NovelToon NovelToon
Jejak Cinta Nirmala

Jejak Cinta Nirmala

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / CEO / Percintaan Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama / Berondong
Popularitas:420
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Nirmala Dizan tak pernah menyangka bahwa ia akan mendapatkan ujian yang begitu besar dan tak terduga. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan dan kemudian ia harus menghadapi kekejaman dunia bisnis yang penuh intrik sendirian. Di saat dirinya putus asa terbitlah sebuah asa, pertemuan dengan Aleandra Nurdin seorang mahasiswa yang mampu mengubah hidup Nirmala yang kelam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai Di Menara Gading

Kembali di pondok, pintu belakang mulai digedor dengan palu godam. Ale sudah terluka di lengan dan perutnya, namun ia tetap berdiri tegak di depan Nirmala, menjadi perisai hidup bagi gadis itu.

"Sembilan puluh persen... Sembilan puluh lima..." Januar berteriak, matanya melotot menatap bar kemajuan di layar.

Nirmala mencengkeram botol semprotan terakhirnya. Ia menatap Ale, dan dalam sepersekian detik di tengah kekacauan itu, mereka berbagi tatapan yang dalam—sebuah janji bahwa jika mereka harus mati, mereka akan mati sambil melawan.

Tiba-tiba, suara ledakan besar menghancurkan dinding samping pondok. Debu dan kayu beterbangan. Sesosok pria asing dengan tato kartel di lehernya muncul dari balik asap, mengarahkan senapan serbu tepat ke arah jantung Nirmala.

"¡Adiós, princesita!" (Selamat tinggal, putri kecil!)

Nirmala memejamkan mata, menekan tuas semprotannya dalam upaya terakhir yang sia-sia, sementara di Jakarta, Rini Susilowati mengangkat gelasnya ke udara, tertawa histeris merayakan kematian yang ia yakini akan terjadi detik itu juga.

****

Di dalam pondok yang hancur berkeping-keping, bar kemajuan di layar laptop Januar akhirnya menyentuh angka seratus persen. Cahaya hijau terang berpendar dari layar, mengirimkan ribuan terabyte data—bukti transaksi narkoba, pencucian uang, dan daftar suap pejabat—ke server pusat Interpol di Lyon dan markas Badan Narkotika Internasional.

"Sudah terkirim!" raung Januar, suaranya parau menembus desing peluru.

Tepat saat pria kartel itu hendak menarik pelatuk ke arah Nirmala, sebuah getaran hebat muncul dari saku jasnya. Tak hanya dia, seluruh ponsel anggota kartel di ruangan itu dan di luar pondok berdering secara bersamaan. Itu adalah protokol darurat dari pusat mereka di Kolombia: Aset terkompromi. Mundur atau eliminasi semua jejak.

Kebingungan sesaat itu menjadi celah bagi Ale. Dengan sisa tenaga yang ada, ia menerjang pria bertato itu, menjatuhkannya ke lantai. Nirmala segera menyemprotkan seluruh sisa cairan cabainya ke wajah sang algojo hingga ia melolong kesakitan.

"Kita harus pergi sekarang! Mereka akan meledakkan tempat ini untuk menghilangkan bukti!" teriak Januar sambil menyambar hard drive eksternalnya.

Mereka bertiga merangkak menembus asap dan reruntuhan, keluar lewat pintu belakang menuju jurang yang gelap, tepat saat sebuah ledakan besar menghanguskan pondok tua itu menjadi debu.

****

Malam yang sama di Jakarta, Rini Susilowati masih duduk dengan tenang di penthouse-nya. Ia sedang menikmati potongan daging steik yang masih berdarah, merayakan apa yang ia yakini sebagai kematian Nirmala. Selendang sutra hitamnya tersampir di bahu, melambai pelan terkena angin dari balkon yang terbuka.

Tiba-tiba, tablet pribadinya yang terletak di atas meja marmer berbunyi nyaring. Sebuah notifikasi dengan lambang biru emas Interpol muncul di layar.

[URGENT: RED NOTICE ISSUED - RINI SUSILOWATI] Tuduhan: Perdagangan Narkotika Internasional, Pencucian Uang, Pendanaan Terorisme.

Rini menatap layar itu selama beberapa detik. Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Lalu, perlahan, bahunya mulai berguncang.

"Mmph... Hmph... Hahahaha!"

Ia tertawa. Tawa yang awalnya kecil itu berubah menjadi ledakan histeris yang memenuhi ruangan. Rini melempar garpu peraknya hingga menghantam dinding. Ia menarik selendang sutranya, menutupi mulutnya yang terbuka lebar.

"Interpol? Merah? Biru?" Rini tertawa sampai tersedak, air mata kebahagiaan yang gila mengalir di pipinya. "Mereka pikir mereka bisa menangkapku dengan notifikasi konyol ini? Aku adalah Dizan! Aku adalah pemilik kota ini! Semua polisi di sini sudah masuk ke kantongku!"

Rini menyeka ingus dan air matanya dengan tisu mahal, lalu membuangnya ke lantai. Ia berdiri dan berjalan menuju jendela besar, menatap gemerlap lampu Jakarta seolah-olah itu adalah kerajaannya yang tak tergoyahkan.

"Hahahaha! Silakan kirimkan seluruh pasukanmu, Lyon! Aku akan menjamu mereka dengan peluru dan uang!" teriaknya ke arah kegelapan. Ia merasa tak tersentuh. Baginya, semua ini hanyalah lelucon murahan yang dirancang oleh Januar untuk menakutinya.

****

Namun, keesokan harinya, lelucon itu menjadi kenyataan yang dingin dan keras.

Fajar belum benar-benar pecah ketika suara deru helikopter polisi mengepung gedung Dizan Holding. Di bawah, puluhan mobil taktis Brimob dan agen Interpol yang didampingi otoritas lokal memblokade setiap akses keluar. Media massa sudah berkumpul, lampu kilat kamera mereka menyinari lobi gedung yang megah.

Rini terbangun bukan oleh sinar matahari, melainkan oleh suara pintu penthouse-nya yang didobrak paksa.

"Nyonya! Anda harus pergi sekarang!" Liana masuk dengan wajah yang hancur oleh ketakutan. "Interpol sudah di bawah! Mereka memblokir semua rekening Anda. Kartel Kolombia memutus hubungan, mereka mengirim orang untuk menghabisi Anda karena data yang bocor!"

Rini berdiri di tengah kamar, masih mengenakan gaun tidurnya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah kegilaannya, tawanya menghilang. Wajahnya pucat pasi. Ia melihat dari jendela ke arah bawah; ratusan polisi sedang bersiap merangsek naik.

"Berani-beraninya mereka..." bisik Rini, suaranya bergetar bukan karena sedih, tapi karena amarah yang memuncak.

Ia menyambar selendang sutra hitamnya, melilitkannya ke leher dengan kencang seolah itu adalah jimat pelindungnya. Ia mengambil sebuah koper kecil berisi permata dan uang tunai darurat yang ia simpan di balik brankas tersembunyi.

"Buka jalur belakang, Liana! Siapkan mobil di basement empat!" perintah Rini.

Saat ia berlari menuju lift pribadi, ia melihat pantulan dirinya di cermin besar. Matanya tampak liar, rambutnya yang putih berantakan. Ia tiba-tiba berhenti dan kembali tertawa—tawa parau yang dipaksakan.

"Hahahaha! Kalian ingin mengejarku? Kejar saja bayanganku!"

****

Di koridor darurat yang gelap dan berbau debu beton, Rini berlari dengan napas tersengal. Ia bukan lagi Komisaris Utama yang agung; ia adalah buronan internasional yang sedang merangkak di sela-sela gedungnya sendiri.

Di basement empat, sebuah mobil jip antipeluru sudah menunggu dengan mesin menyala. Rini melompat masuk, diikuti oleh dua pengawal setianya yang masih tersisa. Mobil itu melesat keluar menembus pintu samping, menabrak barikade sementara polisi hingga percikan api memercik dari kap mesin.

"Ke pelabuhan! Sekarang!" raung Rini.

Di kursi belakang, Rini memegang erat kopernya. Ia melihat ke arah spion, melihat mobil-mobil polisi dengan sirine meraung-raung mengejarnya. Ia kembali menarik selendang sutranya, menutupi wajahnya yang kini bersimbah keringat dan air mata amarah.

"Hmph... Mmph..."

Ia tidak lagi tertawa dengan bebas. Tawanya kini bercampur dengan isak tangis yang mengerikan. Ia menyadari bahwa dunianya yang megah telah runtuh hanya dalam waktu satu malam. Ia telah menjadi sampah di kota yang dulu ia injak-injak.

"Kalian tidak akan pernah menangkapku hidup-hidup!" teriak Rini sambil memukul-mukul kursi mobil. "Aku akan kembali! Aku akan membakar kalian semua!"

Mobil itu menghilang di antara gang-gang sempit pelabuhan Sunda Kelapa, mencoba mencari celah untuk keluar dari Jakarta melalui jalur laut yang dikuasai oleh sisa-sisa koneksi gelapnya. Rini Susilowati kini adalah mangsa di padang perburuan yang dulu ia kuasai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!