NovelToon NovelToon
DI SUDUT HATI AMARA

DI SUDUT HATI AMARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:233
Nilai: 5
Nama Author: Pena Arafa

Ketika ada yang telah mengisi hati Amara, datanglah seseorang yang membuatnya kembali ke kisah masa lalu yang ingin di lupakan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Arafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejutan

     Akhirnya aku sudah di rumah setelah bertemu Arsaka yang menguras hati tadi. Ternyata benar dia mendekatiku untuk taruhan. Jahat. Dia mempermainkanku. Padahal aku tulus . Padahal dulu dia begitu baik, perhatian, lembut, selalu mendukung dan melindungiku. Ternyata semua palsu. Dia membuatku terbang dan menghempaskanku tanpa ampun. Sakitnya masih terasa. Tapi lini, apapun pengakuannya tadi, aku tak kan tertipu lagi. tek kan peduli lagi. Terserah dia mau apa. huh....

    Aku putuskan untuk membersihkan diri dahulu. Guyuran air hangat ini menyejukkan ku. Membuatku nyaman dan rileks. Melegakan hatiku yang telah kacau. Aku buru buru menyelesaikan ritual bersih bersih diri untuk kemudian menunaikan sholat maghrib karena waktu hampir usai. kemudian lanjut sholat isya saat waktu telah tiba. Aku berdoa dalam sujudku. Memohon perlindungan dan bimbingan Nya. ' Semoga Engkau mendekatkan ku pada kebaikan dan menjauhkan ku pada keburukan' .

         Setelah itu aku keluar kamar dan menemui ibu. Beliau sedang menyiapkan makan malam kami. Akupun membantunya menata piring di meja.

   " Aku bantu ya bu.. *

    " Boleh.... " dia tersenyum lembut. " Kamu tadi dari mana? "

    " Dari ketemu temen bu. Kan tadi udah pamit."

    "iya. Tapi siapa kok tadi ayah bilang kamu keluar kade sendirian.? " Tadi memang kebetulan saat aku mau pulang ayah lewat. Dia melihatku seorang diri dan akhirnya mengajakku pulang.

    " Teman Waktu SMA bu. Ketemu bentar doang tadi" aku mencoba menjelaskan * yang waktu itu ketemu di pantai" jujur ku

   Ibu mengerutkan kening mencoba mengingat. "Oh... dia... " Dia sudah ingat kayaknya. " Kok bisa? rasanya dulu waktu ketemu di pantai kamu cuek aja tuh... "

    "Ada urusan dikit" aku beralasan

   Dari arah ruang tamu ayah memanggilku.

     "Ra... Ada Adit ini".

    " Iya yah.... "

    "Sekalian ajak makan ra" kata ibu

    "Iya bu". Aku menuju ruang depan untuk menemuinya

   " Kalian mau makan di luar Ra? " tanya ayah " Tadi Adit pamit sama ayah" ayah berkata saat aku sampai da ruang tamu

   "Ha... " aku bingung mau jawab apa

" Mau kan Ra? " tanya Adit

    " Boleh yah? "

   " Boleh.. asal jangan pulang kemalaman" kok tumben boleh. Biasanya nggak boleh keluar malam. Apa mungkin ayah udah percaya sama Adit ya...

   " Tapi maaf ya Dit.. Aku lagi capek. Mungkin lain kali. Mending makan di sini aja yuk... tadi aku udah bantuin ibu nyiapin makam malam soalnya Kata ibu ajak kamu sekalian". Sebenarnya nggak enak nolak apa lagi ayah udah ijinin tapi bener deh aku lagi malas keluar malam. Pengen si rumah aja.

   " Bener tuh kata Amara. Makan diaini aja yuk nak Adit* ajak ayah setuju dengan ku.

   " Ya udah deh nggak papa. Disini juga nggak papa kok " Akhirnya dia setuju walaupun ku lihat kecewa juga.

     Malam itu pun berjalan lambat. Kami makan malam bersama dengan ada rasa canggung. Tapi sepertinya Adit mencoba menyamankan diri saat makan bersama keluargaku. Ada sesuatu yang dia pikirkan. Atau sedang menata kata kata untuk di keluarkan. Entahlah.. Tapi wajah itu seperti menyimpan sesuatu.

    Selepas makam malam, aku dan Lala membantu ibu membereskan sisa makan malam. Kami mencuci piring dan peralatan masak lain yang baru saja di gunakan. Sementara Adit sedang asik mengobrol bersama ayah si ruang tamu.

     "Kak... " sapa Lalat di tengah kegiatan bersih bersih kami. " Sepertinya kak Adit sama ayah ngobrolnya serius banget deh" dia mengalihkan perhatian ku sambil menunjukkan jarinya ke ruang tamu.

    " Masa iya? " aku jadi kepo deh. " Kira kira ngomongin apa ya? "

    "Kamu ke depan aja deh kak. Biar aku yang beresin ini. Masih dikit doang kok. Kasian kak Adit. Dia kan kesini mau ketemu kakak bukan ketemu ayah". Akhirnya Lalat memintaku pergi ke ruang tamu.

   " Ya udah kalo gitu kamu yang lanjutin semua ya. Aku ke depan dulu". Aku pun ke ruang tamu tempat Adit dan ayah asik ngobrol. Lala emang bener kasian Adit kalo aku nggak nemenin. Lagian aku juga pengen ngobrol sama dia.

   Sampai di ruang tamu, aku duduk di sofa panjang sebelah ayah. Sementara Adit ada di sofa tunggal sisi sebelah kiri.

   "Ayah sama Radit ngomongin apa sih? " tanyaku swasta sudah duduk di sisi ayah.

    " Nggak ngomongin apa apa, cuma obrolan ringan aja nunggu kamu datang". Ayah menjawab dengan senyuman " Karena kamu udah dateng, jadi ayah masuk dulu ya... "

   " Iya yah... * jawabku

   *Iya om silahkan" jawab Adit

   " Serius Dit nggak ngomong macam macam? " Aku setengah berbisik menanyakan pada Adit saat ayah sudah masuk ke ruang tengah.

    "Serius."

    " Kok kamu kaya tegang? "

    " Nggak kok. "

   " Ayo lah Dit ngomong aja jujur sama aku".

      " Sebenarnya tadi aku ngomong sama om kalo aku mau ngelamar kamu". Ucapannya jujur membuat ku sangat kaget. "Tapi ditolak sama ayah mu". Sia melanjutkan setelah jeda beberapa detik dan menarik nafas dalam.

   Pengakuan selanjutnya membuatku lebih kaget lagi. Masalahnya selama ini dia sepertinya tidak keberatan kalau aku deket sama Adit. Tapi ini kok di tolak.

   " Beneran?" ucapku setelah bisa menetralisir rasa kaget itu." Ah bohong pasti" Aki Maria tak percaya.

" Sejak kapan aku suka bohong? Bukannya sejak awal aku juka udah serius? "

" Hmm...iya sih. Emangnya kamu bilang apa sama ayah? "

" Ya aku bilang Mau ngelamar kamu lah. "

" Teris ayah kawan apa? "

" Dia bilang jalani aja Dulu. Tak perlu buru buru. Nikah kan perlu siap semuanya. Siap lahir batinnya. jalani Dulu sambil memantapkan hati kalian. Nanti Kalo udah benar benar mantep Dan benar benar siap baru nikah. Ayah setuju aja kok".

"Sebenarnya yang di katain ayah benar sih... " Aku sedikit berfikir " Itu namanya bukan nolak Dit, tapi memberi kesempatan untuk berpikir lagi" Aku mencoba memahami maksud ayah.

" Tapi kamu Mau kan? Anggap aja kita taaruf".

" Ok.. Aku Mau. Seperti Kata ayah kita mantapkan hati Dulu"

Adit mengangguk pelan mengerti maksud Ku.

" Ya udah sih..Jangan cemberut aja. Buktikan keseriusanmu."

"Siap Ra... " ucapnya mantap penuh semangat"Tunggu aku ya Ra. "

" Emang Mau kemana? " ku coba mencairkan suasana.

"Mau ke Makkah berdoa sama Allah biar bisa nikah in kamu secepatnya" Waduh....

" Nggak usah kaget gitu. Aku nggak Akan pergi ke mana mana kok. Disini aja sama kamu. Ke Makkah nya ntar bareng Kalo udah nikah. hahaha"

Pipiku menghangat mendengar penuturannya. Mungkin udah bersemu merah.

" Kok diam? " Tanyanya Karena Aku hanya diam mencerna ucapannya

" Iya... hmmm.... Semoga Allah ngasih jalan terbaik buat kita. " Do Aku sungguh sungguh. Karena sesungguhnya Aku memang sangat mengharap pasa hubungan ini.

" Amin... "

" Ya udah Aku pulang Dulu. Udah malam banget ini. Kamu istirahat sana".

"Iya hati hati di jalan Dit"

Akhirnya dia Sudah pulang, tapi masih menyisakan sesuatu di benak ku. 'Aku harus ngomong sama ayah'. Tapi ketika Aku masuk ke dalam rumah, suasana sepi tak ada orang. Mungkin Sudah pada istirahat. Akan Aku bicarakan Dengan ayah besok sama.

Hati ini terlalu banyak kejutan membuatku sulit memejamkan mata walaupun badan ini Sudah meminta istirahat. Pun hari sudah mulai larut. Banyak hal berkecamuk di hati ku. semoga hal baik lah yang Akan terjadi. Semoga jalan terbaik yang Allah berikan pada Aku...

1
Jun
ceritanya bagus, tapi tanda bacanya di revisi lagi kak masih berantakan. semangat ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!