NovelToon NovelToon
What We Were Never Given

What We Were Never Given

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst
Popularitas:294
Nilai: 5
Nama Author: Oryelle

Nareya, anak sulung bermimpi meniti karir di dunia fashion, harus merelakannya demi menjadi tulang punggung keluarga. Terlahir untuk berjuang sejak dini membuat dia tidak tertarik soal pernikahan.

Tidak menikah, berkecukupan, dan bisa membahagiakan keluarganya adalah keinginan sederhana Nareya. Tapi siapa sangka, dia justru menyetujui perjanjian pernikahan dengan mantan Bosnya?

Kala terlahir berdarah campuran membuatnya dicap sebagai noda. Demi pengakuan para tetua, dia menyeret Nareya dalam sebuah perjanjian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oryelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Restu

Sepanjang perjalanan Nareya hanya memikirkan keputusanya. Dia tahu ini adalah keputusan yang salah. Tapi faktanya memang sudah tidak bisa mangkir lagi. Dia sudah menyerah mencari solusi agar pernikahan ini tidak perlu terjadi. Memang ini lah resiko yang paling bisa diterima. Resiko yang dia putuskan dengan menempatkan dirinya sebagai pemikul tunggal.

Seketika suara Kala membuyarkan isi pikiran Nareya “Rumah kamu yang sebelah mana?” tanya Kala.

“Itu yang paling kecil pokoknya, nah depan itu yang coklat.”

Ketika masuk, Wira dan Sundari terkejut melihat Nareya pulang bersama laki-laki. Nareya tidak pernah sekalipun bercerita soal pacar. Satu-satunya yang mereka tahu hanya Agis dan Agam teman sekolahnya yang masih tetangga desa.

Lebih mengagetkan lagi, Kala tidak basa-basi untuk menyampaikan niatannya.

“Pak Wira dan ibu Sundari saya Kala. Kedatangan saya disini bermaksud untuk melamar anak bapak dan ibu, yaitu  Nareya.” ucap Kala.

“Sebelumnya, saya sudah menyematkan tanda ikatan berupa cincin di jarinya setelah Nareya bersedia menikah dengan saya. Mohon kesediaan bapak dan ibu untuk merestui kami.”

Wira dan Sundari masih terdiam, kemudian melihat cincin yang sudah disematkan di jari anaknya itu.

“Apa itu benar Reya? Kamu tidak pernah bercerita ke papa.”tanya Wira

“Heum, i—iya pa,” jawab Nareya

“Kami saling mengenal sudah cukup lama. Saya atasan Nareya saat masih bekerja di kantor.”

Wira menarik Nareya masuk ke dapur. Memegang kedua pundaknya erat. Menatapnya lekat.

“Reya, jujur sama papa. Kamu yakin mau menikahi dia?”

Nareya balas menatap Wira. Ada kekhawatiran di sana. Sekali ini lagi, demi orang-orang yang dia sayangi. Biarkan jika memang diri sendiri yang hancur, karena rasanya akan lebih hancur jika melihat mereka kesusahan.

“Iya pah, izinkan Reya menikah dengan dia.” ucap Nareya lirih.

“Baiklah.”

Setelah itu WIra bicara dengan Kala. Itu pun tidak membutuhkan waktu yang lama. Karena Kala begitu mudahnya bisa meyakinkan Wira. Kala segera berpamitan pulang setelah selesai dengan agendanya meyakinkan orang tua Nareya.

“Kamu benar-benar menikahi laki-laki kaya kan? Dia bahkan antar kamu pakai mobil, bukan seperti Agis yang selalu bawa motor.” ceplos Sundari.

“Mah!”

“Bukan maksud mama membandingkan tapi itu penting untuk kamu. Kalau kamu sukses hidupmu enak tidak seperti mama. Nanti kamu bisa belikan mama mobil juga.” ujar Sundari.

“Mamah masih saja!” teriak Nareya. Tak ingin berlama disana dengan orang tuanya, Nareya segera masuk ke Kamar.

***

Kala memarkirkan mobil di gang depan rumah Nareya. Wira yang duduk di teras di sapa nya. Berbincang sambil meminum kopi dengan Wira menunggu Nareya siap berangkat.

Mobil Kala jadi tidak sehening biasanya.

“Kak Kala ya namanya?” tanya Athaya.

“Iya, kamu siapa namanya?”

“Athaya, Kak. Kalau ini kaka Ama.”

“Parama.” jelas Nareya.

Kala lmenoleh sekilas, “Parama dan Athaya”

“Papa mama cucah kacih nama, Eya, Ama, Aya aja gampang. Kak Ama memang uka kali diam dia. Maap ya Aya uang elas bicayanya”

“Kata Athaya, papa mama kasih nama kita susah, jadi dia gampangnya manggil aku Eya, Parama–Ama, Athaya–Aya. Athaya juga bilang, Rama memang suka sekali diam terus dia minta maaf karena bicaranya kurang jelas.”

Saat Nareya selesai menjelaskan, Kala langsung menatap Nareya. Nareya membalas dengan senyuman, ekspresi itu dia tau. Penuh pertanyaan dan simpati.

“Kak Kala nih gak acik, ngangguk aja. Diam kaya Kak Ama.”

“Haha, iya dia memang kurang asik, kamu bicara gak direspon.” tawa Nareya puas. Tapi tak lama langsung berhenti ketika Parama membuka suara.

“Kak Kala sayang nggak sama Kak Reya ?” tanya Parama

“Ah, kalau sayang belum. Kita belum terlalu lama mengenal” jujur Kala.

“Tapi mau menikah, kan? Harus sayang Kaka Reya ya! Kalau tidak bisa, lebih baik batalkan saja.” ujar Parama tegas.

“Iya, perasaan kasih sayang itu dinamis, satu hal yang saya bisa pastikan adalah tanggung jawab,” ucap Kala pelan.

Suasana sempat jadi hening setelah pembicaraan serius antara Parama dan Kala. Tapi sesekali juga Athaya menyela. Sepanjang perjalanan sampai sekolah akhirnya Kala tidak diberi kesempatan oleh Athaya untuk diam.

“Ini uang saku untuk Kalian ya” ucap Kala. Dia memberi berapa lembar ratusan ribu.

***

“Kita kemana? Ini bukan ke arah cafe.” tanya Nareya

“Nanti akan tahu.” jawab Kala

“Gue harus kerja!"

“Saya mengirim email untuk kamu resign. Kita sudah sepakat, kamu kerja sama saya nanti”

"Aturan ketiga, soal tidak boleh mencampuri urusan masing-masing. Lagian lo mana bisa sih kirim email ke bos gue."

"Saya, bisa. Cek email kamu, itu sudah di terima permohonan resign kamu."

"Lo?! Lo ngeri banget sumpah. Belom sah aja hidup gue udah seenaknya lo atur."

“Satu hal yang gue lupa kemarin, gue mau ini cuma berlangsung dua tahun. Gue juga minta kita tanda tangan diatas materai. Bahaya banget, yang ada hidup gue lo kuasai semua. ”

“Tidak perlu.”

“Itu perlu karena lo gila dan licik!”

“Kamu hanya perlu ikuti apa yang saya katakan, hidupmu akan saya jamin.”

“Sebenernya lo siapa sih? Se enaknya banget. Lo bilang lo butuh status buat bisnis keluarga. Keluarga mana sih yang ribetnya kayak lo.”

“Ingat! Keluarga saya sangat memperhatikan tata krama. Jadi kamu tidak bisa sembarangan seperti ini.” ujar Kala

“Sory, lo anak simpenan pejabat?” tanya Nareya.

Tanpa mengeluarkan kata apapun Kala turun dari mobilnya. Sudah sampai di butik adiknya. Dia memutuskan untuk mempertemukan Nareya dengan Kirana terlebih dahulu, sebelum menemui mommy nya.

"Astaga gue ditinggal begitu aja? Yaudah gausah turun."

Kala akhirnya menyerah kembai ke mobilnya," Ayo turun! Bertemu adik saya, kamu sepertinya akan cocok bicara dengan dia."

Saat Nareya masuk ke butik itu, yang pertama dia lihat wanita dengan rambut blonde tergerai, sedang sibuk menjahit gaun putih. Dia menoleh ke arah nya dan tersenyum lebar.

"Mas..." sapa Kirana. Dia berlari kecil ke arah pintu dan langsung memeluk Kala.

"Kamu belum juga tidur? Mas sudah bilang jangan paksakan."

"Iya aku gak bisa tidur mas, terlalu bersemangat mau membuat gaun untuk iparku yang cantik ini. Ah, sampai lupa menyapa."

"Mbak Nareya kan? Mbak kamu cantik banget lho... aku diceritakan banyak soal kam..."

Kala langsung memotong ucapan Kirana sebelum semakin melebar, "Perkenalkan diri dengan benar!" perintah Kala.

Kirana menatap Kala dengan mata menyipit, "Ish"

Kirana menjulurkan tanganya "Mbak Nareya , aku Kirana adik kesayangan mas Kala."

"Iya halo Kirana." jawab Nareya. Menjjabat tangan Kirana.

"Sudah ayo aku tunjukan gaun-gaun pilihanku untuk mbak."

Mereka asyik sekali membicarakan gaun untuk pernikahan. Padahal sebelumnya saja Nareya masih enggan untuk menikah. Tak terasa hampir dua jam mereka membicarakan itu dan mencoba satu persatu koleksi yang Kirana punya.

"Ini pilihan mbak Nareya, coba lihat!" ucap Kirana.

Kala mengalihkan pandanganya dari layar handphonenya. Menatap Nareya dari ujung kepala sampai ke bawah.

"Iya."

"Mas ini bagian pinggangnya perlu dikecilkan, sama bagian dadanya ini supaya nyaman si sedikit harus di besarkan. itu aja si paling nanti sebelum hari-H ke sini lagi ya mas."

"Iya."

"Iya iya doang, cantik nggak?"

"Iya cantik."

"Cie yang mau nikah."

"Gaunya cantik. Yasudah cepat, habis ini mau ke rumah, ketemu mommy. Kamu ikut?"tanya Kala.

Nareya memutar bola matanya. Tidak perlu dijelaskan 'cantik" yang dia maksud juga pasti paham, karena yang dibicarakan Kirana kan memang gaunya.

"Mas ini, bilang saja mbak Nareya cantik. Tidak perlu diralat."

"Aku ikut deh, mau tidur di rumah." ucap Kirana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!