus dan rumah baru yang nyaman. Hidupnya sempurna.

Dia memiliki semua yang diinginkannya kecuali satu hal, seorang bayi.

Karena pengalaman pahit di masa lalu, Bella kesulitan mempercayai laki-laki, sehingga dia tidak punya pilihan lain selain donor sperma.

Lalu apa yang terjadi ketika dia mengetahui bahwa ada kesalahan penempatan, bahwa dia mengandung benih dari pewaris miliarder Rafael Mogensen?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana Rovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#19. mencari pengawal untuk Bella

“Selanjutnya!” seru Rafael, memanggil kandidat berikutnya untuk masuk.

Begitu pintu tertutup kembali, ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa dan mencoret satu nama lagi dari daftar di tangannya.

“Kau yakin ingin melanjutkan ini?” tanya Jack santai sambil mengunyah popcorn. “Jangan-jangan ini cuma karena keputusasaan.”

Rafael kembali berada di apartemen Jack, melakukan serangkaian wawancara. Setelah Bella dengan tegas memintanya berhenti mengganggunya, satu-satunya pilihan yang tersisa adalah meminta orang lain melakukan hal itu untuknya.

Ia harus memastikan ada seseorang yang menjaganya. Pengawal, tepatnya.

Tentu saja Bella tidak akan pernah setuju dengan ide itu. Karena itulah Rafael membutuhkan seseorang yang bisa berada di dekatnya sebagai ‘teman’ untuk mengawasi, tanpa menimbulkan kecurigaan. Dengan begitu, ia bisa merasa tenang bahwa tidak akan terjadi apa pun pada bayinya.

“Dia tidak ingin aku mengganggunya. Aku harus melakukan ini.”

Secara teknis, Rafael tidak harus melakukannya. Namun nalurinya mengatakan ini adalah langkah terbaik, terlebih ia akan pergi berlibur selama dua minggu ke depan.

“Bukankah kau baru saja menandatangani kontrak?” Jack menimpali. “Secara teknis, ini bisa dianggap pelanggaran, bukan?”

“Ada klausulnya,” jawab Rafael.

Jack mengangkat alis.

“Kontrak itu menyatakan aku tidak boleh mengganggunya. Tidak pernah tertulis bahwa aku tidak boleh menyewa seseorang untuk melakukannya,” lanjut Rafael dengan seringai puas.

Jack hanya menggelengkan kepala, jelas tidak sepenuhnya setuju.

Rafael tahu dirinya bisa menjadi obsesif. Ia mulai menyadarinya belakangan ini. Namun ia tak mampu menghentikan pikirannya. Bella terus muncul dalam situasi-situasi yang tak terduga. Ada pengaruh dalam dirinya yang mencengkeram Rafael dengan kuat.

Ia tahu ini terdengar gila, tetapi sebagian dirinya merasa hubungan itu seharusnya berjalan dua arah. Ia ingin memiliki pengaruh yang sama besar atas Bella, seperti yang Bella miliki atas dirinya.

Bahkan jika perempuan itu membencinya.

Keberadaan pengawal akan menenangkannya. Itu akan membantunya berhenti mencari-cari alasan untuk selalu berada di dekat Bella.

“Kau selalu punya rencana cadangan untuk segalanya, ya?” tanya Jack.

“Ya,” jawab Rafael sambil menelusuri daftar dan mencari nama kandidat berikutnya.

Ia hanya kalah dalam satu pertempuran. Kontrak itu mungkin menghambat langkahnya, tetapi Rafael yakin, ia masih selangkah lebih maju.

“Jadi,” Jack memulai sambil menyender ke sandaran kursi. “Apa kau masih berencana mengambil bayi itu darinya?”

Rafael tidak langsung menjawab. Bagi dirinya, pertanyaan itu bahkan tidak perlu diajukan. Bayi itu adalah anaknya, hal yang sudah ia jelaskan berkali-kali.

“Ya. Mantan pacarnya, Leon, akan kembali sekitar dua bulan lagi. Anggap saja aku bersedia menawarkan pekerjaan impiannya sebagai imbalan atas satu bantuan kecil.”

Rafael hanya membuktikan bahwa Bella bukanlah ibu yang layak.

Dari informasi yang ia kumpulkan, Leon adalah pria ambisius dengan moral yang mudah dibeli. Rakus uang. Beberapa lembar dolar saja cukup untuk mendorongnya melakukan apa pun.

Pintu kembali terbuka, menandakan kandidat berikutnya masuk. Rafael menarik napas dalam-dalam, memaksa dirinya fokus. Ia membutuhkan seseorang yang tampak ramah, santai, mudah didekati, dan mampu memikat hati dengan cara yang alami. Seseorang yang pada dasarnya adalah kebalikannya. Namun, di atas segalanya, orang itu harus mampu melindungi Bella.

Kali ini, ia memilih menggunakan jasa sebuah agensi profesional. Mereka berjanji akan mengirimkan kandidat terbaik.

Begitu pria itu melangkah mendekat, Rafael langsung mengamatinya dengan saksama.

Tingginya sekitar enam kaki lebih, tubuhnya berotot dengan urat-urat yang menonjol jelas di kedua lengan. Kulitnya dipenuhi tato ular, tulisan samar, dan sebuah salib besar di lengan atas. Wajahnya keras, sorot matanya tajam dan dingin.

Kedua tangannya terkepal. Rafael yakin, satu pukulan darinya saja cukup untuk membuat seseorang berakhir di rumah sakit.

Pria itu berdiri tepat di hadapan Rafael dan Jack, dengan meja besar menjadi satu-satunya pembatas di antara mereka.

Sekilas saja sudah cukup. Ia tidak cocok.

Aura intimidatifnya terlalu kuat. Tak mungkin Bella akan merasa nyaman berada di dekatnya, dan bahkan jika itu terjadi, Rafael justru akan semakin gelisah. Pria itu lebih terlihat seperti pemimpin kartel narkoba daripada seseorang yang bisa berpura-pura menjadi teman.

Rafael menahan desahan frustrasi. Ia seharusnya mencantumkan persyaratan fisik secara lebih spesifik saat menghubungi agensi tersebut.

Setidaknya, ia masih bisa mengajukan beberapa pertanyaan. Malam itu Rafael merasa sedikit bodoh.

“Siapa nama Anda, Pak?” tanyanya akhirnya, pandangannya turun ke kertas berisi daftar nama di tangannya.

Jack tampak santai, duduk sambil mengunyah popcorn dan memperhatikan interaksi di hadapannya seolah sedang menonton pertunjukan.

“Carmen,” jawab pria itu dengan suara berat dan dalam. Suaranya termasuk jenis yang langsung membuat bulu kuduk meremang, mengingatkan Rafael pada tipikal ayah mertua berwajah keras dengan masa lalu kelam.

“Apakah Anda memiliki pengalaman?” tanya Rafael.

Ia sebenarnya sudah membaca CV pria itu, namun ia selalu meminta konfirmasi lisan. Pengalamannya mengajarkan bahwa tak sedikit kandidat yang bahkan tidak memahami isi curriculum vitae yang diklaim milik mereka.

“Ya, Pak. Saya pernah bertugas sebagai pengawal pribadi putri seorang wali kota di California, selama tiga bulan terakhir,” jawabnya mantap.

Rafael mengangguk pelan. Ia melontarkan beberapa pertanyaan lanjutan, dan pria itu menjawab semuanya dengan lugas dan meyakinkan. Dari pengamatannya, kandidat tersebut tampak profesional dan cukup kompeten, tipe orang yang mungkin akan sangat berguna dalam situasi berisiko tinggi.

“Terima kasih sudah datang. Asisten saya akan menghubungi Anda,” kata Rafael sambil memberi isyarat bahwa wawancara telah selesai. Pria itu mengangguk singkat, lalu meninggalkan ruangan.

Jack baru buka suara setelah pintu tertutup rapat. “Bahkan suaranya saja terdengar mengintimidasi. Aku nggak akan pernah bisa meniru nada suara seperti itu,” komentarnya.

“Ya. Tapi itu karena kau belum benar-benar melewati masa pubertas,” sahut Rafael. Ia terkekeh pelan pada leluconnya sendiri. Jack hanya mengerutkan kening dan menatapnya seolah Rafael baru saja mengatakan sesuatu yang sangat mengkhawatirkan.

Tatapan itu jelas berkata: 'aku akan membalasmu.'

Tak lama kemudian, kandidat berikutnya masuk. Pria ini tingginya sekitar enam kaki, hanya beberapa inci lebih pendek dari Rafael. Rambutnya sebahu dengan janggut tipis yang terawat. Tubuhnya tidak terlalu kekar, namun posturnya menunjukkan ia cukup cakap secara fisik.

“Saya Dawall,” katanya dengan senyum cerah.

Senyum itu tetap bertahan sementara Rafael menelusuri daftar nama di tangannya.

Biasanya, Rafael lebih memilih orang-orang yang tampak serius dan kaku. Namun, mungkin justru itulah alasan mengapa lingkungan kerjanya sering terasa begitu suram.

“Apakah Anda memiliki pengalaman yang relevan?” tanya Rafael, meski ia sudah hafal detail di CV tersebut.

“Ya, Pak. Saya pernah bekerja sebagai pengawal bagi beberapa politisi papan atas,” jawab Dawall dengan percaya diri. “Saya terlatih dalam tinju, berbagai seni bela diri, serta penanganan bahan peledak.”

Nada bangga terdengar jelas dalam suaranya.

Rafael mengamati pria itu lebih saksama. Kali ini, ia merasa mungkin agensi itu akhirnya mengirimkan seseorang yang mendekati kriteria yang ia cari.

Rafael kembali memeriksa CV kandidat tersebut untuk memastikan keasliannya. Semua bukti tercantum lengkap—sertifikat prestasi, surat rekomendasi, hingga nomor telepon referensi yang bisa dihubungi.

Secara objektif, pria itu sangat memenuhi syarat untuk posisi tersebut. Namun tetap saja, ada sesuatu yang mengganggu Rafael. Perasaan tidak nyaman itu muncul tanpa alasan logis yang jelas.

Mungkin karena dia tampak seperti pria yang terlalu sempurna untuk Bella, bisik alam bawah sadarnya.

Rafael melontarkan beberapa pertanyaan tambahan kali ini bukan semata demi prosedur, melainkan untuk kepuasannya sendiri.

“Terima kasih sudah datang. Kami akan segera menghubungi Anda,” ujar Rafael sambil memberi isyarat agar wawancara diakhiri.

“Terima kasih, Pak,” jawab pria itu sopan, mengangguk singkat sebelum melangkah keluar ruangan.

Begitu pintu tertutup, Jack langsung bersuara. “Kenapa kau tidak mempekerjakannya? Dia kelihatan—”

“Seperti kandidat terbaik untuk posisi itu,” potong Jack sendiri sambil terus mengunyah popcorn.

Rafael melirik sekilas, heran bagaimana temannya itu bisa terus makan tanpa henti.

“Aku memang tidak menyukainya,” jawab Rafael jujur.

“Alasan yang sangat profesional,” balas Jack dengan sarkastik.

“Aku sedang mencari pengawal untuknya, bukan pacar,” sahut Rafael defensif.

“Cemburu sekali,” gumam Jack pelan.

Rafael memilih mengabaikannya. Ponsel di atas meja tiba-tiba bergetar. Nama Claire muncul di layar—asisten dari asistennya.

“Halo,” jawab Rafael.

“Halo, Pak,” suara Claire terdengar tegang. “Ada masalah dengan proyek Rusia. Tuan Federikke ingin berbicara langsung dengan Anda. Beliau sudah menunggu di kantor Anda.”

Dalam sekejap, suasana santai itu menguap.

Federikke Lund bukan klien sembarangan. Ia adalah mitra penting sekaligus teman lama ayah baptis Rafael, Richard—alasan utama Rafael menyetujui kerja sama tersebut. Terlebih lagi, pria itu dikenal perfeksionis dan sangat menuntut.

Dan jika Federikke Lund sudah menunggu, berarti masalahnya tidak kecil.

“Sampaikan padanya bahwa aku akan segera sampai,” ujar Rafael singkat.

Pertemuan dengan Federikke hampir pasti akan menyita sebagian besar waktunya. Itu berarti sesi wawancara hari ini harus dihentikan. Bahkan tanpa banyak liburan singkat yang ia sisipkan di sana-sini, kalender kerjanya sudah terisi padat bahkan nyaris terjadwal hingga dua tahun ke depan.

Ia tidak punya waktu untuk melanjutkan ini.

“Baik, Pak,” jawab Claire sebelum sambungan terputus.

Rafael menutup telepon dan menghembuskan napas panjang.

“Ada masalah dalam hubungan kita?” tanya Jack bercanda.

“Aku harus kembali bekerja,” jawab Rafael sambil memasukkan ponsel ke saku jasnya.

Keputusan itu akhirnya diambil terpaksa.

Ia harus mempekerjakan pria bernama Dawall. Kandidat itu satu-satunya pilihan yang tersisa. Rafael tidak mempercayai siapa pun untuk melakukan proses wawancara atas namanya.

“Bisa kirim email ke Dawall dan beri tahu bahwa dia diterima?” perintah Rafael kepada Jack. Ia berharap tugas sesederhana itu bisa diselesaikan tanpa kekacauan.

“Sampaikan juga agar dia datang ke kantorku besok pagi, jam sembilan. Dia juga perlu mengganti namanya,” tambahnya.

Rafael sebenarnya ingin mengurusnya sendiri, tetapi waktu jelas tidak berpihak padanya.

Jack mengangkat tangan, dua jarinya menyentuh dahi sebagai bentuk hormat.

Rafael mengernyit tipis. Dawall jelas perlu banyak penyesuaian. Penampilannya harus diubah, dimulai dari potongan rambut dan janggut yang tampak terlalu santai, bahkan mungkin namanya.

“Terima kasih,” katanya sambil mengumpulkan barang-barang lalu pergi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!