Nara tumbuh dengan luka ditinggalkan setelah orang tuanya bercerai. Trauma itu terbawa hingga pernikahannya, membuat ia mencintai terlalu berlebihan dan akhirnya kehilangan suaminya.
Di balik perpisahan mereka, Nara menyimpan sebuah rahasia ia hamil, namun memilih menyembunyikan benih itu demi melindungi dirinya dan sang anak dari luka yang sama.
Takdir membawanya kembali bertemu Albi, sahabat lama yang memilih menjadi ayah bagi anak yang bukan darah dagingnya. Di sebuah desa yang tenang, mereka membangun keluarga sederhana, hingga penyakit leukemia merenggut Albi saat anak itu berusia sembilan tahun.
Kehilangan kembali menghantam Nara dan anaknya, sampai masa lalu datang menyapa mantan suami Nara muncul tanpa tahu bahwa ia adalah ayah biologis dari anak tersebut.
Penasaran saksikan selanjutnya hanya di Manga Toon dan Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Keesokan harinya, mentari datang dengan sinar keemasannya. Setelah beberapa bulan menginap di rumah saudaranya, kini Mbah Narsih kembali aktif di dapur. Wanita sepuh itu masih lincah, meski usianya tak lagi muda.
Ia tetap membantu Nara memasak meski sudah dilarang. Mbah Narsih mengupas terong sambil duduk di sudut dapur. Tangan keriputnya masih lincah, walau penglihatannya mulai buram.
"Mbah ati-ati," ucap Nara pelan. (Mbah hati-hati)
"Iya Ra, ngene-ngene motoku jek awas," sahutnya. (Gini-gini mataku masih jelas.)
"Nara, cuma gak mau Mbah kenopo-nopo," sahut Nara. (Nara cuma gak mau Mbah kenapa-napa)
Setelah percakapan itu, tangan Nara menari-nari diatas kuali, rupanya ayam goreng pesanan anaknya sudah matang, segera ia mengangkat dan mendiamkan terlebih dahulu.
"Arek saiki penak ya, atene opo-opo wes di sedia'no," celetuk Mbah Narsih. (Anak sekarang itu enak ya, mau apa-apa selalu di sediakan)
"Jamane wes bedo Mbah," sahut Nara sambil mencemplungkan kembali gorengan yang kedua.
"Iyo jamane ancene bedo, coba lek jamanku," kata Mbah Narsih, sambil terkekeh kecil.
(Iya jamannya sudah beda coba jamanku.)
Setelah satu jam berlalu, aroma masakan memenuhi rumah kecil itu. Meja makan yang sederhana kini terisi: nasi hangat mengepul, ayam goreng kecokelatan, sayur bening, dan sambal buatan Nara yang tidak terlalu pedas disesuaikan untuk Arbani.
Albi datang dari luar, mencuci tangan, lalu duduk tanpa banyak kata. Mbah Narsih menata piring terakhir, meski sejak tadi sudah diingatkan. Ia duduk paling ujung, menatap hidangan dengan senyum tipis, seolah dapur adalah tempat ia kembali merasa berguna.
“Monggo,” ujar Nara pelan.
Mereka makan bersama. Tidak ada obrolan panjang. Hanya bunyi sendok yang bersentuhan dengan piring, dan sesekali helaan napas lega. Arbani makan rapi, seperti biasa tidak terburu, tidak berantakan. Ia menunggu ayahnya mulai lebih dulu, baru kemudian menyusul.
“Enak, Bu,” katanya setelah suapan ketiga.
Nara mengangguk, tapi matanya tidak sepenuhnya ikut tersenyum.
Mbah Narsih memperhatikan diam-diam. Perempuan tua itu tahu kapan sebuah keluarga sedang menahan sesuatu.
Selesai makan, Nara membereskan meja. Arbani hendak membantu, tapi Nara menahan lengannya pelan. “Duduk dulu, Ban.”
Anak itu menurut. Ia duduk tegak, tangan di pangkuan, menunggu.
Nara mengambil napas, lalu berjongkok agar sejajar dengan mata anaknya. Suaranya lembut, tapi ada ketegasan yang baru.
“Dengerin Ibu, ya.”
“Iya, Bu.”
“Kalau nanti di jalan, di sekolah, atau di mana pun… kamu jangan ngobrol sama orang yang baru kamu kenal.”
Arbani berkedip. “Maksudnya… sama sekali?”
“Jawab seperlunya saja,” jelas Nara, memilih kata dengan hati-hati. “Kalau disapa, jawab sopan. Tapi jangan lama-lama. Jangan cerita banyak. Jangan ikut kalau diajak ke mana-mana.”
Albi menoleh. Alisnya sedikit berkerut, tapi ia tidak memotong.
“Kalau ada orang nanya macam-macam?” tanya Arbani pelan.
“Kamu bilang aja mau pulang,” jawab Nara cepat. “Atau bilang mau ke guru. Terus pergi.”
Arbani mengangguk, meski jelas ia sedang mencoba memahami perubahan itu. “Tapi… kenapa, Bu?”
Nara terdiam sesaat. Tangannya terangkat, lalu jatuh kembali ke lututnya. Ia tidak ingin menanamkan takut, tapi juga tidak bisa berpura-pura semuanya baik-baik saja.
“Karena Ibu sayang kamu,” katanya akhirnya jujur. “Dan tugas Ibu itu jaga kamu.”
Arbani menatap ibunya lama, lalu mengangguk kecil. “Aku nurut.”
Kalimat itu sederhana. Tapi dada Nara terasa menghangat dan sekaligus nyeri.
Mbah Narsih berdehem pelan. “Ban,” panggilnya.
“Iya, Mbah?”
“Ngati-ati kuwi dudu ateges wedi,” ucapnya tenang. “Tapi ngerti batas.”
(Hati-hati itu bukan berarti takut. Tapi tahu batas.)
Arbani tersenyum tipis. “Nggih.” (Iya)
Albi akhirnya bersuara. “Le, nek ana apa-apa, ngomong. Ojo disimpen.”
(Nak, kalau ada apa-apa, bilang. Jangan disimpan.)
“Iya, Pak.”
Nara berdiri, menepuk bahu anaknya pelan. “Sekarang siap-siap sekolah.”
Arbani bangkit, mengambil tasnya. Sebelum melangkah ke pintu, ia menoleh sebentar kebiasaan barunya memastikan semua wajah yang ia kenal ada di tempatnya.
"Ya wes lek ngono aku pamit disek," ucapnya sambil menyalami tangan keluarganya satu persatu. (Ya sudah kalau gitu aku pamit dulu)
"Ati-ati Nak," sahut Albi. (Hati-hati Nak)
Nara mengangguk pelan, merelakan anaknya berangkat sekolah. Dalam hati, doa terus bergema—semoga pria yang kemarin ia temui tidak pernah muncul lagi. Ia tahu, kebenaran itu bisa menghancurkan mental Arbani jika kelak terbuka.
Nara duduk di teras, matanya menatap nanar punggung sang anak yang semakin jauh dari pandangan, sementara Albi dari tadi mengawasi terus kegelisahan istrinya itu.
"Kowe kok saiki ketok waspada?” tanyanya pelan. (Kamu kok kelihatan waspada sekarang?)
Nara menggeleng. “Ora napa-napa.”
(Tidak apa-apa.)
Albi diam, tidak mendesak. Namun ia sadar, ada sesuatu yang berubah dari istrinya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sementara itu di tempat lain, seseorang memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, dekat proyek yang tengah ia bangun, di sinilah, dena lokasi yang akan dibangun vila, udaranya sejuk, dan pemandangannya indah.
Tiba-tiba ia tertawa sendiri, niat awal ia memilih desa ini, karena tempatnya yang asri, tidak ada niat lainnya, namun senyum itu kembali getir, saat ia tahu, ternyata tempat ini menyembunyikan masa lalu yang dulu pernah ia tinggalkan.
Ardan refleks mengepalkan tangannya, betapa bodohnya ia selama ini—membiarkan masa lalu terkubur tanpa pernah diulik.
Saat ia kembali berjalan, langkahnya terhenti di sebuah warung kopi, kali ini dekat dengan sekolah anak itu, ia benar-benar nekat, karena dasar hatinya selalu, mendesak untuk terus dan terus menulusuri siapa anak itu sebenarnya.
"Kopinya Bu," pinta Ardan.
"Nggih, linggih disek," sahut penjaga warung itu. (Iya duduk dulu)
Ardan duduk, jari-jari tangannya tidak bisa diam, mengetuk-ngetuk meja dihadapannya, wajahnya terlihat santai, meskipun dalam pikirannya banyak hal yang harus ia tanyakan.
"Bu, di desa ini banyak sekali ya yang nanam bunga?" tanya Ardan basa-basi.
"Iyo, wes kat biyen," sahut ibu pedagang kopi itu. (Iya sejak dulu)
"Bu, bunga yang ada di ujung jalan sana milik siapa ya?" tanyanya kembali.
"Oh iku duwene Albi, petani senior ndek deso Iki," sahutnya pelan. (Oh itu punyanya Albi, petani senior di desa ini)
"Albi," katanya pelan.
"Iya Albi," sahut ibu itu sambil menyodorkan pesanan kopi tadi.
Ardan berpura-pura menatap kopi, dengan asap yang masih mengepul, padahal di dalam benaknya ia mencoba merancang kembali pertanyaan demi pertanyaan.
"Dia sudah berumah tangga?" tanyanya lagi.
"Wis, anak'e ana siji, tapi krungu-krungu, biyen anake iku ...." belum sempat ibu itu melanjutkan perkataannya tiba-tiba saja ada pembeli baru yang menghentikan percakapannya.
(Sudah, anaknya ada satu, tapi dengar-dengar dulu anaknya itu ....)
Ardan tertegun, hatinya mendadak bergetar, namun belum puas ia mendengar ucapan wanita itu tiba-tiba saja pembeli baru seolah memotong percakapannya itu.
'Sial… kenapa selalu ada penghalang saat aku hampir tahu segalanya,' gerutunya dalam hati.
Bersambung ....
Selamat malam semoga suka ya
ada bonus chapter kah? hehe
aku nangis ini kak...
antara Aku, ibuku,dan Kedua Bapaku