NovelToon NovelToon
What We Were Never Given

What We Were Never Given

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst
Popularitas:169
Nilai: 5
Nama Author: Oryelle

Nareya, anak sulung bermimpi meniti karir di dunia fashion, harus merelakannya demi menjadi tulang punggung keluarga. Terlahir untuk berjuang sejak dini membuat dia tidak tertarik soal pernikahan.

Tidak menikah, berkecukupan, dan bisa membahagiakan keluarganya adalah keinginan sederhana Nareya. Tapi siapa sangka, dia justru menyetujui perjanjian pernikahan dengan mantan Bosnya?

Kala terlahir berdarah campuran membuatnya dicap sebagai noda. Demi pengakuan para tetua, dia menyeret Nareya dalam sebuah perjanjian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oryelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Terjaga sampai pagi

Aroma kopi menguar di seluruh ruangan. Barista sibuk membuat kopi. Jam pulang kantor selalu jadi waktu membludaknya pesanan. Wajah-wajah serius, mengeras oleh urusan pekerjaan bergantian masuk, kemudian dengan cup kopi di tangan.

Tidak jauh berbeda dengan Nareya yang kehabisan cara untuk bisa mengembalikan uang Kala. Hari terakhir waktu yang diberikan Kala. Berdiri di balik meja bar, Nareya berulang kali mengecek ke arah pintu masuk. Sudah sore menjadi semakin sedikit yang melewati pintu itu.

“Rey pesen kopi kaya biasa” ucap Agis.

Nareya menghembuskan napas, setelah mengetahui yang masuk ternyata Agis.

“Yang basic aja ya gue lagi males bikin latte art” jawab Nareya.

“Kenapa lagi lu? Suram amat muka lu”

“Suram? Yaelah muka yang suram tau! Nyari kopi karena lo juga lagi buntu kan?”

“Jujur iya, haha.”

“Nih udah jadi kopinya.” ucap Nareya. Menyuguhkan kopi ke Agis yang duduk di depannya.

“Gimana, gimana? Gantian lo yang cerita ke gue.”

“Orang tua gue jodohin gue sama cewe, tapi gak gue gak tau. Keluarga cewe itu ke rumah gue. Posisinya orang tua gue bilangnya gue yang minta kenalan. Ya hidup gue emang haha hihi mulu. Tapi soal nikah ini tanggung jawab gede Rey, rasanya gak bisa gue kalo main-main sama hidup orang.”

Nareya hanya mendengarkan Agis, meski dia juga butuh didengarkan saat ini. Tapi dia memahami sepertinya Agis sedang di kondisi yang sama beratnya. Sampai Agis bercerita panjang seperti itu.

Agis menyeruput kopinya, sekedar untuk meringankan kepalanya, ”Gue sebenernya ada satu yang kayaknya gue nyantol sama ini cewe. Kadang gue sebel, kadang gue peduli berlebihan. Tapi gue kayaknya gak mampu untuk bikin dia percaya bakal bahagia hidup sama gue.”

“Siapa sih, gue kenal cewe itu gak? Ya singkat aja, lo perjuangkan!”

“Ah, gue aja meragukan diri gue sendiri. Dia punya banyak cita-cita, yang gue sebagai laki-laki pengen wujudkan itu semua buat dia. Tapi hidup gue aja ngepas doang Rey.”

“Ya suruh sabar itu cewe buat nunggu lo. Emang siapa sih?”

“Kepo lo! Gue mikir nanti aja lah pas mau tidur. Biar kalo cape gue tinggal tidur.”

“Dih, yaudah kalau gak mau kasih tau. Yakinkan diri lo sebelum lo ambil keputusan,” lanjut Nareya “Pernikahan ya, memang udah saatnya mikir ke sana. Tapi gue gak membayangkan hidup gue punya fase pernikahan”

“Gak asik banget lo, masa iya gak nikah? Udah lo mau cerita apa?”

“Gue gak pengen lo makin stres. Ini aja gue butuh pendapat lo soal temen gue, dia udah ditolong sama orang nih. Tapi tau, kalau itu gak mungkin pertolongan gratis. Aura orang ini tuh terlalu bahaya, sampai di pikiran temen gue ada skenario kemungkinan terjahatnya,”

“Misalnya, temen gue bakal dimanfaatkan. Mungkin bakal dijadikan babu atau apa gitu. Menurut lo gimana?”

“Pertolongan itu bentuknya apa? Kalau uang, buat gue itu lebih masuk akal untuk gue kembalikan supaya dia gak punya kuasa atas gue”

“Iya kan—gue juga bilang gitu ke temen gue. Masalahnya saran gue ini juga gak bisa. Nominalnya terlalu gede lah buat dia misal ambil cicilan bank atau apa.”

“Yaudah si, ambil cara licik juga kalau orang yang temen lo hadapi licik. Kalau punya kemungkinan dimanfaatkan ya cari celah buat manfaatkan balik.”

“Gue gak pernah kepikiran gitu si. Gue selalu cari jalan paling aman," jawab Nareya ringan.

“Lo? Lo atau temen lo Rey?”

“Maksudnya gue, eum—gak kepikiran ngasih saran ke temen gue buat ambil jalan licik. Karena kalau gue selalu cari jalan yang gak terjal.” ralat Nareya.

“Oo paham. Tapi Rey kadang hidup memang gak selalu bisa ambil jalan mulus. Kadang adakalanya harus ambil jalan terjal meski lo bakal luka-luka. Yah siapa tau di ujung jalan itu ada obat luka nya sekaligus solusi dari masalah hidup kita.Itu namanya untung, meski berat. Dari pada jalan mulus tapi hidup stuck”

“Oke nanti gue kasih tau ke temen gue. Emang bener si, hidup gak mungkin bakal enak terus, pasti ada gak enaknya. Tapi kalau hidup gue perasaan gak enak terus ya, haha”

“Haha, sini gue bantu pikul kalo hidup lo berat.”

“Halah, udah jam tutup cafe. Gue nebeng pulang ya?”

“Ayok!”

Nareya segera menutup cafe. Karyawan lain bahkan sudah pulang mendahuluinya saat dia masih mendengarkan Agis bercerita.

***

Bos Menyebalkan

Masih ingat janji kamu kan? Sudah lewat ini.

^^^Nareya^^^

^^^Iya, saya minta maaf. Saya pasti kembalikan, tapi saya mohon untuk diberi perpanjangan waktu^^^

Bos Menyebalkan

Setelah kamu pulang bekerja, jam lima sore saya jemput di cafe. Kita bicarakan langsung.

^^^Nareya^^^

^^^Baiklah, sekali lagi saya minta maaf.^^^

Nareya benar-benar terkejut ketika mendapat pesan itu. Tapi untung saja mantan bosnya itu tidak memaksanya untuk mengganti uangnya sekarang juga. Setidaknya malam ini dia bisa mempersiapkan diri untuk besok hari.

Seperti tidak terjadi apapun orang tuanya sedang bersantai menonton televisi. Adik-adiknya sedang berada di kamar mengerjakan tugas sekolah. Nareya memutuskan untuk

"Mah, Nareya benar-benar kecewa. Tujuh puluh lima juta coba bayangkan!" ucap Nareya. Suaranya pelan, tapi penuh penekanan.

"Itu mama kena tipu membeli tas. Bu Santi kabur membawa uang arisan itu" jawab Sundari.

"Aku kerja menghidupi semuanya, bahkan tidak pernah terbesit niatan untuk menggunakan hasil kerja kerasku untuk keperluan pribadi. Tapi mama...!"

Nareya menjaga suaranya agar tidak terdengar adiknya, "Sudahi arisan itu, tidak ada lagi!"

"Tapi nanti mama tidak punya teman Nareya, maafkan mama"

"Kamu tidak menghargai Nareya yang sudah bekerja keras, malah membeli tas mahal" ujar Wira kepada Sundari.

"Nareya kamu punya uang sebanyak itu kah? lebih baik dipinjamkan ke bapak untuk usaha bengkel"lanjut Wira kepada Nareya.

"Papa juga sama saja! Nareya hutang tujuh puluh lima juta. Bagaimana cara mengembalikanya?!"teriak Nareya.

"Nareya sudah dipecat dari kantor! Gaji Nareya sekarang tidak lah banyak.Tapi papa masih saja menganggap seolah ini tanggungjawab Nareya!"

"Kami menguliahkanmu kan ?! Papa tidak kuliah tapi bisa membesarkanmu dan membiayaimu sekolah sampai pendidikan tinggi."

"Nareya kuliah dengan beasiswa, itu juga harus sambil bekerja untuk bisa membantu keuangan keluarga."

"Nareya sudahlah, kamu belum juga paham bagaimana perjuangan orang tua membesarkanmu. Sekarang sudah besar kamu merasa semua itu hasil perjuanganmu sendiri. Bahkan kamu bisa teriak ke kami" sentak Sundari.

"Kamu malas atau bagaimana sampai bisa dipecat dari pekerjaan mu?"

"Yang malas itu papa, tidak bekerja, bukan Nareya!"tunjuk Nareya ke Wira.

"Berani kamu ya!"

Plak...

"Papa... aaa hiks hiks aaa.." histeris Athaya.

Athaya, setengah badanya terlihat dari celah pintu yang terbuka. Berdiri kaku melihat Kakaknya di tampar oleh papanya.

Nareya memegangi pipi kirinya. Air matanya mengalir dengan deras. Tanpa isakan, tanpa suara dia menangis menatap papanya sangat lama.

Dia disakiti dari semua sisi—emosional, psikologis, bahkan fisik. Sampai 'diam' menjadi bentuk pertahanan. Menelan semua rasa itu, menekanya dalam-dalam, seolah dia tidak pantas untuk membela.

Malam itu justru menjadi malam yang panjang. Nareya terjaga sampai pagi hanya menatap langit-langit. Sunyi nya malam tidak mampu membuatnya tenang terlelap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!