Gavin adalah seorang playboy yang tak bisa hidup tanpa wanita, entah sudah berapa banyak wanita yang berakhir di ranjangnya, hingga akhirnya ia bertemu dengan Kanaya, seorang gadis suci yang menggetarkan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Swan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia yang selalu ada
"Nay..."
Kanaya memalingkan wajahnya ke samping untuk melihat si pemilik suara, yang baru saja memanggilnya, dan Kanaya cukup terkejut, ketika melihat Gavin yang terlihat sedang memperhatikannya dari balik jendela mobilnya yang terbuka, namun Kanaya kembali memalingkan wajah dan terus melangkah ke depan mengabaikan Gavin.
Gavin yang melihat Kanaya mengabaikan, langsung keluar dari mobilnya, dan berjalan cepat menghampiri Kanaya, begitu jaraknya sudah cukup dekat, Gavin memegang Kanaya, dan membuat Kanaya menghentikan langkahnya.
"Nay, lo kenapa?"tanya Gavin, sambil menatap lekat Kanaya, sementara Kanaya berusaha menyembunyikan wajahnya dari Gavin dengan menundukan kepalanya.
"Nay, liat gue! Lo kenapa, lo nangis?"tanya Gavin lagi, namun kali ini bukannya jawaban yang Gavin dengar malah suara tangisan Kanaya yang cukup kencanglah yang kini terdengar.
"Gav..."Kanaya terisak, Gavin yang melihat Kanaya seperti itu tampak terkejut, dan spontan pemuda itu menarik Kanaya ke dalam pelukannya.
"Gav, gue,,, gue..."Suara Kanaya terdengar di sela tangisnya,nyang kini teredam di dada bidang Gavin.
"Sttt,,,udah Nay, gak usah ngomong apa apa dulu, oke!" Bisik Gavin lembut, sambil mengelus lembut Kanaya.
Gavin memang tak sengaja melewati jalan yang kini di lewati Kanaya, tadinya Gavin hanya ingin berkeliling agar pikirannya tak terlalu penat, sekalian mencari makanan untuk makan malamnya, setelah seharian ini ia di apartemen tanpa melakukan apapun.
Namun tak di sangka, ternyata Gavin malah bertemu dengan Kanaya dalam keadaan yang terlihat kurang baik seperti ini, Gavin cukup penasaran dengan apa yang terjadi dengan Kanaya, namun Gavin pun tak ingin membuat gadis itu semakin sedih dengan bertanya, jadi cukuplah bagi Gavin dengan menenangkan gadis itu dengan pelukannya.
Sepuluh menit berlalu suara tangis Kanaya mulai tak terdengar, Gavin pun perlahan mulai melepaskan pelukannya dari tubuh ramping Kanaya. Kanaya masih menunduk seolah tak berani menatap ke arah Gavin yang kini terus melihatnya.
"Kita pulang aja, yuk?"ajak Gavin lembut, lalu tiba-tiba menarik tangan Kanaya, membawa gadis itu untuk mengikutinya, menuju mobil yang masih terparkir di pinggir jalan. Tak ada penolakan dari gadis itu, Kanaya mengikuti langkah Gavin sampai akhirnya mereka tiba di samping mobil Gavin.
"Masuk...!"Titah Gavin, setelah membukakan pintu mobilnya untuk Kanaya, lalu setelah Kanaya masuk, Gavin segera menutup pintu mobil, dan sedikit berlari memutari mobil, lalu langsung duduk di kursi kemudi.
Dan beberapa saat kemudian, mobil sudah berjalan ,namun belum ada pembicaraan antara Gavin dan Kanaya sedari tadi, hingga Gavin akhirnya memulai pembicaraan, dengan Kanaya yang sepertinya, pikirannya entah dimana, karna tatapan gadis itu terlihat kosong.
"Nay, mau langsung ke rumah lo?"tanya Gavin hati-hati. Kanaya menggeleng namun tak mengucapkan apapun.
"Trus,ini mau kemana?"tanya Gavin lagi, Kanaya kembali menggeleng, membuat Gavin kembali menarik nafas dalam.
"Trus gue harus bawa lo kemana sekarang, ke apartemen gue, biar gue ajak tidur bareng lagi?"Bisik Gavin di dalam hati.
"Ke apartemen gue, mau?"tanya Gavin lagi, kali ini Kanaya tidak menggelengkan kepalanya, membuat Gavin langsung menekan gas mobilnya.
---
Dan disinilah Kanaya dan Gavin sekarang, di apartemen Gavin. Kanaya masih tampak diam di sofa ruang tamu Gavin, sementara Gavin tampak sedang menyiapkan makanan di dapurnya,tadi Gavin memang sempat membeli beberapa bahan makanan untuk makan malamnya.
Tak lama, Gavin menghampiri Kanaya, setelah ia selesai menyiapkan makanan. "Makan yuk, Nay?"Ajaknya, sambil mengelus lembut kepala gadis itu.
Kanaya akhirnya menatap Gavin, kemudian tersenyum yang terlihat di paksakan, kemudian gadis itu membawa tangan Gavin yang tadi mengelus rambut nya, untuk di genggamnya.
"Makasih ya... Gav, lo selalu ada buat gue."ucap Kanaya, Gavin ikut tersenyum menatap Gadis itu.
"Iya, kanaya. Sekarang, temenin gue makan ya!"Ucap Gavin, lalu menarik tangan Kanaya, dan tak ada penolakan, kanaya mengikutinya ke meja makan.
Gavin dan Kanaya akhirnya makan dalam keheningan, namun Kanaya tampak lahap memakan makanan yang di sediakan Gavin membuat Gavin tersenyum. Bila di lihat dari cara makannya, sepertinya Kanaya sudah melupakan kesedihannya.
"Lo laper banget Kayaknya."Ucap Gavin sambil terkekeh.
"Heem, gue cuma sarapan nasi goreng doang tadi pagi."Jawab Kanaya, sambil mengunyah makanannya.
"Kenapa lo gak makan siang?"tanya Gavin lagi, yang membuat Kanaya tampak termenung beberapa saat.
"Pas jam istirahat tadi masih di kampus, ga sempet."
"Pas pulang kampus kan lo bisa langsung makan, Nay."Tanya Gavin sambil tetap menatap Kanaya, Gavin sendiri sudah menghabiskan makanannya.
Kanaya menghela napas kemudian berbicara dengan suara lirih."Tadinya gue mau makan sama Rai,btapi gak jadi. "Jawab Kanaya yang membuat Gavin menaikan sebelah alisnya.
"Kenapa emang?"tanya Gavin.
"Tadi gue sama Rai, rencananya kita mau makan terus nonton, akhirnya kita pergi ke salah satu restoran langganan Raihan sama nyokapnya."
"Tapi...Ternyata di sana... Kita ketemu sama nyokapnya." Lanjut Kanaya, lalu kembali menghela napas dalam.
"Jadi lo ketemu tante Risa...?"Tanya Gavin. Kanaya mengangguk mendengar pertanyaan Gavin.
"she's doesn't like me."Jawab Kanaya, yang membuat Gavin terkejut mendengar ucapan gadis itu.
"Kenapa lo berpikir kaya gitu?"tanya Gavin.
"Dia tau gue adik kelas Rai dulu, dia juga tau masalalu gue yang problematik, dan dia gak suka kayaknya, dia juga bilang kalo dia gak suka Rai pacaran."jawab Kanaya.
"Karna itulah tadi gue pergi gitu aja, hati gue sakit Gav, denger ucapan tante Risa,tapi yang lebih bikin gue sakit adalah..."
"Raihan seolah gak peduli sama gue ,dia gak mencoba nyari gue saat gue pergi, dia biarin gue pulang sendiri padahal dia yang bawa gue kesana."Lanjut Kanaya beruntun, kemudian bulir-bulir air mata tampak kembali membasahi pipinya.
Gavin tampak terkejut, dan mengepalkan tangannya nendengar cerita Kanaya, Gavin pikir membiarkan kanaya bersama Raihan adalah yang terbaik, karna sahabatnya itu memiliki sikap yang lebih baik darinya maupun Alex.
Gavin tak menyangka, bahwa ternyata manusia memang tidak ada yang sempurna, semua manusia mempunyai sisi buruk, yang bisa saja melukai orang lain karna sikapnya.
Mungkin mulai sekarang, tak seharusnya Gavin menganggap buruk dirinya, sampai merasa tak pantas dengan Kanaya, karna ternyata yang di anggap baik pun justru malah menyakiti Kanaya akhirnya.
"Terus sekarang, lo sama Raihan gimana?"tanya Gavin.
"He has disappointed me for the second time, gue udah putusin untuk gak melanjutkan hubungan gue sama dia."jawab Kanaya.
---
"Gav siniin..."teriak Kanaya, sambil mengejar Gavin yang membawa ponselnya.
"Gue pinjem hp lo..."ucap Gavin, sambil tertawa ,kemudian berlari mengelilingi kamarnya.
"Ih Gavin, apaan sih? Siniin deh, becanda lo gak lucu tau."umpat Kanaya kesal. Lalu kembali mengejar Gavin.
Hingga beberapa saat, mereka terus kejar-kejaran sampai dua-duanya terlihat lelah.
"Lo mau hp lo balik?"tanya Gavin sambil mengangkat hp Kanaya ke atas dengan tangannya. Napasnya tampak ngos ngosan.
Kanaya menganggukan kepalanya, sambil berusaha meraih hpnya."Mau lah... Buruan ih Gav, siniin!"ucap Kanaya, yang sudah hampir menangis.
"Gue bakal balikin hp lo, asal..."ucapan Gavin terjeda.
"Asal apaan si anjir, lama lo ih?"Kanaya terus mengumpat sambil terus melompat-lompat mencoba meraih hpnya.
"Asal... Lo cium gue dulu."ucap Gavin sambil tersenyum miring. Setelah itu, pria itu menyodorkan pipinya tepat ke depan wajah Kanaya.
Kanaya menghela napas, melihat tingkah absurd Gavin, namun tak ayal ia pun mencoba menuruti keinginan pria itu.
Kanaya pun memajukan wajahnya, untuk mencium pipi Gavin, namun saat itulah Gavin menoleh membuat bibirnya dan bibir Kanaya bertemu.
Cup...
-Bersambung