NovelToon NovelToon
JEJAK LUKA DI BALIK SENYUMAN

JEJAK LUKA DI BALIK SENYUMAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Anak Lelaki/Pria Miskin / Romansa / Menjadi Pengusaha / Preman
Popularitas:991
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Dyon Syahputra, anak yatim piatu yang hidup dari kerja serabutan, harus menghadapi perundungan sadis di SMA Negeri 7. Ketika ia jatuh cinta pada Ismi Nur Anisah—gadis dari keluarga kaya—cinta mereka ditolak mentah-mentah. Keluarga Ismi menganggap Dyon sampah yang tidak pantas untuk putri mereka. Di tengah penolakan brutal, pengkhianatan sahabat, dan kekerasan tanpa henti dari Arman, Edward, dan Sulaiman, Dyon harus memilih: menyerah pada takdir kejam atau bangkit dari nol membuktikan cinta sejati bisa mengalahkan segalanya.

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: PREDATOR DI BALIK TOPENG

#

Empat bulan sejak Dyon pergi.

Ismi duduk sendirian di perpustakaan—tempat yang dulu jadi saksi cinta mereka. Bangku di pojok. Jendela yang ngadep ke taman. Tempat dimana Dyon pernah senyum, pernah ketawa, pernah bilang "aku mencintaimu".

Sekarang... kosong.

Cuma Ismi. Sendirian.

Buku di depannya terbuka—tapi nggak dibaca. Matanya kosong—ngeliatin halaman yang kabur. Air mata... udah nggak keluar lagi. Udah kering. Udah habis.

Yang tersisa cuma... hampa.

"Ismi?"

Suara dari belakang. Lembut. Khawatir.

Ismi nengok—pelan.

Edward.

Berdiri di sana dengan senyum... simpati? Atau pura-pura? Ismi nggak tau. Nggak peduli juga.

"Boleh aku duduk?" tanya Edward—sopan, nggak kayak biasanya yang arogan.

Ismi diam—nggak jawab. Tapi juga nggak nolak.

Edward duduk di kursi sebelah—jarak aman, nggak terlalu deket. Dia taruh tas di meja—pelan, kayak takut ganggu Ismi.

Hening sebentar.

"Kamu... kamu nggak apa-apa?" tanya Edward pelan.

Ismi ketawa—pahit. "Aku... aku keliatan apa-apa?"

"Nggak," jawab Edward jujur. "Kamu keliatan... hancur."

Ismi diam. Nggak bantah. Karena itu bener.

"Aku... aku tau soal Dyon," kata Edward pelan. Nada suaranya... berbeda. Nggak kayak Edward yang biasa ngegas, yang kasar. "Aku tau... dia ninggalin kamu."

Ismi ngepal tangan—keras. "Dia... dia nggak ninggalin aku. Dia... dia cuma... cuma butuh waktu."

"Empat bulan, Ismi," Edward bisik—lembut tapi kayak pisau. "Empat bulan dia pergi tanpa kabar. Tanpa... tanpa ngasih tau dia dimana. Tanpa... tanpa ngasih kepastian. Itu... itu bukan 'butuh waktu'. Itu... ninggalin."

"DIAM!" Ismi teriak—tiba-tiba. Beberapa siswa di perpustakaan pada nengok. Tapi Ismi nggak peduli. "Kamu... kamu nggak ngerti apa-apa! Dyon... Dyon punya alasan! Dia—"

"Alasan apa yang bisa justifikasi ninggalin orang yang dia bilang dia cintai?" Edward potong—suaranya tetep lembut, tapi kata-katanya... menusuk. "Kalau dia beneran cinta sama kamu... dia nggak akan pergi. Dia... dia akan bertarung. Bareng kamu. Bukan... bukan kabur sendirian kayak pengecut."

Ismi diam. Air mata—yang tadinya kering—keluar lagi. Sedikit. Panas di pipi.

Edward ngelanjutin—pelan, kayak racun yang masuk perlahan. "Aku... aku nggak bilang dia orang jahat. Tapi... tapi dia lemah, Ismi. Dia... dia nggak cukup kuat buat kamu. Kamu... kamu butuh seseorang yang bisa lindungin kamu. Seseorang yang... yang nggak akan kabur waktu susah."

"Dan kamu pikir itu kamu?" Ismi natap Edward—mata tajam meskipun basah.

Edward senyum—tipis. "Aku nggak bilang aku. Tapi... tapi aku di sini. Aku... aku nggak ninggalin kamu. Meskipun kamu benci aku. Meskipun kamu nolak aku berkali-kali. Aku... aku tetep di sini."

Ismi geleng—keras. "Kamu... kamu cuma... cuma mau manfaatin situasi. Kamu... kamu nggak peduli sama aku. Kamu cuma... cuma mau miliki aku kayak... kayak barang!"

Edward diam sebentar. Terus... dia senyum lagi. Senyum yang... aneh. Nggak tulus. Tapi juga nggak sepenuhnya bohong.

"Mungkin," katanya jujur—mengejutkan Ismi. "Mungkin di awal... aku cuma obsesi. Aku... aku pengen kamu karena kamu cantik. Karena kamu... kamu satu-satunya cewek yang pernah nolak aku. Dan ego aku... ego aku nggak terima."

Dia nunduk—tangan ngepal di meja. "Tapi sekarang... sekarang aku liat kamu menderita kayak gini. Aku... aku ngerasa... bersalah. Karena... karena sebagian ini salah aku juga. Aku... aku yang nyuruh orang buat ngancam Dyon. Aku... aku yang bikin dia pergi."

Ismi terkejut. Matanya melebar. "Kamu... kamu APA?!"

"Iya," Edward angguk—tenang. "Aku yang suruh orang ancam dia. Ancam keluarga sahabatnya. Biar... biar dia ninggalin kamu. Karena... karena aku egois. Aku... aku mau kamu."

Ismi berdiri—cepat. Kursi jatuh—bunyi keras. "KAMU... KAMU BAJINGAN! KAMU... KAMU YANG BIKIN SEMUA INI! KAMU YANG—"

"Tapi sekarang aku nyesel," Edward potong—berdiri juga. Mata menatap Ismi—dalam. "Aku nyesel, Ismi. Karena... karena aku liat kamu sakit. Dan... dan aku nggak suka liat kamu sakit."

Ismi ketawa—histeris. "Kamu... kamu pikir aku bakal percaya?! Kamu... kamu psikopat! Kamu—"

"Aku tau kamu nggak akan percaya," Edward bisik. "Tapi... tapi aku tetep mau bilang. Aku... aku akan ganti semua kesalahan aku. Aku akan... aku akan jadi orang yang lebih baik. Buat kamu."

Dia melangkah maju—deket ke Ismi. Ismi mundur—tapi punggungnya udah nempel ke rak buku.

"Aku nggak minta kamu cinta sama aku sekarang," kata Edward pelan—napasnya hampir nyentuh wajah Ismi. "Aku cuma... cuma minta kesempatan. Kesempatan buat buktiin... kalau aku bisa jadi orang yang layak buat kamu."

"Aku... aku nggak akan pernah cinta sama kamu," bisik Ismi—suara gemetar. "Aku... aku membenci kamu. Aku—"

"Benci itu dekat sama cinta," Edward senyum—senyum yang... mengerikan. "Suatu hari... kamu akan ngerti."

Dia mundur—pelan. Ambil tasnya. "Aku tunggu kamu, Ismi. Sampai... sampai kamu siap."

Edward pergi—ninggalin Ismi yang terduduk lemas di lantai perpustakaan. Nangis—keras, kayak dunia runtuh.

---

Malam itu, di rumah keluarga Anisah.

Ruang makan mewah. Pak Hendra duduk di ujung meja—baca koran bisnis. Ibu Sarah di seberang—ngulek obat buat Ismi yang lagi sakit.

Ismi duduk di tengah—nggak makan. Cuma ngeliatin piring kosong di depannya.

"Ismi, makan," perintah Pak Hendra—nggak nengok dari koran.

"Nggak... nggak napsu," jawab Ismi pelan.

"Kamu harus makan," Ibu Sarah nyela. "Dokter bilang kamu harus—"

"Aku bilang nggak napsu!" Ismi teriak—tiba-tiba. Piring didorong—jatuh, pecah di lantai. Bunyi keras.

Pak Hendra akhirnya nengok—mata tajam. "Jaga sikapmu."

"Atau apa?" Ismi berdiri—berani melawan. "Ayah mau mukul aku lagi? Mau kurung aku lagi? Mau... mau apa lagi?!"

"Ismi!" Ibu Sarah berdiri—panik. "Tenanglah—"

"Aku nggak bisa tenang!" Ismi nangis—keras. "Kalian... kalian hancurin hidup aku! Kalian... kalian usir Dyon! Kalian bikin aku... bikin aku kayak gini!"

Pak Hendra berdiri—perlahan. Jalan ke arah Ismi. Berdiri di depan—tinggi, besar, menakutkan.

Tapi Ismi nggak takut lagi.

"Edward datang tadi siang," kata Pak Hendra dingin. "Dia... dia bilang mau melamar kamu. Bulan depan."

Ismi membeku. "Apa?"

"Keluarga kami sudah setuju," lanjut Pak Hendra. "Kamu... kamu akan menikah dengan Edward. Enam bulan lagi. Setelah kamu lulus SMA."

"NGGAK!" Ismi teriak. "Aku... aku nggak akan nikah sama dia! Aku—"

Tamparan keras.

Pipi Ismi merah. Panas.

"Kamu nggak punya pilihan," kata Pak Hendra dingin. "Ini... ini sudah diputuskan. Kamu... kamu akan jadi istri Edward. Dan kamu... kamu akan lupa anak sampah itu."

Ismi jatuh berlutut—nangis keras. "Ayah... kumohon... kumohon jangan lakuin ini... aku... aku mencintai Dyon... aku—"

"Dyon sudah pergi!" Pak Hendra teriak. "Dia... dia ninggalin kamu! Dia nggak akan balik! Kamu... kamu harus move on!"

"Aku nggak bisa!" Ismi teriak balik—suara pecah total. "Aku... aku nggak bisa lupain dia! Aku... aku mencintainya! Aku—"

"Cukup," Pak Hendra berbalik—dingin. "Keputusan sudah final. Kamu... kamu akan menikah dengan Edward. Titik."

Dia keluar ruang makan—ninggalin Ismi yang nangis histeris di lantai.

Ibu Sarah cuma bisa nonton—nggak bisa ngapa-ngapain.

---

Kamar Ismi. Tengah malam.

Ismi duduk di lantai—punggung nyandar di tempat tidur. Tangan pegang pisau cutter kecil—yang biasa dipake buat potong kertas.

Mata kosong—ngeliatin pisau itu.

*Kalau... kalau aku mati... semua ini selesai. Nggak ada lagi sakit. Nggak ada lagi... menunggu.*

Pisau didekatkan ke pergelangan tangan—pelan.

*Dyon... maafin aku. Aku... aku nggak kuat.*

Tapi...

Tangan berhenti.

Dia ingat.

Ingat senyum Dyon.

Ingat kata-kata Dyon: *"Tunggu aku, Ismi. Aku akan kembali."*

Pisau jatuh—bunyi kletek kecil di lantai.

Ismi nangis lagi—keras.

"Aku... aku akan menunggu," bisiknya—ke kegelapan. "Meskipun... meskipun dunia bilang aku gila. Aku... aku akan menunggu."

Karena cinta...

Cinta nggak mati semudah itu.

---

**BERSAMBUNG**

---

**

1
checangel_
Tak ada lagi kata terucap 👍🙏
Dri Andri: Terima kasih semoga sehat selalu ya... simak kisah kelanjutannya dan jangan lupa cek juga cerita lainnya barang kali ada yg lebih cocok dan lebih seru
total 1 replies
checangel_
Nangis dalam diam itu, sekuat apa sih batinnya 🤧🤭
Dri Andri: 🤣 gimana caranya
total 3 replies
checangel_
Belum nikah, tapi sudah layaknya suami istri /Sob/
checangel_
Lelah hati lebih melelahkan dari semua lelah yang menyapa di dunia ini😇, karena yang tahu hanya dirinya sendiri
checangel_
Janji mana yang kau lukiskan, Dyon/Facepalm/ janji lagi, lagi-lagi janji 🤭
checangel_
Dengar tuh kata Dyon, kesempatan kedua tidak datang untuk yang ketiga /Facepalm/
Dri Andri
seperti kisah cinta ini maklum cinta monyet
checangel_
Iya musuh, kalian berdua tak baik berduaan seperti itu, bukan mahram /Sob/
Dri Andri: tenang cuma ngobrol biasa ko gak ada free nya 😁🤣😁🤣😁
total 3 replies
checangel_
Ismi, .... sebaiknya jangan terlalu lelap dalam kata 'cinta', karena cinta itu berbagai macam rupa /Facepalm/
checangel_
Sampai segitunya Ismi🤧
checangel_
Nggak semua janji kelingking dapat dipercaya, maka dari itu janganlah berjanji, jika belum tentu pasti, Dyon, Ismi /Facepalm/
checangel_
Ingat ya, kisah cinta di masa sekolah itu belum tentu selamanya, bahkan yang bertahan selamanya itu bisa dihitung 🤧
checangel_
Ismi kamu itu ya /Facepalm/
checangel_
Nah, tuh kan, jadi terbayang-bayang sosok Ismi /Facepalm/. Fokus dulu yuk Fokus /Determined/
checangel_
Jangan balas dendam ya/Sob/
Dri Andri: balas dendam dengan bukti... bukti dengan kesuksesan dan keberhasilan bukan kekerasan💪
total 1 replies
checangel_
Jangan janji bisa nggak/Facepalm/
checangel_
Jangan gitu Dyon, mencintai itu wajar kok, mereka yang pergi, karena memang sudah jalannya seperti itu 😇
checangel_
Bisa kok, tapi ... nggak semudah itu perjuangannya 🤧, karena jurusan itu memang butuh biaya banyak/Frown/
checangel_
Ismi kamu ke realita aja gimana? banyak pasien yang membutuhkan Dokter sepertimu /Smile/
checangel_
Iya Dyon, don't give up!/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!