Sejak kelas satu SMA, Raviel Althaire hanya mengamati satu perempuan dari kejauhan. Tidak mendekat, tidak memiliki, hanya menyimpan rasa yang perlahan berubah menjadi obsesi.
Satu malam yang seharusnya dilupakan justru menghancurkan segalanya. Pagi datang bersama tangis dan kepergian tanpa penjelasan.
Saat identitas gadis itu terungkap, Raviel sadar satu hal—perempuan yang terluka adalah orang yang selama ini menguasai pikirannya.
Sejak saat itu, ia tidak lagi mengagumi.
Ia mengikat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon his wife jay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sarapan bersama
...SELAMAT MEMBACA...
Nara terbangun ketika telinganya menangkap suara percikan air dari arah kamar mandi. Awalnya samar, tapi semakin lama semakin jelas, membuat kesadarannya perlahan kembali. Ia mengerjap beberapa kali, lalu mengucek matanya yang masih berat oleh kantuk.
Pandangan Nara beralih ke jam digital di samping ranjang.
Masih pagi.
“Raviel lagi mandi,” batinnya pelan.
Ia bangkit dari ranjang dengan gerakan hati-hati, tangannya refleks menyentuh perutnya. Untungnya pagi ini tubuhnya terasa jauh lebih baik. Tidak ada rasa mual berlebihan seperti biasanya. Morning sickness—begitu istilah yang pernah ia baca—tidak datang menyerangnya hari ini, dan itu sudah lebih dari cukup untuk disyukuri.
Pintu kamar mandi terbuka tak lama kemudian.
Nara membeku.
Raviel keluar hanya dengan handuk yang melingkar di pinggangnya. Rambutnya masih basah, tetesan air menuruni leher hingga ke dada bidangnya. Otot perutnya terlihat jelas, roti sobek yang seolah tak punya niat untuk disembunyikan sama sekali.
Refleks, Nara menutup matanya dengan kedua tangan.
“kenapa kamu nggak pake baju—” ucapnya gugup.
Raviel terkekeh pelan. Ia melangkah mendekat, lalu sedikit menunduk hingga bibirnya berada dekat telinga Nara.
“emang kenapa, hmm?” bisiknya rendah, suaranya membuat bulu kuduk Nara meremang.
“E-enggak."
" aku mau mandi juga,” ucap Nara terbata. “Tapi aku nggak ada baju ganti.”
“Tenang,” jawab Raviel santai. “Semua baju yang kamu butuhin ada di lemari.”
Ia berbalik, mengambil beberapa pakaian dari arah walk-in closet, lalu melangkah masuk ke sana. Namun langkahnya terhenti ketika menyadari Nara masih berdiri kaku di depan kamar mandi.
“Kenapa masih di situ?” Raviel menoleh. “Katanya mau mandi. Atau… mau aku temenin?”
Nada bercandanya jelas terdengar.
Nara mendelik tajam. “Ini juga mau kok!” balasnya cepat, lalu segera masuk ke kamar mandi dan menutup pintu dengan agak keras.
Di luar, Raviel tersenyum tipis.
Ia kemudian mengenakan pakaiannya sendiri. Pagi ini, ia sudah memutuskan satu hal—mengajak Nara sarapan di restoran, lalu mengantarnya pulang. Tidak ada alasan untuk menunda.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka.
Nara keluar hanya dengan handuk yang membungkus tubuhnya. Rambutnya masih basah, meneteskan air ke bahunya. Ia berhenti ketika melihat Raviel berdiri tak jauh dari lemari, menatapnya tanpa berkedip.
“Nyesel aku nggak pakai bajunya di kamar mandi,” gumam Nara pelan.
“Sini,” ucap Raviel rendah.
Jakunnya naik turun jelas. Tatapannya gelap, sulit dibaca.
Nara berjalan mendekat dengan langkah kaku. Jantungnya berdegup tidak karuan.
“Kamu bisa pergi dulu nggak?” pintanya lirih. “Aku mau ambil baju.”
“Hm,” Raviel mengangguk singkat, lalu berbalik dan keluar dari ruangan rahasia itu.
Ia tahu, jika ia tetap berada di sana lebih lama, pengendaliannya bisa runtuh.
Begitu pintu tertutup, Nara menghembuskan napas lega. Ia melangkah ke arah lemari dan terdiam.
Bajunya… terlalu banyak.
“Ini semua pasti mahal-mahal,” gumamnya sambil menggeser gantungan satu per satu.
Hingga akhirnya matanya tertarik pada sebuah dress putih bermotif bunga biru yang sederhana, dipadukan dengan cardigan blue sky yang lembut. Tidak terlalu mencolok, tapi terasa nyaman.
Ia segera mengenakannya, tidak ingin membuat Raviel menunggu terlalu lama.
Di luar ruangan, Raviel menunggu sambil menandatangani beberapa dokumen penting di tabletnya. Namun perhatiannya teralihkan ketika mendengar langkah kaki.
Ia menoleh.
Nara berdiri di ambang pintu.
Raviel bangkit, melangkah mendekat, lalu tersenyum kecil. “Cantik,” gumamnya jujur.
“e-emm… aku harus pulang sekarang,” ucap Nara pelan. “Makasih… udah mau numpang aku di sini.”
“Jangan bilang gitu” potong Raviel sambil mengusap rambut Nara lembut. “Aku nggak pernah nganggep kamu tamu. Lagipula… kita akan segera menikah”
Jantung Nara berdegup keras.
“Ayo,” lanjut Raviel. “Kita sarapan dulu di restoran. Setelah itu aku antar kamu pulang.”
“nggak usah." tolak Nara halus. “Aku bisa makan di rumah.”
Sebenarnya, ia hanya tidak ingin terlalu lama berduaan dengan Raviel. Aura pria itu… terlalu menekan.
Raviel menggenggam tangan Nara. “Aku nggak menerima penolakan,” katanya datar. “Tugas kamu cuma satu—menerima tawaranku.”
Tanpa memberi celah, Raviel menarik Nara keluar menuju lobi.
Dan Nara, sekali lagi, hanya bisa mengikutinya.
★★★
Raviel turun lebih dulu dari mobil mewahnya, lalu berjalan memutar dan membukakan pintu untuk Nara. Gerakannya tenang, seolah hal itu sudah menjadi kebiasaan.
Nara turun dengan senyum canggung. Perasaan tak nyaman langsung menyergapnya, apalagi ketika ia menyadari banyak pasang mata memperhatikan mereka. Beberapa bahkan tidak berusaha merendahkan suara.
“OMG, itu Pak Raviel! Sumpah ganteng banget!”
“Tapi itu cewek siapa? Kalau pacar pak raviel, gue sakit hati sih.”
“Masa sih mereka pacaran? Kok gue baru denger ya?”
“Bukannya Pak Raviel deketnya sama model ya?”
“Oh, si Vanessa. Tapi jujur yang ini lebih cocok sih, satu cantik satu ganteng.”
Desas-desus itu masuk ke telinga Nara tanpa bisa dicegah. Ia menunduk pelan, menarik napas panjang. Ada rasa pasrah yang perlahan tumbuh. Ia sadar, berhubungan dengan Raviel Althaire—CEO besar dengan pengaruh luas—bukan sesuatu yang bisa ia sembunyikan, apalagi di tempat umum seperti ini.
“Ayo,” bisik Raviel sambil menggenggam tangannya dan membawanya masuk ke restoran.
Begitu melangkah ke dalam, Nara terdiam. Interior restoran itu begitu mewah dan berkelas. Lampu gantung kristal, lantai marmer mengilap, serta alunan musik lembut membuat suasana terasa eksklusif. Ia yakin, satu porsi makanan di sini mungkin setara dengan pengeluaran hidupnya selama beberapa hari.
Ini… terlalu berlebihan, batinnya.
“Ayo duduk,” ucap Raviel.
Nara mengangguk dan mengikuti. Tak lama kemudian, seorang pelayan datang menyerahkan menu. Begitu Nara membukanya, matanya langsung melotot.
“Hah…” gumamnya nyaris tak terdengar.
Harga-harga di menu itu terasa tidak masuk akal. Padahal ia tidak asing dengan restoran mahal, tapi yang satu ini berada di tingkat yang berbeda.
“Pilih apa saja,” ucap Raviel tenang, seolah membaca reaksinya.
Nara menggigit bibir. Ia benar-benar bingung. Ia tidak peduli disebut miskin atau gadis kampungan—yang penting ia menjadi dirinya sendiri. Tapi tetap saja, angka-angka di menu itu membuatnya ragu.
“Aku… nggak tahu. Bingung,” ucapnya jujur sambil menyerahkan menu itu kembali pada Raviel.
Raviel menerima menu tersebut tanpa komentar. Ia menatap pelayan dengan tenang.
“Berikan grilled salmon with lemon butter, cream of pumpkin soup, dan mixed green salad tanpa saus berat. Tambahkan fresh orange juice,” ucapnya tegas. “Pastikan semuanya aman dan baik untuk ibu hamil.”
Pelayan itu tersenyum sopan sambil mencatat.
“Baik, saya ulangi pesanannya. Grilled salmon with lemon butter, pumpkin cream soup, mixed green salad, dan fresh orange juice. Apakah ada tambahan, Tuan?”
“Tidak,” jawab Raviel singkat.
Pelayan mengangguk. “Baik, pesanan akan segera kami siapkan.”
Setelah selesai, pelayan pun pergi.
Raviel mengangguk kecil. Ponselnya tiba-tiba berdering.
“Ada apa?” tanyanya datar begitu mengangkat panggilan.
“Tuan, Anda sedang di mana?” suara Ethan terdengar dari seberang.
“Di restoran.”
“Begini, tuan. Ada pihak yang menghubungi saya. Mereka ingin mengajukan kerja sama dengan perusahaan Anda.”
Raviel mengalihkan pandangannya pada Nara yang sedang mengelus perutnya perlahan, wajahnya tampak tenang. Meski begitu, telinganya tetap fokus mendengarkan.
“Tunggu saya. Jam sembilan pagi nanti saya ke perusahaan,” ucap Raviel singkat.
“Baik, tuan.”
Panggilan berakhir. Tak lama kemudian, pelayan datang membawa hidangan mereka.
“Silakan dinikmati.”
“Terima kasih,” ucap Nara sambil tersenyum kecil.
Ia menatap makanan di depannya, masih ragu harus mulai dari mana. Namun tiba-tiba, sebuah sendok berhenti tepat di depan bibirnya.
“Makan,” ucap Raviel pelan sambil menyuapinya.
“A-aku bisa sendiri,” ucap Nara gugup. Wajahnya memanas ketika menyadari beberapa orang melirik ke arah mereka.
Raviel hanya menaikkan alisnya tipis. “Makan saja.”
Akhirnya Nara menurut. Perlahan, suasana menjadi lebih cair. Mereka menikmati makanan itu dalam diam yang nyaman. Sesekali, Raviel mengusap noda kecil di sudut bibir Nara dengan ibu jarinya.
Gerakan sederhana itu membuat wajah Nara kembali memerah.