NovelToon NovelToon
Obsesi Gala Pada Gadis Misterius

Obsesi Gala Pada Gadis Misterius

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Enemy to Lovers / Idola sekolah
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

Di sekolah, Kella hanyalah gadis yatim piatu yang miskin, pendiam, dan jadi sasaran bullying, Gala si mirid baru yang angkuh juga ikut membulinya. Kella tidak pernah melawan, meski Gala menghinanya setiap hari.

Namun, dunia Gala berputar balik saat ia tak sengaja datang ke sebuah Maid Cafe. Di sana, tidak ada Kella yang suram. Yang ada hanyalah seorang pelayan cantik dengan kostum seksi yang menggoda iman.

Kella melakukan ini demi bertahan hidup. Kini, rahasia besarnya ada ditangan Gala, cowo yang wajahnya sangat mirip dengan mendiang kekasihnya.

Akankah Gala menghancurkan reputasi Kella, atau justru terjebak obsesi untuk memilikinya sendirian?

#areakhususdewasa ⚠️



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 (Part 2)

"Kella..." suara Gala berubah seketika. Tidak ada lagi nada bossy atau dingin. Yang ada hanya nada penuh kecemasan.

Ia segera menarik beberapa helai tisu dari kotak di atas meja laboratorium dan mulai mengusap wajah Kella yang basah. "Gue minta maaf. Airnya lebih dingin dari yang gue bayangkan."

Kella menggigil, giginya bergelatuk. "Nggak... nggak apa-apa. Kaus dalamnya... membantu."

Gala melepaskan jaket seragamnya yang berwarna gelap dan segera menyampirkannya ke bahu Kella. Ia menarik Kella duduk di sebuah bangku kayu tua. Tanpa kata-kata, Gala berlutut di depan Kella, menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya hingga hangat, lalu menempelkannya ke lengan Kella yang dingin.

"Gue benci ini," bisik Gala. Ia menunduk, tidak berani menatap mata Kella. "Gue benci harus pura-pura jadi monster di depan lo."

Kella menatap puncak kepala Gala. Ia melihat betapa berat beban yang dipikul pria ini. Ia memberanikan diri meletakkan tangannya di atas tangan Gala. "Kamu bukan monster, Gala. Monster yang sebenarnya adalah orang yang membuat kita harus bersembunyi di gudang berdebu ini."

Gala mendongak. Matanya yang biasanya tajam dan menantang kini terlihat begitu rapuh. "Kenapa lo masih bisa bicara selembut itu setelah semua yang gue lakuin?"

"Karena aku tahu kamu sedang berperang dengan dirimu sendiri," jawab Kella pelan.

Gala terdiam lama. Ia perlahan bangkit dan duduk di samping Kella. Di tengah kepungan debu dan bau bahan kimia, ada sebuah kehangatan kecil yang menyeruak. Gala mengeluarkan sebuah botol kecil dari sakunya—seperti botol aromaterapi yang sering dipakai untuk menghangatkan tubuh.

"Pakai ini di leher lo. Biar lo nggak masuk angin," Gala menyerahkan botol itu.

Saat jari-jari mereka bersentuhan, Kella merasakan getaran yang aneh. Bukan ketakutan, melainkan rasa aman yang tidak seharusnya ada di antara seorang perundung dan korbannya.

"Soal pesta itu..." Gala berbisik, suaranya nyaris tenggelam oleh suara hujan yang tiba-tiba turun mengguyur atap seng gudang. "Gue udah pesenin seragam maid yang punya saku tersembunyi. Nanti lo ambil di locker nomor 07 besok pagi. Dan ada satu hal lagi..."

Gala merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kalung perak tipis dengan liontin berbentuk kunci kecil. "Ini bukan cuma perhiasan. Di dalam kunci ini ada pemancar sinyal darurat. Kalau lo dalam bahaya atau butuh gue buat bikin distraksi di pesta nanti, lo tinggal tekan bagian tengahnya."

Kella menerima kalung itu. Logamnya terasa hangat, seolah baru saja menyerap panas tubuh Gala. "Kamu sudah menyiapkan semuanya."

"Gue nggak mau kehilangan orang lain lagi, Kella," ujar Gala serius. "Cukup Gabriel."

Mendengar nama kakaknya, Kella merasakan dorongan untuk memberikan kekuatan pada Gala. Ia mendekat dan menyandarkan kepalanya sejenak di bahu Gala. Hanya sekejap, namun cukup untuk membuat napas Gala tertahan.

"Kita akan berhasil, Gala. Kita akan membawa Gabriel pulang, meskipun dalam bentuk keadilan," bisik Kella.

Gala tidak membalas dengan kata-kata, tapi ia membiarkan Kella bersandar padanya selama beberapa menit. Di luar sana, Hendra mungkin masih mengawasi, Sarah mungkin masih curiga, dan dunia mungkin masih kejam. Namun di dalam gudang yang gelap itu, mereka menemukan sebuah ruang kecil untuk menjadi manusia biasa.

...

Pukul 15.30 WIB – Pulang Sekolah

Kella keluar dari gedung sekolah dengan jaket Gala yang sudah ia sembunyikan di dalam tas. Sesuai rencana, ia berpura-pura berjalan lunglai dan tampak sedih. Hendra masih ada di sana, melihatnya dari kejauhan dengan tatapan dingin yang menilai.

Namun, di dalam saku kemeja Kella, ada botol kecil penghangat dari Gala. Setiap kali ia merasa kedinginan atau takut, ia menyentuh botol itu dan mengingat kehangatan tangan Gala di gudang tadi.

Sesampainya di rumah, Kella menemukan sebuah amplop putih terselip di bawah pintunya. Ia membukanya dengan waspada.

Isinya bukan surat ancaman, melainkan selembar foto lama yang sudah agak pudar. Di foto itu, terlihat dua anak laki-laki sedang tertawa sambil memegang es krim di sebuah taman. Anak yang lebih besar merangkul adiknya dengan protektif. Di belakang foto itu tertulis: "Masa lalu yang ingin aku kembalikan. – G"

Kella memeluk foto itu di dadanya. Ia sadar, misi mereka bukan lagi sekadar membongkar korupsi. Ini adalah misi untuk menyelamatkan jiwa Gala yang hampir padam karena dendam.

...

Pukul 20.00 WIB – Persiapan Terakhir

Tiga hari menuju pesta.

Kella mulai mempraktikkan cara melepas jam tangan menggunakan boneka beruang tua miliknya. Ia melakukannya berulang-ulang hingga gerakannya menjadi refleks. Satu... dua... lepas.

Ia juga mulai mempelajari profil tamu-tamu yang akan hadir lewat data yang dikirim Gala. Ada pejabat tinggi, pengusaha properti, dan beberapa selebriti. Di tengah daftar itu, ada satu nama yang membuat Kella waspada: Reno Aryaseta.

"Reno diundang?" gumam Kella.

Ternyata orang tua Reno adalah mitra bisnis kecil keluarga Alangkara. Kehadiran Reno di pesta itu adalah variabel yang tidak terduga. Jika Reno mengenali Kella di balik masker maid-nya, semuanya akan berakhir.

Kella mengambil ponselnya, hendak mengirim pesan pada Gala, namun ia urungkan. Ia teringat kata-kata Gala: Tetap tenang.

Ia harus percaya pada rencana mereka. Ia harus percaya pada kalung kunci yang melingkar di lehernya. Dan yang terpenting, ia harus percaya pada kehangatan yang ia rasakan di gudang tadi—bahwa ia tidak sendirian dalam peperangan ini.

...

1
𝐈𝐬𝐭𝐲
menarik...
𝐈𝐬𝐭𝐲
hadir thor semoga ceritanya gak putus di tengah jalan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!