Elena adalah seorang tunangan dari pria bernama Marcus Leonhardt, dia adalah asisten di perusahaan pria itu. Suatu ketika Marcus membawa seorang perempuan bernama Selena Vaughn yang seorang konsultan komunikasi. Di suatu malam mobil yang di kendarai Elena ada yang mengikuti dan terjadilah BRUUKKK , kecelakaan…dimana Elena akhirnya sadar dan dia membuat keputusan berpura - pura buta. Apakah semua akan terungkap? Siapakah yang mengikuti Elena? Dan bagaimanakah kisah Elena selanjutnya?
On going || Tayang setiap senin, rabu & jumat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Strategi Balas Dendam Selene
Pagi itu kantor terasa panas, meski jendela besar menampilkan langit abu-abu. Marcus duduk di meja kerjanya, wajah tegang, tangan mengepal di atas berkas audit. Semua terlihat rapi, namun instingnya menjerit ada sesuatu yang bergerak di belakang layar, sesuatu yang ia tidak bisa kendalikan.
Selene masuk lebih awal dari biasanya. Ia tahu ia harus bertindak cepat. Titik retakan yang kemarin ia rasakan kini melebar, dan jika ia tidak mengambil kendali, posisinya bisa hancur.
Ia menatap layar laptopnya, menyiapkan dokumen-dokumen lama. Informasi yang seharusnya tersembunyi mulai dikumpulkan lagi versi cadangan, catatan proyek yang tidak resmi, bahkan memo internal yang Marcus pikir sudah aman. Semua itu akan menjadi senjatanya.
Marcus menoleh sesekali, membaca ekspresi Selene, mencoba menemukan celah di wajahnya. Tapi Selene tetap tenang. Pura-pura loyal. Pura-pura takut. Di bawah topeng itu, ia menyusun strategi.
Ia tahu satu hal: Elena tidak bisa disentuh secara langsung. Perempuan itu terlalu licik, terlalu pintar, dan terlalu sabar. Tapi Marcus Marcus bisa dieksploitasi. Ia bisa memanipulasi kekhawatiran Marcus, membuatnya salah langkah, dan kemudian menempatkan Elena di posisi yang seolah menang tanpa bergerak sama sekali.
Pukul sembilan, rapat dimulai. Marcus masuk, wajah keras, aura defensif terasa di seluruh ruangan. Selene duduk di ujung meja, laptop terbuka, jari-jemarinya mengetuk perlahan. Ia ingin Marcus fokus pada proyek dan keputusan operasional, bukan pada dirinya.
“Tingkatkan keamanan di cabang timur,” ucap Marcus tanpa basa-basi. “Semua akses tingkat tinggi harus melalui persetujuan langsungku.”
Selene mengangguk, pura-pura mengerti. Tapi di dalam hatinya, ia tersenyum tipis. Setiap kata Marcus adalah kesempatan. Setiap perintahnya adalah celah.
Sore harinya, ketika tim IT sedang melakukan audit tambahan, Selene menyelinap ke server cadangan. Tidak ada yang melihatnya. Ia menyalin beberapa dokumen yang tidak terekam di sistem utama, dokumen yang bisa membuktikan bahwa beberapa keputusan Marcus bisa disalahartikan sebagai kelalaian.
Ia tahu Marcus akan menemukannya. Dan ketika itu terjadi, balas dendamnya akan terlihat seperti sebuah kebetulan atau bahkan kesalahan prosedur. Marcus akan memuntahkan kemarahan, dan dalam kepanikan itu, Selene akan naik ke posisi dominan, setidaknya untuk sementara.
Di rumah, Elena duduk di ruang tengah, tangan di pangkuan. Ia mendengar suara langkah kaki Marcus di lantai atas. Ia tersenyum tipis. Strategi Selene bergerak tepat di jalurnya. Marcus mulai kehilangan fokus, mulai membuat keputusan yang terburu-buru. Dan Elena, hanya menonton dari jauh.
Marcus pulang lebih awal, wajah keras, langkah berat. Ia masuk ke ruang kerja dan menatap layar laptopnya. Beberapa email masuk, beberapa laporan menunjukkan ketidaksesuaian kecil. Titik retakan mulai terasa nyata. Selene tahu kapan harus menekan, kapan harus diam.
“Ada yang salah?” ucap Marcus tiba-tiba, menatap Selene dengan mata penuh pertanyaan dan sedikit kemarahan.
Selene tersenyum tipis. “Semua tampak baik, Pak. Hanya beberapa hal kecil yang perlu perhatian. Tidak ada yang serius.” Suaranya lembut, tapi tegas. Ia tahu Marcus mulai goyah, dan sedikit dorongan bisa membuatnya melakukan kesalahan.
Marcus menatapnya lama. Rasa frustrasi dan ketidakpastian muncul di wajahnya. Ia mulai meragukan diri sendiri, mulai mempertanyakan semua orang di sekitarnya. Dan itu yang Selene tunggu.
Ia menunggu sampai Marcus pergi ke ruang rapat berikutnya, lalu segera mengakses dokumen cadangan. Ia menyalin beberapa memo dan email internal yang bisa digunakan untuk menunjukkan bahwa Marcus melakukan kesalahan prosedural. Setiap langkahnya presisi. Tidak ada yang tertinggal. Semua terlihat seperti kebetulan.
Selene tahu Elena berada di luar jangkauan langsungnya. Tapi Marcus? Marcus bisa ia manipulasi. Ia menunggu sampai Marcus menerima laporan tambahan dari tim audit bayangan. Laporan itu sedikit dimanipulasi oleh Selene. Sedikit, cukup untuk membuat Marcus merasa ada kesalahan, tapi tidak cukup untuk membongkar posisinya sendiri.
Pukul enam sore, ketika sebagian staf meninggalkan kantor, Marcus menatap Selene dari ruang rapat. “Ada yang ingin kau sampaikan?” tanyanya.
Selene menutup laptopnya, menatap Marcus dengan tatapan lembut. “Hanya memastikan kita tetap pada jalur yang benar,” katanya. Ia tahu kata-kata itu seperti madu: manis tapi bisa mematikan jika disalahartikan.
Marcus menunduk, menarik napas panjang. Ia mulai merasakan tekanan yang berbeda. Titik retakan tidak hanya di sistem, tapi juga di pikirannya sendiri. Ia mulai curiga terhadap semua orang, bahkan terhadap dirinya sendiri. Dan itu yang Selene butuhkan.
Di rumah, Elena tersenyum tipis. Ia mendengar langkah Marcus, membaca gerak tubuhnya dari jauh. Titik retakan yang ia tanamkan sejak awal mulai berkembang. Marcus semakin goyah, Selene semakin percaya diri. Permainan kini berada di titik kritis.
Malamnya, Selene menutup laptopnya, menarik napas. Ia tahu langkah selanjutnya harus lebih hati-hati. Marcus mulai membuat keputusan impulsif, dan setiap keputusan itu membuka celah bagi rencana balas dendamnya.
Elena, tetap pura-pura buta, berdiri di depan jendela. Hujan deras di luar, cahaya lampu kota memantul di kaca. Ia tahu Selene bergerak. Ia tahu Marcus mulai kehilangan pijakan. Dan ia tersenyum, yakin bahwa rencana besar masih berjalan di jalurnya.
Di sisi lain, Marcus menatap layar laptop tanpa benar-benar membaca. Hatinya berat. Titik retakan yang Selene mulai bentuk sekarang berkembang. Ia mulai menyadari bahwa semua ini bukan hanya tentang dokumen bocor atau audit internal. Ini tentang permainan psikologi yang dimainkan Selene dan Elena dua orang yang bergerak di antara bayangan, menunggu kesalahan, menunggu titik retakan yang akan membuat semua runtuh.
Selene menarik napas lagi. Balas dendamnya bukan tentang menyerang Elena secara langsung. Itu tentang membuat Marcus bergerak tanpa kendali, membuatnya mempertanyakan semua keputusan yang ia buat, dan akhirnya, membuat dirinya terlihat sebagai pemenang.
Dan malam itu, di kantor yang sunyi, titik retakan itu semakin nyata. Marcus mulai kehilangan kendali, Selene mulai menaikkan taruhan, dan Elena tetap diam, menunggu saat yang tepat untuk memanen hasil dari permainan yang ia mulai dengan kesabaran dan ketenangan.
Permainan balas dendam Selene baru saja memasuki fase paling berbahaya. Karena sekarang bukan lagi tentang siapa yang benar atau salah, tapi siapa yang mampu bertahan di tengah titik retakan yang semakin melebar, dan siapa yang pertama kali akan runtuh.
Hujan malam tetap turun, menutupi langkah-langkah kecil di lantai kantor. Tapi di dalam, semua mata tetap tertuju pada satu tujuan mempertahankan kendali atau merampasnya.
Dan Selene, dengan strategi yang sudah direncanakan matang, tahu ia satu langkah lebih maju daripada Marcus. Sementara Elena, tetap pura-pura buta, tersenyum tipis, menunggu agar titik retakan ini membimbing semua orang ke posisi yang telah ia prediksi sejak awal.
Catatannya dihilangin dulu, terus dimunculin lagi—kayak sengaja ngejek Marcus 😆
tegang tapi belum show
beberapa frasa diulang
masih terlalu subtil