Salma tidak pernah merasakan seperti apa itu pacaran. Setiap kali dirinya menyukai seseorang, pasti orang yang dicintainya itu tidak pernah membalas perasaannya, hingga akhirnya selalu berujung kepada cinta bertepuk sebelah tangan. Sekalinya pacaran, justru disakiti. Hingga ia mati rasa kepada pria mana pun.
Namun anehnya, setelah mendapati satu murid yang pintar, cerdas, manis dan memiliki kharismatik sendiri, Salma justru terjebak dalam cinta itu sendiri. Layaknya dejavu yang belum pernah ia lewati. Bersama Putra, Salma merasa bahwa ia kembali pada titik yang seharusnya ia miliki sejak dulu.
Menentang takdir? Bodo amat, toh takdir pun selalu menentangnya untuk merasakan seperti apa ia benar-benar dirinya dicintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
VILA YANG DIPESAN ERWIN
Usai kurang lebih dua jam perjalanan menuju Puncak, mobil akhirnya berhenti di sebuah vila yang berdiri tenang di kawasan perkebunan teh.
Hamparan hijau membentang sejauh mata memandang, berundak mengikuti kontur bukit yang menjulang, seolah menyentuh kabut tipis yang menggantung rendah. Udara terasa lebih dingin, bersih, dan lembap, membawa aroma tanah basah serta daun teh yang segar.
Jauh dari hiruk pikuk yang berisi, Vila itu sendiri tampak menyatu dengan alam—bangunan berwarna netral dengan teras menghadap lembah, dikelilingi pepohonan tinggi yang bergoyang pelan tertiup angin pegunungan.
Meski liburannya dekat dan tak ingin banyak permintaan, Manda sudah cukup senang bisa berasa dekat dengan Erwin sekarang. Sebab, satu keinginan untuk bisa merasakan suasana sejuk ke Puncak bersama kekasihnya itu akhirnya baru bisa terlaksana sekarang ini.
"Gimana, sayang? Kamu suka?" Kata Erwin ketika mereka beringsut turun dari mobil. Ia menuju bagasi dan mengeluarkan barang-barang mereka, sementara wanita itu menghirup udara sekitar sambil membentangkan kedua tangannya lebar.
"Aku tak akan menyia-nyiakan momen ini, sayang." Gumam Manda. "Huft... rasanya duniaku adalah duniamu juga."
Erwin tersenyum, menutup bagasi dan mendekat ke arah Manda sambil membawa dua koper besar milik mereka masing-masing. "Dunia kita yang sebenarnya ada di dalam sana, sayang." Bisiknya menggoda, sementara matanya menatap lurus vila yang kini tengah mereka datangi.
Hingga keduanya berjalan menuju beranda. Derit kayu lantai vila terdengar pelan, berirama di setiap langkah, memecah sunyi sore yang menggantung di antara hamparan hijau.
Angin pegunungan menyapu beranda, membawa hawa dingin yang menusuk pelan. Saat itu juga, Manda memeluk Erwin manja dari belakang saat pria itu tengah sibuk mencari kunci bila lalu membukanya. "Dingin, sayang..."
Erwin tertawa dan membawa Manda serta merta koper mereka mulai masuk ke dalam vila. Pintu ia kunci dari belakang dan menuntun Manda menuju kamar mereka. "Tenang sayang... aku akan segera menghangatkanmu."
"Mas..." Lirih Manda.
"Ya?"
"Apa bersama Salma kamu pernah seperti ini? Liburan bersama... menikmati waktu berdua?"
Erwin mendesis. Ia mulai membawa Manda masuk ke salah satu sebuah kamar utama. Ukurannya luas dan nyaman. Di sana ada sebuah ranjang tidur berukuran double, lengkap dengan lemari, nakas, dan sebuah sofa yang menghadap ke arah jendela dan balkon kamar.
Erwin kemudian duduk di sofa, menjatuhkan tubuh tegapnya dengan santai, seakan menghilangkan rasa penatnya selepas berjam-jam ia menerobos kemacetan di sepanjang jalan tadi.
"Sayang, jawab dong!" Desak Manda. Tanpa permisi, ia menempatkan bokongnya di pangkuan Erwin. Sebelah tangannya kini mulai sibuk memainkan kancing kemeja Erwin. Sementara tangan lainnya menangkap ruas-ruas jemari kokoh kekasihnya itu.
"Tidak pernah, sayang." Jawab Erwin dengan lembut, membisik ke telinga Manda.
Manda sedikit menggelinjang saat merasakan napas Erwin menyapu lehernya yang setengah terbuka. "Kamu menjawab itu hanya untuk menghiburku saja kan?" Tanggapnya. "Memangnya, kamu dulu bulan madu dengan dia kemana, sayang?"
Manda memposisikan duduknya lebih nyaman, membelai rambutnya sendiri— menyingkirkan helai rambutnya ke belakang dan kini nampak baju polosnya yang benar-benar terbuka oleh balutan full skirt dress yang sengaja ia kenakan dari rumah. Sungguh, ia tak merasa khawatir akan kedinginan. Seperti cara di sengaja agar Erwin bisa merasakan hangat sensasi tubuhnya yang mulus tanpa cela.
Erwin melempar senyum, satu jemarinya dengan lembut membelai leher Manda lalu turun ke bahu dan dada. Hingga membuat wanita dihadapannya itu mulai melingkarkan lengan ke lehernya sambil sesekali memejamkan mata. "Kenapa kamu bertanya tentang itu sekarang, sayang?" Lirihnya. "Hari ini tentang kita. Bukan tentang aku dengan dia. Yang penting sekarang adalah kamu."
Manda melenguh, ia hanya tersenyum. Tubuhnya yang sedari tadi dekat mulai semakin condong ke depan. Wajahnya sedikit turun dan dekat ke wajah kekasihnya.
Erwin tidak membiarkan momen itu menggantung. Ia menyambut gerak condong tubuh Manda dengan melingkarkan lengannya di pinggang wanita itu, menariknya sedikit lebih rapat hingga tak ada lagi celah yang memisahkan mereka.
Suasana kamar yang tadinya hening kini dipenuhi oleh deru napas yang memburu. Ciuman Erwin sama sekali tak memberi ruang bagi Manda untuk menghirup udara. Jelas, sebuah pagutan yang lapar, penuh tuntutan, sekaligus sarat akan kerinduan yang telah lama mereka pendam.
Tanpa memutuskan kontak bibir mereka, Erwin menyusupkan lengannya ke bawah lekuk lutut dan punggung Manda. Dengan satu gerakan mantap yang dominan, ia membopong tubuh wanita itu ke dalam dekapannya. Sementara, Manda yang masih mengalungkan lengannya ke leher Erwin, jemarinya meremas rambut di tengkuk pria itu, seolah takut tautan mereka akan terlepas meski hanya sedetik.
Begitu Manda dibawanya melintasi lantai kamar yang remang, tercium aroma parfum maskulin Erwin bercampur dengan nafas yang kuat membuat kesadaran Manda kian menipis. Setiap langkah Erwin terasa begitu penuh intensitas, hingga akhirnya punggung Manda merasakan kelembutan sprei sutra saat pria itu merebahkannya dengan sangat hati-hati di atas ranjang.
Perlahan, Erwin mengunci Manda. Ia memposisikan dirinya di atas tubuh yang selalu ia bayangkan di setiap malam, menumpu berat badannya dengan kedua lengan agar tidak sepenuhnya menghimpit wanita itu.
"Kamu milikku sekarang, sayang." Bisik Erwin di telinga Manda. Ia lalu mencium bahkan sesekali menjilati liar leher Manda.
Sentuhan itu membuat Manda tersentak, sebuah lenguhan halus lolos begitu saja dari bibirnya. Seolah terpancing oleh debar jantung yang kian memburu, jemarinya bergerak refleks, gemetar namun cepat dan pasti ketika mulai menanggalkan kancing kemeja Erwin satu demi satu.
Erwin pun demikian. Di antara tatapannya yang dalam—menuntut kejujuran yang selama ini terpendam, dengan gerakan tangkas, ia melepaskan sisa penghalang di antara mereka, hingga akhirnya keduanya terdedah sepenuhnya, polos tanpa sehelai benang pun seperti bayi yang baru lahir ke dunia.
Di sela napas yang menderu, Manda merapatkan tubuh, membisikkan kata-kata yang selama ini menyumbat kerongkongannya. "Ini yang aku mau... bersamamu," Bisiknya parau. "Maafin aku, sayang. Maaf karena dulu sudah meninggalkanmu dan membuatmu menderita."
Erwin terdiam sejenak, menatap lekat wajah wanita di hadapannya sebelum sebuah senyum nakal terbit di sudut bibirnya. "Kalau begitu, kamu harus menerima bayarannya sekarang," Gumamnya dengan nada mengancam yang manis.
Bukannya takut, Manda justru membalas tatapan itu dengan binar menantang. Ia menyunggingkan senyum tipis yang menggoda. "Siapa takut?"
Erwin kembali bergerak. Kecupannya kini turun menyapu dada Manda, setiap sentuhannya terasa dalam dan menuntut, seolah ingin menyesap habis seluruh kesadaran wanita itu. Ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh Manda yang memabukkan—perpaduan antara wangi parfum yang memudar dan aroma kulit yang alami. Dengan satu gerakan dominan, Erwin mengunci kedua pergelangan tangan Manda di atas kepala, sementara jemarinya yang lain mulai menjelajah dengan posesif, membuat napas kekasihnya itu tertahan.
"Ah..." Desahan Manda akhirnya pecah, menggema lirih di antara deru napas mereka yang kian memburu sambil melengkungkan tubuhnya secara refleks. "Sayang..."
Mendengar suara Manda yang selalu terngiang-ngiang, yang selalu menyiksa di setiap malamnya, kini terdengar begitu dekat dan nyata. Detak jantung Erwin yang berdentum keras terasa kontras dengan kulit Manda yang lembut. Ia tak ingin kehilangan kesempatan ini. Setiap sentuhan dilakukan dengan tempo yang sengaja diperlambat, menyiksa namun sekaligus memuja.
Manda hanya bisa memejamkan mata, membiarkan kesadarannya hanyut dalam pusaran rasa yang diciptakan Erwin. Di bawah kungkungan tubuh pria itu, ia merasa begitu kecil namun sekaligus sangat berkuasa.
Ia merasa tak berdaya, namun di saat yang sama, merasa menjadi satu-satunya pusat semesta Erwin. Sebuah penyerahan diri yang utuh mulai mengalir di tengah deru napas yang kian kacau. Awalnya, sensasi itu datang seperti desiran halus, sentuhan jemari Erwin yang merayap di bawah perutnya menciptakan rasa geli yang nikmat, memicu gelombang panas yang merambat ke seluruh sarafnya. Namun, permainan itu segera berubah menjadi sesuatu yang lebih intens.
Saat Erwin mulai menekan, tidak ada rasa sakit yang menghalangi, tubuh Manda justru menyambutnya dengan akrab, seolah setiap inci dirinya memang diciptakan untuk momen ini. Lagi, ia tidak pernah memprotes, justru menekan lebih dalam, mengunci ritme yang tercipta hingga mereka bergerak seirama.
"Sayang... katakanlah, siapa laki-laki pertama yang membuatmu jatuh?" Bisik Erwin, suaranya serak, sarat dengan kepemilikan yang tajam di telinga Manda. "Kita sudah melakukan ini sebelumnya, tapi kamu tidak pernah memberikan jawaban itu."
Manda mendesah pelan, jemarinya meremas bahu kokoh Erwin saat sensasi itu nyaris mencapai puncaknya. "Kamu tidak perlu tahu... Ah...." Jawabnya dengan suara yang nyaris hilang. "Yang penting, sekarang aku..."
Jawaban itu menggantung di udara. Manda mempercepat gerakannya, menghentak seakan memaksa Erwin agar lebih dalam.
Saat itu juga, Erwin mengerti. Ia menekan Manda lebih dalam, hingga membawa mereka berdua melampaui batas kesadaran dan akhirnya jatuh bersama ke dalam jurang kenikmatan yang meledak, meninggalkan dunia nyata, kian memudar di balik pintu kamar yang sengaja Erwin pesan, tepat di hari ulang tahun pernikahannya bersama Salma.
****