Pernikahan yang kukira pelabuhan cinta, ternyata hanyalah jerat maut yang dirancang suamiku sendiri. Namaku Aruna, putri keluarga Adiwangsa yang dicap lugu oleh dunia. Namun di malam pengantinku yang penuh duri, aku menyaksikan pengkhianatan Tristan dan selingkuhannya tepat di depan mataku.
Tristan ingin hartaku, ia ingin membuangku ke desa terpencil hingga aku membusuk. Namun, ia melakukan satu kesalahan besar: membiarkan Aruna Adiwangsa pergi dengan liontin warisan ibunya.
Sebuah Ruang Ajaib terbuka dari tetesan darah rasa sakitku. Di sana, aku membangun kekuatan, mengumpulkan harta, dan menyusun strategi yang tak terduga. Tristan, nikmatilah sisa kejayaanmu, karena saat aku kembali, aku akan memastikan kau berlutut memohon ampun di bawah kakiku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Angel Abilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 : Kebun Amarah Adiwangsa
Gerbang kayu itu terbuka. Di baliknya, bukan hutan hijau, tapi hamparan tanaman pucat yang diselimuti kabut perak. Daun-daunnya tidak lembut; saat tertiup angin, mereka saling beradu dengan suara denting tajam yang bikin bulu kuduk berdiri.
Aruna melangkah ragu. Ia baru sadar kalau memakai sepatu hak tinggi adalah kesalahan besar. Setiap kali menapak, ujung sepatunya menembus ke dalam tanah, membuatnya hampir kehilangan keseimbangan. Sementara itu, kabut perak di sekitarnya perlahan menebal, mulai menutupi mata kakinya seolah-olah tidak ingin ia pergi dari sana.
"Pakai amarahmu..." bisikan ibunya kembali terngiang.
Aruna memejamkan mata. Ia memanggil kembali ingatan semalam. Suara tawa Tristan saat meremehkannya, wajah Siska yang merasa menang, dan rasa mual saat Tristan menyentuh pinggangnya.
"Kalian pikir aku lemah?" gumam Aruna.
Aruna sudah tidak kuat lagi menahan amarahnya. Begitu ia meledak, liontin di lehernya mendadak jadi sangat panas—hampir membuat kulitnya melepuh. Cahaya merah yang memancar dari sana mengusir kabut tebal di depannya, sampai akhirnya ia bisa melihat lagi jalan di bawah kakinya.
Seketika, sebuah pohon besar di tengah kebun itu bergetar. Buah-buahnya yang berwarna ungu gelap matang dalam sekejap dan jatuh ke tanah. Di batang pohon itu, muncul tulisan yang bercahaya:
"Hutan Sanubari Adiwangsa: Tempat di mana penderitaanmu berubah menjadi kekuatan. Ambil apa yang kamu butuhkan untuk membalas mereka."
Aruna mendekati sebuah kolam kecil di bawah pohon tersebut. Airnya bening kristal. Di samping kolam itu, terdapat sebuah gubuk kecil yang sangat familiar. Persis seperti miniatur rumah masa kecil ibunya..
Di dalam gubuk, Aruna menemukan sebuah meja kayu dengan botol-botol kaca kosong dan sebuah buku jurnal tua. Ia membuka halaman pertama dan menemukan tulisan tangan ibunya.
Untuk putriku, Aruna. Jika kamu membaca ini, artinya hatimu sudah hancur oleh pengkhianatan. Jangan menangis. Air matamu terlalu berharga untuk mereka. Gunakan air dari Mata Air Kejujuran di kolam ini. Berikan pada musuhmu, dan kebenaran yang pahit akan keluar dari mulut mereka tanpa bisa dicegah.'
***
Aruna diam menatap air kolam itu. Ingatannya mendadak teringat ke masa sekolah dasar. Ke sebuah malam saat hujan deras membuat jendela kamarnya bergetar.
Ibunya sedang menyisir rambut Aruna di depan cermin besar, sementara sang ibu menceritakan dongeng yang dulu Aruna kira hanyalah imajinasi pengantar tidur.
"Aruna, ingatlah satu hal," bisik Ibunya dengan nada rahasia yang dalam. "Keluarga kita menjaga sesuatu yang lebih kuat dari baja, yaitu kejujuran. Ada legenda tentang mata air tersembunyi milik leluhur kita. Jika seseorang yang berhati palsu meminum airnya, lidah mereka tidak akan bisa lagi menyembunyikan busuknya hati. Mereka akan mengocehkan semua kebenaran, meski itu akan menghancurkan diri mereka sendiri."
Ingatannya terseret kembali ke masa SD. Ia melihat dirinya yang dulu masih kecil dan penuh rasa ingin tahu sedang tertawa lebar.
"Seperti ramuan ajaib di film ya, Bu?" tanya Aruna kecil waktu itu.
Ibunya tidak tertawa. Ia menatap Aruna dengan tatapan sedih yang kini baru dipahami Aruna maknanya. "Bukan ramuan ajaib, Sayang. Itu adalah kutukan bagi para pengkhianat. Namanya Air Mata Kejujuran. Hanya diberikan kepada keturunan Adiwangsa yang sudah kehilangan segalanya agar mereka bisa merebut kembali martabatnya."
Aruna menelan ludah. Semuanya mendadak masuk akal sekarang. Ingatan masa kecil itu membuatnya sadar bahwa benda di lehernya bukan sekadar perhiasan biasa.
"Jadi benar," bisiknya, suaranya bergetar antara ngeri dan puas, "ini yang mereka namakan Air Mata Kejujuran."
Ia segera mengambil salah satu botol kaca dan mengisinya dengan air kolam tersebut. Ia menyadari, di tempat ini, ia memiliki waktu untuk merencanakan segalanya. Ia menghabiskan waktu yang terasa seperti berjam-jam untuk menenangkan diri, mempelajari beberapa tanaman obat di sana, dan membasuh wajahnya dengan air kolam yang membuat kulitnya tampak lebih bersinar dan matanya terlihat lebih tajam.
"Waktunya pulang," ucap Aruna dingin.
Ia memutar kunci kristalnya. Dalam sekejap, kebun itu hilang seperti asap yang ditiup angin, meninggalkan Aruna di tengah ruangan kosong yang gelap.
***
Kantor Pak Baskara
"Aruna! Kamu dengar saya tidak?!" Pak Baskara mengguncang bahu Aruna dengan panik.
Aruna tersadar dengan napas yang masih memburu. Punggungnya menempel pada dinginnya kursi kulit kantor Pak Baskara. Ia berusaha keras menenangkan diri, sementara tangannya meremas kuat botol kaca kecil yang berhasil ia bawa menyembunyikannya rapat-rapat dalam kepalan.
Pak Baskara mengusap wajahnya, tangannya masih gemetar. "Kamu tadi sedang apa, sih? Tiba-tiba diam dan berhenti bernapas, matamu putih semua. Saya sudah mau teriak panggil orang, saya kira kamu mati di depan saya!"
Aruna menatap jam dinding di ruangan itu. Hanya berlalu sepuluh detik? Padahal ia merasa sudah menghabiskan waktu setidaknya tiga jam di dalam kebun tadi.
"Aku nggak apa-apa, Pak," ucap Aruna tenang, suaranya kini terdengar lebih berwibawa. "Aku cuma baru saja mendapatkan jawaban yang aku cari."
Aruna berdiri, merapikan setelan kantornya. Ia memasukkan botol kecil itu ke dalam tas branded-nya dengan hati-hati.
"Pak Baskara, laksanakan semua rencana pemutusan aset yang tadi kita bahas. Dan tolong, siapkan pengawal rahasia untuk Ayah di rumah sakit. Jangan biarkan Tristan mendekat tanpa pengawasan," perintah Aruna.
Pak Baskara menghela napas panjang. Tatapannya tampak kacau. > "Aruna, Pak Adiwangsa masih kritis. Stroke-nya parah sekali. Dokter bilang, keributan di ruang kerja bersama Tristan itulah yang membuatnya tumbang."
Aruna mengepalkan tangan hingga kuku-kukunya memutih. Ia ingat malam itu; ayahnya yang biasanya tangguh tiba-tiba tumbang setelah bertengkar hebat dengan Tristan di ruang kerja. Tristan bilangnya itu hanya masalah bisnis kecil, tapi Aruna sekarang tahu: Tristan pasti telah menunjukkan siapa sebenernya dia malam itu hingga membuat ayahnya terkena serangan jantung.
"Ayah tidak akan mati sia-sia karena pria itu, Pak," desis Aruna tajam. "Pastikan Tristan tidak punya celah untuk menyentuh alat bantu napas Ayah."
Pak Baskara cuma bisa mengangguk. Ia sendiri bingung kenapa dia mendadak jadi penurut, tapi cara Aruna bicara barusan membuat Pak Baskara merasa tidak punya pilihan selain patuh.
Aruna melangkah keluar gedung. Sinar matahari Jakarta yang tadinya terasa menyiksa, kini terasa seperti sorot lampu panggung baginya. Ia masuk ke mobil merahnya, menyalakan mesin, dan menatap pantulan dirinya di spion.
"Mas Tristan, kamu lapar, kan? Aku akan membawakanmu 'hadiah' spesial untuk makan malam kita nanti," bisik Aruna. Ia tersenyum tipis—jenis senyum yang tampak tulus, tapi entah kenapa malah membuat suasana terasa mengerikan.
Ia menginjak gas. Mobil itu langsung melaju, membawanya pulang ke rumah besar tempat ia akan memberi hukuman suaminya pelan-pelan.