Queenora kehilangan bayinya sebelum sempat menimangnya, dia difitnah, dan dihancurkan oleh keluarga yang seharusnya melindungi.
Namun di ruang rumah sakit, tangisan bayi yang kehilangan ibunya menjadi panggilan hidup baru.
Saat bayi itu tenang di pelukannya, Queenora tahu, cinta tak selalu lahir dari darah yang sama, tapi dari luka yang memilih untuk mencinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melebur jadi satu
Darian menatapnya, sebuah tatapan yang dalam dan menusuk, tatapan yang seolah mampu melihat langsung ke dalam jiwanya yang terluka, tatapan yang membuat jantung Queenora berhenti berdetak.
Perlahan, ia mengulurkan tangannya melintasi celah di antara mereka di bangku taman itu, jari-jarinya yang panjang dan hangat terulur, hendak……menyentuh punggung tangan Queenora yang bertaut di pangkuannya.
Sentuhan itu begitu lembut, nyaris tak terasa, seperti kupu-kupu yang hinggap sesaat.
Namun, bagi Queenora, sentuhan itu adalah sengatan listrik yang menyadarkan setiap sarafnya. Jantungnya berdebar kencang, suaranya menggelegak di telinga, menenggelamkan suara tawa anak-anak di taman.
Ia tidak berani bergerak, tidak berani bernapas, takut mengusir kehangatan yang baru saja menyelimutinya.
Darian juga membeku, tangannya melayang di punggung tangan Queenora. Ia bisa merasakan kehalusan kulit itu, kehangatan yang menjalar dari sana langsung ke hatinya.
Ada jutaan pikiran yang berkecamuk di kepalanya tentang Luna, tentang janjinya pada diri sendiri, tentang kehormatan. Tapi di bawah langit biru yang cerah ini, di tengah riuhnya suara kehidupan, semua pikiran itu terasa jauh. Yang nyata hanyalah sentuhan ini, dan wanita di sampingnya.
Perlahan, Darian menarik tangannya. Queenora menghela napas yang tak disadari ia tahan. Kehangatan itu pergi, digantikan oleh kekosongan yang dingin. Ia merasa ingin meraihnya kembali, namun gengsi dan ketakutan menahannya.
Darian berdeham, mencoba mengusir kecanggungan yang kembali menyelimuti mereka. Ia menatap Elios yang tertidur pulas di kereta dorongnya, lalu kembali menatap ke depan, ke arah danau yang berkilauan di bawah sinar matahari.
“Elios… dia sudah mulai besar ya,” Darian memulai, suaranya terdengar lebih tenang, tapi Queenora bisa mendengar getaran samar di sana.
“Aku… aku belum banyak berpikir tentang masa depannya.”
Queenora menoleh, menatap Darian yang kini hanya fokus pada danau.
“Masa depan bagaimana, Tuan?”
“Ya kau tau seperti… sekolahnya nanti,” kata Darian, tangannya tanpa sadar mengusap pegangan kereta dorong.
“Mau sekolah di mana. Nanti kalau sudah besar, mau jadi apa. Luna… dia punya banyak sekali rencana untuk Elios. Semua sudah diatur dari jauh-jauh hari.” Ada nada kesedihan yang samar di suaranya saat menyebut nama mendiang istrinya.
“Tidak ada yang bisa merencanakan semuanya, Tuan,” Queenora menjawab lembut, suaranya serak.
Ia tahu ini bukan saatnya untuk membahas Luna, tapi lebih kepada Darian dan Elios.
“Kadang, rencana terbaik adalah membiarkan anak itu tumbuh dan menemukan jalannya sendiri.”
Darian menoleh padanya, matanya sedikit terkejut.
“Maksudmu?” Tanya Darian dengan kerutan di kening.
Queenora tersenyum tipis, senyum yang tak sampai ke matanya, sebuah senyum yang terlihat pahit.
“Dulu, saya juga punya banyak rencana untuk… anak saya,” Queenora berbisik, suaranya nyaris tak terdengar.
Ia menatap ke bawah, ke tangannya yang bertaut.
“Saya ingin dia sekolah di tempat terbaik, belajar musik, olahraga. Tapi… itu semua rencana saya. Saya lupa bahwa mungkin dia punya impiannya sendiri.” Ia mengangkat kepalanya, menatap Darian dengan ketulusan yang dalam.
“Elios… dia itu anak yang ceria. Dia akan menemukan apa yang dia suka. Tugas kita cuma mendukung dia, bukan memaksakan apa yang kita mau.”
Darian terdiam, mencerna kata-kata Queenora. Ia tidak pernah berpikir seperti itu. Luna selalu merencanakan segalanya dengan sempurna, dan Darian menganggap itu adalah cara yang benar. Tapi ada kebenaran yang sederhana dalam perkataan Queenora, sebuah kebenaran yang terasa membebaskan.
“Aku… aku tidak tahu,” Darian mengaku, sebuah kerentanan yang jarang ia tunjukkan.
“Aku takut salah. Luna… dia selalu tahu apa yang terbaik.”
“Tuan Darian,” Queenora berkata, suaranya sedikit lebih tegas sekarang, namun tetap lembut. Ia akhirnya berani menatap mata Darian secara langsung.
“Nyonya Luna mungkin punya banyak hal yang bagus, tapi dia tidak bisa melakukan apa yang Tuan lakukan untuk Elios sekarang.” Darian mengerutkan kening.
“Apa maksudmu?”
“Dia tidak bisa ada di sini,” jawab Queenora.
“Dia tidak bisa mendorong kereta dorong ini, melihat Elios tumbuh, mendengarkan tawanya. Tuan bisa. Dan Tuan melakukannya. Itu… itu lebih dari cukup.”
Ada jeda panjang. Darian menatap Queenora, mencari kebohongan, mencari motif tersembunyi. Tapi yang ia temukan hanyalah ketulusan yang murni, sebuah empati yang dalam yang membanjiri dirinya.
Gadis ini, dengan segala lukanya, tidak pernah meminta apa-apa. Ia hanya memberi. Memberi air susunya, memberi kasih sayangnya, memberi dukungan yang bahkan tidak ia sadari ia butuhkan.
“Aku… aku sering merasa bersalah,” Darian mengakui, suaranya rendah.
“Bersalah karena Elios ada di sini, bersalah karena aku tidak bisa mencintai Elios seperti Luna akan mencintainya.”
Queenora menggelengkan kepalanya pelan.
“Itu tidak benar, Tuan. Cinta itu bukan kompetisi. Cinta itu… tumbuh. Tuan mungkin tidak merasa seperti itu di awal, tapi sekarang, Tuan melindunginya, Tuan mengurusnya. Tuan meluangkan waktu untuknya. Itu semua adalah cinta,” ucap gadis manis itu sambil tersenyum tipis.
“Elios akan tahu. Seorang anak selalu tahu siapa yang mencintainya.”
Darian merasakan dinding es di hatinya mencair. Kata-kata Queenora, begitu sederhana, begitu jujur, menghantamnya dengan kekuatan yang luar biasa.
Ia selama ini hidup dalam bayang-bayang duka dan rasa bersalah, mengira bahwa ia harus menjadi ayah yang "sempurna" seperti yang Luna rencanakan. Tapi Queenora menunjukkan kepadanya bahwa cinta itu cukup, kehadiran itu cukup.
Bahwa ia, Darian, sudah cukup. Ia menatap Queenora. Bukan lagi sebagai ibu susu, bukan lagi sebagai seorang wanita yang ia pekerjakan.
Tapi sebagai… seorang penyelamat. Seseorang yang, entah bagaimana, berhasil menembus kegelapan yang selama ini menyelimutinya, membawa cahaya ke tempat yang paling tidak terduga.
“Queenora…” Darian berbisik, suaranya serak karena emosi.
Ia mengulurkan tangannya lagi, kali ini tanpa ragu. Jemarinya yang panjang dan hangat menyentuh pipi Queenora, membelai lembut kulitnya yang halus. Sentuhan itu tidak lagi canggung, melainkan penuh kelembutan dan… kerinduan.
Queenora menahan napas. Pipi yang disentuh Darian terasa panas, dan sensasi itu menjalar ke seluruh tubuhnya. Matanya yang basah menatap Darian, mencari tahu apa arti tatapan pria itu. Ada kerentanan di sana, sebuah kebutuhan yang tulus, yang memantulkan kebutuhannya sendiri.
“Kau… kau tidak tahu betapa berartinya dirimu,” Darian melanjutkan, ibu jarinya bergerak lembut di pipi Queenora.
“Tidak hanya untuk Elios. Tapi untukku.”
Air mata Queenora mengalir. Bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kelegaan. Selama ini, ia merasa menjadi beban, menjadi masalah, menjadi seseorang yang membawa kesialan. Tapi di mata Darian, ia melihat dirinya sebagai sesuatu yang berharga.
“Aku…” Queenora mencoba bicara, tapi suaranya tercekat.
Darian tidak membiarkannya menyelesaikan kalimat. Dengan gerakan yang lambat, seolah takut mengusik keheningan yang sakral, ia mencondongkan tubuhnya.
Wajahnya mendekat, matanya tidak pernah lepas dari mata Queenora. Queenora menutup matanya, jantungnya berdebar kencang, menanti. Bibir Darian menyentuh bibir Queenora dengan lembut.
Penyatuan dua bibir itu adalah ciuman yang lambat, ragu-ragu di awal, sebuah pertanyaan yang tak terucapkan. Lalu, perlahan, ciuman itu semakin dalam, membawa serta semua kerinduan yang terpendam, semua duka yang mereka bagi, semua harapan yang baru saja tumbuh.
Ini bukan ciuman gairah yang membakar, melainkan ciuman penyembuhan, sebuah pengakuan yang sunyi bahwa mereka berdua adalah jiwa-jiwa yang terluka, yang menemukan pelipur lara satu sama lain.
Rasa sakit dari masa lalu mereka bercampur dengan manisnya momen ini, menciptakan campuran emosi yang luar biasa. Queenora membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama, tangannya terangkat, mencengkeram kemeja Darian, seolah takut pria itu akan menghilang.
Bibirnya sedikit terbuka, membiarkan Darian memperdalam ciuman itu, menjelajahi setiap sudut yang selama ini terasa kosong. Darian merasakan setiap getaran kecil dari tubuh Queenora.
Aroma bunga dan susu bayi yang melekat pada gadis itu kini terasa seperti aroma surga.
Semua aturan, semua batasan, semua rasa bersalah yang ia pikul, runtuh di bawah kekuatan ciuman ini. Ia tidak lagi memikirkan Luna, tidak lagi memikirkan konsekuensi.
Yang ada hanyalah Queenora, di sini, di tangannya, membalas sentuhannya dengan kelembutan yang mematikan. Napas mereka berdua tercekat. Waktu seolah berhenti. Dunia di sekitar mereka tawa anak-anak, kicau burung, gemericik air danau lenyap, digantikan oleh detak jantung mereka yang berpacu liar.
Tiba-tiba, Darian menarik diri. Napasnya terengah-engah, matanya terbuka lebar, menatap Queenora dengan raut wajah yang bercampur aduk antara gairah yang membara dan rasa bersalah yang menusuk. Wajahnya memerah, bibirnya sedikit bengkak.
“Ma..maaf.Kita… kita tidak seharusnya melakukan ini,” bisiknya, suaranya parau dan penuh penyesalan, namun matanya masih memancarkan sebuah keinginan yang tak terbendung, sebuah janji yang baru saja terukir dan tak bisa ditarik kembali.
Darian menatap Queenora, seolah meminta maaf, seolah mencari jawaban atas tindakannya yang barusan, tindakannya yang baru saja melanggar setiap sumpah, setiap batasan, dan setiap aturan yang ia buat.
Matanya menatap bibir Queenora yang kini sedikit terbuka, masih basah oleh ciuman mereka, dan sebuah perjuangan batin yang hebat terlihat jelas di wajahnya, perjuangan antara keinginan untuk kembali meraih gadis itu dan keharusan untuk menjaga jarak. Ia meraih tangan Queenora, menggenggamnya erat, seolah untuk menahan diri, sekaligus untuk memberi tahu bahwa ia tidak akan pernah bisa melepaskannya lagi… tetapi kata-kata yang keluar dari bibirnya adalah…