NovelToon NovelToon
Balerina 2025

Balerina 2025

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Misteri / Dendam Kesumat / Balas Dendam
Popularitas:811
Nilai: 5
Nama Author: Banggultom Gultom

Bella Shofie adalah gadis pembunuh dan keras kepala yang ingin membalaskan dendamnya karena kematian ayahnya bernama Haikal Sopin pada umur delapan tahun di sebuah rumah milik ayahnya sendiri, dia dikirim ke sebuah tempat latihan penari balet yang membuat dia harus bertahan hidup akibat latihan yang tidak mudah dilakukan olehnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Banggultom Gultom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 Tubuh yang di Uji Hingga Retak

Waktu tidak berjalan pelan di BALLERINA MURDERER.

Ia meloncat.

Tidak memberi peringatan.

Tidak memberi kesempatan untuk bernapas di antara tahun-tahun yang berlalu.

Suatu hari Bella Shofie masih bertubuh kecil, berdarah di ujung jinjitnya, jatuh bangun di aula balet. Dan pada hari berikutnya, ketika ia kembali berdiri di aula bawah, tubuh itu telah berubah.

Usianya lima belas tahun.

Bahunya kini lebih tegap, tidak lagi rapuh seperti dulu. Otot-otot kakinya terbentuk dari ribuan jam latihan balet, dari lompatan yang gagal dan putaran yang disempurnakan dengan rasa sakit. Tulang-tulangnya memadat, tidak lagi lentur kekanak-kanakan, melainkan kuat dan siap menerima benturan.

Wajahnya pun berubah.

Garis rahangnya lebih tegas. Tatapan matanya tidak lagi kosong atau polos. Di sana ada sesuatu yang baru, sesuatu yang tajam dan terukur. Setiap pandangan adalah perhitungan. Setiap gerakan adalah keputusan.

Namun hari ini, tidak ada balet.

Tidak ada sepatu pointe yang melilit kakinya.

Tidak ada pita.

Tidak ada musik yang memberi ilusi keindahan.

Yang ada hanyalah lantai kasar berwarna abu-abu, dinding kosong yang menyerap suara, dan bau keringat bercampur darah yang telah lama meresap ke udara.

“Aula pertarungan,” ucap Madam Doss.

Suaranya bergema pelan, namun berat.

“Di sini,” lanjutnya, “tubuhmu adalah senjatamu.”

Bella berdiri di antara peserta lain.

Tidak ada barisan berdasarkan usia.

Tidak ada pemisahan laki-laki dan perempuan.

Tidak ada perlakuan istimewa.

Di sekelilingnya berdiri tubuh-tubuh yang lebih besar, lebih tinggi, lebih berat. Beberapa berwajah dewasa, beberapa sudah dipenuhi bekas luka lama. Ada yang tampak berpengalaman, ada pula yang masih menyimpan kegelisahan di matanya.

“Kami tidak memisahkan jenis kelamin,” kata Madam Doss lagi.

“Karena kematian tidak pernah memilih lawannya.”

Kain putih dibagikan.

Hanya selembar kain panjang yang dilipat kasar dan dililitkan di tangan masing-masing. Tidak ada sarung tangan empuk. Tidak ada pelindung kepala. Tidak ada bantalan.

Kain itu bukan untuk melindungi.

Hanya untuk menunda kehancuran.

“Ini bukan balet,” ucap Madam Doss dingin.

“Ini tinju hidup.”

Bella menarik napas dalam.

Di hadapannya berdiri seorang lelaki.

Tingginya jauh di atas Bella. Bahunya lebar. Dada bidang. Rahangnya keras, dengan garis-garis wajah yang menunjukkan usia dan pengalaman. Kulit tangannya dipenuhi bekas luka, bekas benturan lama yang sudah sembuh tapi meninggalkan jejak.

Usianya mungkin dua puluh tahun.

Atau lebih.

“Nama?” tanya instruktur.

“Tidak perlu,” jawab lelaki itu singkat.

Bel berbunyi.

Pertarungan dimulai.

Tidak ada salam.

Tidak ada aba-aba tambahan.

Lelaki itu langsung maju dengan jab kiri, pukulan lurus cepat untuk membuka pertahanan. Bella menghindar refleks, tubuhnya bergerak seperti saat menari. Langkahnya ringan, hampir melayang.

Namun dunia ini bukan panggung.

Pukulan berikutnya datang tanpa jeda. Cross kanan, lurus dan berat.

Buk!

Tinju itu menghantam pipi Bella.

Kepalanya terhempas ke samping. Pandangannya bergetar sesaat. Rasa panas langsung menjalar di wajahnya. Di dalam mulutnya, rasa logam muncul seketika.

Darah.

Bella mundur satu langkah, menjaga keseimbangan. Ia tidak jatuh.

“Jangan melompat seperti balet!” teriak instruktur.

“Tanam kakimu!”

Lelaki itu menyerang lagi, kini dengan hook kiri. Pukulan melingkar, kuat, diarahkan ke rahang.

Buk!

Bella tidak sempat sepenuhnya menghindar.

Tubuhnya terjatuh ke lantai.

Pandangan matanya berkunang. Langit-langit ruangan berputar di atasnya.

Namun tidak ada hitungan.

Tidak ada wasit yang menghentikan.

Di sini, jatuh bukan alasan untuk berhenti.

Bella menekan lantai dengan telapak tangannya dan bangkit.

Ia mencoba membalas.

Ia melangkah mendekat, memanfaatkan jarak dekat, lalu mengayunkan uppercut. Pukulan dari bawah ke dagu, memanfaatkan perbedaan tinggi badan.

Namun pukulan itu meleset.

Ia mengenai dada, bukan wajah.

Tidak cukup kuat.

Tidak cukup tepat.

Lelaki itu tertawa singkat, nyaris mengejek. Lalu tubuh besarnya bergerak maju, menghantam Bella dengan body shot yang keras.

Hngh!

Napas Bella terlepas dari dadanya. Udara seolah tersedot paksa. Perutnya terasa seperti diremas dari dalam.

Ia terhuyung, namun tetap berdiri.

Darah mengalir dari hidungnya, menetes ke lantai abu-abu.

Madam Doss mengamati dari kejauhan.

Wajahnya datar.

Tidak ada simpati.

Tidak ada kekhawatiran.

“Gunakan kepala,” katanya pelan, namun suaranya menembus ruangan.

“Bukan amarah.”

Lelaki itu kini menyerang dengan kombinasi. Jab. Cross. Hook. Tiga pukulan beruntun, cepat dan berat. Teknik petinju jalanan yang tidak indah, namun efektif.

Bella menahan sebagian dengan lengannya. Rasa sakit menghantam tulang lengannya, membuatnya bergetar.

Satu pukulan lolos.

Buk!

Bibir Bella pecah.

Darah mengalir ke dagunya, hangat dan lengket.

Ia terjatuh lagi.

Tubuhnya terasa berat. Kepalanya berdengung. Setiap napas terasa seperti usaha.

Namun saat ia menekan lantai untuk bangkit, ada sesuatu yang berubah di matanya.

Ia berhenti mencoba mengalahkan kekuatan.

Ia berhenti melawan dengan keras kepala.

Ia mulai mengatur ritme.

Seperti balet.

Langkah kecil ke samping.

Putaran badan pendek.

Menghindar, bukan menahan.

Lelaki itu menyerang lagi.

Bella mengelak tipis. Lalu membalas cepat.

Jab pendek ke leher.

Hook ke rusuk.

Pukulan itu tepat.

Lelaki itu tersentak dan mundur satu langkah.

Untuk pertama kalinya, jarak tercipta.

Namun tenaganya masih jauh lebih besar.

Sebuah overhand kanan datang dari atas, menghantam wajah Bella dengan kekuatan penuh.

Buk!

Bella terjatuh telentang.

Bel berbunyi.

Pertarungan dihentikan.

Bella tidak menang.

Wajahnya lebam.

Hidungnya berdarah.

Bibirnya pecah.

Namun saat ia duduk terengah di lantai, Madam Doss mendekat.

“Kau kalah,” ucapnya datar.

Bella mengangguk.

“Tapi kau tidak runtuh,” lanjut Madam Doss.

“Kau mulai berpikir.”

Ia menatap darah yang mengalir di wajah Bella, lalu menatap matanya.

“Balet membentuk tubuhmu,” kata Madam Doss.

“Tinju akan mematahkan egomu.”

Bella menghapus darah di bibirnya dengan punggung tangan.

“Aku akan menang lain kali,” ucapnya pelan.

Madam Doss menatapnya dalam.

“Aku tahu,” katanya.

“Itulah sebabnya kau masih hidup.”

Bella berdiri dengan susah payah.

Tubuhnya sakit.

Wajahnya berdenyut.

Namun langkahnya tetap tegak.

Hari itu, ia belajar satu hal penting.

Balet mengajarinya bertahan di atas panggung.

Tinju mengajarinya bertahan di dunia nyata.

Dan suatu hari nanti, ketika ia bertemu pembunuh ayahnya, Bella tahu satu hal dengan pasti.

Ia tidak hanya akan menari.

Ia tidak hanya akan menembak.

Ia akan berkelahi sampai orang itu tidak pernah bangun lagi.

...Bersambung ~...

1
Panda%Sya(🐼)
Semangat terus author🐼💪
☠' Kana Aulia '⃝🌸
mampir kak
beforeme.G: makasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!