Karena cinta tak direstui orang tuanya, Sonya merelakan keperawanannya untuk Yudha, lelaki yang sangat ia cintai. Namun hubungan itu harus berakhir karena Sonya akan segera dijodohkan dengan Reza.
Setelah malam panas itu, Sonya justru diusir dari rumah dan berakhir hamil anak Yudha. Ia ingin kembali pada Yudha, tetapi lelaki itu sudah pergi ke luar negeri.
Saat Sonya bertekad membesarkan anak itu seorang diri, takdir kembali mempermainkannya. Anak tersebut menderita kanker darah dan membutuhkan donor sumsum tulang belakang dari ayah kandungnya.
Apa yang akan dilakukan Sonya. Kembali pada Yudha demi kesembuhan sang anak, atau pergi ketika Yudha kembali ke Indonesia dengan seorang anak laki laki dan calon istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Yudha merasa cemburu. Namun, Sasa tampaknya tak mendengarnya, terlarut dalam kebahagiaannya dengan Reza. Reza tersenyum dan membalas pelukan Sasa dengan lembut, "Maaf, sayang. Paman baru bisa datang sekarang. Jangan khawatir, lain kali Paman akan selalu datang."
Yudha menatap mereka, merasa ada jarak yang semakin lebar terbentang di antara dirinya dan Sasa. Reza yang menyadari tatapan Yudha segera menyapa dengan senyum yang tampak biasa saja, "Oh, Pak Yudha di sini juga?"
Reza berbicara dengan sikap seolah tidak ada yang pernah terjadi sebelumnya, seolah kejadian tadi di ruang Yudha hanyalah kenangan yang bisa dengan mudah dilupakan. Sementara Yudha hanya bisa terdiam, tidak tahu harus merespons bagaimana.
"Paman juga kenal sama Paman itu? Ye... aku punya dua paman sekarang. Kak Arya, kamu kalah," celetuk Sasa dengan nada riang, membuat suasana sedikit lebih ringan.
"Tapi ayahku lebih baik dari Paman itu," sahut Arya yang sepertinya tidak suka melihat kedekatan Sasa dengan Reza.
"Oh tidak, Paman Reza lebih baik. Paman nggak pernah marah-marah," ucap Sasa, seakan tidak mempedulikan perasaan yang ada di sekelilingnya, hanya fokus pada kegembiraannya sendiri.
Yudha merasakan hatinya semakin tercekik. Kata-kata Sasa, yang begitu mudahnya memuji Reza, terasa seperti tusukan tajam. Semua yang terjadi begitu cepat, dan Yudha tak tahu bagaimana menanggapi perasaan cemburunya yang kian memuncak.
Di sisi lain, Intan yang kini berada dekat Sonya, merasa ketegangan di ruang itu mulai terasa. Tanpa sengaja, ia menyenggol lengan adiknya dan berbisik, "Kenapa aku merasa ada perasaan buruk di sini?"
Sonya menoleh dengan ragu, mencoba mencari kata-kata yang tepat. "Lagian, kenapa kakak bawa Reza ke sini?"
Intan mengangkat kedua bahunya dengan santai, tapi di matanya ada sesuatu yang tak bisa ia sembunyikan. "Tadi aku ketemu dia di bawah, dia ingin menjenguk Sasa. Lalu aku kasih tahu keadaanmu dan—" Intan mengerutkan kening, tak ingin menjelaskan lebih lanjut. Namun, ada rasa tak nyaman yang mulai tumbuh dalam dirinya. Ia menatap Sonya dan bertanya pelan, "Kamu dan Yudha sudah bersama?"
Sonya hanya mengangguk pelan, dan Intan merasa ada sesuatu yang menjelaskan ketegangan di ruangan ini. Suasana yang terasa berat bukan hanya karena dua pria itu saling terlibat, tetapi lebih karena keberadaan Sasa di antara mereka. Entah kenapa, semuanya terasa lebih rumit dari yang ia kira.
"Em… dokter sudah mengizinkan Sasa untuk pulang, dan bunda juga. Ayo, kita pulang," ajak Intan dengan nada lebih ringan, mencoba meredakan ketegangan yang mulai terasa.
"Aku yang akan mengantar," kata Yudha dan Reza secara bersamaan, membuat suasana semakin canggung.
Yudha langsung menatap tajam ke arah Reza, matanya menyiratkan ketidaksenangan. "Biar saya saja," jawabnya singkat, seolah tak ingin ada pihak lain yang ikut campur.
Reza tersenyum tipis, namun ada nada yang disengaja dalam suaranya, "Aku yakin Pak Yudha sangat sibuk. Lagipula anak di samping Bapak sepertinya sudah lelah. Biarkan saya saja yang mengantar Sasa dan kedua ibunya pulang." Reza sengaja menekankan kata "kedua ibunya" untuk memberi pesan yang jelas kepada Yudha, dia sudah dekat dengan keluarga itu, dan Yudha hanya bisa melihat dari kejauhan.
Yudha mengepalkan kedua tangan dengan kuat, wajahnya menunjukkan ketegangan yang semakin jelas. "Sepertinya mobil Pak Reza tidak cukup, bagaimana kalau kedua ibu mereka Bapak yang bawa, sementara Sasa bersama saya dan Arya? Mereka bisa bermain bersama agar tidak bosan dalam perjalanan." Nada Yudha dingin, seolah memberi jalan bagi Reza, tapi dengan cara yang tak bisa ia sembunyikan sebuah tawaran yang lebih seperti pembatasan.
Reza hanya tersenyum tipis menatap Yudha, sementara Sonya yang kini sudah berdiri dengan kuat di dekat ranjang segera menyela. "Tidak bisa," ujarnya tegas, suaranya lebih keras dari yang diperkirakan, membuat kedua pria itu menoleh padanya.
Ketegangan di antara mereka semakin memuncak. Sonya, merasakan atmosfer yang semakin tegang, memanggil Sasa dengan suara lembut namun penuh tekad. "Sasa, sini sayang," ucapnya. Begitu Sasa berdiri di sampingnya, Sonya melanjutkan, "Biar kami naik taksi saja."
"Tak bisa!" Yudha dan Reza hampir bersamaan mengucapkan kata yang sama, suaranya serempak dan penuh penekanan, semakin memperberat suasana di ruangan itu.
Perdebatan kembali memanas. Yudha dan Reza, dengan keras kepala masing-masing, sama-sama tak ingin mengalah. Sonya, yang sudah merasa lelah dan pusing, akhirnya tidak tahan lagi. "Stop!" Suaranya menggema, menghentikan perdebatan yang sudah mulai melampaui batas. "Bagaimana kalau kita tanya Sasa, mau pulang dengan siapa?"
Kedua pria itu menatap Sonya sejenak, sebelum akhirnya mengangguk dalam diam, meskipun kecemasan masih jelas terlihat di wajah mereka. "Setuju," jawab mereka, tetapi nada mereka penuh ketegangan, tak bisa menyembunyikan ketidaknyamanan yang ada di antara mereka.
Sonya menangkup pipi Sasa dengan lembut, senyum manis di wajahnya, tetapi sorot matanya tajam, penuh tekanan. "Sasa, sayang... kamu mau pulang dengan siapa?" tanyanya dengan lembut, namun jelas terdengar ketegasan dalam suaranya.
Sasa menatap kedua pria itu secara bergantian, matanya ragu, bingung. Bibirnya terbuka sejenak, seolah ingin mengucapkan sesuatu, tetapi kata-katanya terhenti di tenggorokan.