Siapa bilang setiap manusia diberi kesempatan merasakan kebahagiaan? Tidak semua orang seberuntung itu—dan gadis ini adalah buktinya. Dia dikenal banyak orang, bukan karena status, kecerdasan, atau keahliannya, melainkan karena kemalangannya yang seakan tak berujung. Hidupnya penuh caci maki, dan di setiap langkahnya, dia terus mengutuk dunia serta takdir yang menjeratnya.
Hingga suatu hari, seseorang muncul mengaku berasal dari dunia lain dan menawarkan bantuan untuk menghapus takdir terkutuknya. Namun, benarkah kebahagiaan masih mungkin untuknya? Ataukah ini hanya awal dari penderitaan baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berpamitan
Dalam kamar, Alberto berdiri.
“Kau harus beristirahat,” katanya lembut. “Kami akan memastikan keamanan diperketat.”
Kael bangkit.
Untuk sesaat, tangannya terangkat, seolah ingin menyentuh kepala Elenna, menenangkan seperti yang mungkin Ia lakukan pada adik kecil.
Namun, Ia berhenti di udara dan tangannya turun kembali
“Jika kau membutuhkan apa pun,” katanya pelan, “panggil namaku.”
Bukan panggil pelayan, bukan panggil siapa saja, tetapi namanya.
Elenna mengangguk pelan.
Setelah mereka pergi, kamar kembali sunyi. Namun, kesunyian kali ini berbeda. Lebih terasa hampa. Ia menyandarkan kepala pada bantal.
Apakah mereka benar-benar peduli padanya?
Ataukah ia hanya menjadi pusat sementara karena luka yang terlihat?
Pikirannya melayang pada Lilith. Memikirkan festival nanti, gaunnya, dan sorot mata para warga. Serta bayangan dirinya, gadis berambut perak yang selalu berada di belakang mereka.
Ia memejamkan mata. Jika perhatian mereka mudah berpaling, ia tidak boleh bergantung padanya, karena hal itu akan menyakiti dirinya di masa depan.
Namun, tetap saja. Saat Kael berkata kau tidak sendiri, sesuatu di dalam dirinya ingin mempercayainya.
Di luar kamar, pelayan yang menguping itu akhirnya berjalan pergi dengan langkah cepat.
Langkah kaki belum benar-benar menjauh ketika ketukan halus kembali terdengar di pintu kamar.
Elenna membuka mata yang tadi sempat terpejam. Seorang pelayan wanita masuk dan membungkuk dalam-dalam.
“Tuan Muda Alberto,” katanya hati-hati, “kereta dari istana telah tiba. Hari ini adalah jadwal kunjungan Yang Mulia Isabella.”
Nama itu menggantung di udara seperti lonceng perak yang dipukul pelan.
Isabella.
Putri kekaisaran.
Alberto menghela napas panjang, pelan, seolah baru mengingat sesuatu yang tak bisa dihindari. Tangannya menyapu wajahnya sekilas, menenangkan diri. “Sudah waktunya?” tanyanya, meski jelas Ia tahu jawabannya.
“Ya, Tuan Muda. Ia telah menunggu di ruang tamu utama.”
Alberto terdiam beberapa detik. Tatapannya secara refleks beralih ke arah pintu kamar Elenna. Ada jeda di sana, sebuah keraguan tipis yang hanya muncul sepersekian detik.
Lalu Ia menegakkan bahu.
“Aku akan segera ke sana.”
Pelayan itu mundur.
Alberto berbalik dan kembali membuka pintu kamar tanpa mengetuk kali ini. Elenna yang setengah bangun memandangnya dengan sedikit bingung.
“Maaf,” katanya lembut. “Aku harus pergi lebih dulu. Ada tamu penting.”
Ia tidak menyebut nama itu. Namun Elenna sudah cukup sering mendengar bisikan di mansion untuk memahami siapa yang dimaksud.
Putri kekaisaran.
Calon yang disebut-sebut paling cocok mendampingi pewaris wilayah ini.
“Tidak apa,” jawab Elenna pelan. “Silakan.”
Alberto tersenyum tipis, meski senyum itu terasa lebih formal dari sebelumnya.
“Beristirahatlah. Aku akan kembali nanti.”
Dan ia pun pergi, dengan pintu yang tertutup perlahan.
Kini yang tersisa di kamar itu hanyalah dua orang.
Kael masih berdiri di dekat jendela, siluetnya diselimuti cahaya pagi yang menembus tirai tipis. Ia tidak langsung berbicara.
Elenna memperhatikan punggungnya.
Sunyi kembali turun, tapi bukan sunyi kosong. Ada sesuatu yang belum selesai.
Akhirnya Kael berbicara, tanpa menoleh.
“Isabella sering datang menjelang festival.”
Nada suaranya datar. Netral.
“Putri kekaisaran?” tanya Elenna.
Kael mengangguk pelan. “Ya.”
Ia berbalik kini, menatap Elenna dengan tatapan yang sulit dibaca.
“Hubungan antara keluarga kita dan kekaisaran… harus selalu dijaga.”
Elenna menangkap maksud yang tak diucapkan. Politik, aliansi, dan pernikahan.
Ia tersenyum kecil, meski ada sesuatu yang terasa mengganjal di dadanya.
“Jadi itulah sebabnya keamanan diperketat,” katanya ringan. “Bukan hanya karena aku.”
Kael mengerutkan kening sedikit. “Keamanan diperketat karena banyak alasan.”
“Tentu,” jawabnya lembut.
Ada keheningan lagi.
Kael melangkah mendekat ke ranjang, berhenti di sisi yang cukup jauh untuk menjaga jarak, tapi cukup dekat untuk tidak terasa asing.
“Aku perlu mengatakan sesuatu,” katanya akhirnya.
Nada suaranya berubah, terdengar lebih berat.
Elenna menatapnya.
“Besok, aku dan kakakku akan kembali ke wilayah Utara.”
Kata-kata itu jatuh tanpa kiasan, tidak bertele-tele, tidak ada drama, tidak ada jeda panjang.
Namun, maknanya terasa jelas.
“Secepat ini?” ulang Elenna pelan.
Kael mengangguk. “Ayah memanggil kami. Ada urusan administrasi dan beberapa laporan yang harus ditangani langsung. Wilayah tidak bisa dibiarkan terlalu lama tanpa pengawasan.”
Ia tidak menyebut Duke dengan nada emosional. Hanya fakta.
“Bagaimana dengan festival?” tanya Elenna.
“Kami mungkin tidak akan berada di sini saat itu berlangsung.”
Jawaban itu membuat udara di dalam kamar terasa lebih dingin.
Elenna menunduk, memperhatikan selimut yang menutupi lututnya. Ujung jarinya menyentuh perban di lengannya tanpa sadar.
“Begitu.”
Hanya itu.
Kael memperhatikan reaksi itu dengan seksama. Ia mungkin mengharapkan sesuatu, protes kecil, kekecewaan, atau setidaknya pertanyaan lanjutan.
Namun, Elenna tetap tenang.
“Aku tidak ingin kau mengetahuinya dari orang lain,” lanjut Kael. “Dan aku tidak ingin pergi tanpa memberitahumu.”
Kali ini, ia lebih jujur.
Elenna mengangkat wajahnya. “Terima kasih.”
Ia tersenyum tipis.
“Wilayah lebih penting. Itu tanggung jawabmu.”
Kael sedikit mengernyit. “Bukan soal penting atau tidak.”
“Lalu?”
Ia terdiam. Ada begitu banyak hal yang ingin Ia katakan, tetapi tidak satu pun terdengar pantas untuk diucapkan keras-keras.
Bahwa Ia tidak suka meninggalkan keadaan seperti ini.
Bahwa mansion terasa tidak aman. Bahwa ia tidak
percaya sepenuhnya pada semua orang di dalamnya.
Namun, Ia bukan tipe pria yang berbicara tentang kekhawatiran tanpa bukti.
“Aku hanya ingin kau berhati-hati,” katanya akhirnya.
Elenna tersenyum lagi, kali ini lebih lembut. “Aku selalu berhati-hati.”
“Belum cukup.”
Jawaban itu datang cepat.
Elenna sedikit terkejut.
Kael menarik napas, menurunkan suaranya.
“Penculikan itu bukan kebetulan. Aku yakin ada dalang di balik Count"
“Kau pikir ada yang merencanakannya dari dalam?” tanyanya pelan.
“Aku pikir ada yang diuntungkan jika kau tidak hadir di festival.”
Keheningan jatuh lagi.
Nama Lilith tidak disebut, mungkin tidak perlu. Karena tanpa disebut pun Elenna sudah menaruh curiga padanya
Elenna memandang ke luar jendela. Langit pagi tampak cerah, kontras dengan percakapan mereka.
“Jika memang begitu,” katanya pelan, “maka aku harus tetap hadir.”
Kael menatapnya tajam. “Itu berbahaya.”
“Tidak hadir justru lebih berbahaya.”
Ia kembali menatap Kael, kali ini dengan ketegasan yang berbeda dari biasanya.
“Jika aku menghilang sebelum festival, maka orang akan percaya pada apa pun yang mereka dengar.”
Kael mengamati wajahnya.
Gadis yang dulu tampak selalu sedikit di belakang kini berbicara dengan keyakinan yang lebih tenang.
“Kau berubah,” katanya tanpa sadar.
Elenna tersenyum samar. “Luka membuat orang berpikir.”
Ia menarik napas pelan.
“Aku tidak ingin bergantung pada perlindungan siapa pun. Jika aku harus berdiri di sana sendirian, maka aku akan berdiri.”
Kata-kata itu tidak diucapkan dengan keras. Justru karena itu terdengar lebih kuat.
Kael merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Perasaan kagum, dan khawatir.
Ia melangkah lebih dekat satu langkah lagi. Tangannya kembali terangkat sedikit, refleks yang sama seperti tadi.
Namun, kali ini ia tidak menahannya terlalu cepat. Tangannya berhenti tepat di atas bahu Elenna.
Tidak mengelus.
Hanya berada di sana.
“Elenna.”
Ia menyebut namanya perlahan.
“Berdiri sendiri bukan berarti menolak bantuan.”
Tatapan mereka bertemu “Jika aku tidak berada di sini,” lanjutnya, “itu bukan berarti kau benar-benar sendiri.”
Kalimat itu mengandung sesuatu yang lebih dalam dari sekadar janji formal.
Elenna menatapnya beberapa detik.
“Apakah kau akan kembali sebelum festival berakhir?” tanyanya pelan.
Pertanyaan itu sederhana. Namun, ada harapan kecil yang tak tersembunyi sepenuhnya di sana.
Kael tidak langsung menjawab.
“Aku akan berusaha.”
Itu bukan janji kosong. Tapi juga bukan kepastian.
Elenna mengangguk paham "Itu cukup.”
Kael akhirnya menurunkan tangannya, tapi kali ini bukan karena ragu. Lebih karena ia tahu jika ia menyentuhnya, ia mungkin tidak akan ingin menariknya kembali.
“Aku akan berbicara pada Louis,” katanya. “Ia mungkin akan tinggal lebih lama.”
Elenna menggeleng pelan. “Jangan ubah rencanamu karena aku.”
“Ini bukan soal mengubah rencana.”
“Lalu?”
“Ini soal memastikan tidak ada yang berani mencoba lagi.”
Nada suaranya mengeras sedikit.
Elenna terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari betapa seriusnya Kael memandang kejadian kemarin.
Ia bukan hanya marah.
Ia mencatatnya.
Dan itu lebih berbahaya bagi siapa pun yang terlibat. Di luar kamar, langkah kaki terdengar lagi, lebih ringan, lebih hati-hati.
Kael mendengar. Elenna juga.
Seseorang berhenti tepat di depan pintu.
Tidak mengetuk.
Hanya berdiri.
Kael melirik ke arah pintu, lalu kembali pada Elenna.
“Banyak telinga di mansion ini,” katanya rendah. “Jangan percaya pada semua yang tersenyum padamu.”
Elenna tersenyum kecil. “Aku tidak pernah benar-benar percaya.”
“Itu bagus.”
Kael melangkah mundur perlahan.
“Aku harus bersiap. Kami akan berangkat esok hari.”
Esok hari.
Waktu yang terasa terlalu cepat.
Ia menuju pintu, lalu berhenti sebelum membukanya. Tanpa menoleh, ia berkata pelan, “Apa pun yang terjadi di festival… jangan pernah menyerah"