NovelToon NovelToon
Saat Nada Tak Pernah Sejalan

Saat Nada Tak Pernah Sejalan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Teen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: bg.Hunk

Mereka menyebutnya persahabatan.
Padahal masing-masing sedang berjuang sendirian.
Gina hidup dalam sorotan dan tuntutan,
Rahmalia dalam ketenangan yang sering disalahartikan sebagai kelemahan,
Dio di balik candaan yang menutupi kepedulian,
dan Azmi datang membawa arah yang tak semua orang siap terima.
Di antara sekolah, musik, prestasi, dan nama besar keluarga,
perasaan mulai bergeser—perlahan, nyaris tak terasa.
Sampai akhirnya, tidak semua bisa tetap utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bg.Hunk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 Restu yang menyakitkan

Sepulang sekolah, Gina berjalan sendirian menuju area parkiran.

Langkahnya tenang. Terlihat biasa saja.

Namun di dalam dadanya, ada beban yang belum sepenuhnya hilang sejak beberapa hari terakhir.

Perasaan yang ia pendam, yang tak pernah benar-benar selesai.

Tangannya sudah hampir menyentuh gagang pintu mobil ketika suara seseorang memanggil dari belakang.

“Gin, tunggu!”

Gina berhenti.

Perlahan ia menoleh.

Azmi.

Ia berdiri beberapa meter di belakang, melambaikan tangan kecil sebelum mendekat.

Jantung Gina bergetar sedikit.

Jarang sekali Azmi menyapanya lebih dulu—apalagi tanpa Siva atau Rahmalia di sisinya.

“Kenapa?” tanya Gina, berusaha terdengar biasa.

Azmi tersenyum ringan.

“Cuma mau nanya kabar,” katanya santai.

Ia berdiri tak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuat Gina sadar bahwa ini bukan percakapan singkat biasa.

“Kemarin kamu pulang duluan…” suara Azmi sedikit melembut.

“Waktu sampai rumah… semuanya baik-baik aja, kan?”

Gina menatapnya beberapa detik.

Pesta.

Kata itu saja sudah cukup membuat dadanya mengencang.

“Enggak apa-apa kok,” jawabnya pelan. “Ayah memang ada urusan.”

Azmi mengangguk.

Ada jeda kecil di antara mereka.

Angin sore berembus pelan di area parkiran. Suara kendaraan lain terdengar samar.

Lalu Azmi kembali bersuara.

“Kalau kamu nggak buru-buru… kita ngobrol sebentar, boleh?”

Gina menatapnya lagi.

Hatinya tiba-tiba tidak stabil.

Entah kenapa… ada harapan kecil yang tumbuh lagi, meski ia tahu seharusnya tidak.

“Ke mana?” tanyanya pelan.

Azmi tersenyum.

“Ke tempat yang kemarin itu… mau?”

Dan hanya dengan dua kata itu, kenangan lama langsung terlintas di kepala Gina—

toko es krim yang pernah mereka datangi bersama.

Tanpa sadar, ia mengangguk.

“Yaudah.”

Mereka pun menuju mobil masing-masing dan bersiap berangkat ke toko es krim.

...----------------...

Di perjalanan, Gina mengemudikan mobilnya dalam diam.

Lampu jalan berderet di depan, sementara dari kaca spion terlihat mobil Azmi mengikuti tepat di belakangnya—jaraknya tidak terlalu dekat, tapi cukup jelas untuk selalu terlihat.

Sesekali Gina melirik ke spion.

Mobil itu masih di sana.

Mengikuti.

Tanpa sadar, pikirannya mulai berkelana.

Kenapa tiba-tiba dia ngajak aku ke toko es krim…?

Pertanyaan itu muncul pelan, tapi langsung memenuhi kepalanya.

Tempat itu… bukan tempat sembarang. Mereka pernah ke sana. Hanya sekali. Tapi cukup meninggalkan kesan yang sulit dilupakan.

Jantung Gina berdetak sedikit lebih cepat.

Apa… dia mulai melihat aku?

Harapan kecil, yang sempat ia tekan selama ini, muncul lagi ke permukaan.

Rapuh.

Tapi hangat.

Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari terakhir, Gina membiarkan dirinya membayangkan kemungkinan lain—

bahwa mungkin… kali ini Azmi melihatnya bukan sekadar teman.

Tapi sebagai seorang perempuan… yang benar-benar ia perhatikan.

...----------------...

Mereka pun tiba di toko es krim.

Tempat itu tidak banyak berubah. Lampu hangat, meja kayu sederhana, dan aroma manis yang langsung terasa begitu pintu dibuka.

Mereka duduk di tempat yang sama.

Kursi yang sama.

Tanpa sengaja, semuanya seperti mengulang kenangan yang pernah terjadi di sana—obrolan ringan, tawa kecil, dan momen saat Azmi pernah bernyanyi untuknya.

Ingatan itu datang begitu saja.

Membuat dada Gina terasa hangat.

Ia menatap meja sejenak, lalu kembali menatap Azmi yang duduk di depannya. Ada harapan kecil yang perlahan tumbuh… mungkin percakapan hari ini akan tentang mereka.

Tentang sesuatu yang selama ini tidak pernah benar-benar dibicarakan.

Azmi membuka percakapan lebih dulu.

Topiknya ringan. Menanyakan sekolah, tugas, hal-hal kecil yang biasa.

Gina menanggapi seperlunya, tapi di dalam hati ia menunggu.

Menunggu arah pembicaraan berubah.

Dan benar saja—

beberapa menit kemudian, nada suara Azmi berubah. Lebih pelan. Lebih serius dari sebelumnya.

“Aku mau minta pendapatmu…”

Kalimat itu membuat Gina sedikit terdiam.

Jantungnya berdetak satu kali lebih keras.

Ada apa ini…?

Pikirannya langsung berputar, mencoba menebak-nebak.

Namun saat pikiran Gina mulai dipenuhi harapan, kalimat Azmi berikutnya jatuh begitu saja—

“Aku… ingin mendekati Rahmalia.”

Azmi menatapnya lurus, tanpa ragu.

“Kamu kan sahabatnya. Kira-kira ada saran nggak? Atau… dia suka apa?”

Waktu seolah berhenti sesaat.

Gina terdiam.

Membeku.

Senyumnya masih ada—terpasang rapi seperti biasa—tapi tubuhnya terasa kaku. Jemarinya menggenggam sendok lebih erat dari yang seharusnya, sampai buku jarinya memucat.

Di dalam kepalanya, hanya satu kalimat yang berulang—

Lagi… Rahmalia.

Selalu Rahmalia.

Dadanya terasa jatuh. Panas. Perih.

Bukan karena Azmi salah.

Bukan juga karena Rahmalia merebut sesuatu.

Tapi karena… harapan kecil yang tadi sempat tumbuh, hancur bahkan sebelum sempat benar-benar hidup.

Untuk sesaat, rasa iri itu muncul.

Halus.

Pelan.

Tapi nyata.

Iri pada hidup Rahmalia yang terasa begitu mudah dicintai. Iri pada cara orang-orang selalu menoleh padanya tanpa harus berusaha keras.

Namun Gina tidak bisa menunjukkannya.

Tidak boleh.

Ia menarik napas pelan, memaksa ekspresi wajahnya tetap tenang.

Tetap menjadi Gina yang biasa.

Sahabat yang baik.

Tempat orang lain meminta saran.

Bukan seseorang yang diam-diam berharap pada orang yang sama.

“Iya… Rahmalia,” ucapnya pelan, seolah sedang benar-benar memikirkan sesuatu.

Senyumnya tipis.

“Dia orangnya nggak suka yang terlalu maksa,” lanjut Gina hati-hati.

“Kalau mau deket… pelan aja. Bikin dia nyaman dulu.”

Setiap kata keluar dengan rapi.

Tenang.

Masuk akal.

Padahal di dalam hatinya, semuanya berlawanan.

Ia tidak ingin Azmi semakin dekat.

Tidak ingin Rahmalia menoleh.

Tidak ingin semuanya berjalan semudah itu.

Tapi Gina tetap mengangguk kecil, seolah benar-benar mendukung.

“Coba aja langsung ngomong sama dia,” tambahnya.

Nada suaranya ringan, seakan itu saran biasa.

Padahal di baliknya… ada harapan lain yang tersembunyi.

Ia mengenal Rahmalia.

Tahu sifatnya.

Tahu betapa Rahmalia tidak mudah menerima orang, apalagi dalam hal seperti itu.

Jika Azmi benar-benar langsung mendekat—

kemungkinan besar Rahmalia akan menolak.

Dan besok…

Gina tahu apa yang akan ia lakukan.

Ia akan bicara dengan Rahmalia.

Memperingatkannya.

Bukan melarang.

Bukan memaksa.

Hanya… memastikan Rahmalia tidak menerima Azmi.

Setidaknya, untuk saat ini.

“Aku sudah coba… tapi dia seperti tidak suka kalau aku dekati,” ucap Azmi pelan.

Gina sedikit tersenyum.

Prediksinya tepat.

Rahmalia memang bukan tipe yang mudah didekati. Ia bukan orang yang akan langsung membuka diri hanya karena seseorang datang dengan niat baik.

Namun belum sempat Gina menanggapi, Azmi kembali berkata—

“Tapi… aku mau coba ajak dia duet besok. Menurutmu bakal berhasil?”

Sekali lagi, Gina hanya bisa tersenyum.

Tipis.

Dipaksakan.

“Coba saja… siapa tahu dia mau,” jawabnya pelan.

Kalimat itu keluar dengan berat. Sangat berat.

Karena di dalam hatinya, satu kalimat lain berteriak—

Harusnya aku.

Harusnya aku yang kamu ajak.

Azmi mengangguk, wajahnya tampak sedikit lebih lega.

“Oke kalau gitu. Terima kasih ya sarannya,” katanya.

Ia berdiri, meraih tasnya.

“Aku duluan pulang. Hari ini ada urusan.”

Gina hanya mengangguk.

Azmi berbalik, melangkah pergi meninggalkan meja itu—tanpa tahu apa yang baru saja ia tinggalkan di belakang.

Sunyi.

Gina tetap duduk di sana.

Es krim di depannya mulai mencair, lelehan dingin merembes di sisi mangkuk. Sendok masih ada di tangannya… tapi tidak lagi bergerak.

Ia tidak memakannya.

Tidak juga menatapnya.

Tatapannya kosong, lurus ke meja, tapi pikirannya entah ke mana.

Hangat yang tadi sempat ia rasakan… hilang begitu saja.

Digantikan rasa pahit yang pelan-pelan memenuhi dada.

Untuk pertama kalinya, Gina sadar—

yang ia takutkan bukan kehilangan Azmi.

Tapi… harus berdiri berseberangan dengan sahabatnya sendiri.

1
Choco Syam
good girl... kmu punya sahabat yg tepat ginaaa..😊
proud of you.. keep smilee nanti kamu jadi panutanmu..
Choco Syam
maaf bang, tpi aku klo di posisi gina jg bkal mikir sperti itu sihh hehe... kliatan dangkal namun, menyakitkann.. proud of you gina..
maaf yaa nangis sedikittt
Choco Syam: yahh.. berusaha tegarr itu kita harus benar" kuatt..
total 2 replies
Choco Syam
Aku adalah gina di cerita ini. entah kapan kbruntungan itu datang. bukan anak sukung namun, anak harapan yg bahkan kerja kerasnya tidak pernah di lirik sma sekali. bhkan ketika jatuh hanya cemoohan yg di dpat. Gin prgi tenangin diri lo. semakin kamu bersandiwara semakin sakit. dan kamu bisa menghancurkan dirimu sendiri.
Hunk: Karakter Gina mungkin merasa sendirian disini, tapi percayalah… anak harapan yang tak pernah dilirik bukan berarti tak berharga. Kadang semesta memang menunda keberuntungan, bukan menolaknya. Jangan berhenti ya, karena kerja keras yang hari ini tak terlihat, suatu saat akan jadi alasan orang lain menoleh. Tetap kuat, kak. Kamu lebih hebat dari yang kamu kira 🤍✨
total 1 replies
APRILAH
"Tunggu bentar, ca." kata Dio, membuat Gina pun menghentikan langkah kakinya, "res sleting mu terbuka, aku bantu benerin, ya." sambung Dio, menawarkan bantuan.

keknya lebih cocok gitu sih, kak. 🙏
APRILAH: tapi gak tau sih, aku biasa gitu kalo dialog aksi.
tapi gak tau kalo di genre lain
total 2 replies
Panda
cuma mau bilang deskripsi sama percakapan bisa lebih padet

di sini alur belum maju lagi 🤔
Panda
dari kalimat ini sampai beberapa paragraf ke bawah sebelum percakapan itu bisa dipadatkan sebenarnya

jadi awal chapter gak terkesan slow Pace karena ceritamu susah bertipe slow burn

perhatikan dinamis Pace
Hunk: Makasih banget masukannya, Kak panda. Aku paham maksudnya, bagian awal memang masih agak kepanjangan. Ke depannya bakal aku evaluasi biar pacing-nya lebih enak.

Maaf kan diriku yang masih banyak ke kurangan🙏/Cry/
total 1 replies
Serena Khanza
payungnya kek punya ponakan aku 😂😂😂
baby shark doo dooo doo
Kaka's
telat mulu.. 🤣🤣
Kaka's
jadi tukang servis nih 🤭
Kaka's
enak gak.. 🤭
Sean Sensei
/CoolGuy/ : ada yang punya nomor teleponnya?
𓆩🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴬᴸᶻ Ⓥⓘⓥⓘⓐⓝ𓆪
Gina sama Azmi pagi" udah bikin sekolah heboh aja /Facepalm/
Panda
bagian akhirnya rada mellow ye e

chapter ini cukup menarik

slow burn yang cukup oke antara Gina dan Azmi 👍
Hunk: Makasih banyak kak🤭 Aku harap bisa bawain chapter yang lebih mellow nanti.
total 1 replies
APRILAH
songong emang kalo banyak duit mah
Hunk: Hahaha kapan ya aku bisa sombong kaya gitu pamer uang🤣. Makasih kak sudah membaca🙏
total 1 replies
Kaka's
coba baca dengan gaya.. menirukan adegan film film, 🤭🤭
Serena Khanza
apa ini apa ini🤔
azmi sama siapa sih mau mu.. gina apa rahmalian 😏
𓆩🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴬᴸᶻ Ⓥⓘⓥⓘⓐⓝ𓆪
Apa sebenarnya rencana kedua orang tua mereka ya 🤔
kayak mau deketin Azmi sama gina
Val07
busyet tangannya ringan bener, main tarik rambut anak orang 🤣
Hunk: gpp dio emang pingin botak katanya.
makasih kak sudah membaca🤭🤭/Heart/🙏
total 1 replies
Serena Khanza
duuh kata kata nya jleb banget lagi 🥹
Serena Khanza: sama sama kak 🤭
total 2 replies
Panda
serius ini Dio nempel banget sama cewek cewek

kek nyaman bener

ga mau kasih dia temen Deket cowok atau dia harusnya ada geng cowok

aneh aja kalau dari perspektif cowok 😏

ada sih yang nempel sama geng cewek cuma ehem biasanya rada gemulai (maaaap)

main sama anak cewek itu ga bebas ga bisa gaplok2an yang biasa jadi 'bahasa' persahabatan antar cowok..

ini Dio beda sendiri dan baru kuliat di cerita

penasaran aja apa dia itu punya temen lain selain ngekorin cewek cewek???
Panda: nahhh kannn beneran ini harusnya Uda ada di lebih awal chapterrr biar Dio gak jadi sus 😏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!