Ririn tidak menyangka, nasibnya akan seperti ini. Setelah kedua orang tuanya meninggal, Seluruh kekayaan Orang tuanya di curi Akuntan keluarganya, dan Akuntan itu kabur keluar negri.
Rumahnya di sita karena harus membayar hutang, dan sekarang Ririn harus tinggal di rumah Sahabat Anggie.
Anggie menawarkan pekerjaan kepada Ririn sebagai Disagner di perusahan IT ternama, tanpa Ririn tau ternyata perusahan IT itu milik mantan pacarnya Baskara, yang punya dendam kesumat sama Ririn.
Apa yang akan terjadi dengan Ririn akan kah dia bertahan dengan pekerjaannya karena kebutuhan, Atau kah dia akan menemukan cinta yang lama yang sempat terputus karena salah paham
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mungkin Ini Akhirnya
Setelah sekian lama, Ririn akhirnya merasa hidupnya kembali normal tidak ada lagi perintah-perintah aneh.
Tidak ada belanja mendadak, tidak ada makan malam wajib, tidak ada urusan pribadi yang harus dia urus di luar jam kerja.
Ririn tinggal di apartemen bagus gratis gajinya besar
pekerjaannya pun ya, pekerjaan asisten pada umumnya.
Sambil menatap langit-langit apartemennya suatu malam, Ririn tersenyum sendiri.
“Sebentar lagi juga bakal diusir,” gumamnya pelan sambil nyengir.
“Tapi nggak apa-apa at least gue bebas.”
Di kepalanya, masa depan mulai terasa lebih ringan. akhirnya dia jadi karyawan normal akhirnya Baskara sibuk dengan dunianya sendiri.
Dan Ririn bisa mendekati Iqbal tanpa hambatan namun semesta rupanya suka bercanda pada hari itu di kantor Baskara menghampiri Ririn yang sedang fokus bekerja.
“Rin, siapin waktu kita belanja.”
Ririn mengangkat kepala dari laptop.
“Belanja, Pak?”
“Iya ke tempat biasa.” kata Baskara menjelaskan.
Jantung Ririn langsung berdebar aneh, tempat biasa?
Itu jelas bukan supermarket, dalam hatinya dia menghela napas, Akh paling juga disuruh jadi manekin hidup lagi.
Dan benar saja, butik demi butik mereka datangi. Ririn kembali keluar masuk kamar ganti, mencoba berbagai dress. Kali ini lebih santai dia tidak lagi cemberut, tidak lagi menggerutu.
“Yang ini gimana, Pak?” tanya Ririn sambil keluar dari kamar ganti dengan dress berwarna lembut.
Baskara menatapnya agak lama. “Coba yang itu juga.”
Ririn mengambil dress lain. “Yang modelnya lebih simple?”
“Iya.” ucap Baskara singkat.
Ririn tersenyum kecil. “Menurut saya yang tadi lebih cocok sih, Pak. Warnanya lebih hidup.”
Baskara mengangguk. “Kamu sekarang berani kasih pendapat.”
“Kan Bapak nggak marah-marah sekarang” jawab Ririn ringan.
Baskara tertawa kecil mendengar ucapan Ririn, setelah dress, merekan lanjut berbelanja sepatu tas,perhiasan, Ririn bahkan ikut memilih.
“Kalau ini terlalu rame, Pak.” kata Ririn lembut.
“Yang itu elegan tapi nggak norak.”
“Kalau dipakai barengan nanti tabrakan.”
Baskara hanya memperhatikan, sesekali tersenyum tipis anehnya, Ririn menikmatinya gaji gue gede ini bukan kewajiban aneh lagi katanya dalam hati.
Anggap aja kerja profesional, pikirnya setelah semua selesai, mereka makan siang bersama seperti biasa.
Saat makanan hampir habis, Baskara berkata santai,
“Semua barang itu kamu bawa pulang ya, Rin.”
Ririn mengangguk. “Baik, Pak. Nanti saya atur,”
“Soalnya saya butuh kamu pakai itu semua.” Ungkap Baskara membuat Ririn terkejut.
“Hah?”
Ririn membeku. Sumpitnya berhenti di udara.
“Semua ini buat saya, Pak?”tanya Ririn masih terkejut.
“Iya.” jawab Baskara singkat.
“Hari Sabtu saya undang kamu ke acara keluarga saya yah.” kata Baskara lagi.
Ririn terdiam beberapa detik. Otaknya bekerja keras acara bosnya, Ririn langsung teringat Lola. Ini pasti acara pertunangan.
“Ooh,” Ririn tersenyum, cepat menyusun kesimpulan paling aman.
“Siap, Pak Saya pasti datang.”
Baskara menatapnya sebentar, lalu mengangguk. Ririn menunduk kembali ke makanannya, senyumnya tetap terpasang.
Oke, batinnya mungkin ini hadiah perpisahan. mungkin ini penutup dari semua siksaan lahir batin selama ini dia tersenyum kecil sendiri.
“Cukup sepadan,” gumamnya pelan.
"Kenapa Rin," tanya Baskara heran mendengar ucapan Ririn.
"Eh, nggak pak cuman mau bilang terimakasih,"
Tanpa Ririn sadari satu hal penting sedang terjadi, bahwa senyum Baskara yang duduk di hadapannya, tidak terlihat seperti senyuman seseorang yang hendak mengumumkan pertunangan.
Ririn menyimpan semua hadiah dari Baskara dengan rapi ke dalam lemari.
Satu per satu Ririn menggantung dress itu, sepatu disusun kembali ke dalam kotaknya, tas diletakkan di rak atas, perhiasan disimpan di kotak kecil. dia menatap semuanya beberapa detik, lalu tersenyum pelan.
“Mungkin ini yang terakhir,” gumamnya.
Kalaupun setelah acara itu dia dipecat, Ririn merasa tak masalah. Tabungannya sudah lumayan. Selama satu tahun bekerja di perusahaan itu sebagai asisten, atau lebih tepatnya pembantu serba bisa, dia berhasil mengumpulkan cukup banyak uang.
Ririn bersandar di pintu lemari, menarik napas panjang setahun, batinnya setahun penuh bertahan.
Dia membayangkan setelah Baskara menikah, segalanya akan berubah beban berkurang pekerjaan kembali normal.
Tidak ada lagi kebohongan, tidak ada lagi drama gadis-gadis, tidak ada lagi tugas-tugas aneh di luar kantor.
Kerja halal, pikirnya sambil tersenyum tanpa bohong lagi.
Kalau pun dia masih bekerja di sana dengan gaji yang sama, itu sudah lebih dari cukup. Hidupnya akan tenang tidak perlu lagi waspada setiap hari.
Ririn mengangguk kecil pada dirinya sendiri, merasa puas.
“Akhirnya indah pada waktunya,” katanya lirih dia tersenyum lebih lebar, sedikit bangga.
“Itu gunanya sabar,” ujarnya lagi, seolah memuji diri sendiri.