Mei Zhiyi dipindahkan ke sebuah dunia kuno oleh sistem setelah mengalami insiden penembakan di markas militer.
Dia diubah menjadi seorang pelayan istana yang akan segera mati karena telah menyinggung seseorang di istana yang dalam.
Untuk mencegah kemusnahan karakter asli, Mei Zhiyi diminta melakukan serangkaian misi penyelamatan diri.
Namun ketika dia bertemu dengan Liu Yan, Kaisar penguasa dinasti yang sangat ditakuti dan sukar diajak kompromi, sistem tiba-tiba berkata: Taklukan dia, cegah dia jadi iblis tiran atau kau akan mati!
***
"Mentang-mentang seorang Kaisar, suka sekali menyuruh-nyuruh bawahan," Mei Zhiyi menggerutu dalam hati.
Kaisar tiba-tiba bertitah, "Pelayan Mei menghina atasan. Hukum cambuk lima kali!"
"Dasar Kaisar jahat. Aku mengutukmu impoten sampai mati!" Mei Zhiyi berseru dalam hatinya.
Tiba-tiba Kaisar menariknya ke tempat tidur dan berkata, "Beraninya kau mengutukku! Akan kubuktikan padamu apakah aku impoten atau tidak!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhuzhu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 22: TAK SENGAJA
Para prajurit berkeliling mencari Liu Yan. Namun setelah satu jam berlalu, mereka tak kunjung menemukan keberadaan Liu Yan. Hati mereka mulai khawatir.
Bukan soal hukuman yang akan didapat karena tidak bisa menjaga Kaisar, melainkan takut dan merasa bersalah karena mereka gagal menjadi pelindung yang mengawasi majikan agung mereka dengan sungguh-sungguh.
Mei Zhiyi dan Bibi Cui berpencar. Ketika Mei Zhiyi menelusuri taman belakang Istana Zhaoyang, dia melihat dedaunan dan bunga seperti bekas diinjak orang. Dia memundurkan langkahnya agar bisa melihat ke tempat yang tinggi. Kepalanya mendongak, menatap atap istana yang sudah kering.
Lalu, dia menghela napas lega. Di sana dia rupanya.
Mei Zhiyi menyuruh orang mengambil tangga dan dia naik ke atap Istana Zhaoyang. Di bagian utara atap istana, Liu Yan sedang duduk berselanjar kaki.
Tangannya memegang kendi anggur berwarna biru tua gelap. Wajahnya agak memerah. Sepertinya dia sedang mabuk.
Di sini dia rupanya. Semua orang sedang sibuk mencarinya ke sana kemari, dia malah bersantai sembari meminum anggur. Tidak tahukah dia bahwa tingkahnya ini dapat menyebabkan bencana bagi orang lain?
Liu Yan menoleh. Walau agak mabuk, dia masih punya kesadaran untuk mendengar suara dan melihat jelas siapakah yang baru saja datang. Matanya sedikit menyipit.
“Kau menemukanku,” ucapnya.
Mei Zhiyi berjalan penuh kehati-hatian menghampirinya. Atap istana ini masih licin.
Dia perlu menyeimbangkan tubuh agar tidak terpeleset dan jatuh. Dia tidak bisa ilmu terbang, jadi tidak akan bisa menyelamatkan diri jika tak sengaja kehilangan keseimbangan.
“Tak kusangka, orang pertama yang menemukanku di sini adalah kau.”
Seorang pelayan, yang bahkan baru beberapa hari dikenalnya. Liu Yan benar-benar ingin tertawa. Dia punya keluarga, punya ibu, punya saudara, punya istri, tapi tidak ada yang benar-benar memahaminya. Mereka melihatnya sebagai santapan lezat untuk sebuah kekuasaan, tidak pernah memperlakukan dirinya sebagai manusia.
“Semua orang sedang mencarimu. Yang Mulia, kau tidak boleh menghilang seperti ini.”
“Mereka mencariku karena takut dihukum.”
“Prasangkamu terhadap orang benar-benar semakin parah.”
Mei Zhiyi kemudian memberanikan diri duduk di samping Liu Yan. Pria ini berbau alkohol, hanya saja tidak pekat. Dia masih bisa mempertahankan kesadarannya di tengah buaian anggur yang memabukkan, bahkan masih bisa berpikir jernih dan berbicara dengan santai.
“Kebiasaanmu dalam membantahku juga semakin bagus. Apa karena aku bersikap toleran padamu, kau jadi berani berbicara santai denganku?”
“Jika Yang Mulia menginginkan seorang pelayan yang hanya mengangguk patuh dan memohon ampun, Yang Mulia bisa mencari orang lain. Aku yakin, kau lebih membutuhkan seorang pelayan yang bicara terus terang padamu dibandingkan seseorang yang penuh dengan kepalsuan dan terpaksa tunduk karena kekuasaan.”
“Sekarang kau bahkan berani menebak isi pikiranku. Mei Zhiyi, kau benar-benar sudah terlalu berani.”
“Ah, sepertinya aku tidak diterima di sini. Kalau begitu, Yang Mulia, silakan menikmati waktumu. Aku tidak akan mengganggumu lagi.”
Tepat saat Mei Zhiyi hendak pergi, Liu Yan menahannya. “Duduklah. Temani aku di sini sebentar saja.”
Mei Zhiyi mengurungkan niat dan tersenyum kecil. Metode tarik ulur seperti ini benar-benar menarik. Liu Yan butuh ditemani, tapi dia selalu saja mengatakan hal yang membuat orang sakit hati dan ketakutan. Jika seperti ini terus, orang-orang hanya akan semakin menjauhinya.
Para selir itu jika mengetahui kelakuannya yang seperti ini, apakah mereka akan tetap menginginkannya dan berharap bisa menjadi pendampingnya? Memikirkannya saja sudah membuat Mei Zhiyi merasa telah membuang waktu dengan sia-sia.
“Yang Mulia, sedang apa kau di sini? Apa suasana hatimu buruk lagi?”
“Tidak juga. Orang-orang itu tidak layak membuatku mengasingkan diri. Aku hanya sedang menenangkan diri saja. Di atas sini cukup tenang.”
Menenangkan diri kepalamu! Mana ada orang yang menenangkan diri dengan naik ke atap! Membuat alasan pun seharusnya lebih masuk akal, kan?
Liu Yan meminum lagi anggur yang masih tersisa banyak di kendinya. Mei Zhiyi mengerutkan dahi, kemudian merebut kendi anggur itu dari tangan Liu Yan.
Liu Yan jelas tidak punya toleransi tinggi terhadap alkohol, tapi masih saja memaksakan diri. Lihat, anggur di kendi itu bahkan belum habis seperempatnya!
“Menghibur diri dengan mabuk adalah bentuk pelarian yang sia-sia. Yang Mulia, jika tidak ingin tubuh rusak, jangan memaksakan diri.”
“Kau sedang menertawakanku karena toleransi alkohoku rendah?”
“Yang Mulia, tidak semua penguasa harus kuat minum alkohol. Nilai pria sejati itu tidak terletak pada seberapa kuat dia bisa minum, tapi pada seberapa mampu dia mengendalikan hatinya saat keadaan menekan dan memaksanya turun ke tempat yang paling rendah.”
“Prinsip yang kau katakan itu memang bagus. Dari mana kau mempelajarinya?”
“Seorang teman lama di kampung halaman mengajariku prinsip itu.”
Mei Zhiyi jadi teringat pada hari-harinya saat ada di markas pasukan khusus. Di bawah komando satu orang, dia menjalani hari-hari yang penuh tantangan. Atasannya pernah memberi tahu dia agar tidak putus asa saat dirinya menghadapi sebuah kegagalan.
“Teman lamamu baik sekali. Di mana dia sekarang?”
“Sudah berpisah. Tidak lagi sejalan.”
Juga beda dunia, ucap Mei Zhiyi dalam hati. Liu Yan menganggapnya sebagai perpisahan karena kematian. Mungkin, teman lama Mei Zhiyi itu sudah meninggal dunia.
“Tampaknya kau dibesarkan di lingkungan yang tidak biasa. Lalu kenapa kau malah datang ke istana dan menjadi pelayan?”
Jika Mei Zhiyi bukan wanita biasa, dengan kemampuannya, dia pasti bisa lebih bersinar dari ini. Tapi, dirinya justru malah menjadi seorang pelayan istana. Apa yang dia alami sehingga harus menyerahkan dirinya terkurung di komplek istana yang dalam ini?
“Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa menjadi pelayan. Tapi itu tidak penting. Yang Mulia, aku masih ingin memperingatkanmu dengan lancang. Anggur bukan barang bagus.”
“Lalu apa kau punya barang bagus?”
Mei Zhiyi terpikirkan teropong hadiah dadakan dari sistem. Dia mengeluarkannya dan memperlihatkannya pada Liu Yan. “Aku tidak tahu ini barang bagus atau bukan. Tapi, Yang Mulia, kau lihat saja. Anggap saja sebagai mainan.”
“Benda apa ini?” kening Liu Yan mengernyit sambil memperhatikan benda aneh di tangan Mei Zhiyi.
“Namanya teropong. Produk dari kampung halamanku.”
“Bagaimana cara memakainya?”
“Tempatkan di dekat kedua matamu. Seperti ini.”
Mei Zhiyi mencontohkan, menggerakkan kepala untuk melihat keadaan sekitar. Setelahnya, dia memberikan teropong itu pada Liu Yan.
Saat memakainya, Liu Yan terkejut. Semua objek jadi terlihat lebih dekat setelah menggunakan teropong tersebut.
Jika diproduksi secara masal dan digunakan untuk keperluan tentara, pasti pengintaian akan lebih mudah. Daqi juga tidak perlu khawatir tidak bisa melihat musuh yang bergerak menuju wilayah perbatasan.
Tapi kemudian, pikirannya terhenti pada saat dia mengarahkan teropong itu ke arah Istana Dalam. Buru-buru dia menurunkan teropong itu dan matanya berkedip beberapa kali. Ada sesuatu yang membara dalam hatinya.
“Ada apa?”
“Kau lihat saja sendiri.”
Mei Zhiyi kemudian meneropong sesuai arah yang ditunjuk Liu Yan. Sesaat kemudian dia mematung. Di sebuah paviliun yang sepi di Istana Dalam itu, ada sepasang manusia sedang memadu kasih di bawah cahaya lampu istana yang remang-remang. Kedua manusia itu sedang bermesraan dan bermain dengan panas.
Sepertinya aku tak sengaja membuat kekacauan. Mereka yang sedang memadu kasih itu sepertinya adalah seorang selir dan pengawal istana. Tapi, bukankah laki-laki dilarang memasuki harem selain Kaisar? Kenapa pengawal itu bisa masuk?
Liu Yan menghela napas. Dia tak peduli pada selir-selir itu. Tapi jika ada yang mengotori wilayahnya, dia pasti tidak akan mengampuninya. Selain itu, sepertinya wilayah dalam itu sudah disusupi oleh penyusup dan penjagaannya melonggar. Dia tak bisa mentolerir ada orang yang berkhianat di belakangnya.
“Yang Mulia, sepertinya kau harus memeriksa Istana Dalam milikmu,” ucap Mei Zhiyi. Tapi, dia tidak sadar kalau ucapannya malah semakin memperkeruh keadaan dan membuat suasana jadi lebih canggung dan absurd.
Ya ampun, Mei Zhiyi pasti sudah gila. Kenapa dia harus menyerahkan teropong itu pada Liu Yan? Dia malah membuatnya tanpa sengaja memergoki perselingkuhan antara selir istana dengan pengawal dan membuat Liu Yan memakai topi hijau di kepalanya!
“Memang harus dibersihkan,” ujar Liu Yan.
Alih-alih merasa kesal dan marah, Liu Yan justru malah bersikap biasa saja. Seolah adegan dewasa yang baru saja dilihatnya itu bukan sesuatu yang aneh.
Mereka mengotori wilayahnya, maka mereka akan menanggung akibatnya. Liu Yan tentu tidak akan mengampuni mereka. Kebetulan, dia bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk membuat Ibu Suri berhenti memilihkan selir untuknya lagi.
“Yang harus dilihat sudah dilihat. Mei Zhiyi, sampai di sini saja.”
Liu Yan tiba-tiba meraih pinggangnya dan meloncat turun dari atap. Mei Zhiyi belum sempat berteriak karena kakinya sudah lebih dulu menginjak tanah. Ternyata kemampuan ilmu terbang Liu Yan cukup hebat.
“Pulanglah. Ingat untuk tidak terlambat melayani besok pagi.”
Mei Zhiyi hanya mengangguk. Sepertinya ada yang aneh dengan adegan barusan. Tapi apa?
Sudahlah, Mei Zhiyi tidak harus memikirkannya. Dia hanya merasa senang karena sistem kemudian memberinya seratus poin atas keberhasilan misinya kali ini. Dia tidak lagi terlalu miskin sekarang.
Takut knp knp sama Liu yan
😁😁😁😁
nebak" aja dulu
Emang enak di ghibahin sama Mei