Karena hutang budi kedua orang tuaku, aku dipaksa menikah dengan duda yang berstatus ayah dari dua anaknya.
Aku yang baru saja lulus kuliah harus dihadapkan dengan dua anak yang aktif dan juga suami yang dingin dan menganggap semua wanita itu sama. Sama-sama pengkhianat dan murahan, meskipun sudah aku jelaskan beberapa kali tapi anehnya suamiku tidak pernah mengerti itu.
Apa yang membuat suamiku sampai setrauma itu?? Nantikan jawabannya hanya di Novel toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Malam mulai perlahan turun menyelimuti rumah dengan suasana yang sangat berbeda.
Di dalam perumahan yang cukup dibilang nyaman, Rani menatap wajahnya dari pantulan cermin, ia tersenyum tipis seolah semua sudah berada di dalam kendalinya.
Ia bukan wanita yang gegabah langkahnya pelan tapi pasti, seperti hal barusan yang sudah direncanakan bersama pengacaranya.
Di dalam tangan Rani saat ini terdapat foto Mahendra dan Mahesa dua anak yang dulu pernah ia tinggal karena keegoisannya sendiri.
"Mahendra dan Mahesa ....," ungkapnya pelan.
Seolah kedua anaknya itu bukan hanya sekadar pembawa keberuntungan tapi merupakan kunci untuk dia melangkah lebih maju.
"Tunggu Mama ya Sayang," tutur Rani.
Foto itu ia usap perlahan, lalu diletakkan kembali di atas meja rias. Bagi orang lain, mungkin itu momen penuh penyesalan. Tapi bagi Rani, itu adalah momen perhitungan.
Anak-anak itu bukan hanya darah dagingnya.
Mereka adalah pintu, untuk masuk kembali ke kehidupan yang dulu ia tinggalkan. Pintu menuju nama besar, kestabilan, dan posisi yang kini dimiliki Cokro.
Rani mengambil ponselnya. Sebuah pesan singkat sudah masuk dari pengacaranya.
Besok pagi surat pemberitahuan mediasi akan kami kirimkan ke alamat mantan suami Anda. Kami juga akan ajukan permohonan hak kunjung resmi.
Senyum Rani kembali terbit. Ia menyukai orang yang bekerja cepat.
“Mulai sekarang… kita main rapi,” gumamnya.
Ia melangkah menuju jendela. Lampu-lampu rumah di kompleks itu menyala hangat. Terlihat damai. Terlihat normal. Padahal badai kecil sudah ia siapkan untuk salah satu rumah di kota ini.
☘️☘️☘️☘️☘️
Di sisi lain kota, suasana rumah Cokro jauh berbeda.
Setelah memastikan Mahesa dan Mahendra tertidur, Cokro berdiri cukup lama di ruang kerja kecilnya. Lampu meja menyala redup, menerangi tumpukan berkas yang belum sempat ia sentuh.
Namun pikirannya tidak berada di sana.
Melati masuk tanpa suara, membawa secangkir teh hangat.
“Kamu belum tidur?” tanyanya lembut.
Cokro menggeleng pelan. “Masih kepikiran.”
Melati meletakkan cangkir itu di meja. “Tentang dia?”
“Iya.”
Cokro menyandarkan punggungnya. Wajahnya terlihat lebih tenang dibanding sore tadi, tapi ketegangan masih tersisa di garis rahangnya.
“Aku kenal Rani,” ucapnya pelan. “Kalau dia sudah datang sejauh itu… dia nggak akan berhenti.”
Melati terdiam beberapa saat. “Kita siapin saja semuanya dari sekarang.”
Cokro menatap istrinya. “Maksud kamu?”
“Dokumen. Bukti. Semua yang berkaitan dengan hak asuh anak. Kita harus siap kalau dia mulai bawa ini ke jalur hukum.”
Kalimat itu membuat Cokro terdiam. Ia tahu kemungkinan itu ada. Tapi mendengarnya langsung tetap terasa seperti pukulan halus di dada.
“Aku nggak mau anak-anak terseret,” katanya pelan.
“Justru karena itu kita harus siap,” jawab Melati tegas, tapi tetap lembut.
Cokro mengangguk perlahan. Ia meraih ponselnya, membuka kontak lama yang sudah lama tak ia sentuh.
Nama pengacaranya, belum ditekan. Namun seolah naluri seorang pria yang pernah menghadapi Rani mengatakan satu hal, Langkah berikutnya pasti bukan sekadar pertemuan tak sengaja.
☘️☘️☘️☘️☘️
Keesokan paginya.
Sebuah amplop resmi berhenti di depan gerbang rumah Cokro. Kurir itu menekan bel sekali. Melati yang sedang menyiram tanaman menoleh. Ia berjalan mendekat dan menerima amplop berlogo kantor hukum yang cukup ternama.
Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Ia membaca sekilas bagian depan. Ditujukan kepada: Tuan Cokro …
Tangannya mengencang. Beberapa menit kemudian, amplop itu sudah berada di tangan Cokro. Ia membuka perlahan. Isinya satu lembar surat resmi.
Pemberitahuan permohonan mediasi hak kunjung anak, atas nama Rani.
Cokro membaca sampai akhir tanpa bersuara. Wajahnya tidak meledak marah. Tidak juga panik, hanya dingin.
“Akhirnya,” gumamnya pelan.
Melati menatapnya. “Dia mulai.”
Cokro melipat surat itu rapi.
“Baik,” ucapnya mantap. “Kalau ini yang dia mau… kita hadapi secara resmi.”
Ia meraih ponselnya, kali ini tanpa ragu.
“Pak Ardi? Saya butuh bertemu hari ini juga.”
Badai yang semalam baru berupa angin, kini mulai menunjukkan bentuknya. Permainan sudah resmi dibuka, untuk kali ini bukan hanya sekedar masa lalu yang mengejar, tapi tentang siapa yang bertahan.
"Berbuatlah sesuka hatimu, tapi ingat jika sampai anak-anak kau libatkan, aku tidak akan diam begitu saja," gumam Cokro dengan tatapan yang mengeras.
Senyum tipis terselip di sudut bibirnya. Bukan senyum ramah. Bukan pula senyum kemenangan. Itu senyum seorang pria yang sudah bersiap menghadapi perang.
Melati memperhatikan perubahan itu. Ia tahu tatapan itu tidak biasa, tapi tatapan yang sudah sangat siap menghadapi berbagai serangan dari arah manapun.
“Kita hadapi bersama,” ucap Melati lembut namun tegas.
Cokro menoleh, menatap istrinya beberapa detik. Ada rasa syukur yang tak terucap di sana. Dulu ia pernah berdiri sendirian menghadapi badai. Kini tidak lagi.
“Terima kasih,” ucapnya singkat.
Dari dalam rumah terdengar suara langkah kecil berlarian. Mahendra muncul dengan wajah polosnya.
“Papa, hari ini aku boleh pakai sepatu yang ada lampunya nggak?” tanyanya riang, sama sekali tidak menyadari surat yang baru saja membuka babak baru dalam kehidupan keluarganya.
Cokro berlutut dan tersenyum lembut. “Boleh. Tapi jangan lari-lari di kelas, ya.”
Anak itu mengangguk senang lalu berlari kembali.
Kontras itu terasa menampar, di satu sisi, ada surat hukum yang menunggu, dan di sisi lainnya, dunia polos yang belum mengerti dengan konflik orang dewasa.
Cokro berdiri kembali. Tatapannya kembali jatuh pada surat yang kini terlipat rapi di tangannya.
Mediasi.
Artinya Rani tidak main-main. Ia tidak lagi mencoba masuk lewat celah. Ia datang lewat pintu utama. Dan itu berarti satu hal, Rani sudah menyiapkan sesuatu.
Cokro berjalan menuju ruang kerjanya. Surat itu diletakkan di atas meja. Ia membuka laci dan mengambil map berisi dokumen lama: akta kelahiran anak-anak, putusan hak asuh, catatan sekolah, bahkan bukti transfer biaya hidup selama ini.
Ia tidak ingin berasumsi, ia ingin mempersiapkan semua ini dengan sebaik-baiknya.
Di luar, matahari pagi bersinar terang seolah tidak ada yang salah. Namun di dalam rumah itu, dua orang dewasa sedang menguatkan diri untuk menghadapi sesuatu yang mungkin akan menguji batas kesabaran mereka.
Cokro menarik napas dalam. Ini bukan lagi tentang harga diri. Ini tentang menjaga ketenangan dua anak kecil yang tidak pernah meminta orang tuanya berpisah.
Dan jika Rani mengira ia akan goyah seperti dulu? Maka kali ini, ia akan menemukan pria yang berbeda.
Bersambung .....