NovelToon NovelToon
Cinta Yang Terbuang

Cinta Yang Terbuang

Status: tamat
Genre:Percintaan Konglomerat / Cintapertama / Berbaikan / Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Kau pikir kau mencuri masa depanku malam itu, Nick? Tidak. Kau hanya memberi saya alasan untuk menikmati Rasa sakit di masa depan." — Nedine.

Di balik gemerlap statusnya sebagai putri dari seorang ibu tunggal yang sukses, Nadine Saville menyimpan rahasia yang menghancurkan dirinya secara perlahan. Sejak bangku SMA hingga memasuki dunia kampus yang liar di Amerika, ia terikat dalam hubungan gelap dengan Nickholes Teldford.
Bagi dunia, mereka adalah orang asing. Namun di balik pintu tertutup, Nadine adalah pelampiasan nafsu Nickholes yang tak pernah puas. Terjebak dalam kenaifan dan cinta yang buta, Nadine rela dijadikan alat pemuas demi mempertahankan pria yang ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Satu semester telah berlalu di Universitas New York. Musim gugur telah mencapai puncaknya, menyisakan dedaunan kering yang menari-nari di sekitar Washington Square Park.

Di tengah hiruk-pikuk kampus yang megah itu, nama Daven Teldford kembali bersinar. Ia bukan lagi sekadar anak dari legenda football, melainkan sosok yang mendominasi lapangan basket sebagai kapten tim universitas.

Daven tetaplah "Pangeran Es". Tatapannya tajam, rahangnya kokoh, dan gerakannya di lapangan begitu presisi, dingin dan tak tersentuh. Baginya, basket adalah pelarian dari kesunyian yang mencekik sejak kepergian si pipi bakpao.

Pagi itu, lapangan basket outdoor dikerumuni oleh ratusan mahasiswa. Tim basket utama sedang mengadakan latihan terbuka sekaligus seleksi tambahan. Suara gesekan sepatu di atas lantai semen dan pantulan bola yang ritmis menciptakan simfoni yang maskulin.

Daven memimpin di tengah lapangan. Keringat membasahi kaos jersey hitamnya, memperlihatkan otot lengan yang terbentuk sempurna hasil latihan keras bertahun-tahun. Ia baru saja melakukan slam dunk yang spektakuler, membuat mahasiswi yang menonton di pinggir lapangan bersorak histeris.

Namun, bagi Daven, sorakan itu hanyalah kebisingan kosong. Matanya tidak pernah benar-benar menatap penontonnya. Ia selalu menatap lurus ke depan, hingga sebuah pergerakan di pinggir lapangan menangkap sudut matanya.

Di dekat tiang penyangga jaring, berdiri seorang mahasiswi baru. Gadis itu mengenakan trench coat berwarna krem yang dipadukan dengan celana jeans yang elegan. Rambutnya yang dulu sering diikat asal-asalan, kini terurai indah, berkilau di bawah sinar matahari pagi.

Daven mendadak kehilangan fokus. Bola yang seharusnya ia oper ke rekan timnya terlepas begitu saja dari tangannya.

Ia menatap gadis itu tanpa berkedip. Wajahnya sangat cantik, anggun dan dewasa. Garis wajahnya telah tegas, dagunya lancip, dan yang paling membuat jantung Daven seolah berhenti berdetak, pipi itu sudah tidak ada.

Tidak ada lagi pipi bulat yang menggemaskan. Tidak ada lagi rona merah bakpao yang selalu ingin ia cubit. Gadis di depannya adalah perwujudan kesempurnaan wanita dewasa. Ia terlihat tenang, sangat jauh dari citra gadis ceroboh yang selalu kehilangan kunci loker.

Daven mematung di tengah lapangan. Teman-temannya memanggilnya, namun telinga Daven mendadak tuli. Ia merasa seolah sedang melihat hantu dari masa lalunya yang telah bereinkarnasi menjadi sosok yang begitu asing namun terasa sangat dekat.

Gadis itu menyadari tatapan intens Daven. Ia tersenyum, sebuah senyum yang masih menyimpan kehangatan yang sama, meski wajahnya telah berubah drastis. Ia melangkah maju sedikit, berdiri di garis tepi lapangan, dan membuka suaranya yang kini terdengar lebih merdu dan matang.

"Hey, Daven..."

Suara itu. Meski nadanya lebih lembut, getarannya tetap sama. Itu adalah suara yang menghantui mimpi Daven selama tiga tahun terakhir.

"Kau masih saja suka melamun saat pertandingan, ya?" lanjut gadis itu dengan sedikit binar jenaka di matanya.

Daven berjalan perlahan mendekat ke arah pinggir lapangan. Langkahnya yang biasanya tegas kini terasa goyah. Ia berdiri tepat di depan gadis itu, hanya terpisah oleh garis putih lapangan.

Jarak mereka begitu dekat hingga Daven bisa mencium aroma vanila yang masih sama, aroma yang selama ini ia simpan di dalam kotak pensil usang di lacinya.

"Cheryl?" suara Daven keluar sangat lirih, hampir seperti bisikan penuh keraguan.

"Siapa lagi? Kau mengharapkan model dari majalah Vogue?" Cheryl tertawa kecil, menutupi mulutnya dengan tangan, sebuah kebiasaan yang tidak berubah saat ia merasa malu.

Daven menatap wajah Cheryl dengan saksama. Benar, gadis ini sangat cantik. Setiap pria di kampus ini pasti akan bertekuk lutut melihat keanggunannya. Namun, jauh di dalam lubuk hati Daven, ada rasa kecewa yang menyesakkan.

Ia menatap bagian pipi Cheryl yang kini tirus dan cantik. Tidak ada lagi yang bisa ia tarik dengan gemas. Tidak ada lagi alasan baginya untuk bertingkah riweh karena gadis di depannya tampak seolah bisa menjaga dirinya sendiri dengan sangat baik.

"Kau... kau berubah banyak," ucap Daven dingin, mencoba menutupi gejolak emosinya. "Di mana pipimu yang dulu?"

Cheryl menyentuh wajahnya sendiri, lalu tersenyum tipis. "Aku sudah 18 tahun, Daven. Aku berolahraga, aku menjaga makananku. Dan di Brooklyn... aku tidak punya seseorang yang terus-menerus menarik pipiku hingga bengkak."

Daven mengepalkan tangannya. "Aku mencari mu ke Brooklyn. Berkali-kali."

Senyum Cheryl memudar, berganti dengan tatapan penuh penyesalan. "Ponselku hilang di hari aku pindah. Ayahku bangkrut saat itu, Daven. Kami harus pindah ke apartemen kecil dan aku harus bekerja paruh waktu. Aku merasa malu untuk menghubungimu. Aku ingin kembali padamu saat aku sudah menjadi seseorang yang tidak lagi merepotkan mu."

Daven terdiam mendengarnya. Rasa dingin yang ia bangun selama tiga tahun mendadak runtuh, namun bukan karena cinta yang manis, melainkan karena rasa protektif yang meledak kembali. Ia melihat Cheryl yang tampak sempurna ini sebenarnya telah menanggung banyak beban sendirian.

"Kau pikir dengan menjadi cantik dan tirus begini kau sudah tidak merepotkan ku?" desis Daven, melangkah melewati garis lapangan untuk berdiri tepat di hadapan Cheryl. "Kau menghilang tanpa kabar, membuatku menjadi pria dingin yang dibenci semua orang di sekolah, dan sekarang kau muncul dengan wajah anggun ini seolah-olah semuanya baik-baik saja?"

Cheryl mendongak, matanya mulai berkaca-kaca. "Daven, aku hanya ingin kau bangga melihatku..."

"Aku tidak butuh kau menjadi cantik atau anggun, Cheryl Alton!" potong Daven dengan nada suara yang mulai riweh dan posesif, persis seperti Daven usia 15 tahun. "Aku butuh Cheryl-ku yang pelupa! Aku butuh gadis yang tidak tahu di mana dia menaruh kunci rumahnya! Aku tidak butuh wanita dewasa yang mandiri, aku ingin menjadi orang yang kau butuhkan!"

Daven menatap wajah Cheryl lagi. Meski pipinya sudah tirus, saat Cheryl mulai merasa sedih dan kesal karena ucapan Daven, bibirnya sedikit mengerucut, dan di sanalah Daven melihat sisa-sisa "bakpao" itu. Sifat pemarah Cheryl mulai muncul kembali.

"Kau tetap saja kasar, Daven Teldford! Aku sudah berusaha keras untuk terlihat hebat di depanmu, dan kau malah memarahiku di depan semua orang?!" teriak Cheryl, wajahnya mulai memerah karena emosi.

Melihat rona merah itu, Daven mendadak merasa pulang. Tanpa memedulikan tatapan ratusan mahasiswa yang menonton kapten mereka bertengkar dengan seorang dewi baru, Daven mengangkat tangannya.

Ia tidak mencubit dengan kasar, melainkan menyentuh pipi Cheryl dengan jemarinya yang hangat.

"Kau masih pelupa, kan?" tanya Daven tiba-kira.

"Apa?" Cheryl bingung.

"Kau lupa membawa satu hal hari ini," ucap Daven sambil menatap mata Cheryl dalam-dalam.

"Apa yang kulupakan? Tas? Dompet? Aku sudah mengeceknya sepuluh kali!" Cheryl mulai panik, sifat aslinya yang ceroboh dan gampang cemas langsung keluar.

Daven tersenyum, senyum tulus pertama yang ia tunjukkan setelah bertahun-tahun.

"Kau lupa bahwa kau adalah milikku. Dan kau lupa bahwa tidak peduli seberapa tirus pipimu sekarang, aku akan tetap mencari cara untuk membuatmu marah agar pipi ini kembali bulat."

Daven kemudian melakukan hal yang paling ia rindukan. Meski pipi itu sudah tirus, ia tetap mencubitnya dengan lembut, seolah-olah sedang menandai kembali miliknya yang sempat hilang.

"Selamat datang kembali di rumah, Bakpao. Bersiaplah, karena semester ini aku akan jauh lebih riweh daripada saat kita di SMP dulu. Dan jangan harap kau bisa lari lagi, karena aku sudah menghafal jadwal kuliahmu bahkan sebelum kau tahu di mana gedung fakultas mu berada."

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
Endang Sulistia
bagus...ceritanya ringan
Lutfiah Tunnissa
semangat kkk
Lutfiah Tunnissa
hadir kk ceritanya bagus up terus yaa💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!