"Menikah denganku."
Risya Wicaksono, berusia 27 tahun.
Atau lebih di kenal dengan panggilan Icha, melotot terkejut, saat kalimat itu terlontar dari mulut lelaki yang sangat tidak ia sangka.
Arnold Adiguna.
Lelaki berusia 33 tahun. Yang juga masih merupakan salah satu kakak sepupunya.
Lelaki itu mengajaknya menikah. Semudah lelaki itu mengajak para sepupunya makan malam.
Icha tidak menyangka, jika lelaki itu akan nekat mendatanginya. Meminta menikah dengannya. Hanya karena permintaan omanya yang sudah berusia senja.
Dan yang lebih gilanya. Ia tidak diberikan kesempatan untuk menolak.
Bagaimanakah Icha menjalani pernikahan mereka yang sama sekali tidak terduga itu?
Mampukah ia bertahan hidup sebagai istri sang Adiguna? Lelaki yang dikenal sebagai CEO sekaligus Billionaire dingin nan kejam itu.
Mampukah mereka mengarungi pernikahan tanpa saling cinta?...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elis Hasibuan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2 bulan di tinggal pergi
"Masih belum kembali?"
Pertanyaan itu menghentikan gerakan Icha dari memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia menatap Lily yang masih menatapnya dari seberang meja.
"Belum." Icha membalas dengan jawaban perlahan.
" Ini sudah 2 bulan Icha. Kepergiannya bukan kepergian normal lagi." Lily bersuara.
Lily adalah sahabat Icha yang ia miliki di kota ini. Usianya sama seperti Icha 27 tahun. Telah memiliki seorang tunangan. Beberapa waktu lagi ia akan melangsungkan pernikahan. Mungkin sekitar 3 bulan lagi. Dengan seorang Dosen yang mengajar di salah satu universitas di Jakarta.
Lily juga adalah seorang dosen di tempat yang sama dengan tunangannya. Lily berasal dari Semarang, sama seperti dirinya. Karena itu merasa senang memiliki sahabat dari kotanya. Terlebih ia dan Lily memang dekat sejak mereka SMA.
"Tidakkah kamu capek mempertahankan pernikahan kalian yang tidak jelas ini Icha?" Lily menghela nafas melihat sahabatnya itu.
Icha hanya diam dan menatap Lily yang terlihat kesal. Wajar jika Lily bereaksi seperti itu.
Arnold sudah 2 bulan berada di Thailand.
Kepergian lelaki itu yang semula beberapa hari. Berubah menjadi seminggu, kemudian dua minggu hingga sebulan. Dan kini lelaki itu telah pergi selama dua bulan.
Icha hanya berkomunikasi dengan Arnold selama sebulan. Setelah itu ia memblokir nomor lelaki itu. Arnold mengatakan belum bisa pulang hingga saat itu. Dan sekarang ia tidak tahu bagaimana kabar lelaki itu.
Saat ia menghubungi lelaki itu untuk mengabarkan oma Jasmine yang akhirnya siuman. Lelaki itu memberitahu jika ia belum bisa pulang sekarang. Bahkan hingga oma Jasmine keluar dari rumah sakit dan telah tinggal di mansion Laksmana. Lelaki itu belum pulang sekalipun.
Kedua mertuanya menenangkan Icha, dengan mengatakan jika Arnold memiliki masalah berat dengan perusahaan. Mereka meyakinkan jika Arnold berusaha keras mempertahankan perusahaan agar tetap beroperasi dan berjalan seperti biasanya.
Ada sebuah korupsi yang besar di perusahaan Adiguna. Dan pelakunya menyabotase dana perusahaan yang cukup besar.
Orang itu adalah direktur keuangan yang selama ini bekerja di sana. Perbuatannya itu membuat banyak rekan bisnis, yang menjalin kerja sama dengan perusahaan mulai mundur dan membatalkan kerja sama.
Arnold sedang sibuk mengatasi itu semua. Icha memaklumi itu semua. Ia berharap jika masalah lelaki itu cepat selesai. Tapi ia sangat marah karena Arnold berhenti menghubunginya, setelah sebulan ia berada di sana.
Karena itulah ia memutuskan memblokir nomor Arnold. Tidak mau mendengar kabar soal Arnold.
Ia bahkan kembali tinggal di apartementnya. Dengan mengatakan pada mertuanya, jika apartementnya lebih dekat ke rumah sakit. Dan tidak ingin sering terlambat di rumah sakit.
Keduanya mertuanya hanya mengangguk meski terlihat jelas mereka yang keberatan dengan keputusan Icha. Dan selama dua bulan ini, ia menyibukkan diri dengan pekerjaannya di rumah sakit.
"Kamu berhak membatalkannya Icha. Toh pernikahan kalian masih belum di ketahui publik. Pernikahan kalian masih tersembunyi dengan rapat. Bahkan di rumah sakit, mereka tidak tahu jika kamu telah menikah." Lily kembali bersuara.
"Aku tahu Lily. Tapi aku menunggunya untuk pulang dan membicarakan ini langsung dengannya." Icha menjawab, mulai lelah dengan pembahasan soal Arnold.
"Aku tidak tahu apa yang kamu tunggu Icha. Kalian berdua jelas tidak saling mencintai. Tapi kamu mempertahankan pernikahan kalian yang lebih cocok jadi lelucon menurutku." Lily semakin sarkas menyikapi Icha yang terlihat begitu tenang.
"Lily, aku paham maksudmu. Tapi kamu tahu jika ia juga adalah sepupuku. Jika kami berpisah begitu saja, akan sangat memalukan bagi keluarga kami. Apalagi jika mereka tahu aku yang ingin bercerai." Icha menjelaskan.
"Tapi jika kami berdua sepakat, maka masalah ini bisa kami rundingkan dengan keluarga kami. Dan tidak akan ada yang kecewa dengan keputusan kami nantinya." Icha kembali menambahkan.
"Kenapa aku merasa kamu terlalu berat untuk melepaskan pernikahan kalian Icha. Apa kamu mulai mencintai lelaki itu?" Lily menatap Icha dengan penuh kecurigaan.
"Aku tidak tahu Lily. Aku hanya tahu jika aku mulai menerima pernikahan ini." Icha mengusap wajahnya merasa pusing dengan ini semua.
"Itu artinya kamu telah membuka diri pada lelaki itu." Lily berdecak saat berseru.
"Nasehatku jangan bertahan sendirian. JIka memang sudah tidak ada harapan, lebih baik membebaskan diri. Kamu berhak bahagia Icha." Lily mulai berdiri dari kursinya.
Icha dan Lily memiliki janji untuk makan siang bersama. Itulah kegiatan mereka saat ini. Mereka telah menyelesaikan makan siang, dan berbincang sebentar sebelum memulai kembali aktivitas mereka.
"Hari minggu aku akan pulang ke Semarang. Kalau bisa kamu cari jadwal dan ikut pulang bersamaku ke sana." Lily mengenakan tasnya. Demikian juga dengan Icha yang melakukan hal yang sama.
"Aku akan mengecek jadwalku untuk hari minggu nanti." Icha mengangguk.
Sepertinya ide Lily untuk pulang ke Semarang, bukanlah ide yang buruk. Ia sudah lama tidak pulang. Terakhir ia bertemu dengan keluarganya sendiri saat akad nikahnya dengan Arnold dua bulan yang lalu.
"Kabari aku jika kamu bisa. Kita bisa berangkat bersama." Lily kembali bersuara.
"Pasti." Icha menjawab.
Keduanya keluar dari restoran tempat mereka menikmati makan siang kali ini. Lily yang kembali ke kampus, begitu juga dengan Icha yang melanjutkan perjalanannya ke mansion Laksmana. Ia akan memeriksa keadaan oma Jasmine.
Ia sebenarnya merasa senang bisa bertemu dengan oma Jasmine. Tapi jika mendapat pertanyaan soal Arnold, akan membuat moodnya sedikit buruk.
Ia sudah ingin memberikan kegiatan ini pada Rafael. Tapi sepupunya itu sedang ada pertemuan bisnis, dengan pihak rumah sakit dari luar negeri.
ALhasil Icha tidak memiliki alasan untuk menolak. Ia hanya harus menghadapi semua pertanyaan yang di tujukan darinya nanti.
Mengemudikan mobilnya di jalanan dengan kecepatan yang diijinkan oleh lalu lintas. Icha menikmati waktunya yang bergerak ke mansion utama Laksmana.
Icha di bukakan gerbang oleh security yang menjaga gerbang mansion Laksmana. Ia tersenyum dan mengangguk sekali dan melajukan mobilnya memasuki kawasan Laksmana.
Icha berhenti tepat di depan kediaman. Keluar dari mobil dan menyerahkan kunci mobil pada seorang pengawal yang mendekat.
Icha melangkah memasuki mansion itu. Dan begitu memasuki ruang keluarga ia melihat kebaradaan opa Rama yang sedang berbincang dengan Fasya Laksmana, anak sulungnya.
"Icha!" Rama berseru dan tersenyum melihat kedatangan cucunya itu.
"Bagaimana kabar opa?" Icha memeluk lelaki berusia senja itu.
"Baik dan masih bisa memerintahkan semua cucu dan anak - anakku untuk bergerak cepat." Rama menjawab dengan angkuh.
"Iya. Inilah opa Rama." Icha bergumam.
Ia mendapat cubitan di pipinya. Dan sebuah pelukan yang kembali ia dapatkan.
"Sabar ya. Arnold sedang mengusahakan yang terbaik di sana. Ia pasti akan kembali setelah semua berjalan normal di sana. Dan begitu ia kembali opa akan memarahinya nanti. Berani sekali ia meninggalkan istrinya di negara ini sendirian, dalam waktu yang lama." Rama berbicara dengan penuh ancaman.
"Jangan lupa jewer telinga kak Ar nanti." Icha menambahkan dengan semangat.
'Tentu saja." Rama mengangguk. Ia menepuk puncak kepala Icha perlahan. Paham sekali jika Icha pasti merasa kesal karena ditinggalkan terlalu lama.
"Baiklah. Aku harus memeriksa oma. Nanti ia merindukan aku." Icha memberitahu dengan sedikit dramatis.
"Pergilah dear." Rama mempersilahkan Icha. Yang di angguki Icha dan segera menjauh dari sana.
Senyuman yang sejak tadi ia perlihatkan langsung lenyap begitu ia berbalik dari opa Rama. Moodnya selalu memburuk jika masalah Arnold di ungkit. Dan sekarang ia langsung mendengar nama Arnold di sebut begitu ia memasuki mansion.
Semuanya selalu berusaha menenangkannya. Tapi tidak ada yang mengerti perasaannya. Ia sangat marah pada lelaki itu yang tidak mau menghubunginya. Ia paham jika Arnold menemukan kesulitan di sana.
Tapi apakah menghubungi dan memberikan kabar sesusah itu?
....................................................
apa yg kamu lakukan ituu .... jahat buat babang Ar...
Sejauh ini ceritanya menarik