Pernikahan yang kukira pelabuhan cinta, ternyata hanyalah jerat maut yang dirancang suamiku sendiri. Namaku Aruna, putri keluarga Adiwangsa yang dicap lugu oleh dunia. Namun di malam pengantinku yang penuh duri, aku menyaksikan pengkhianatan Tristan dan selingkuhannya tepat di depan mataku.
Tristan ingin hartaku, ia ingin membuangku ke desa terpencil hingga aku membusuk. Namun, ia melakukan satu kesalahan besar: membiarkan Aruna Adiwangsa pergi dengan liontin warisan ibunya.
Sebuah Ruang Ajaib terbuka dari tetesan darah rasa sakitku. Di sana, aku membangun kekuatan, mengumpulkan harta, dan menyusun strategi yang tak terduga. Tristan, nikmatilah sisa kejayaanmu, karena saat aku kembali, aku akan memastikan kau berlutut memohon ampun di bawah kakiku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Angel Abilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Bayang-Bayang yang Kembali
Setelah Pak Adiwangsa mulai pergi meninggalkannya, keheningan lorong rumah sakit justru terasa lebih berisik di telinga Rian. Ia menatap pantulan wajahnya yang kusam di kaca jendela, terbayang kembali kalimat pria tua itu yang terasa jauh lebih membebani pundaknya ketimbang bobot senjata mana pun.
Namun, di tempat lain, di balik jeruji besi yang dingin, sebuah pintu gerbang berat berderit terbuka.
Tristan melangkah keluar ke udara bebas dengan setelan jas yang sedikit kusut, namun tatapan matanya tetap tajam dan penuh ambisi. Berkat koneksi gelap dan pengacara mahal yang ia sewa dari uang yang tersisa, hukuman yang seharusnya mengurungnya bertahun-tahun hilang begitu saja dalam hitungan bulan. Hal pertama yang terlintas di pikirannya bukanlah pertobatan, melainkan sebuah nama: Aruna.
"Kamu pikir bisa lepas dariku begitu saja, Aruna?" gumam Tristan pelan sambil masuk ke dalam mobil hitam yang sudah menunggunya. "Permainan ini baru saja dimulai kembali."
Pertemuan yang Tak Terelakkan
Tristan tidak membuang waktu. Informasi tentang penusukan Aruna sudah sampai ke telinganya melalui "tikus-tikus" di dewan direksi. Dengan langkah percaya diri, ia memasuki lobi rumah sakit tempat Aruna dirawat. Ia merasa memiliki hak penuh untuk berada di sana, masih merasa sebagai sosok yang paling berhak atas hidup gadis itu.
Namun, langkah Tristan terhenti tepat di depan lorong VIP. Sesosok pria tegap dengan tatapan sedingin es berdiri tegak menghalangi jalannya.
Rian.
Rian belum mengenal siapa pria di hadapannya, namun firasatnya langsung bekerja. Ia mengenali tatapan itu. Tatapan predator yang datang bukan untuk menjenguk, melainkan untuk memangsa. Langkahnya yang santai justru meneriakkan bahaya yang jauh lebih besar daripada sekadar musuh biasa.
"Maaf, area ini terbatas. Tidak ada kunjungan malam ini," ucap Rian dengan suara rendah yang mengancam
Tristan tertawa sinis, menatap Rian dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Dan siapa kamu? Pengawal baru yang disewa Pak Adiwangsa? Minggir, aku harus bertemu Aruna."
Rian tetap diam di tempatnya, membiarkan tubuh tegapnya menjadi penghalang yang tidak tergoyahkan. Pikirannya melayang pada Aruna yang baru saja stabil di dalam sana. Satu hal yang pasti, ia tidak akan membiarkan pria yang membawa aura busuk ini masuk ke ruangan itu.
"Saya tidak butuh tahu siapa Anda," potong Rian. Ia maju selangkah, memperpendek jarak hingga napasnya terasa di wajah Tristan, mengunci ruang gerak pria itu sepenuhnya.
Tristan memberikan peringatan. Ia mencoba menerobos dengan sengaja membenturkan bahunya ke dada Rian. Sikapnya begitu sombong, seolah-olah siapa pun yang berdiri di depannya hanyalah pajangan yang tidak punya nyali untuk melawannya. Namun, ia segera menyadari bahwa pria di hadapannya bukanlah sekadar penjaga pintu biasa.
"Jangan sok pahlawan. Kamu tidak tahu siapa aku!" bentak Tristan sambil mengulurkan tangan hendak memegang kerah baju Rian.
Namun, gerakan Tristan terasa lambat di mata Rian. Dengan refleks yang sudah terlatih, Rian menangkap pergelangan tangan Tristan dan memelintirnya ke belakang dalam satu gerakan cepat. Tristan mengerang kesakitan saat tubuhnya tertekuk paksa. Rian menekannya begitu rendah hingga wajah pria itu hampir jatuh ke lantai, membuatnya tak lebih dari sekadar pesakitan yang kehilangan harga diri dalam sekejap.
"Aku sudah bilang, area ini terbatas," bisik Rian tepat di telinga Tristan, suaranya sedingin es.
Keributan itu memancing pintu kamar Aruna terbuka kembali. Pak Baskara melangkah keluar dengan raut wajah yang seketika berubah murka saat melihat siapa yang sedang ditekan oleh Rian.
"Tristan!" Bentakan Pak Baskara memecahkan keheningan koridor. "Punya nyali berapa lapis kamu sampai berani muncul lagi di sini setelah semua kekacauan yang kamu buat?"
Pak Baskara segera memberi kode kepada dua pengawal Adiwangsa yang berjaga di ujung lorong. "Singkirkan orang ini! Jangan biarkan dia berada dalam radius seratus meter dari kamar Aruna!"
Mendengar nama itu disebut, jantung Rian berdegup dengan ritme yang berbeda. Tristan? Jadi ini orangnya? batin Rian. Selama ini ia hanya mendengar potongan cerita tentang mantan suami Aruna yang berkhianat, pria yang menjadi alasan mengapa Aruna harus berjuang sendirian melawan dunia Adiwangsa yang kejam.
"Gimanapun juga, perceraian kalian sudah sah sejak hari di mana kamu mengkhianati Aruna dan keluarga ini, Tristan!" lanjut Pak Baskara tegas saat para pengawal mulai menyeret Tristan menjauh. "Kamu sudah tidak punya hak apa pun atas Aruna. Pergi, sebelum aku memastikan kamu kembali ke sel itu lebih cepat!"
Tristan terus memberontak, matanya melotot penuh kebencian ke arah Rian. "Kamu tidak akan bisa menjaganya selamanya, Pengawal! Aruna adalah milikku!"
Rian hanya berdiri diam, menatap kepergian pria itu dengan tangan yang masih terkepal kuat. Dada Rian terasa sesak oleh kemarahan yang membesar. Kali ini, dorongan untuk melindungi Aruna bukan lagi sekadar tuntutan profesi, melainkan sesuatu yang jauh lebih pribadi dan tak bisa ia toleransi. Sekarang, Rian sudah tahu musuh macam apa yang ia hadapi. Dan kali ini, ia tidak akan membiarkan Aruna berjuang sendirian lagi.
***
Ketegangan di koridor perlahan mereda setelah bayangan Tristan menghilang di balik pintu lift. Rian masih berdiri mematung, mengatur napasnya yang tak karuan bukan karena lelah fisik, melainkan karena kemarahan yang sangat besar. Nama 'Tristan' seolah menjadi pemicu yang membuat seluruh sarafnya tetap dalam emosi tinggi.
Tak lama kemudian, beberapa perawat keluar dari ruangan Aruna. Seorang dokter paruh baya muncul dari balik pintu, ia mengembuskan napas panjang sambil menurunkan masker bedahnya, memberikan isyarat lewat anggukan kecil bahwa masa kritis telah berlalu.
"Bagaimana, Dok?" tanya Pak Baskara cemas.
Dokter itu tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang memberikan sedikit kelegaan bagi siapa pun yang melihatnya. "Kondisi Nona Aruna menunjukkan peningkatan yang sangat baik. Masa kritisnya benar-benar sudah lewat. Luka di bagian perutnya mulai menutup dengan baik, meskipun tetap membutuhkan pemantauan intensif."
Rian memejamkan mata sejenak, mengembuskan napas panjang. Rasa syukur menyelimuti dadanya, meski sedikit terusik oleh memori tentang pria bernama Tristan tadi.
"Kami akan segera memindahkannya dari ruang observasi ini ke ruang rawat inap VIP," lanjut Dokter. "Dia butuh suasana yang lebih tenang dan nyaman untuk pemulihan total. Setelah obat biusnya benar-benar hilang, mungkin dia akan sedikit merasa nyeri, tapi itu normal."
Rian segera bergerak saat melihat tempat tidur Aruna mulai didorong keluar oleh para perawat. Wajah Aruna masih terlihat pucat, namun napasnya sudah terlihat teratur. Rambutnya yang sedikit berantakan di atas bantal putih membuatnya tampak rapuh, sangat kontras dengan sosok wanita tangguh yang selama ini Rian kenal.
Saat tempat tidur itu melewatinya, Rian melangkah di sampingnya, menjaga jarak yang cukup namun tetap memastikan ia berada dalam jangkauan mata Aruna jika sewaktu-waktu gadis itu terbangun. Pak Baskara mengikuti di belakang bersama tim keamanan yang lebih ketat dari sebelumnya.
Di dalam ruang rawat inap yang baru, suasana jauh lebih tenang. Harum aroma terapi yang lembut menyambut mereka. Setelah para perawat selesai mengatur peralatan medis dan meninggalkan ruangan, Rian berdiri di sudut kamar, menatap wajah Aruna yang kini terlihat lebih segar di balik selimut tebalnya.
"Rian," panggil Pak Baskara pelan, membuyarkan lamunan pria itu. "Kamu sudah mendengar tadi. Musuh-musuh lama sudah mulai keluar dari sarangnya. Tristan hanyalah satu dari sekian banyak orang yang menginginkan Aruna jatuh."
Rian menoleh, tatapannya kini jauh lebih dingin dan fokus. "Saya tahu, Pak. Dan seperti yang saya katakan pada Pak Adiwangsa... selama saya masih bernapas, tidak akan ada orang jahat yang bisa menyentuh Aruna lagi."