NovelToon NovelToon
THE FORGOTTEN PAST

THE FORGOTTEN PAST

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horror Thriller-Horror / Dark Romance
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Mapple_Aurora

Bagaimana jika kepingan masa lalu yang kamu lupakan tiba-tiba saja menarikmu kembali ke dalam pusaran kenangan yang pernah terjadi namun terlupakan?

Bagian dari masa lalu yang tidak hanya membuatmu merasa hangat dan lebih hidup tetapi juga membawamu kembali kepada sesuatu yang mengerikan.

Karina merasa bahwa hidupnya baik-baik saja sejak meninggalkan desa kecilnya, ditambah lagi karirnya sebagai penulis yang semakin hari semakin melonjak.

Namun ketika suatu hari mendatangi undangan di rumah besar Hugo Fuller, sang miliarder yang kaya raya namun misterius, membuat hidup Karina seketika berubah. Karina menyerahkan dirinya pada pria itu demi membebaskan seorang wanita menyedihkan. Ia tidak hanya di sentuh, namun juga merasa bahwa ia pernah melakukan hal yang sama meskipun selama dua puluh empat tahun hidupnya ia tidak pernah berhubungan dengan pria manapun.

*
karya orisinal

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19

Karina mengenakan gaun biru laut sederhana yang tersimpan dalam lemari di kamarnya, saat berdiri di depan cermin besar tanpa sadar tangannya mengusap pelan perutnya.

“Benarkah aku hamil?” Gumamnya menatap pantulan wajahnya yang pucat. Memikirkan ada anak yang hidup di perutnya membuat hati Karina terasa sakit.

Kenapa seperti ini? Apakah karena anak ini bukan dari keinginannya sehingga ia membencinya bahkan sebelum ia memastikan kebenarannya.

“Ini bukan kebencian, aku tidak akan membencinya.” Karina menggelengkan kepala, mengambil kain panjang tipis berwarna senada dan dililitkan di lehernya. Rambutnya dibiarkan tergerai.

Setelah dirasa cukup, Karina segera keluar dari kamarnya.

“Selamat sore, Nona. Mari saya antarkan.” Ranra sudah menunggu di depan pintu, dengan sopan membungkuk sedikit padanya.

“Terima kasih, Ranra.” Karina tersenyum manis dan mengikuti Ranra.

Ranra menuntunnya menuju lantai tiga yang hampir tidak pernah Karina datangi kecuali saat Hugo membawanya.

Di koridor lantai tiga, Karina bertemu dengan Alam.

“Hai, Karin.” Sapa Alam ramah. Karina hanya mengangguk sopan sebagai balasan.

“Mari, Nona. Ruang pertemuan ada disana.” Kata Ranra menunjuk pintu berwarna merah gelap yang ada di ujung lorong.

Karina dan Alam masuk ke dalam ruangan tersebut. Di dalamnya terdapat meja panjang dan sofa empuk, David, Miller dan Sam sudah ada disana.

Tanpa menyapa mereka, Karina duduk di salah satu sofa yang kosong. Sesaat kemudian ia merasakan pergerakan di sampingnya, ia menoleh dan mendapati Alam duduk disana.

“Kamu menghindariku?” Tanya Alam.

“Nggak. Aku hanya terlalu malas berada di dekat seorang penipu,” ujar Karina ketus.

Alam terkekeh kecil. “Pasti Kate yang menceritakannya padamu.” Ia mencondongkan kepala ke telinga Karina dan berbisik pelan, “Tapi orang yang seharusnya kamu waspadai justru Kate.”

“Semua orang di rumah ini patut diwaspadai,” balas Karina tenang. “Bukan hanya Kate.”

Alam menatapnya lebih saksama. “Kamu tahu sesuatu?”

Karina menangkap perubahan ekspresi di wajah Alam, ada antusiasme di sana, dan… mungkin juga kegembiraan.

“Nggak.” Karina mengalihkan pandangannya ke arah pintu, tempat Hugo dan Kate baru saja masuk bersama. “Aku malah berharap tidak tahu apa-apa.”

Tatapannya bertemu dengan Hugo. Untuk sesaat, mereka saling menyelami netra satu sama lain, dan lagi-lagi perasaan akrab itu muncul dalam diri Karina. Ada sesuatu dalam cara pria itu memandangnya yang terasa tidak asing. Seolah mereka pernah saling mengenal, namun tanpa satu pun kenangan yang bisa ia ingat.

“Kenapa?”

Suara Alam membuat Karina sedikit tersentak, sontak memutus tatapan mereka. Ia menurunkan kepala, pandangannya jatuh pada permukaan meja mengkilap di hadapannya.

“Semua orang ternyata sudah datang,” ujar Hugo sambil duduk di sofa utama. Ranra berdiri tegap di belakangnya, sementara Kate mengambil tempat tepat di hadapan Karina.

“Kenapa kamu ingin tahu?” Karina balik bertanya.

Alam hanya menggeleng, menutup rapat mulutnya ketika tatapan Hugo mengarah padanya, penuh peringatan.

“Hari ini Karina baru saja pulang dari rumah sakit,” kata Hugo, menatap Karina dengan hangat. “Jadi kita akan mengadakan pesta penyambutan.”

Karina hanya mengangkat sebelah alisnya, seolah mempertanyakan mengapa kepulangannya perlu dirayakan.

“Ah, benar,” sahut Kate sambil menyunggingkan senyum mengejek ke arah Karina. “Tuan Fuller memang tahu caranya memperlakukan kelinci kesayangannya. Jadi, pesta apa yang akan kita adakan?”

“Nona Kate, sebaiknya Anda menjaga sikap,” Ranra memperingatkan dari belakang Hugo.

“Pesta menggambar.” Hugo tersenyum penuh makna, tatapannya tertahan lama pada Karina. Ia lalu memberi perintah pada Ranra. “Siapkan alat-alatnya. Pemenang lomba ini akan diizinkan meninggalkan rumah ini selama dua hari.”

Mendengar itu, sorak-sorai langsung memenuhi ruangan kecuali dari Karina. Ada firasat tak enak yang merayap di dadanya. Perasaannya mengatakan bahwa orang-orang ini sedang merencanakan sesuatu… untuknya.

Mereka komplotan.

Perkataan Tasya kembali terngiang di kepalanya. Mungkin yang Tasya maksud adalah Hugo dan para tamu undangannya, orang-orang berbahaya yang kini berada di rumah ini.

Ranra pergi keluar dan segera kembali dengan membawa papan gambar, kertas tebal, dan kotak-kotak cat yang disusun rapi diatas meja panjang. Satu per satu, para tamu mengambil tempat, wajah mereka tampak antusias seperti anak-anak yang akan mengikuti permainan menyenangkan.

“Hahaha, aku jadi ingat masa lalu.” Kata David mulai membuat beberapa goresan di kertasnya. “Pesta menggambar selalu menyenangkan.”

Tawa mulai pecah.

“Itu karena kamu merasa keahlianmu menggambar.” Ujar Miller.

Ruangan itu mulai ramai, dan Hugo tidak tampak terganggu seperti semuanya berjalan sesuai dengan rencananya. Seseorang mengeluhkan warna yang tercampur terlalu gelap, yang lain membanggakan sketsa awalnya dengan penuh percaya diri.

Karina duduk di kursinya dengan papan gambar di pangkuan. Tangannya menggenggam pensil, tapi ujungnya lama tak menyentuh kertas. Ia memperhatikan sekeliling, mencoba menemukan sesuatu yang janggal… atau mungkin memastikan bahwa perasaan aneh itu hanya ada di kepalanya.

Namun semakin lama, rasa itu justru semakin kuat.

Semua orang tampak begitu menikmati kegiatan ini.

Hugo pun ikut menggambar dengan senyum tipis, sesekali melirik hasil karyanya sendiri seolah ada sesuatu yang ia rencanakan sejak awal. Alam tertawa kecil saat melihat gambar Sam, sementara Sam sendiri tampak fokus, serius, seakan lomba ini benar-benar penting baginya.

Lalu ada Kate.

Karina merasakannya bahkan tanpa menoleh.

Sesekali, ketika Karina akhirnya menunduk dan mulai menarik garis-garis samar di kertasnya, ia menangkap pantulan tatapan dari seberang meja. Kate menatapnya dengan senyum tipis yang tidak pernah sampai ke matanya, tatapan yang dipenuhi kebencian, dingin, dan menusuk.

Karina menatap sketsa gambarnya. “Apa salahku padanya? Apakah itu hanya karena aku tidur dengan Hugo? Sebenarnya ada hubungan apa mereka, kalau memang ada hubungan kenapa Hugo memilih bercinta denganku dan bukan dengan Kate?”

Ia mencoba menggambar apapun yang terlintas di kepalanya. Namun, wajah seorang anak kecil yang selalu muncul di tengah taman justru bertahan paling lama dalam ingatannya, menyingkirkan bayangan objek lain. Maka Karina mulai menggambar anak itu lengkap dengan halaman belakang yang dipenuhi bunga.

“Kamu menggambar apa, Karin?” tanya Alam.

“Hantu,” jawab Karina asal, lalu membiarkan Alam melihat hasil gambarnya.

“Ini…” Suara Alam bergetar. Matanya terpaku pada gambar Karina, terlalu nyata untuk sekadar imajinasi.

Karina mengangkat pandangannya dari kertas ke wajah Alam. Sekilas saja sudah cukup baginya untuk membaca perubahan ekspresi itu. Alam tampak kesulitan menelan ludah, menjilat bibirnya dengan gerakan gugup. Matanya meredup tanda seseorang yang sedang menyimpan rasa bersalah.

Kesimpulannya jelas.

Alam tahu sesuatu tentang anak yang Karina gambar. Karina lalu ingat perubahan ekspresi Hugo malam itu saat menyebutkan anak kecil ini, begitu juga dengan Sam.

Ini seperti semua orang tahu tentang anak ini dan hanya Karina yang tidak.

Forgotten?

Mata Karina membelalak lebar, jika semua orang tahu dan ia juga ada diantara orang-orang yang mengetahui itu, apakah itu berarti ia seharusnya juga tahu tetapi ia tidak bisa mengingatnya.

“Siapa anak ini yang membuat ekspresi orang-orang berubah? Apakah seharusnya aku juga tahu? Lalu, kenapa aku melupakannya?” Karina menatap sekelilingnya, dan baru menyadari semua orang sedang menatapnya.

Seperti…menunggu?

...***...

...Like, komen dan vote ...

1
Maya Sari
Sangat menarik,seru ceritanya,bikin penasarn.
Maya Sari
Ceritanya seru….apa ada kelanjutan nya kk?
Nda
apakah yg berdiri di seberang jln itu hugo
Nda
makin penasaran thor,jangan sampe karina ketahuan Hugo.
sudah brusaha utk keluar,Mlah harus balik lagi😩
Nda
double up donk thor🤭,makin penasaran😩
Nda
duhh.. makin penasaran,apa jgn² benar Hugo itu vampir
Nda
novelmu keren thor
Nda
ditunggu double up-nya thor
Nda
duh,tunggu kelanjutanya thor makin penasaran,apakah itu fto karina🤭
lisa_lalisa
duhh, makin penasaran 😞
Nda
sebenarnya Hugo manusia vampir atau kanibal
di tunggu double up-nya thor
Kevin
Next thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!