NovelToon NovelToon
The Shadowed Psyche

The Shadowed Psyche

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Balas Dendam
Popularitas:604
Nilai: 5
Nama Author: De Veronica

Sinopsis Bab

Kedatangan Alexey Liebert ke kampus elite Icheon langsung mengguncang keseimbangan yang selama ini mapan. Sosoknya yang dingin, tertutup, dan mencolok dengan aura berbahaya segera menarik perhatian, sekaligus memicu bisik-bisik kagum dan rasa terusik di kalangan mahasiswa. Namun di balik statusnya sebagai mahasiswa baru rekomendasi internasional, Alexey menyimpan masa lalu kelam: putra pewaris dunia bayangan yang kembali ke Icheon bukan semata untuk kuliah, melainkan untuk tujuan tersembunyi yang berakar pada kematian ibunya delapan tahun lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon De Veronica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Peluru, Pisau, dan Janji

Haerim akhirnya tertidur dalam pelukan Alexey. Napasnya teratur, wajahnya tenang.

Alexey mengusap pipi Haerim pelan.

"Tidurlah dengan nyenyak," gumamnya lirih. "Aku akan selesaikan semuanya secepat mungkin."

Alexey mencium bibir Haerim sekilas lalu melangkah keluar kamar.

Di depan hotel, salah satu ketua kelompok mercenary bernama Dimitri sudah menunggu sambil bersandar di mobil hitam.

"Semuanya sudah siap, Tuan," lapor Dimitri sambil meluruskan tubuhnya. "Target sedang berada di sebuah villa arah timur kota."

"Aku hanya butuh tim kecil."

"Siap, Tuan. Tim kecil sudah standby di dua titik."

Alexey masuk ke mobil. Dimitri menyusul di kursi kemudi dan menyalakan mesin.

"Operasi kelas S?" tanya Dimitri sambil melirik spion—merujuk pada penangkapan target hidup atau mati.

"Kelas A," jawab Alexey dingin. "Kita butuh target hidup-hidup."

Tak lama mereka sampai dan parkir empat ratus meter dari villa. Alexey turun. Dua mercenary langsung menghampiri.

"Pengawalan tiga lapis, Tuan," lapor salah satunya. "Semuanya bersenjata."

"Clandestine Operation," perintah Alexey singkat.

"Kami akan lakukan serapi mungkin."

Dua kelompok mercenary mulai menyusup dengan gesit. Dua penjaga di gerbang dilumpuhkan tanpa suara, leher dicekik, langsung ambruk.

Tapi beberapa penjaga di halaman mengangkat senjata.

"Siapa kalian?!"

Alexey menyusul dari belakang, santai. "Tamu kehormatan."

Penjaga mengarahkan senjata,

PSSSHHH.

Salah satu mercenary melempar gas beracun. Kelima penjaga langsung tersungkur.

"Semua keamanan luar sudah habis, Tuan," lapor Dimitri.

Alexey menatap pintu villa yang tertutup rapat. "Pasti mereka sudah siapkan pertunjukan di dalam."

Dua mercenary mendobrak pintu.

DORRR! DORRR! DORRR!

Puluhan peluru langsung menyambut mereka. Keduanya terpelanting.

"BUNUH MEREKA SEMUA!" teriak Dimitri sambil mengangkat pistolnya.

Target tahu kedatangan kita, gumam Alexey.

Perang dua kelompok memanas. Tembakan saling bersahutan.

Alexey berlari ke samping villa, menembak kaca besar. PRANG! Lalu masuk lewat sana. Dimitri menyusul dari belakang.

"Di sana!" Dimitri menunjuk lantai dua. "Target kita!"

Dua pria Korea berlari panik ke koridor timur.

"Jangan sampai lolos," perintah Alexey dingin.

Mereka berdua langsung mengejar.

Kedua pria itu turun lewat tangga darurat, berlari ke arah sungai yang berbatasan dengan laut.

Salah satu pria menghadap mereka.

"Pergilah, Tuan Seo-hoon!" teriaknya sambil mengangkat pistol. "Saya yang akan urus kedua orang bodoh ini!"

Seo-hoon, pria yang baru disebutkan namanya, tersenyum tipis ke arah Alexey. Lalu berbalik dan berlari ke kapal yang sudah menunggu.

"Tuan, kejar dia!" seru Dimitri. "Saya hadapi tikus kecil ini!"

Pria itu ingin menghadang Alexey,

Dimitri menerjangnya lebih dulu. Mereka berguling di pasir, saling pukul.

Alexey mengejar Seo-hoon. Ia menarik keras baju pria itu,

Seo-hoon berbalik. SRET! Pisau menyabet bahu Alexey. Darah merembes.

Alexey tertawa rendah. "Ternyata seorang politikus bisa bela diri."

"DIAM!" bentak Seo-hoon sambil mengarahkan pisaunya lagi. "Aku akan habisi kamu di sini!"

Seo-hoon menyerang lagi, pisau melesat ke arah leher, tapi Alexey menghindar dan langsung membalas dengan satu tendangan keras yang menghantam perut pria itu hingga tersungkur ke pasir.

"Jangan buang tenagamu." Alexey mengarahkan pistol. "Menyerahlah kalau mau hidup."

Seo-hoon bangkit dan hendak menyerang lagi,

DOR! DOR!

Kedua kakinya tertembak hingga ia jatuh sambil berteriak kesakitan.

"BAJINGAN! Kau akan menyesalinya!"

Alexey mencengkram rahang pria itu keras, lalu merasakan ada yang aneh, kulitnya tidak wajar. Ia menarik kuat hingga sesuatu terlepas.

Topeng. Wajah palsu.

Bukan Seo-hoon.

"Sialan."

Pria itu tertawa sambil batuk darah. "Kau tidak akan pernah... menemukan Tuan Seo-hoon. Dia sudah pergi... dari negara ini..."

DOR.

Alexey menembak dadanya dan pria itu langsung diam.

Alexey menatap kapal yang sudah menjauh di tengah laut, rahangnya mengeras.

Minsook atau Jinhwa pasti sudah tahu kedatanganku.

Sementara itu, Dimitri yang sudah berhasil menghabisi pria tadi duduk santai di atas tubuhnya sambil menyalakan rokok. Saat Alexey datang, ia langsung berdiri dan menepuk debu di celananya.

"Tuan, dimana targetnya?" tanyanya sambil melirik sekeliling.

"Kita kalah satu langkah," jawab Alexey datar. "Pria itu cuma menyamar."

"Sepertinya mereka memang sudah curiga tentang operasi ini," gumam Dimitri sambil membuang rokoknya.

Alexey menatap laut dengan rahang mengeras. "Kim Jinhwa."

Sementara itu, di dalam sebuah kapal yang sudah jauh dari pantai, Seo-hoon asli sedang berbicara di telepon sambil bersandar di pagar kapal.

"Syukurlah, Tuan," ucapnya sambil menghela napas lega. "Lambat sedikit saja, saya pasti sudah tertangkap."

Dari seberang, suara Jinhwa terdengar dingin dan tegas. "Kamu harus bersembunyi di tempat paling aman. Setidaknya sampai semua uang dari Hongkong berhasil kita transfer."

"Tuan... apa Tuan tahu siapa yang melakukan operasi penangkapan ini? Apakah mereka dari pihak berwenang?"

"Belum," jawab Jinhwa sambil mengusap dagunya. "Karena orang yang membobol gedung arsip juga belum tertangkap. Tapi ini bukan operasi pemerintah terlalu rapi dan cepat."

Haerim terbangun dan tangannya meraba sisi ranjang di sebelahnya, kosong. Ia duduk, mata masih berat, dan bergumam, "Alexey pergi ke mana...?"

Ia meraih ponselnya dan langsung menelepon, tapi bunyi getaran terdengar dari meja karena ponsel Alexey masih di sana. Haerim menatapnya sebentar lalu menghela napas gelisah. "Kenapa tidak dibawa... ke mana dia pergi sepagi ini?"

Perasaannya tidak enak. Ia duduk di tepi ranjang dan memeluk lututnya sendiri lalu berbisik pelan, "Semoga kamu baik-baik saja."

Pintu kamar terbuka.

Alexey masuk dengan langkah tenang seperti tidak terjadi apa-apa.

"Alexey!" Haerim langsung turun dari ranjang dan memeluknya, tapi tangannya menyentuh sesuatu yang basah. Ia menarik diri dan menatap jaket itu, lalu wajahnya pucat. Ada darah. Sobekan di sisinya. "Kamu dari mana? Kenapa kamu terluka?!" suaranya pecah dan air mata sudah jatuh duluan sebelum ia bisa menahannya.

Alexey mencondongkan kepala dan mencium bibirnya singkat untuk memotong semua pertanyaan itu. "Ada sedikit urusan," katanya pelan. "Maaf sudah bikin kamu khawatir."

"Tapi kamu terluka..."

"Luka kecil. Sudah diobati."

"Itu bukan luka kecil, Alexey, itu seperti kena pisau!" Haerim belum selesai bicara ketika Alexey sudah menggendongnya dan membaringkannya di ranjang dengan tenang, lalu melepas jaketnya dan berbaring di sisinya.

Haerim menutup mulutnya dengan kedua tangan dan matanya melebar melihat lukanya dari dekat. "Kita harus ke rumah sakit sekarang."

"Tidak perlu." Alexey berbisik karena kepalanya sudah di bantal dan matanya setengah terpejam. "Sudah diobati. Ini bukan apa-apa."

"Alexey, lukamu parah!" Haerim membentak, suaranya masih bergetar. "Kamu lihat sendiri dalamnya!"

Alexey tidak menjawab, hanya menariknya masuk ke pelukannya dan mendekapnya erat. "Maaf," katanya pelan dan tulus. "ini sudah tidak sakit lagi."

Haerim diam sebentar lalu bertanya lirih, "Kamu pergi menangkap Seo-hoon?"

"Ya."

"Berhasil?"

"Dia lolos."

Haerim menarik napas panjang. "Jadi semuanya sia-sia?"

"Tidak." Suara Alexey tegas. "Aku berhasil menemukan beberapa bukti di villa itu."

Haerim menengadah dan menatap wajahnya lama, lalu berkata pelan, "Berjanji. Jangan terluka lagi. Jangan pergi sendirian lagi." Suaranya hampir pecah. "Aku tidak sanggup kehilangan kamu."

Alexey mengangguk pelan. "Janji."

Haerim mempererat pelukannya dan Alexey mengusap punggungnya dengan lambat. "Aku tidak semudah itu mati," bisiknya.

"Bagaimana kalau aku tuang racun ke minumanmu? Kamu juga tidak akan mati?"

"Akan mati." Alexey menjawab datar. "Tapi kamu mungkin juga tidak hidup lama setelahnya."

Haerim mendongak. "Kenapa begitu?"

"Karena kamu tidak akan bisa hidup lama tanpa aku."

Haerim membenturkan kepalanya pelan ke dada Alexey. "Dasar jahat. Kamu benar-benar membuatku khawatir setengah mati."

Mereka saling menatap lama dan Haerim yang lebih dulu mencium bibirnya. Alexey membalas sambil satu tangannya melingkar di pinggang Haerim dan menariknya lebih dekat.

Perlahan Haerim melepaskan ciumannya dari bibir, turun ke leher Alexey, dan menciumnya pelan, lalu duduk di atasnya dan menyusuri dadanya hingga ke perut.

"Haerim." Alexey memanggil namanya pelan.

Haerim mendongak dengan senyum tipis. "Ini pelajaran untukmu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!