Freen Sarocha adalah seorang penipu ulung yang hidup dari rasa takut orang lain. Berbekal minyak melati, bubuk kunyit, dan trik kabel listrik, ia sukses membangun reputasi sebagai "Paranormal Sakti" demi menguras dompet para orang kaya yang percaya takhayul. Baginya, hantu itu tidak nyata—mereka hanyalah peluang bisnis.
Namun, keberuntungan Freen berakhir saat ia menginjakkan kaki di rumah tua milik sahabatnya, Nam.
Di sana, ia bertemu dengan sesuatu yang tidak bisa ia tipu dengan trik pencahayaan. Sosok arwah bernama Chanya tidak hanya mengusir Freen, tapi juga memberikan hukuman paling kejam bagi seorang penipu: Membuka Mata Batinnya secara paksa.
Kini, dunia Freen berubah menjadi mimpi buruk. Ia melihat sosok-sosok mengerikan di setiap sudut jalan, di punggung orang asing, dan di bawah lampu merah. Hanya ada satu cara agar ia bisa kembali menjadi "normal": Freen harus berhenti berpura-pura dan mulai menjadi paranormal sungguhan.
Terjebak dalam konspirasi pembunuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princss Halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pangilan dari sang pemilik Mustika
Misi penyegelan Patung Kayu yang sukses di Wat Pha Rakam memberikan Freen dan Nam ketenangan pikiran yang luar biasa. Mereka kembali ke Nonthaburi dengan hati yang ringan dan niat tunggal: istirahat total.
Setibanya di rumah, Freen melakukan apa yang telah ia janjikan pada Nam dan dirinya sendiri. Ia mematikan handphone-nya. Tidak hanya dimatikan, ia bahkan menyembunyikannya di laci terdalam lemarinya.
"Satu bulan, Nam. Aku bersumpah. Tidak ada yang bisa mengganggu istirahatku," kata Freen, melepaskan Mustika Merah Delima dan menyimpannya di brankas kecil bersama buku catatan ritualnya.
Nam, yang sama lelahnya, bersorak gembira. "Aku akan mematikan tabletku juga! Kita akan hidup di era prasejarah, tanpa teknologi yang membawa klien gila!"
Bulan itu adalah surga bagi Freen Sarocha. Ia menghabiskan hari-hari dengan tidur hingga larut, membaca novel-novel ringan, dan menonton semua film yang selama ini tertunda. Nam memasak, membersihkan rumah, dan merencanakan keuangan mereka dengan hati-hati—kini mereka memiliki dana yang cukup untuk hidup nyaman selama beberapa tahun, bahkan dengan biaya tak terduga.
Tepat pada hari ke-30 liburan mereka, Freen merasa... aneh.
"Nam, aku merasa seperti ada yang hilang," kata Freen, sambil menguap di sofa. "Aku sudah menamatkan semua series yang ada. Aku sudah makan semua camilan enak. Aku sudah tidur selama yang kubisa."
Nam, yang sedang menyiram tanaman di teras, menoleh. "Kau bosan, Freen. Itu artinya kau sudah benar-benar pulih."
Freen tersenyum masam. "Mungkin. Atau mungkin... aku mulai terbiasa dengan adrenalina spiritual itu. Aneh, aku merindukan bau dupa, garam suci, dan aura kegelapan."
Nam tertawa, tahu bahwa 'Paranormal Gadungan' di dalam diri Freen tidak bisa diistirahatkan terlalu lama.
"Aku akan menyiapkan pizza dan film horor lagi malam ini, sebagai perayaan hari terakhir liburan," kata Nam.
**
Malam itu, setelah film horor selesai, Freen duduk di ruang tamu yang sunyi. Ia tahu, esok adalah waktunya untuk kembali ke dunia. Ia berjalan ke laci lemarinya, tempat handphone-nya tersembunyi.
Saat Freen menyentuh handphone itu, Mustika Merah Delima yang berada di brankas tiba-tiba terasa memancarkan energi yang kuat, seolah memanggilnya.
Freen mengeluarkan handphone-nya dan menyalakannya. Sambil menunggu, ia membuka brankas dan memasang kembali Mustika Merah Delima. Energi Mustika itu langsung memberinya sensasi kesiapan spiritual yang familiar.
Begitu handphone itu terhubung, puluhan notifikasi pesan masuk. Sebagian besar adalah pesan dari operator. Namun, ada satu pesan dari nomor yang tidak ia kenal—dan Nam juga tidak.
Freen membuka pesan itu. Itu bukan dari Mae Nakha, dan juga bukan dari klien baru.
Pesan itu sangat pendek, ditulis dalam aksara Thai yang sangat kuno, tetapi Freen bisa membacanya dengan jelas. Pesan itu terasa dingin dan sangat formal:
"Kau telah mengganggu keseimbangan terlalu sering, Freen Sarocha. Tugasmu telah selesai. Alat harus kembali kepada pemiliknya. Datanglah ke 'Candi Bayangan' di perbatasan Laos. Bawa Mustika Merah Delima. Jangan libatkan yang lain."
Freen membeku. Ini bukan perintah, ini adalah panggilan. Dan ini bukan dari Mae Nakha.
Nam yang melihat ekspresi wajah Freen, segera mendekat. "Apa itu, Freen? Mae Nakha sudah kangen?"
Freen menunjukkan pesan itu kepada Nam. Nam membaca dan wajahnya langsung pucat.
"Candi Bayangan? Perbatasan Laos? Freen, ini bukan klien, ini... ini adalah entitas yang lebih tinggi dari Mae Nakha. Dan 'Alat harus kembali kepada pemiliknya'?"
Freen memegang Mustika Merah Delima. Batu itu terasa sangat berat, seolah ia dihakimi.
"Ini adalah panggilan dari pemilik Mustika ini, Nam," bisik Freen. "Seseorang di dunia spiritual tahu bahwa aku telah menyalahgunakan Mustika ini, menggunakannya untuk misi yang bukan bagian dari rencana aslinya."
"Tapi Mae Nakha yang memberikannya padamu!" seru Nam.
"Mungkin Mae Nakha hanyalah perantara," jawab Freen, matanya menatap tajam ke depan. "Nam, kau tidak boleh ikut. Ini adalah urusanku dan pemilik Mustika ini."
"Aku tidak peduli! Aku akan ikut, Freen!" potong Nam tegas. "Kau adalah temanku, dan kita adalah tim. Kita akan hadapi 'pemilik Mustika' itu bersama-sama!"
Freen mengangguk, terharu. Meskipun takut, ia tahu ia tidak akan pergi sendirian.
"Baik, Nam. Kita berangkat ke perbatasan Laos. Ini adalah misi paling pribadi dan paling berbahaya yang pernah kita hadapi. Kita akan mencari tahu siapa yang memiliki Mustika Merah Delima, dan apa sebenarnya takdirku."
Freen Sarocha dan Nam, kini menghadapi Takdir yang sesungguhnya di perbatasan.
Freen menutup pesan misterius di handphone-nya. Ia menyentuh Mustika Merah Delima di lehernya. Panggilan ke 'Candi Bayangan' itu terasa dingin, otoritatif, dan jauh lebih serius daripada semua perintah Mae Nakha sebelumnya.
"Aku harus bicara dengan Mae Nakha," ujar Freen, matanya menyala. "Dia harus menjelaskan ini. Kenapa Mustika ini tiba-tiba ditarik kembali? Dia yang memberikannya padaku!"
Freen memejamkan mata, memusatkan seluruh energinya. Ia mengabaikan kehadiran Nam yang tegang di sampingnya dan memfokuskan pikirannya ke dimensi spiritual, mengirimkan panggilan darurat ke manajer arwahnya.
Batin Freen: "Mae Nakha! Jawab aku! Apa maksudnya Candi Bayangan? Siapa yang mengirim pesan ini? Kau bilang Mustika ini milikku selama aku menjalankan tugas! Jelaskan apa yang terjadi!"
Keheningan melanda sesaat. Lalu, Freen merasakan kehadiran spiritual yang familiar, tetapi kali ini, terasa lebih jauh dan tertekan.
Suara Mae Nakha di benak Freen: "Jangan panik, Gadungan. Aku tahu tentang pesan itu. Itu adalah... panggilan yang tidak bisa dihindari."
"Tidak bisa dihindari? Kau menjualku, Mae Nakha? Siapa 'pemilik' Mustika ini? Aku adalah alatmu!" desak Freen, suaranya di ambang frustrasi.
Suara Mae Nakha: "Mustika Merah Delima adalah pusaka kuno yang diikat pada Takdir Besar. Aku, Mae Nakha, adalah utusan Takdir yang lebih rendah. Panggilan itu datang dari Sumber Tertinggi, dari entitas yang mengawasi semua benang Takdir di dunia ini. Mereka merasa kau telah menyelesaikan fase awal. Kini, kau harus diuji untuk fase berikutnya."
"Diuji? Dengan apa? Dengan ancaman diambil kembali?"
Suara Mae Nakha: "Mustika itu bukan milikku untuk diberikan selamanya. Mustika itu memilihmu sebagai wadah. Candi Bayangan adalah tempat di mana Takdirmu akan dikuatkan, atau diputuskan. Mereka ingin memastikan kau layak menggunakan kekuatan itu."
"Tapi kenapa sekarang? Kenapa setelah semua yang kulakukan?" tuntut Freen.
Suara Mae Nakha: "Kau terlalu efisien, Freen. Kau tidak hanya menyelesaikan misi yang kuberikan, tapi kau juga menciptakan karma dan perubahan yang melampaui perhitungan mereka merestorasi kuil kuno, menukarkan karma jahat, dan membangkitkan perhatian entitas kuno. Mereka ingin melihat apakah kau akan menjadi pelindung yang sesungguhnya, atau hanya pengguna kekuasaan."
"Dan kau tidak bisa menghentikannya?"
Suara Mae Nakha terdengar sedikit menyesal: "Kekuatanku terbatas, Freen. Aku hanya bisa memberimu satu nasihat: Bawa Mustika itu, tapi bawa juga akal sehatmu. Candi Bayangan adalah tempat ilusi. Jangan percaya apa pun yang kau lihat atau kau dengar. Percayai hanya pada nalurimu. Dan... Nam. Bawa Nam."
Freen terkejut. "Tapi pesannya bilang jangan libatkan yang lain!"
Suara Mae Nakha: "Justru karena itulah kau harus membawanya. Ujian ini mungkin memerlukan lebih dari sekadar Mustika. Jiwa yang murni dan tanpa kekuatan spiritual murni sering kali adalah penyeimbang sejati. Berhati-hatilah, Gadungan. Ini adalah akhir dari babak ini. Semoga Takdir berpihak padamu."
Komunikasi itu terputus. Freen membuka matanya, mengambil napas dalam-dalam. Wajahnya kini tidak lagi takut, tetapi penuh tekad.
"Nam," kata Freen, menoleh pada temannya. "Riset perbatasan Laos. Kita cari 'Candi Bayangan'. Mae Nakha bilang ini adalah ujian. Dan dia bilang... aku harus membawamu."
Nam, meskipun wajahnya pucat, mengangguk. Ia meraih tabletnya. "Baik. Ujian Takdir. Spesialis Pertukaran Jiwa dan Pemancing Artefak siap untuk menghadapi Dewa Takdir."