Mereka menyebutnya persahabatan.
Padahal masing-masing sedang berjuang sendirian.
Gina hidup dalam sorotan dan tuntutan,
Rahmalia dalam ketenangan yang sering disalahartikan sebagai kelemahan,
Dio di balik candaan yang menutupi kepedulian,
dan Azmi datang membawa arah yang tak semua orang siap terima.
Di antara sekolah, musik, prestasi, dan nama besar keluarga,
perasaan mulai bergeser—perlahan, nyaris tak terasa.
Sampai akhirnya, tidak semua bisa tetap utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bg.Hunk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Restu yang menyakitkan
Sepulang sekolah, Gina berjalan sendirian menuju area parkiran.
Langkahnya tenang. Terlihat biasa saja.
Namun di dalam dadanya, ada beban yang belum sepenuhnya hilang sejak beberapa hari terakhir.
Perasaan yang ia pendam, yang tak pernah benar-benar selesai.
Tangannya sudah hampir menyentuh gagang pintu mobil ketika suara seseorang memanggil dari belakang.
“Gin, tunggu!”
Gina berhenti.
Perlahan ia menoleh.
Azmi.
Ia berdiri beberapa meter di belakang, melambaikan tangan kecil sebelum mendekat.
Jantung Gina bergetar sedikit.
Jarang sekali Azmi menyapanya lebih dulu—apalagi tanpa Siva atau Rahmalia di sisinya.
“Kenapa?” tanya Gina, berusaha terdengar biasa.
Azmi tersenyum ringan.
“Cuma mau nanya kabar,” katanya santai.
Ia berdiri tak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuat Gina sadar bahwa ini bukan percakapan singkat biasa.
“Kemarin kamu pulang duluan…” suara Azmi sedikit melembut.
“Waktu sampai rumah… semuanya baik-baik aja, kan?”
Gina menatapnya beberapa detik.
Pesta.
Kata itu saja sudah cukup membuat dadanya mengencang.
“Enggak apa-apa kok,” jawabnya pelan. “Ayah memang ada urusan.”
Azmi mengangguk.
Ada jeda kecil di antara mereka.
Angin sore berembus pelan di area parkiran. Suara kendaraan lain terdengar samar.
Lalu Azmi kembali bersuara.
“Kalau kamu nggak buru-buru… kita ngobrol sebentar, boleh?”
Gina menatapnya lagi.
Hatinya tiba-tiba tidak stabil.
Entah kenapa… ada harapan kecil yang tumbuh lagi, meski ia tahu seharusnya tidak.
“Ke mana?” tanyanya pelan.
Azmi tersenyum.
“Ke tempat yang kemarin itu… mau?”
Dan hanya dengan dua kata itu, kenangan lama langsung terlintas di kepala Gina—
toko es krim yang pernah mereka datangi bersama.
Tanpa sadar, ia mengangguk.
“Yaudah.”
Mereka pun menuju mobil masing-masing dan bersiap berangkat ke toko es krim.
...----------------...
Di perjalanan, Gina mengemudikan mobilnya dalam diam.
Lampu jalan berderet di depan, sementara dari kaca spion terlihat mobil Azmi mengikuti tepat di belakangnya—jaraknya tidak terlalu dekat, tapi cukup jelas untuk selalu terlihat.
Sesekali Gina melirik ke spion.
Mobil itu masih di sana.
Mengikuti.
Tanpa sadar, pikirannya mulai berkelana.
Kenapa tiba-tiba dia ngajak aku ke toko es krim…?
Pertanyaan itu muncul pelan, tapi langsung memenuhi kepalanya.
Tempat itu… bukan tempat sembarang. Mereka pernah ke sana. Hanya sekali. Tapi cukup meninggalkan kesan yang sulit dilupakan.
Jantung Gina berdetak sedikit lebih cepat.
Apa… dia mulai melihat aku?
Harapan kecil, yang sempat ia tekan selama ini, muncul lagi ke permukaan.
Rapuh.
Tapi hangat.
Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari terakhir, Gina membiarkan dirinya membayangkan kemungkinan lain—
bahwa mungkin… kali ini Azmi melihatnya bukan sekadar teman.
Tapi sebagai seorang perempuan… yang benar-benar ia perhatikan.
...----------------...
Mereka pun tiba di toko es krim.
Tempat itu tidak banyak berubah. Lampu hangat, meja kayu sederhana, dan aroma manis yang langsung terasa begitu pintu dibuka.
Mereka duduk di tempat yang sama.
Kursi yang sama.
Tanpa sengaja, semuanya seperti mengulang kenangan yang pernah terjadi di sana—obrolan ringan, tawa kecil, dan momen saat Azmi pernah bernyanyi untuknya.
Ingatan itu datang begitu saja.
Membuat dada Gina terasa hangat.
Ia menatap meja sejenak, lalu kembali menatap Azmi yang duduk di depannya. Ada harapan kecil yang perlahan tumbuh… mungkin percakapan hari ini akan tentang mereka.
Tentang sesuatu yang selama ini tidak pernah benar-benar dibicarakan.
Azmi membuka percakapan lebih dulu.
Topiknya ringan. Menanyakan sekolah, tugas, hal-hal kecil yang biasa.
Gina menanggapi seperlunya, tapi di dalam hati ia menunggu.
Menunggu arah pembicaraan berubah.
Dan benar saja—
beberapa menit kemudian, nada suara Azmi berubah. Lebih pelan. Lebih serius dari sebelumnya.
“Aku mau minta pendapatmu…”
Kalimat itu membuat Gina sedikit terdiam.
Jantungnya berdetak satu kali lebih keras.
Ada apa ini…?
Pikirannya langsung berputar, mencoba menebak-nebak.
Namun saat pikiran Gina mulai dipenuhi harapan, kalimat Azmi berikutnya jatuh begitu saja—
“Aku… ingin mendekati Rahmalia.”
Azmi menatapnya lurus, tanpa ragu.
“Kamu kan sahabatnya. Kira-kira ada saran nggak? Atau… dia suka apa?”
Waktu seolah berhenti sesaat.
Gina terdiam.
Membeku.
Senyumnya masih ada—terpasang rapi seperti biasa—tapi tubuhnya terasa kaku. Jemarinya menggenggam sendok lebih erat dari yang seharusnya, sampai buku jarinya memucat.
Di dalam kepalanya, hanya satu kalimat yang berulang—
Lagi… Rahmalia.
Selalu Rahmalia.
Dadanya terasa jatuh. Panas. Perih.
Bukan karena Azmi salah.
Bukan juga karena Rahmalia merebut sesuatu.
Tapi karena… harapan kecil yang tadi sempat tumbuh, hancur bahkan sebelum sempat benar-benar hidup.
Untuk sesaat, rasa iri itu muncul.
Halus.
Pelan.
Tapi nyata.
Iri pada hidup Rahmalia yang terasa begitu mudah dicintai. Iri pada cara orang-orang selalu menoleh padanya tanpa harus berusaha keras.
Namun Gina tidak bisa menunjukkannya.
Tidak boleh.
Ia menarik napas pelan, memaksa ekspresi wajahnya tetap tenang.
Tetap menjadi Gina yang biasa.
Sahabat yang baik.
Tempat orang lain meminta saran.
Bukan seseorang yang diam-diam berharap pada orang yang sama.
“Iya… Rahmalia,” ucapnya pelan, seolah sedang benar-benar memikirkan sesuatu.
Senyumnya tipis.
“Dia orangnya nggak suka yang terlalu maksa,” lanjut Gina hati-hati.
“Kalau mau deket… pelan aja. Bikin dia nyaman dulu.”
Setiap kata keluar dengan rapi.
Tenang.
Masuk akal.
Padahal di dalam hatinya, semuanya berlawanan.
Ia tidak ingin Azmi semakin dekat.
Tidak ingin Rahmalia menoleh.
Tidak ingin semuanya berjalan semudah itu.
Tapi Gina tetap mengangguk kecil, seolah benar-benar mendukung.
“Coba aja langsung ngomong sama dia,” tambahnya.
Nada suaranya ringan, seakan itu saran biasa.
Padahal di baliknya… ada harapan lain yang tersembunyi.
Ia mengenal Rahmalia.
Tahu sifatnya.
Tahu betapa Rahmalia tidak mudah menerima orang, apalagi dalam hal seperti itu.
Jika Azmi benar-benar langsung mendekat—
kemungkinan besar Rahmalia akan menolak.
Dan besok…
Gina tahu apa yang akan ia lakukan.
Ia akan bicara dengan Rahmalia.
Memperingatkannya.
Bukan melarang.
Bukan memaksa.
Hanya… memastikan Rahmalia tidak menerima Azmi.
Setidaknya, untuk saat ini.
“Aku sudah coba… tapi dia seperti tidak suka kalau aku dekati,” ucap Azmi pelan.
Gina sedikit tersenyum.
Prediksinya tepat.
Rahmalia memang bukan tipe yang mudah didekati. Ia bukan orang yang akan langsung membuka diri hanya karena seseorang datang dengan niat baik.
Namun belum sempat Gina menanggapi, Azmi kembali berkata—
“Tapi… aku mau coba ajak dia duet besok. Menurutmu bakal berhasil?”
Sekali lagi, Gina hanya bisa tersenyum.
Tipis.
Dipaksakan.
“Coba saja… siapa tahu dia mau,” jawabnya pelan.
Kalimat itu keluar dengan berat. Sangat berat.
Karena di dalam hatinya, satu kalimat lain berteriak—
Harusnya aku.
Harusnya aku yang kamu ajak.
Azmi mengangguk, wajahnya tampak sedikit lebih lega.
“Oke kalau gitu. Terima kasih ya sarannya,” katanya.
Ia berdiri, meraih tasnya.
“Aku duluan pulang. Hari ini ada urusan.”
Gina hanya mengangguk.
Azmi berbalik, melangkah pergi meninggalkan meja itu—tanpa tahu apa yang baru saja ia tinggalkan di belakang.
Sunyi.
Gina tetap duduk di sana.
Es krim di depannya mulai mencair, lelehan dingin merembes di sisi mangkuk. Sendok masih ada di tangannya… tapi tidak lagi bergerak.
Ia tidak memakannya.
Tidak juga menatapnya.
Tatapannya kosong, lurus ke meja, tapi pikirannya entah ke mana.
Hangat yang tadi sempat ia rasakan… hilang begitu saja.
Digantikan rasa pahit yang pelan-pelan memenuhi dada.
Untuk pertama kalinya, Gina sadar—
yang ia takutkan bukan kehilangan Azmi.
Tapi… harus berdiri berseberangan dengan sahabatnya sendiri.
proud of you.. keep smilee nanti kamu jadi panutanmu..
maaf yaa nangis sedikittt
keknya lebih cocok gitu sih, kak. 🙏
di sini alur belum maju lagi 🤔
jadi awal chapter gak terkesan slow Pace karena ceritamu susah bertipe slow burn
perhatikan dinamis Pace
baby shark doo dooo doo
chapter ini cukup menarik
slow burn yang cukup oke antara Gina dan Azmi 👍
azmi sama siapa sih mau mu.. gina apa rahmalian 😏
kayak mau deketin Azmi sama gina
kek nyaman bener
ga mau kasih dia temen Deket cowok atau dia harusnya ada geng cowok
aneh aja kalau dari perspektif cowok 😏
ada sih yang nempel sama geng cewek cuma ehem biasanya rada gemulai (maaaap)
main sama anak cewek itu ga bebas ga bisa gaplok2an yang biasa jadi 'bahasa' persahabatan antar cowok..
ini Dio beda sendiri dan baru kuliat di cerita
penasaran aja apa dia itu punya temen lain selain ngekorin cewek cewek???