Mengisahkan Livia Winarti Samego, seorang wanita 30 tahun yang harus menerima nasib bahwa ia diduakan oleh suaminya, Attar Pangestu dengan wanita lain yang tidak bukan adalah Sheila Nandhita, teman baiknya. Livia harus berjuang seorang diri dalam perpisahannya dengan Attar hingga takdir mempertemukannya dengan Ayub Sangaji, seorang mahasiswa jurusan pendidikan olahraga di sebuah kampus yang tampan dan menggoda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selepas Badai
Udara di dalam ruko yang semula harum semerbak vanila mendadak berubah menjadi anyir dan pengap. Detik-detik seolah membeku saat Sheila Nandhita melangkah maju, menyeret kakinya yang kotor di atas lantai porselen bersih toko kue Livia. Pisau lipat di tangannya berkilat dingin, memantulkan cahaya lampu gantung yang elegan.
"Liv... kue-kue ini tampak sangat manis," desis Sheila, suaranya melengking namun parau. "Tapi darahmu pasti jauh lebih manis dari semua gula di sini."
Livia mundur hingga punggungnya menghantam jajaran stoples kue kering. "Sheila, kumohon... berhenti. Kamu sakit, Sheila. Kamu butuh bantuan."
"BANTUAN?! Hahahaha!" Sheila tertawa histeris, tubuhnya berguncang hebat hingga selendangnya jatuh ke lantai. "Bantuan yang aku butuh adalah melihat jantungmu berhenti berdetak! Attar milikku! Dulu, sekarang, dan selamanya!"
Sheila menerjang dengan kecepatan yang tak terduga. Ia melompat ke atas meja kasir, mengayunkan pisau itu secara membabi buta ke arah wajah Livia. Livia menjerit, menangkis dengan kedua tangannya, bersiap merasakan dinginnya baja menembus kulitnya.
"Mbak Livia, AWAS!"
Tepat sebelum pisau itu mencapai sasarannya, Ayub muncul dari dapur belakang. Ia tidak datang dengan tangan kosong. Ia menyambar sebuah gagang besi penyangga rak kue yang sedang diperbaiki. Dengan gerakan atletis yang terlatih, Ayub memutar tubuhnya dan menghantamkan besi itu tepat ke arah lengan Sheila.
PANG!
Pisau lipat itu terpental jauh, menghantam kaca etalase hingga retak seribu. Sheila meraung seperti binatang buas yang terluka. Ia tidak menyerah; ia justru mencoba mencakar wajah Ayub dengan kuku-kukunya yang hitam dan tajam.
"Jangan sentuh dia!" bentak Ayub.
Ayub tidak memberikan kesempatan kedua. Ia melancarkan satu serangan lagi—sebuah pukulan telak menggunakan gagang besi ke arah perut Sheila, disusul dengan hantaman keras di bahunya yang membuat Sheila kehilangan keseimbangan.
BRUAK!
Tubuh Sheila menghantam deretan kursi kayu di area pengunjung sebelum akhirnya jatuh tersungkur di atas lantai semen yang keras. Ia mencoba merangkak, namun tenaganya mulai terkuras habis oleh kegilaannya sendiri. Darah mengalir dari dahi Sheila yang terbentur sudut meja, namun ia justru mulai tertawa lagi—tawa yang lebih menyeramkan dari sebelumnya.
Livia merosot jatuh ke lantai, napasnya tersengal-sengal. Seluruh tubuhnya gemetar hebat. Ayub segera membuang besi itu dan berlutut di samping Livia, mendekap bahunya dengan erat. "Mbak... Mbak tidak apa-apa? Saya di sini. Semuanya sudah berakhir."
Livia tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa menatap sosok Sheila yang tergeletak di sana, masih tertawa pelan meski tubuhnya sudah tak berdaya.
****
Hanya berselang beberapa menit, sirene polisi dan ambulans membelah jalanan Tebet. Empat orang petugas kepolisian masuk dengan senjata terhunus, segera meringkus Sheila yang masih tertawa melengking. Mereka memborgol tangannya ke belakang dengan sangat ketat.
Di saat yang sama, mobil Attar berhenti mendadak di depan toko. Ia keluar dengan wajah yang dipenuhi peluh dan kecemasan yang luar biasa. Saat ia melangkah masuk, pemandangan di depannya membuatnya terpaku.
Ia melihat Sheila yang diseret keluar oleh polisi dalam kondisi berantakan. Ia melihat Livia yang sedang ditenangkan oleh Ayub di sudut ruangan. Attar menyandarkan tubuhnya ke bingkai pintu, melepaskan napas panjang yang seolah-olah sudah ia tahan sejak dari rumah sakit jiwa.
"Ya Tuhan... terima kasih," bisik Attar lirih. Ia menutup wajahnya dengan telapak tangan, merasakan kelegaan yang luar biasa sekaligus rasa malu yang menusuk jantung. Ia melihat bagaimana Ayub menyeka air mata Livia, sebuah tugas yang seharusnya menjadi miliknya jika saja ia tidak menghancurkan semuanya.
Attar tidak berani mendekat. Ia hanya berdiri di kejauhan, menatap mantan istrinya dari balik pintu kaca yang retak. Ia tahu, meski ia ingin memeluk Livia dan meminta maaf seribu kali lagi, keberadaannya hanya akan merusak momen pemulihan Livia.
****
Di depan ruko, Dokter Kusno yang ikut dalam rombongan medis segera mendekati Sheila. Sheila sedang duduk di pinggir ambulans, kakinya bergoyang-goyang seperti anak kecil, namun tawanya tidak berhenti. Tawa itu melengking, bersahutan dengan bunyi sirene, menciptakan suasana yang begitu horor bagi para warga yang menonton dari kejauhan.
"Sheila, tenanglah. Ini obatmu," ucap Dokter Kusno dengan suara gemetar, mencoba menyuntikkan obat penenang dosis maksimal ke lengan Sheila.
Sheila menoleh, menatap Dokter Kusno dengan mata yang melotot lebar. "Obat? Hahahaha! Tidak ada obat untuk kebenaran, Dokter! Kalian pikir ini berakhir karena aku ditangkap?"
Sheila tiba-tiba menoleh ke arah toko, menatap tajam ke arah Livia dan Ayub yang berada di dalam. Ia meledak dalam tawa yang lebih keras, tawa yang penuh dengan racun dendam yang murni.
"INI BELUM BERAKHIR!" teriak Sheila, suaranya parau hingga urat lehernya menonjol. "Aku akan merayap di dalam mimpi kalian! Aku akan menjadi bayangan di setiap sudut ruangan! Selama aku masih bernapas, kalian tidak akan pernah tahu apa itu kedamaian! Hahahaha! Livia... Attar... aku masih punya satu kejutan terakhir untuk kalian!"
Tawanya baru terhenti saat cairan bening dari suntikan Dokter Kusno mulai menjalar ke pembuluh darahnya. Kepalanya terkulai, namun bibirnya masih menyeringai lebar, sebuah ekspresi kemenangan yang ganjil meski ia kembali menjadi tawanan.
****
Di dalam toko, suasana menjadi sunyi setelah Sheila dibawa pergi. Polisi mulai memasang garis polisi di sekitar area yang rusak. Ayub masih memegangi tangan Livia, memberikan kehangatan yang dibutuhkan wanita itu untuk tetap sadar.
Livia mendongak, melihat Attar yang masih berdiri di depan pintu. Tatapan mereka bertemu sejenak. Tidak ada kemarahan di mata Livia, hanya ada kelelahan yang luar biasa dan rasa hampa. Attar memberikan anggukan kecil—sebuah tanda hormat sekaligus perpisahan yang tulus—sebelum akhirnya ia berbalik dan berjalan menuju mobilnya, menyadari bahwa perannya sebagai pelindung Livia sudah resmi digantikan oleh pemuda di samping mantan istrinya itu.
Livia menyandarkan kepalanya di bahu Ayub. "Ayub... apakah ini benar-benar akan berakhir?"
Ayub meraih tangan Livia dengan lembut. "Kita akan pastikan itu berakhir, Mbak. Kita tidak akan membiarkan dia menyentuh kita lagi."
Namun, di balik kelegaan itu, kata-kata terakhir Sheila tetap menggantung di udara seperti kabut hitam yang enggan pergi. Livia tahu, meski Sheila kembali ke balik jeruji besi atau dinding rumah sakit jiwa, ketakutan itu telah menanam benihnya. Dan di dalam kegelapan selnya nanti, Sheila pasti sedang memelihara benih itu untuk menjadi badai yang lebih besar.
****
Pagi itu, ruko di sudut kawasan Tebet tersebut tidak lagi beraroma mentega manis. Bau amis dari sisa darah Sheila yang mengering di sudut lantai porselen dan aroma debu dari kaca etalase yang pecah masih tertinggal, memenuhi rongga hidung Livia saat ia membuka pintu gulung besi tersebut. Sinar matahari masuk melalui celah kaca yang retak seribu, menciptakan pola-pola cahaya yang aneh di lantai yang kini berantakan.
"Livia’s Sweet Corner" yang ia bangun dengan tetesan keringat dan harapan, kini tampak seperti medan perang. Kursi-kursi kayu yang dipilihnya dengan hati-hati kini patah, stoples-stoples kaca hancur berkeping-keping, dan tepung putih berhamburan seperti salju yang kotor di atas lantai semen.
Ia meraih sapu dan pengki dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Ayub telah menawarkan diri untuk membolos kuliah demi membantunya, namun Livia menolak dengan tegas. Ia tidak ingin menjadi beban bagi masa depan pemuda itu. Ia harus belajar berdiri di atas kakinya sendiri, meskipun kaki itu masih terasa lemas.