Kirana Yudhoyono, aktris kelas bawah yang hampir kehilangan segalanya, tak sengaja menyelamatkan seorang anak trauma bernama Kael dari insiden berbahaya di sebuah gudang bar. Tindakannya menarik perhatian ayah Kael—Bryan Santoso, CEO SantoPrime yang dingin dan berkuasa. Terpesona oleh kedekatan Kirana dengan putranya, Bryan menawarkan balas budi yang tak masuk akal: pernikahan kontrak.
"Aku menyelamatkan putramu bukan untuk menikahimu, Tuan Bryan!"
"Tapi Kael membutuhkanmu, dan aku... hanya menerima hubungan dengan pernikahan sebagai syaratnya."
*saya baru mencoba untuk menulis genre seperti ini, semoga anda sekalian menyukainya ☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demene156, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 kepulangan Mantan Menyebalkan
Meskipun Kirana berhasil membuktikan kemampuan aktingnya lewat adegan sulit sebelumnya, reputasinya di lokasi syuting sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda membaik.
Di industri yang kejam, prestasi sering kali tertutup kabut prasangka.
Hanya Sutradara Galang, beberapa aktor veteran yang sudah lama malang melintang di dunia seni peran, serta staf teknis yang jujur memuji totalitas aktingnya.
Sisanya memilih membuang muka atau berbisik di belakangnya.
Bagaimana dengan Aruna?
Wanita itu memang memuji Kirana di depan banyak orang. Kalimat manis mengalir lancar dari bibirnya, memuji betapa hebatnya "kakaknya" itu dalam berakting.
Namun siapa pun yang mengenal Aruna lebih dekat tahu semua itu hanya topeng tebal.
Di balik senyum lembutnya, ia hanyalah ular kecil berbisa. Perkataan dan isi hatinya tidak pernah selaras.
Bagi Aruna, Kirana tetap ancaman yang harus disingkirkan—tentu saja dengan cara elegan.
Karena itu, pujiannya sama sekali tidak termasuk pengakuan tulus.
Para aktris lain, dari figuran hingga pemeran pendukung utama seperti Qiana, memandang penampilan Kirana dengan perasaan campur aduk.
Dalam hati mereka mengakui akting itu luar biasa—bahkan terlalu bagus. Namun ego menolak menerima kenyataan.
Alih-alih mengagumi, mereka memilih melabelinya licik dan manipulatif.
Beberapa bahkan mulai menyebarkan bisikan sinis bahwa Kirana tidak sedang berakting, melainkan hanya menampilkan kepribadian aslinya.
Sutradara Galang tentu menyadari ketegangan yang merayap di lokasi syuting.
Ia tahu rumor-rumor miring sengaja dihembuskan untuk menjatuhkan Kirana. Namun sebagai kapten produksi, ia memilih tidak menanggapi secara terbuka.
Bagaimanapun juga, semua itu hanyalah gosip tanpa bukti.
Ia juga melihat jelas bagaimana banyak figuran dengan mudah termakan kabar burung, lalu membungkus iri hati mereka dengan dalih moralitas, seolah-olah sedang membela kebenaran.
Fenomena seperti itu bukan hal baru.
Dunia hiburan bukan taman bermain ramah. Ia lebih mirip rimba tempat para predator saling mengintai.
Di sana, cara paling umum bertahan hidup atau naik ke puncak adalah menjatuhkan pesaing—baik secara terang-terangan maupun melalui tipu muslihat halus.
Justru karena itulah, hal yang paling dikhawatirkan Galang bukan jumlah orang yang membenci Kirana atau seberapa kencang rumor berembus.
Yang ia cemaskan adalah kondisi mental Kirana.
Ia takut tekanan dari rekan kerja akan mengganggu stabilitas emosi gadis itu dan akhirnya merusak jadwal syuting.
Walaupun perannya bukan tokoh utama, karakter Kirana adalah roda penggerak penting dalam drama kolosal ini.
Sebelum meninggalkan set, Galang menghampiri Kirana yang sedang beristirahat di sudut.
"Kirana, tenang saja. Jangan masukkan kata-kata mereka ke hati. Fokus pada pekerjaanmu. Lagi pula pemeran utama pria keduamu akan bergabung bulan depan. Masih banyak adegan besar menunggumu."
Kirana tersenyum tipis. Ia sudah terbiasa dengan lingkungan seperti ini, tetapi rasa dingin pengucilan tetap terasa nyata.
"Sutradara Galang, sebenarnya siapa pemeran utama pria kedua saya?" tanyanya, sengaja mengalihkan pembicaraan. "Anda merahasiakannya sejak awal. Saya mengerti kalau ini strategi promosi untuk publik, tapi tidak bisakah tim internal diberi sedikit bocoran?"
Galang tertawa kecil, jelas menikmati rasa penasaran semua orang.
"Aku benar-benar tidak bisa mengatakannya sekarang. Bagaimana kalau bocor? Kita butuh kejutan besar saat pengumuman."
Ia lalu menambahkan dengan nada misterius, "Yang bisa kukatakan hanya satu: pemeran utama pria kedua kita adalah bintang besar."
Tepat saat itu, Qiana lewat dengan langkah anggun yang dibuat-buat. Mendengar kalimat terakhir, ia berhenti dan mencibir tanpa menutupinya.
"Dia cuma pemeran pendukung pria. Seberapa terkenal sih? Memangnya bisa selevel Raja Film Raka Pramudya, Mbak Aruna?"
Aruna yang berdiri tak jauh hanya tersenyum tipis.
Ia tidak berkata apa pun, tetapi sorot matanya jelas menunjukkan ia menganggap Galang melebih-lebihkan demi menjaga semangat tim.
Menurutnya mustahil aktor besar mau mengambil peran pendukung tanpa alasan khusus.
Kirana memilih mengabaikan ejekan itu. Ia tidak punya energi untuk drama murahan.
Sebaliknya, ia tetap berdiri di belakang Galang dan bertanya santai,
"Lalu, apakah dia setidaknya tampan? Anda pasti boleh memberitahu hal kecil ini, kan? Dalam naskah, tokoh ini digambarkan sebagai tabib yang sangat tampan dan karismatik sampai para gadis di ibu kota pura-pura sakit hanya demi melihat wajahnya."
Pertanyaan itu bukan sekadar basa-basi.
Menurut naskah, karakternya akan memiliki cukup banyak adegan intim dengan pemeran pria kedua. Tidak hanya adegan menggoda dalam konteks peran, tetapi juga momen pelukan dan ciuman di beberapa titik klimaks.
Jika lawan mainnya tidak punya chemistry atau sulit diajak kerja sama, performanya pasti akan terganggu.
Galang tertawa lebih lebar, seolah sudah menunggu pertanyaan itu.
"Tentu saja tampan. Aku yakin kau akan sangat puas saat melihatnya. Bahkan kalau nanti kau sampai pingsan karena terlalu senang melihat dia, aku tidak akan kaget."
Kirana tertawa kecil.
"Tidak mungkin, Sutradara Galang. Jangan mempermainkan saya seperti itu. Nanti saya benar-benar berharap, lho."
-++-
Waktu berlalu cepat di tengah jadwal syuting yang padat. Tanpa terasa, kalender sudah menunjukkan bulan Mei.
Kirana menyadari bahwa dirinya telah tinggal di kediaman mewah keluarga Bryan Santoso selama dua minggu penuh.
Selama itu, hubungannya dengan si kecil Kael berkembang pesat. Anak itu mulai terbuka, bahkan sering menunjukkan sisi manja yang jarang ia perlihatkan kepada orang lain.
Pekerjaan Kirana di lokasi syuting juga berjalan cukup lancar, meski atmosfernya tetap kompetitif.
Tentu saja tidak semuanya mulus.
Aruna dan Qiana diam-diam membentuk aliansi. Mereka sesekali mencoba mempermainkan Kirana dengan berbagai trik kecil, mulai dari menyembunyikan perlengkapan rias hingga menyabotase kostum.
Kirana tahu semua tipu daya dangkal itu, tetapi tetap saja melelahkan harus terus waspada setiap hari.
Rasanya seperti berjalan di atas tali tipis; satu kesalahan kecil saja bisa dimanfaatkan untuk menghancurkan kariernya yang baru mulai menanjak.
Ia menunggu saat yang tepat untuk membalas—serangan balik yang cukup telak agar mereka tidak berani mengusiknya lagi.
Di tengah semua itu, ada satu hal yang terasa aneh.
Walau dikucilkan para aktris, Kirana merasa ada seseorang di tim produksi yang diam-diam membantunya.
Beberapa kali ia hampir melewatkan detail penting atau terjebak masalah teknis, lalu tiba-tiba staf berbeda memberinya petunjuk halus.
Awalnya ia mengira itu karena sebagian kru tidak menyukai sikap arogan Qiana. Namun bantuan itu terasa terlalu rapi untuk sekadar spontanitas.
Pada akhirnya Kirana tidak terlalu memikirkan hal itu. Selama bantuan itu menguntungkan dan tidak menuntut imbalan, ia membiarkannya.
Ia tidak tahu bahwa semua itu adalah pengaturan Arion.
Atas perintah kakaknya, Bryan Santoso, Arion menempatkan "malaikat pelindung" di lokasi syuting agar tak seorang pun bisa menyakiti Kirana—baik secara fisik maupun mental.
Saat ini, masalah terbesar Kirana bukan Aruna.
Melainkan urusan pribadi yang mendesak.
Malam ini ia harus pergi ke Bandara Soekarno-Hatta untuk menjemput seorang pria yang sangat tidak ingin ia temui.
Jika punya pilihan, ia pasti menolak. Namun ancaman pria itu jauh lebih menakutkan daripada rasa enggannya.
Sepanjang hari ponselnya terus bergetar. Pria itu menelepon setiap beberapa jam hanya untuk memastikan jadwal jemputan, seolah Kirana adalah sopir pribadinya.
Begitu pekerjaan selesai, Kirana langsung pulang ke kediaman Bryan. Ia harus mengambil tas besar berisi perlengkapan khusus untuk misinya malam ini.
"Kau sudah kembali."
Suara bariton rendah menyambutnya saat ia melangkah ke ruang tengah.
Bryan duduk santai di sofa kulit sambil membaca koran ekonomi. Bahkan dalam pakaian rumah, penampilannya tetap rapi dan elegan.
Melihat Kirana, ia melipat korannya sebentar.
"Ada restoran hotpot baru di pusat kota. Bagaimana kalau kita ajak Kael makan di sana malam ini?"
Kirana sempat tertegun.
Nada bicara Bryan terdengar begitu akrab—seolah ia sedang mengajak istrinya merencanakan makan malam keluarga.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Hanya dalam dua minggu, tanpa sadar ia mulai terbiasa dengan ritme hidup bersama Bryan dan Kael.
Kebersamaan mereka bertiga, terutama saat bermain dengan si Harta Karun Kecil, terasa seperti keluarga kecil yang utuh.
Kirana segera menggeleng dalam hati.
Ia menarik napas dan menjawab agak canggung, "Sepertinya aku tidak bisa ikut malam ini, Bryan. Maaf. Aku harus pergi ke bandara menjemput seseorang. Mungkin pulang sangat larut."
"Apakah Kael sangat ingin hotpot? Kenapa kamu tidak mengajaknya makan berdua saja? Anggap saja kencan ayah dan anak," tambahnya mencoba memberi solusi.
Bryan menatapnya. Ekspresinya tetap tenang, tetapi ada gurat kekecewaan tipis.
"Kalau kamu tidak ikut, dia tidak akan mau pergi. Dia hanya mau kalau kita bertiga."
"Uhuk... begitu ya. Kalau begitu kita jadwalkan lain kali saja."
Kirana benar-benar tak bisa mengubah rencananya.
Ia harus menjemput pria menyebalkan itu—mantan kekasihnya saat masih merintis karier di luar negeri. Hubungan mereka dulu rumit, dan kini pria itu kembali entah untuk menagih janji atau sekadar mengusiknya lagi.
Bryan meletakkan korannya sepenuhnya dan menatap Kirana tajam.
"Bertemu teman?"
"Yah... bisa dibilang begitu." Kirana mengangguk kecil.
Ia tidak ingin menjelaskan lebih jauh. Identitas pria itu terlalu sensitif.
"Pria atau wanita?" tanya Bryan lagi, nada suaranya tetap datar tetapi penuh selidik.
"Eh..."
'Bukankah pertanyaan ini sudah melewati batas hubungan kami?' batin Kirana.
Ia sadar sikap Bryan selama dua minggu ini tidak biasa. Perhatian pria itu selalu ada—diam-diam, terkendali, berhenti tepat sebelum menjadi terlalu personal.
Kirana takut jika ia bereaksi berlebihan, ia justru terlihat percaya diri berlebihan seolah Bryan memiliki perasaan romantis padanya.
Padahal mungkin tidak.
Maka ia menjawab singkat, seolah ini pertanyaan biasa.
"Laki-laki."
Mata Bryan menyipit—gerakan kecil yang tidak disadari Kirana. Suasana ruangan mendadak terasa lebih dingin.
"Apakah kau akan kembali malam ini?"
'Kenapa terdengar seperti suami yang menginterogasi istrinya?' batin Kirana lagi.
Ia segera mengaktifkan kemampuan aktingnya.
"Aku belum yakin. Nanti kalau sudah selesai aku telepon. Aduh, aku hampir terlambat! Aku ke atas sebentar ambil barang!"
Tanpa menunggu jawaban, ia langsung naik tangga dengan cepat. Ia benar-benar tidak ingin ditanya lagi—terutama di bawah tatapan intens Bryan yang terasa seperti lampu interogasi.
Pikirannya kini fokus pada malam yang akan datang.
Ia tahu sesuatu pasti terjadi.
Bagaimana kalau ia tidak tahan dan malah menghajar Yono Barsa di pinggir jalan?
Kirana masuk kamar, mengambil tas selempang hitam besar, lalu turun lagi.
Sebelum pergi, ia menghampiri Kael yang sedang bermain. Dengan gerakan cepat ia memeluk tubuh kecil itu dan mencium keningnya.
Begitu pintu depan tertutup di belakang Kirana, ekspresi Bryan berubah drastis.
Wajahnya menggelap. Aura dingin menyelimuti ruangan seperti badai sebelum hujan besar.
Kael yang biasanya hanya memperhatikan Kirana ternyata menyadari perubahan itu. Ia berhenti bermain, menunduk sejenak, lalu menulis sesuatu di papan tulis digital kecilnya.
Ia mendekat dan menyentuh lengan ayahnya dengan jari kelingking.
Bryan menunduk.
Di papan itu hanya ada satu tanda tanya besar.
"Apakah kau bertanya kenapa aku tidak bahagia?" ucap Bryan pelan.
Ia terdiam sebentar, lalu berbicara lambat—seolah kepada dirinya sendiri sekaligus pada putranya.
"Kael, kalau suatu hari nanti Tante Kirana menjadi milik orang lain... kalau dia memanggil pria lain dengan sebutan sayang dan mencium pria itu setiap pagi, malam, dan saat berpisah... kalau dia pergi makan hotpot dengan orang lain sementara kita ditinggal di sini... dan kau sadar kau bukan siapa-siapa baginya, bahkan tak punya hak bertanya dia pergi ke mana... apakah kau akan bahagia?"
Ia melampiaskan kecemburuan rumitnya pada anak lima tahun yang jelas belum memahami perasaan orang dewasa.
Kael memang tidak mengerti romansa.
Namun anak kecil mengerti rasa kehilangan.
Ekspresinya berubah. Matanya berkaca-kaca.
Dan anehnya, melihat itu Bryan merasa sedikit lega—seolah ia tidak sedih sendirian.
Kael terisak pelan. Dengan sedih ia mengambil ponsel ayahnya dari meja lalu membuka WhatsApp.
Ia mengirim pesan ke Kirana:
[(>﹏<.)~]
Di dalam taksi menuju bandara, Kirana terkejut melihat notifikasi itu.
Hatinya langsung mencelos. Ia mengira Kael sedih karena rencana makan hotpot batal gara-gara dirinya.
Dengan rasa bersalah, ia cepat membalas:
[Aiya, ada apa sayang? Kenapa sedih? Jangan sedih ya. Kalau kamu sedih Tante juga ikut sedih. Hari ini Tante benar-benar ada urusan mendesak. Besok malam Tante janji kita makan hotpot bareng, oke? Muah muah! Tante sayang kamu sepuluh ribu tahun! Tante paling suka lihat kamu tersenyum!]
Begitu membaca balasan itu, tangis Kael langsung berhenti.
Ia tersenyum lebar penuh kemenangan, lalu dengan bangga menyerahkan ponsel itu ke ayahnya.
Bryan membaca pesan tersebut.
"..."
Dadanya terasa seperti dipukul palu raksasa tak kasatmata.
Ia tadi berniat membuat Kael berpihak dalam kesedihannya.
Sebaliknya, ia justru harus melihat betapa mudahnya Kirana menenangkan anak itu—dengan kata-kata cinta yang diam-diam ingin ia dengar untuk dirinya sendiri.
-++-
Dua jam kemudian, suasana di area kedatangan Terminal 3 Bandara Soekarno–Hatta benar-benar kacau.
Meski sudah menyiapkan mental sepanjang perjalanan, Kirana tetap tertegun begitu melangkah ke area publik.
"Ahhhhh! Yono Barsa! Yono! Yono!"
"Suamiku, lihat ke sini! Aku mencintaimu sampai mati!"
"Yono paling tampan di jagat raya!"
"Yono! Kyaaaa! Jangan pergi lagi ke luar negeri!"
Teriakan histeris menggema memenuhi terminal.
Mayoritas yang berkerumun adalah penggemar wanita muda dengan atribut dukungan. Namun cukup banyak juga penggemar paruh baya yang sama hebohnya. Mereka mendorong barikade, berusaha mendekat.
Petugas keamanan sudah dikerahkan penuh, tapi jumlah massa terlalu besar untuk dikendalikan sepenuhnya.
"Istri-istriku yang cantik, tolong tenang sedikit ya? Jangan ganggu kenyamanan orang lain. Shhh."
Suara rendah dan genit itu terdengar dari pengeras suara kecil.
Para penggemar langsung terdiam sesaat—lalu meledak lebih keras dari sebelumnya.
Suasana bukannya mereda, malah makin liar.
Kirana bersembunyi di balik pilar besar agak jauh dari kerumunan. Garis hitam imajiner seolah memenuhi wajahnya karena frustrasi.
"Pria itu benar-benar masih dendam padaku. Dia sengaja melakukan ini. Dia ingin aku mati terinjak kalau berani mendekat," gumamnya pelan.
Dia mengenal betul sifat Yono Barsa—narsisme berjalan dengan kaki sendiri.
Jika ia muncul sekarang, ia yakin tidak akan selamat tanpa memar atau pakaian robek.
Untungnya, Kirana bukan gadis polos lagi.
Ia berbalik dan berlari menuju toilet wanita terdekat.
Begitu masuk bilik kosong, ia mengunci pintu, membuka tas hitam besarnya, lalu mengeluarkan perlengkapan kosmetik dan prostetik.
Tangannya bergerak cepat merias wajah.
Sepuluh menit kemudian, saat keluar dari kamar mandi, penampilannya berubah total.
Ia bukan lagi aktris muda yang sedang naik daun.
Sekarang ia tampak seperti nenek renta berambut perak dengan kerutan realistis hasil makeup karakter profesional.
Ponselnya berbunyi.
Ia membuka notifikasi.
[Raja Peri Jahat: Kirana sayang! Lima menit. Kalau kau tidak muncul, aku bongkar semua sejarah hubungan kita ke publik sekarang juga.]
"Sialan," desis Kirana.
Ia memeriksa riasan di cermin sekali lagi, memastikan tak ada bagian terlepas.
Lalu ia berlari kecil kembali ke kerumunan.
'Tenang. Kamu aktris. Ini panggungmu. Kamu pasti lolos,' batinnya.
Tubuhnya langsung masuk karakter.
Punggung membungkuk. Langkah gemetar. Ekspresi lembut rapuh penuh rindu.
Ia mulai menyelinap ke barisan fans.
"Uhuk... permisi, Nak... beri jalan sebentar... uhuk... Gadis-gadis baik hati, bolehkah nenek lewat? Nenek ingin melihat Nak Yono dari dekat..."
Seorang penggemar di belakang menoleh dan langsung iba.
"Eh, jangan dorong! Ada nenek di sini, nanti jatuh!"
"Astaga, Nek! Nenek juga fans Mas Yono?"
"Mas Yono hebat banget, semua umur suka dia! Ayo beri jalan!"
"Nenek umur berapa sekarang?"
Kirana membungkuk lebih dalam, menepuk punggungnya pelan.
"Terima kasih, gadis-gadis cantik... Nenek sudah enam puluh sembilan tahun... Nenek suka pemuda itu karena wajahnya mirip cucu Nenek... cucu Nenek sudah meninggal waktu masih muda..."
Suaranya bergetar.
Ia menyeka sudut mata, pura-pura menangis.
"Ya ampun, sedih sekali..."
"Mas Yono! Lihat sini! Ada nenek penggemar Anda!"
"Tolong temui dia sebentar!"
Kerumunan langsung membuka jalan dengan simpati.
Kirana meluncur cepat melewati barikade.
Di tengah keramaian, Yono berdiri bergaya sambil menyisir rambut pirangnya dengan jari. Ia baru saja melepas kacamata hitam untuk fanservice.
Namun saat mendengar kata nenek, ekspresinya berubah.
"Penggemar nenek?" tanyanya ragu.
"Iya, Mas! Beliau hampir tujuh puluh! Datang khusus ke bandara buat Mas Yono! Katanya Mas mirip cucunya yang sudah meninggal!" jelas seorang fans dengan mata berkaca-kaca.
'Latihan akting bertahun-tahun akhirnya berguna juga,' batin Kirana puas.
Yono mengikuti jalur yang dibuka fans.
Di sana ia melihat seorang nenek renta bertongkat.
Begitu mata mereka bertemu—
Wajah Yono langsung menggelap.
Ia mengenali tatapan itu.
"Fuu... sialan..." gumamnya pelan, menelan sisa umpatan.
Tatapannya tajam seperti ingin mencekik.
Namun interaksi singkat itu luput dari perhatian fans.
"Ah... cucuku sayang... cucuku..."
Tanpa memberi kesempatan, Kirana menerjang dan memeluk lehernya.
Tangannya langsung mengacak rambut pirang kebanggaan Yono sambil pura-pura menangis di pundaknya.
Para penggemar langsung terharu.
Beberapa ikut menangis.
Kamera media berderet memotret.
"Kirana! Kau cari mati, ya? Tunggu pembalasanku," bisik Yono di telinganya dengan gigi terkatup.
Kirana mengabaikan.
"Ah cucuku... kenapa kurus sekali? Hati Nenek sakit melihatmu tak terurus di luar negeri..."
Rambut Yono kini berubah jadi sarang ayam tersambar petir.
Melihat situasi makin berbahaya, manajer Yono—Fahri—segera maju.
"Uhuk, semuanya minggir sedikit. Nenek ini sangat emosional dan tubuhnya lemah. Kami akan membantu beliau pulang dengan aman."
Yono tetap tersenyum lembut ke kamera, walau tangannya diam-diam meremas tangan Kirana keras.
Staf keamanan segera menggiring mereka keluar lewat jalur khusus.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di dalam MPV hitam milik agensi.
Mobil melaju menuju tol arah Jakarta, menjauh dari kejaran wartawan.
Begitu pintu tertutup—
Suasana berubah total.
"Cucu baik, kamu tahu rumah Nenek di mana kan? Antarkan Nenek pulang ya, Sayang," ucap Kirana santai, nada aslinya kembali.
Yono menoleh. Senyum masih menempel, tapi matanya tajam.
"Kirana. Coba panggil aku 'cucu' sekali lagi kalau kau masih mau lihat matahari besok."
"Cucu... Nak... Sayang... Tuh, sudah. Mau apa?" balas Kirana sambil kembali mengacak rambutnya.
"Aku benar-benar akan membunuhmu."
"Lakukan kalau berani. Kau tak punya nyali."
Kirana memukul bahunya keras.
"Ah! Wanita sialan! Kau pakai tenaga penuh?!"
Mobil berguncang karena perkelahian kecil mereka.
Fahri di kursi depan hanya menggeleng.
"Yono, sudah kubilang. Kau tak akan pernah bisa mengakali wanita itu. Tapi kau keras kepala."
Ia menahan tawa.
"Besok headline bukan 'Bintang Besar Dijemput Wanita Cantik', tapi 'Reuni Haru Yono Barsa dengan Nenek Misterius'."
Dengan satu tangan terkunci di belakang oleh Kirana, Yono hanya bisa berteriak,
"Diam kau, Fahri!"
Fahri menatap lewat kaca spion.
Kepalanya pening, tapi sudut bibirnya terus berkedut menahan geli.
"Kirana, aku mohon, bisa sedikit lebih lembut padanya? Tolonglah! Dia masih punya jadwal padat bulan ini—syuting film, iklan produk ternama, sampai sesi foto sampul majalah. Kalau wajahnya sampai lecet, aku yang pusing tujuh keliling!"
"Tenang saja, Kak Fahri. Aku profesional. Aku tidak akan memukul wajahnya yang berharga itu… aku cuma akan memberi sedikit pelajaran pada paha dan tangannya saja. Diamlah kau, Yono!"
Sambil berkata begitu, Kirana kembali menghantam paha Yono sekali lagi.
Aura bintang yang tadi dipamerkan Yono di bandara kini lenyap tanpa sisa.
Ia terdesak di sudut kursi belakang, kedua tangannya seperti terborgol dalam cengkeraman Kirana, tampak berantakan seperti korban perampokan.
"Kirana… kau benar-benar memaksaku memakai cara ini…"
Kirana tertawa riang sambil terus memukul lengannya.
Tiba-tiba Yono bergerak cepat.
Dalam satu gerakan balik, ia mengunci kedua tangan Kirana dan menarik tubuh gadis itu mendekat—hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.
Kirana sempat terkesiap.
Namun hanya sesaat.
Ia segera memasang senyum acuh tak acuh yang tajam.
"Apa ini? Karena kau tak bisa menang secara fisik, sekarang kau mau pakai jebakan ketampanan murahan itu?"
Tepat sebelum bibir mereka tampak akan bertemu, Kirana menoleh cepat ke samping.
Hasilnya—
Yono justru mencium pipinya yang masih dilapisi makeup nenek lengkap dengan bubuk prostetik tebal.
"Ergh—ptuih! Sialan!" Yono langsung mundur dengan wajah meringis. Rasanya seperti baru menelan sekantung tepung hambar.
"Hahaha! Rasakan!"
Kirana tertawa sampai memegangi perutnya.
"Ayo, ayo! Tadi katanya mau mencium? Sayang, sini lagi. Riasan Nenek hari ini cantik dan menggoda, kan?"
Melihat kerutan palsu dan bercak hitam di wajah Kirana, Yono akhirnya ambruk di kursi seperti ikan mati terdampar.
Ia benar-benar kehilangan semangat hidup.
Kirana akhirnya berhenti tertawa setelah puas. Ia duduk kembali sambil terengah.
"Apa? Kau marah? Salah siapa dulu? Siapa suruh menjebakku di bandara dengan menyebar lokasimu? Aku tak boleh balas sedikit?"
"Dasar wanita kejam. Kita sudah lama tak bertemu sejak aku ke luar negeri. Apa kau benar-benar tak merindukanku sedikit pun? Pertemuan pertama kita malah kau isi dengan memukuliku."
Tatapan Yono tajam, tetapi di baliknya terselip kilatan rindu yang disembunyikan keras-keras.
Kirana tersenyum tipis. Kali ini lebih tulus.
"Tentu aku merindukanmu, Yono. Bukankah tadi sudah kukatakan di depan ribuan orang? Nenek sangat merindukan cucunya yang nakal ini."
"..."
Agar tak kena serangan jantung karena emosi, Yono akhirnya menyerah.
Ia mengangkat kedua tangan.
"Sudah, lepaskan ini! Dari mana kau dapat ide gila membawa borgol mainan di tasmu?"
Kirana menyentuh dagunya seolah berpikir.
"Oh, ini? Aku beli online di toko perlengkapan S&M di LapakLoka. Lagi diskon dua puluh persen. Cuma dua ratus ribuan. Murah tapi cukup kuat menahan pria manja sepertimu."
"..."
Fahri cepat menyela sebelum ronde baru dimulai.
"Kita sudah berhasil mengelabui wartawan dan fans. Jadi sekarang kita ke mana?"
Yono yang sudah bebas langsung mengeluarkan cermin kecil dan merapikan rambutnya. Ia bahkan tak mengangkat kepala saat menjawab.
"Antar aku ke rumahku di pinggiran kota."
Mendengar itu, Kirana langsung bangkit dari duduknya.
"Kalau begitu turunkan aku di pinggir jalan setelah keluar tol. Aku naik taksi sendiri. Aku sudah bosan melihat wajahmu."
"Heh. Setelah semua yang kau lakukan di bandara, kau pikir bisa kabur begitu saja malam ini?" Yono menyeringai jahat. "Jangan mimpi, Kirana."
Ia menekan tombol pengunci pintu mobil.
Klik.
"..."
Kepala Kirana kembali dipenuhi garis hitam imajiner.
Ia sudah menduga pria ini tak akan melepasnya mudah.
Mobil melaju semakin jauh, memasuki kawasan elite di pinggiran Jakarta.
Perlahan, Kirana menyadari sesuatu.
Jalanan ini terasa… familiar.
Deretan pohon besar. Gerbang mewah. Tata lampu jalan.
Semua terasa seperti baru ia lihat beberapa jam lalu.
'Mengapa jalannya terasa sangat familiar…?' batinnya.
"Tuan Yono Barsa yang terhormat," ucapnya santai namun menyelidik, "Anda punya properti baru di Jakarta? Jangan-jangan rumahmu di kompleks Istana Platinum, Bintaro?"
Yono mendengus sombong sambil tetap menyisir rambut.
"Benar. Rumahku di sana. Memangnya kenapa? Kau menyesal sudah kasar padaku? Terlambat. Kecuali kau mau memanggilku 'suamiku' di depan Fahri."
Kirana sama sekali tak memedulikan ejekan itu.
Yang ia rasakan justru—
cemas.
'Kebetulan macam apa ini…? Mengapa rumah Yono juga di kompleks Istana Platinum?'
Di kepalanya tiba-tiba seperti ada alarm berbunyi keras.
Sebuah firasat buruk muncul.
Sesuatu akan terjadi.
Sesuatu yang sangat merepotkan posisinya.
Bersambung…