Kejutan yang Freya siapkan untuk William berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki pria itu berselingkuh. Tanpa niat melabrak, Freya justru merekam pengkhianatan tersebut dan bersumpah akan membalasnya.
Namun, sebelum rencananya selesai, Freya diculik dan dipaksa menerima perjodohan dengan Steven, pria dingin dan berkuasa.
Menolak tunduk, Freya kabur dan menghancurkan karier William dengan menyebarkan video perselingkuhannya.
Tapi, masalah tidak berhenti di sana. Steven murka karena Freya melarikan diri. Ia mengerahkan anak buah untuk menangkap gadis itu, tanpa menyadari bahwa mereka akan bertemu dengan cara yang tak terduga, yang mana Freya menyamar sebagai laki-laki, dan menjadi bodyguard barunya dengan nama Boy.
Kedekatan mereka memicu konflik yang lebih berbahaya, saat Steven mulai merasakan perasaan terlarang pada sosok yang ia yakini sebagai seorang pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Di perusahaan, sikap Steven terhadap Boy masih sama. Ia tetap memasang wajah dingin setiap kali ada orang lain di sekitar mereka, bahkan di depan Miko sekalipun.
Namun, begitu mereka tiba di ruang CEO, terjadi sesuatu yang berbeda.
Jika biasanya Miko menyerahkan beberapa dokumen lalu Boy akan menunggu di luar atau berkeliling membantu staf lain, kali ini Boy justru tetap berada di dalam ruangan, berdiri diam di sudut saat Miko menyampaikan laporan.
Hal itu membuat Miko sedikit heran. Tidak biasanya Steven membiarkan seorang bodyguard berada di dalam ruangannya saat urusan pekerjaan berlangsung.
Meski begitu, Miko tidak mengajukan pertanyaan apa pun. Ia memilih menyimpan rasa penasarannya sendiri, lalu keluar setelah pekerjaannya selesai.
Begitu pintu tertutup, Steven mengangkat tangannya sedikit, memberi isyarat agar Boy mendekat.
Namun, Freya hanya menunduk singkat. Rautnya tampak ragu. Ia melirik sekilas ke arah pintu, lalu memilih menjalankan perannya seperti biasa. Tanpa berkata apa-apa, ia berbalik dan melangkah keluar dari ruangan.
"Boy—!"
Steven hendak menghentikannya, tetapi pintu sudah lebih dulu tertutup.
Steven hanya bisa menghela nafas.
...****************...
Waktu berlalu begitu cepat. Jam sudah menunjukan pukul 10 pagi dan Miko kembali masuk ke ruang CEO.
"Tuan, satu jam lagi ada rapat dengan klien di restoran, sekaligus makan siang," lapornya formal. " Saya dengar, perusahaan ZF mengutus Perwakilan untuk rapat kali ini."
Steven mengangguk singkat. "Tidak masalah. Siapkan semuanya dan beri tahu Boy."
"Baik, Tuan."
Miko membungkuk hormat, lalu keluar dari ruangan, meninggalkan Steven yang kembali tenggelam dalam pikirannya, tentang satu bodyguard yang kini terasa semakin sulit ia jangkau.
Setelah semuanya siap, mereka pun berangkat menuju restoran.
Jika biasanya Steven akan memejamkan mata di kursi belakang, kali ini ia tetap terjaga. Pandangannya lurus ke depan, namun sesekali mencuri pandang ke arah Boy melalui pantulan kaca.
Dalam hati, Steven mengutuk dirinya sendiri. Ia merasa sudah gila. Bagaimana mungkin ia bisa begitu tertarik pada seorang pria?
Namun, ia tidak bisa memungkiri jika jantungnya selalu berdetak lebih cepat setiap kali Boy berada di dekatnya.
Tidak membutuh waktu lama, mobil mereka tiba di restoran yang telah disepakati.
Seorang pelayan segera menggiring mereka menuju ruang VIP, tempat perwakilan perusahaan ZF telah menunggu.
Steven melangkah masuk lebih dulu, diikuti Boy dan Miko di belakangnya. Dan begitu pintu ruangan itu terbuka, mereka sama-sama tertegun saat melihat siapa yang telah menanti di dalam.
"Kau... "
Ketiganya tertegun melihat seorang wanita dengan setelan kerja mencolok dan rok terlalu pendek, berdiri di hadapan mereka, tersenyum penuh percaya diri.
"Akhirnya kalian datang juga. Silakan duduk," ucap wanita itu yang tidak lain adalah Grace.
Steven menarik napas berat, lalu menoleh tajam ke arah Miko.
"M-maaf, Tuan. Saya benar-benar tidak tahu jika—"
"Ada apa, hm?" potong Grace, masih dengan senyum tipis yang mengganggu.
Steven mengalihkan pandangan ke arahnya. "Tidak ada." Ia melangkah maju dan duduk di kursi tepat di seberang Grace. "Mari kita mulai, Nona."
Grace ikut duduk, senyumnya semakin lebar. "Baik, Tuan."
Sementara itu, Freya dan Miko berdiri di belakang Steven, rahangnya mengeras, tatapannya tidak lepas dari wanita yang jelas-jelas datang dengan niat lain selain urusan bisnis.
"Awas saja jika kau berani menggoda Steven ku," batin Freya geram.
Grace menyandarkan punggung ke kursi dengan senyum menggoda.
"Sejujurnya, Tuan Steven, saya tidak menyangka Anda akan jauh lebih tampan dari yang saya bayangkan," ucapnya.
Steven bahkan tidak menoleh. "Biasanya, klien menilai dari proposal, bukan wajah."
Grace terkekeh kecil. "Ah, Anda terlalu serius. Bekerja dengan orang menarik tentu membuat kerja sama terasa lebih... menyenangkan."
"Menyenangkan bagi yang tidak mempunyai prioritas," balas Steven datar.
Grace pura-pura tidak tersinggung. Ia meraih gelasnya, meminumnya sedikit, lalu menatap Steven dari balik bulu mata lentiknya.
"Kalau begitu, mungkin saya bisa mengajak Anda makan malam setelah rapat? Sekadar membicarakan detail kerjasama lebih pribadi."
Steven akhirnya menatapnya dingin, tajam, tanpa sedikit pun rasa tertarik.
"Saya tidak mencampuradukkan jam kerja dengan jam mencari pasangan."
Senyum Grace menegang sepersekian detik. "Oh? Saya hanya menganggap Anda pria yang terbuka."
"Saya terbuka pada bisnis," awab Steven. "Bukan pada niat yang disamarkan sebagai profesionalisme."
Grace tertawa kecil, kali ini terdengar lebih kaku. "Anda selalu setajam ini?"
"Hanya pada orang yang tidak paham batasan."
Suasana ruangan kembali sunyi. Grace menarik napas, lalu kembali membuka mapnya, memaksakan senyum bisnis. Tapi, kemudian ia menutupnya kembali, merasa membahas kontrak tidak lagi menarik.
"Kalau begitu, mungkin saya harus lebih jujur." Ia tersenyum, lalu berdiri perlahan, berjalan memutari meja hingga berhenti di samping Steven.
Freya hendak maju, namun di halangi oleh Miko. Dia hanya bisa mendengus kasar, menatap Grace dengan tajam, layaknya binatang buas yang mengincar mangsanya.
"Pria sepertimu sangat langka, Tuan Steven. Dingin, berkelas dan jelas tahu apa yang kau mau." seru Grace.
"Anda salah," ujar Steven tenang bahkan tidak menggeser kursinya.
Grace memiringkan kepala. "Oh?"
"Aku memang tahu, apa yang aku mau." Steven menoleh sedikit, menatapnya dari sudut mata. "Dan, itu bukan seseorang yang menjadikan dirinya alat negosiasi."
Gerakan Grace terhenti. "Saya tidak—"
"Anda datang sebagai perwakilan perusahaan," lanjut Steven pelan, suaranya rendah namun memotong tajam. "Tapi sejak duduk, yang Anda jual bukan proyek. melainkan diri Anda."
Wajah Grace memucat. "S-saya hanya bersikap ramah."
"Ramah tidak berdiri sedekat ini," balas Steven datar. "Dan, tidak menukar harga diri dengan kontrak."
Grace mengepalkan jemarinya, lalu menarik napas panjang. Ia tersenyum, tapi kali ini lebih kaku, penuh luka harga diri.
"Sepertinya... saya terlalu meremehkan Anda."
Steven berdiri, merapikan jasnya. "Dan Anda terlalu melebihkan nilai diri Anda."
Grace tidak mampu membalas. Bibirnya terbuka, lalu menutup kembali. Tidak ada kata yang keluar.
"Sekarang, jika Anda masih ingin berbicara sebagai rekan bisnis, saya siap. Jika tidak, kami permisi." Tanpa menunggu jawaban, Steven melangkah keluar diikuti Miko. sedangkan Freya, menatap sinis kearah Grace, lalu mengacungkan jari tengahnya sebelum menyusul Steven
Begitu mereka melangkah keluar dari ruang VIP, Miko menerima sebuah panggilan masuk. Di saat yang hampir bersamaan, ponsel Freya bergetar pelan.
Freya berhenti sejenak, menunduk membaca pesan itu. Sementara Miko mendekat ke sisi Steven dan berbisik lirih.
"Tuan Jacob ingin segera bertemu dengan Anda malam ini."
Steven terdiam beberapa detik, lalu mengangguk pelan. "Baik."
Di sisi lain, Freya masih terpaku. Pesan dari ibunya tertera jelas di layar ponselnya.
"Jika kau benar-benar setuju membatalkan perjodohan kalian, datanglah malam ini ke Restoran X."
Freya menatap punggung Steven, lalu menggenggam erat ponselnya.