Zivara Amaira adalah gadis yatim piatu yang tinggal bersama paman dan bibinya. Tempat yang seharusnya menjadi perlindungan justru berubah menjadi luka. Sebuah fitnah yang direncanakan oleh sepupunya membuat Zivara harus pergi. Tanpa diberi kesempatan membela diri, Zivara diusir dan dipaksa menelan hinaan atas kesalahan yang tak pernah ia lakukan.
Di sisi lain, Arga Aksara Wisesa adalah pria dingin dan misterius, yang tak memikirkan cinta. Ia hanya fokus pada pekerjaan dan keponakan kecilnya yang harus kehilangan kedua orang tuanya akibat kecelakaan setahun yang lalu.
Dua jiwa yang berbeda dipertemukan oleh takdir. Namun masa lalu, ambisi orang-orang di sekitar mereka, dan rahasia yang perlahan terkuak mengancam kebahagiaan yang baru saja tumbuh.
Akankah cinta mampu menyembuhkan luka yang terlalu dalam, atau justru membuka pintu bagi pengkhianatan yang lebih menyakitkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Tidak Mengizinkan
Hampir dua minggu Luna ikut kakek dan neneknya ke luar negeri. Rumah terasa lebih sepi dari biasanya. Namun pagi ini. Arga dan Vara menerima kabar bahwa besok Luna akan pulang.
Kabar itu membuat suasana hati mereka sedikit lebih cerah.
Sejak kejadian dengan Reza, Arga tidak lagi mengizinkan Vara bekerja di perusahaan. Ia berdalih ingin Vara beristirahat di rumah. Meski Vara sempat keberatan, akhirnya ia menurut.
Pagi itu, sebelum Arga berangkat ke perusahaan, Vara berdiri di depan rumah mengantarkan suaminya seperti biasa.
“Arga… boleh tidak hari ini aku keluar? Aku ingin bertemu temanku,” ucap Vara hati-hati.
“Siapa?” tanya Arga singkat.
“Mona. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya. Waktu aku pindah ke sini, aku bahkan belum sempat menjelaskan apa pun padanya.”
Arga terdiam sesaat.
“Jangan ke mana-mana,” ucap Arga akhirnya. “Suruh saja teman mu datang ke sini.”
Nada suaranya terdengar tegas, tetapi tidak kasar.
Vara menatapnya. “Aku boleh mengajaknya ke sini?”
“Tentu saja. Lebih aman begitu,” jawab Arga, bukan tanpa alasan Arga melarang Vara untuk keluar, tapi hanya Arga tidak menjelaskan alasannya. “Aku berangkat dulu. Kalau terjadi sesuatu, segera hubungi aku.”
Vara mengangguk. Ia menyerahkan tas laptop milik Arga.
“Hati-hati di jalan,” pesannya lembut.
Sudah menjadi kebiasaan Arga sebelum masuk ke mobil untuk mengecup kening Vara. Sentuhan singkat itu membuat Vara tersenyum senang.
Setelah mobil Arga menghilang dari halaman, Vara masuk ke dalam rumah dan segera menghubungi Mona.
“Selamat pagi, Mon?” sapa Vara saat telepon tersambung.
“Selamat pagi Vara? Astaga, akhirnya kamu menghubungiku!” suara Mona terdengar bersemangat.
Vara tertawa kecil. “Maaf. Banyak sekali yang terjadi belakangan ini.”
“Kamu tiba-tiba pindah tanpa penjelasan. Aku khawatir, tahu!” protes Mona.
“Aku tahu, dan aku minta maaf. Kalau kamu tidak sibuk, mau datang ke rumahku? Kita bertemu di sini saja.”
“Tentu saja mau! Kirim alamatnya sekarang juga. Aku berangkat.”
Vara tersenyum lega. “Aku tunggu.”
Sambil menunggu kedatangan Mona, Vara menghabiskan waktu di taman belakang rumah. Ia menyiram tanaman hias, merapikan pot bunga, dan memangkas daun yang menguning.
Berkebun menjadi hobi barunya sejak lebih sering berada di rumah. Aktivitas itu membuat pikirannya lebih tenang.
Hampir pukul sepuluh, suara bel berbunyi.
Vara bergegas ke depan. Begitu pintu terbuka, Mona langsung memeluknya erat.
“Kamu terlihat berbeda!” seru Mona.
“Berbeda bagaimana?” tanya Vara sambil tertawa kecil.
“Lebih… bahagia.”
Mereka masuk ke ruang tamu. Mona tak henti-hentinya mengamati rumah yang luas dan elegan itu.
“Vara, kamu benar-benar tinggal di sini sekarang?”
“Iya,” jawab Vara pelan.
Sepanjang pagi hingga siang, Vara menceritakan semuanya. Dari awal pertemuannya dengan Arga, pernikahan mereka, hingga bagaimana Arga memperlakukannya, dan tak ketinggalan sosok Luna terselip diantara cerita Vara.
Mona mendengarkan dengan mata berbinar.
“Aku senang sekali mendengarnya,” ucap Mona tulus. “Setelah semua yang kamu lalui dulu, akhirnya kamu mendapatkan kebahagiaan.”
Vara tersenyum, tetapi ada bayangan kekhawatiran yang samar di matanya.“Aku hanya berharap semua ini bertahan lama dan yang memisahkan kami hanya lah maut,” Ucap vara pelan.
“Kalau dia pria yang benar-benar mencintaimu, dia pasti akan menjagamu, dan yang pasti dia akan tetap di sisimu, dan kamu Vara kamu harus kuat. Jangan biarkan siapa pun datang menganggu,” pesan Mona sambil menepuk bahu Vara pelan.
"Terimakasih Mona, aku akan selalu ingat pesan mu."
Setelah puas bercerita dan melepaskan rindu. Mona pamit pulang.
“Aku harus pulang sebelum macet. Tapi kamu janji, jangan menghilang lagi tanpa kabar.”
Vara tertawa kecil. “Janji.”
Mona memeluknya sekali lagi. “Aku bahagia melihatmu seperti ini, Ra. Jaga dirimu baik-baik.”
“Kamu juga.”
Setelah Mona pergi, Vara berdiri beberapa saat di depan pintu. Angin siang berembus pelan.
Ia merasa semakin yakin karena dukungan sahabatnya. Namun di sudut hatinya, ia masih menyimpan pertanyaan tentang luka di lengan Arga… dan alasan sebenarnya ia tidak diizinkan keluar rumah.
Tanpa disadari Vara, sebuah mobil hitam sempat melambat di depan gerbang sebelum akhirnya kembali melaju.
Seseorang memperhatikan rumah itu dalam diam.
---
Ponsel Julia bergetar saat ia sedang duduk di depan meja riasnya.
Nona, saya baru saja melintas di kediaman Tuan Arga. Saya melihat perempuan yang kemarin Anda maksud berada di sana.
Pesan itu membuat rahang Julia mengeras.
Sejak pertemuan direstoran tempo hari, Julia langsung memerintahkan seseorang untuk memata-matai Vara. Ia tidak percaya begitu saja dengan apa yang dilihatnya.
Begitu membaca pesan tersebut, rasa tidak sukanya semakin membesar.
Kenapa wanita itu bisa berada di rumah Arga? Apa hubungan mereka sebenarnya?
Julia menggenggam erat ponselnya.
Terus pantau wanita itu. Jika ada kesempatan, lakukan seperti yang kuperintahkan kemarin. Jangan sampai gagal.
Balasan pun segera terkirim.
Julia tersenyum tipis, ia tidak terbiasa kalah. Ia pastikan akan memiliki Arga, apapun caranya.
---
Keesokan harinya, suasana rumah Arga terasa lebih hidup. Hari ini mereka akan menjemput Luna serta kedua orang tua Arga yang pulang dari luar negeri.
Vara terlihat antusias. Ia sudah rapi sejak tadi, dan tak henti tersenyum.
Tepat pukul dua siang, Arga dan Vara tiba di bandara. Mereka menunggu di area kedatangan.
Tak lama kemudian, terdengar suara kecil yang sangat mereka rindukan.
“Om! Tante Vara!”
Luna berlari kecil ke arah mereka dengan wajah ceria.
Arga dan Vara langsung tersenyum lebar.
“Tante luna kangen!” seru Luna sambil memeluk Vara erat.
“Tante juga kangen sama Luna,” balas Vara, membelai rambutnya.
“Jadi kangennya cuma sama tante?” goda Arga pura-pura cemburu.
“Sama Om juga!” jawab Luna cepat.
Arga tertawa dan langsung menggendong keponakan kesayangannya itu.
Sementara itu, kedua orang tua Arga mendekat.
“Mama, Papa…,” sapa Vara sopan sambil memeluk mereka bergantian.
“Kamu terlihat bahagia, nak,” ucap sang Ibu dengan senyum hangat.
Vara tersenyum hangat menimpali ucapan mertuanya.
“Ayo kita langsung pulang,” ajak Arga.
Mereka semua menuju mobil dan kembali ke kediaman Arga.
Sepanjang perjalanan, Luna tak berhenti berceloteh.
“Tante tahu tidak, waktu di sana Luna naik kapal besar sekali! Terus lihat salju juga. Dingin sekali, Tante!”
“Wah, pasti seru sekali,” jawab Vara antusias.
“Iya! Kakek sampai belikan Luna jaket tebal. Terus Nenek ajak Luna makan es krim rasa aneh… rasanya seperti keju!” lanjut Luna dengan wajah polos.
Arga tersenyum sambil tetap fokus menyetir.
“Pantas saja Luna jarang menghubungi Om dan Tante,” goda Vara.
Luna tertawa kecil. “Soalnya Luna sibuk jalan-jalan.”
“Tapi bagaimana, lebih enak di sana atau di sini?” tanya Arga.
“Enakan di sini!” jawab Luna cepat.
“Kenapa?” tanya Arga lagi.
“Karena di sini ada Tante dan Om.”
Luna langsung memeluk Vara dari kursi belakang, membuat semua orang tertawa.
Suasana di dalam mobil terasa hangat dan penuh kebahagiaan.