NovelToon NovelToon
TAHTA YANG DICURI

TAHTA YANG DICURI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:99
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Menceritakan tentang Baskara, seorang cowok yang berencana merebut kembali perusahaan milik mendiang sang ibu.

Setelah sang ayah menikah lagi, perusahaan tersebut kini dikuasai oleh Sarah, ibu tiri Baskara. Tak terima dengan keputusan ayahnya, Baskara pun merencanakan balas dendam. Ia berusaha mendekati Sarah.

Di luar prediksi, Baskara justru terpikat pada Alea, anak yang dibesarkan oleh Sarah. Lantas, bagaimana akhir rencana balas dendam Baskara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Bawah Langit yang Sama

​Mobil Toyota Avanza hitam dengan pelat nomor palsu itu melaju konstan di jalur luar lingkar Jakarta. Di dalamnya, suasana begitu hening hingga suara gesekan ban dengan aspal terasa seperti dengung yang memekakkan telinga. Reno fokus menatap jalanan, sementara tangannya sesekali membetulkan posisi earpiece yang terhubung ke pemindai frekuensi polisi. Di kursi belakang, Alea meringkuk, menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin. Air matanya sudah kering, namun matanya menatap kosong ke arah deretan lampu jalan yang melintas cepat.

​Baskara yang duduk di samping kemudi, terus memandangi layar tablet di pangkuannya. Ia memantau pergerakan bursa saham dan media sosial. Video itu belum muncul di televisi nasional—para pimpinan redaksi pasti sedang melakukan verifikasi hukum yang ketat karena materi video tersebut sangat sensitif—namun di dunia maya, spekulasi mulai menggila.

​"Bas," panggil Reno pelan, suaranya parau karena kurang tidur. "Kita tidak bisa terus berputar-putar di jalan tol. Bahan bakar kita sisa seperempat, dan cepat atau lambat, kamera e-TLE akan mengenali siluet kita meskipun pelat nomornya sudah diganti."

​Baskara menghela napas, jemarinya memijat pangkal hidungnya. "Keluar di pintu tol berikutnya. Kita menuju ke arah Bogor. Ada sebuah vila tua milik mantan sopir ibuku yang sudah lama meninggal. Rumah itu masih atas nama ibuku, tapi tidak terdaftar dalam aset Mahardika Group karena dibeli secara pribadi. Sarah tidak tahu tempat itu."

​"Oke. Bogor," jawab Reno singkat, lalu memutar setir saat melihat papan penunjuk jalan.

​Alea tiba-tiba bergerak. Ia menegakkan punggungnya, menatap punggung kursi Baskara. "Baskara... apa yang akan terjadi pada Ayah?"

​Pertanyaan itu membuat Baskara terdiam sesaat. "Ayahmu?" Baskara menekankan kata itu dengan nada sinis yang tak tertahan. "Pria yang di video tadi? Dia akan menghadapi konsekuensi yang tertunda selama tiga puluh tahun, Alea. Jaksa tidak akan memberi ampun untuk bukti sejelas itu."

​"Aku tahu dia bersalah," suara Alea bergetar, "tapi aku masih tidak bisa menghapus ingatan tentang dia yang mengajariku naik sepeda, atau bagaimana dia selalu membawakanku boneka setiap kali dia pulang dari luar negeri. Bagaimana bisa seseorang menjadi ayah yang lembut sekaligus pembunuh yang kejam di saat yang sama?"

​Baskara menoleh sedikit, menatap Alea dari sudut matanya. Ia melihat kerapuhan yang luar biasa. "Itulah kejahatan yang sesungguhnya, Alea. Mereka tidak selalu tampak seperti monster. Kadang mereka memakai wajah malaikat agar korban mereka tidak pernah curiga sampai semuanya terlambat. Itu yang terjadi pada ibuku. Dia mencintai pria itu sampai napas terakhirnya, tanpa tahu bahwa pria itulah yang memadamkan cahayanya."

​Alea memeluk lututnya. "Jadi, selama ini hidupku adalah sebuah kompensasi? Sarah mengadopsiku, memberiku kemewahan, menyekolahkanku ke sekolah terbaik... itu semua hanya untuk menenangkan rasa bersalahnya?"

​"Atau untuk menjagamu tetap berada di bawah kendalinya," sahut Baskara dingin. "Jika kau berada dekat dengannya, kau tidak akan pernah mencari tahu tentang orang tuamu. Kau adalah trofi kemenangannya atas masa lalu yang dia hancurkan."

​Percakapan itu terhenti saat mobil mulai memasuki jalanan menanjak yang berkelok-kelok di kawasan pinggiran Bogor. Pepohonan besar di sisi jalan membuat suasana semakin gelap. Hujan mulai turun kembali, kali ini lebih deras, membasuh kaca depan mobil dengan kasar.

​Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, mereka tiba di sebuah gerbang kayu yang sudah lapuk dan tertutup semak belukar. Reno turun untuk membuka gembok yang sudah berkarat, lalu mobil itu masuk ke halaman luas yang tidak terawat. Di tengahnya berdiri sebuah rumah kayu bergaya kolonial yang tampak suram di bawah guyuran hujan.

​Mereka segera masuk ke dalam rumah. Bau debu dan kayu tua menyambut mereka. Baskara menyalakan lampu ruang tengah yang remang-remang. Tidak ada kemewahan di sini. Hanya ada kursi jati tua dan beberapa foto pudar di dinding.

​"Reno, pasang perimeter pengaman di sekitar gerbang. Jangan gunakan Wi-Fi rumah ini, tetap gunakan satelit," perintah Baskara.

​Reno mengangguk dan segera bergerak menuju teras belakang.

​Alea berdiri mematung di tengah ruangan. Tubuhnya menggigil karena jaketnya yang basah. Baskara memperhatikannya sejenak, lalu berjalan ke sebuah lemari tua. Ia mengeluarkan sebuah selimut wol tebal yang masih terbungkus plastik, sedikit berbau kapur barus namun bersih.

​"Pakai ini," ujar Baskara sambil menyerahkan selimut itu.

​"Terima kasih," bisik Alea.

​Baskara pergi ke dapur dan kembali dengan dua gelas air hangat. Ia duduk di kursi kayu di depan Alea. Untuk pertama kalinya sejak pelarian mereka, tidak ada monitor yang menyala di antara mereka. Hanya ada suara hujan yang menghantam atap seng.

​"Kenapa kau menyelamatkanku, Bas?" tanya Alea tiba-tiba. Matanya menatap tajam ke dalam mata Baskara. "Jika tujuanmu adalah menghancurkan Mahardika, kau bisa meninggalkanku di gubuk Handoko atau membiarkan polisi menangkapku. Keberadaanku hanya akan memperlambatmu."

​Baskara menyesap air hangatnya, membiarkan uapnya menghangatkan wajahnya. "Awalnya, memang itu rencananya. Aku ingin menggunakanku untuk memancing Sarah keluar. Bagiku, kau adalah sandera yang sempurna."

​"Lalu apa yang berubah?"

​Baskara meletakkan gelasnya. Ia menatap dinding yang kosong, seolah melihat bayangan masa lalu. "Saat aku melihatmu menangis di apartemen tadi... aku melihat diriku sendiri. Lima tahun lalu, saat aku berdiri di depan makam ibuku sementara Sarah berdiri di samping ayahku sebagai nyonya baru di rumah kami. Rasa sakit karena dikhianati oleh orang-orang yang seharusnya melindungimu... itu adalah jenis luka yang tidak ingin kulihat pada siapa pun lagi. Bahkan padamu."

​Alea terdiam. Penjelasan itu lebih jujur dari yang ia harapkan. Ia bisa merasakan sisi kemanusiaan Baskara yang berusaha disembunyikan di balik topeng dendamnya.

​"Aku minta maaf, Bas," ujar Alea pelan.

​Baskara mengernyit. "Untuk apa?"

​"Untuk menjadi bagian dari kebohongan itu. Untuk menikmati kemewahan yang seharusnya milik ibumu. Untuk tidak menyadari bahwa kebahagiaanku dibangun di atas penderitaan orang lain."

​Baskara menggeleng pelan. "Kau tidak tahu apa-apa saat itu. Kau hanyalah anak kecil yang kehilangan segalanya, sama sepertiku. Jika ada yang harus bertanggung jawab, itu adalah mereka yang berada di menara Mahardika sekarang."

​Tiba-tiba, suara Reno terdengar dari arah teras. "Bas! Cepat ke sini! Beritanya sudah pecah!"

​Baskara dan Alea bergegas menuju meja kerja Reno. Di layar monitor, sebuah kanal berita nasional sedang menyiarkan "Breaking News". Presenter berita tampak tegang.

​"...sebuah rekaman video mengejutkan yang melibatkan petinggi Mahardika Group baru saja tersebar luas. Dalam rekaman tersebut, terdengar percakapan mengenai pengalihan aset secara ilegal dan konspirasi kecelakaan maut tahun 1995. Pihak kepolisian baru saja mengonfirmasi bahwa mereka sedang menuju kediaman Hendra Mahardika untuk melakukan penjemputan paksa..."

​Kamera berpindah ke depan gerbang mewah rumah ayah Baskara. Puluhan wartawan sudah berkumpul di sana. Mobil-mobil polisi dengan lampu sirine yang menyala terang mulai memasuki halaman.

​"Lihat itu," Reno menunjuk ke sudut layar.

​Seorang wanita keluar dari pintu utama dengan kawalan ketat pengawal pribadi. Itu Sarah. Namun, ia tidak menangis seperti di siaran tadi sore. Wajahnya datar, matanya tertutup kacamata hitam besar. Ia berjalan masuk ke dalam mobil limosinnya, mengabaikan semua pertanyaan wartawan.

​"Dia melarikan diri," desis Baskara. "Dia tahu polisi tidak akan bisa menahannya tanpa surat perintah penangkapan yang spesifik untuk namanya, karena di video itu yang paling jelas terlibat adalah ayahku."

​"Dia akan meninggalkan Ayah sendirian untuk menanggung semuanya," Alea menyimpulkan dengan ngeri.

​"Tentu saja. Itulah Sarah. Dia akan mengorbankan bidak terbesarnya demi menyelamatkan rajanya... atau dalam hal ini, dirinya sendiri," ujar Baskara. Ia mengepalkan tangannya. "Reno, lacak posisi mobil limosin itu. Dia pasti punya tempat persembunyian lain."

​"Sedang kulakukan, Bas. Tapi dia menggunakan alat pengacak sinyal di mobilnya. Aku hanya bisa melacaknya lewat jaringan CCTV jalan raya," sahut Reno.

​Baskara menoleh pada Alea. Wajah Alea kini tidak lagi menunjukkan ketakutan, melainkan sebuah tekad yang baru.

​"Dia tidak boleh pergi begitu saja, Bas," ujar Alea tegas. "Dia yang membunuh orang tuaku. Dia yang menghasut ayahmu. Dia adalah otak dari semua ini."

​Baskara menatap Alea dengan bangga yang terselubung. Gadis kecil itu akhirnya bangun. "Dia tidak akan pergi jauh, Alea. Aku sudah menyiapkan jaring di tempat yang tidak dia duga. Tapi untuk sekarang, kita harus menunggu. Biarkan publik menghancurkan reputasinya lebih dulu. Biarkan dia merasakan bagaimana rasanya menjadi buronan di negaranya sendiri."

​Malam itu, di rumah tua di Bogor, mereka bertiga terjaga. Di luar, hujan badai masih mengamuk, namun di dalam, api perlawanan baru saja berkobar lebih terang. Mereka tahu, perjalanan mereka masih sangat panjang, dan Sarah Mahardika tidak akan jatuh semudah itu.

​Baskara duduk kembali di kursinya, matanya terpaku pada layar yang menunjukkan polisi membawa ayahnya keluar dari rumah dengan tangan terborgol. Satu bab dari dendamnya telah tertutup, namun bab yang sebenarnya tentang Sarah... baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!