Nayara, gadis panti yang dianggap debu, terjebak di High Tower sebagai istri politisi Arkananta. Di sana, ia dihina habis-habisan oleh para elit. Namun, sebuah rahasia batin mengikat mereka: Luka Berbagi. Setiap kali Nayara tersakiti, Arkan merasakan perih yang sama di nadinya. Di tengah gempuran santet dan intrik takhta Empire Group, sanggupkah mereka bertahan saat tasbih di tangan Nayara mulai retak dan jam perak Arkan berhenti berdetak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Berita Hoax
Cahaya biru yang tajam membelah remang subuh di kamar utama High Tower, memantul perih pada pupil mata Nayara. Di atas sprei sutra abu-abu yang masih menyisakan hawa dingin sisa ketegangan semalam, ponsel di genggamannya bergetar tanpa henti. Layar digital itu menampilkan rentetan notifikasi dari portal berita daring dan media sosial. Foto Nayara saat berada di hutan jati Desa Sunyi, dengan pakaian yang kotor oleh lumpur dan wajah yang tampak pucat, telah dipelintir menjadi narasi yang mengerikan.
"Subjek pembawa kutukan," gumam Nayara membaca salah satu tajuk berita utama. Suaranya hampir tidak terdengar, namun ada getaran getir yang tertahan di tenggorokan.
Arkananta, yang duduk di tepi ranjang dengan kemeja putih yang sudah kusut, menoleh sekilas. Rahangnya mengunci rapat saat melihat cahaya biru itu menyinari wajah istrinya yang tampak rapuh namun berusaha tetap tegak. Ia merampas ponsel itu dari tangan Nayara dengan gerakan yang cepat tapi tidak kasar.
"Hentikan interaksi dengan perangkat ini sebelum fajar mencapai titik sempurna," suara Arkan terdengar parau, sisa dari napas manual yang ia lakukan sepanjang malam untuk menjaga resonansi batin mereka.
"Mereka melakukan agresi terhadap kredibilitas panti asuhan, Arkan. Erlangga menyebarkan narasi bahwa Ibu Fatimah menerima aliran dana ilegal untuk melakukan isolasi terhadap identitas saya. Ini bukan lagi sekadar sabotase tekstil, ini adalah upaya penghancuran martabat unit panti," Nayara menatap suaminya dengan mata abu-abunya yang mulai berpendar samar—efek dari batin yang tertekan.
Arkan meletakkan ponsel itu di atas meja nakas, membalik layarnya agar cahaya biru itu tidak lagi melukai visi mereka. Ia bisa merasakan lehernya sendiri mendadak panas, seolah ada tali tambang yang menjeratnya dengan kuat. Itu adalah Shared Scar; ia sedang menyerap jeratan opini publik yang sedang menghimpit mental Nayara.
"Bayu telah memetakan mobilisasi buzzer Erlangga sejak dua jam lalu. Mereka mengeksploitasi dokumentasi saat terjadi anomali di hutan. Konstruksi narasi mereka memosisikan Anda sebagai entitas metafisika yang melakukan manipulasi batin terhadap saya," Arkan berdiri, meskipun sendi kakinya yang terluka akibat robekan akar jati masih berdenyut nyeri.
"Lalu apa justifikasi atas keheningan Anda? Mengapa tidak dilakukan prosedur klarifikasi? Pasivitas Anda akan diinterpretasikan sebagai validasi atas fitnah tersebut."
"Dalam ekosistem politik Astinapura, klarifikasi adalah pengakuan atas kerentanan, Nayara. Melakukan sanggahan saat ini hanya akan memberikan suplai energi bagi eskalasi mereka," Arkan berjalan menuju jendela, menatap kabut yang menyelimuti gedung-gedung pencakar langit. "Kita akan mengaktifkan strategi Void Energy. Biarkan mereka memproyeksikan amunisi ke dalam ruang hampa. Saat cadangan logistik narasi mereka habis, barulah kita melakukan serangan balik."
"Namun indra perasa saya mendeteksi residu logam berkarat, Arkan. Terjadi distorsi sensorik setiap kali saya memproses data opini mereka terhadap panti," Nayara turun dari ranjang, berdiri di atas marmer dingin yang membuat telapak kakinya menggigil.
Pintu kamar diketuk dengan ritme yang mendesak. Suara Bayu terdengar dari balik pintu, terdengar teredam namun penuh ketegangan. "Lapor Tuan Muda, panggilan dari Dewan Partai memasuki fase urgensi. Mereka menginstruksikan pertemuan darurat di The Red Line pagi ini. Nyonya Besar juga telah berada di posisi ruang makan."
Arkan memejamkan mata sejenak, buku jarinya memutih saat menggenggam pinggiran meja. "Anda mendengar indikasi itu? Ibu telah menyiapkan skenario untuk menggunakan anomali berita ini sebagai pemicu terminasi hubungan kita secara formal."
"Apakah ini titik akhir dari proteksi Anda? Apakah integritas Anda akan mengalami kolaps akibat tekanan dewan?" tanya Nayara, suaranya kini terdengar lebih tenang namun mengandung tantangan yang dalam.
"Jangan melakukan penghinaan terhadap integritas Iron Bone Marrow saya, Nayara. Saya telah menyerap degradasi yang lebih ekstrem demi membawa Anda keluar dari panti," Arkan berbalik, menatap istrinya dengan tatapan yang tajam dan tak tergoyahkan. "Kenakan gaun azure hasil rekonstruksi semalam. Kita akan melakukan konfrontasi dengan Nyonya Besar dalam postur tegak. Instruksi mutlak: jangan biarkan terjadi ekskresi air mata. Air mata Anda adalah sinyal kemenangan bagi mereka."
Nayara mengangguk perlahan. Ia mengambil tasbih kayu dari nakas, merasakan butiran yang pecah itu menusuk telapak tangannya. Rasa sakit fisik itu justru membantunya tetap sadar di tengah badai emosional yang sedang mengamuk.
Makan Pagi yang Beracun
Di ruang makan High Tower yang megah, aroma kopi murni beradu dengan aroma bunga lili yang menyengat—aroma yang selalu mengingatkan Nayara pada serangan racun hiasan beberapa hari lalu. Nyonya Besar duduk di kepala meja dengan tablet digital di depannya, menampilkan grafik reputasi Empire Group yang merosot tajam.
"Ambil posisi duduk, Arkananta. Dan pastikan... subjek itu berada dalam jangkauan pengawasanmu," suara Nyonya Besar terdengar seperti gesekan pisau pada piring porselen.
Arkan menarik kursi untuk Nayara, lalu duduk di sampingnya tanpa ekspresi. Di meja sudah tersedia sarapan mewah, namun suasana terasa begitu pahit hingga makanan itu tampak seperti tumpukan batu.
"Anda melakukan observasi pada destruksi ini, Arkan? Akibat afiliasi dengan gadis panti ini, valuasi saham mengalami depresiasi lima persen pada pembukaan pasar. Erlangga berhasil membangun persepsi bahwa pewaris Empire Group mengalami disfungsi logika akibat pengaruh ghaib," Nyonya Besar melempar tabletnya ke atas meja.
"Fluktuasi pasar bersifat temporer, Ibu. Namun martabat yang dilikuidasi demi opini publik tidak memiliki nilai tebus," sahut Arkan dengan nada dingin yang stabil.
"Martabat? Masihkah terdapat sisa martabat saat visualisasi istri Anda dalam kondisi terdegradasi seperti pengemis telah menjadi konsumsi publik? Dewan Partai memberikan mandat untuk eksekusi surat cerai hari ini juga."
Nayara mengangkat wajahnya, menatap langsung ke mata Nyonya Besar. "Saya mungkin terkontaminasi residu Terra dalam dokumentasi tersebut, Nyonya. Namun integritas tangan saya bersih dari darah rakyat yang dieksploitasi demi angka di bursa saham."
Tiba-tiba, suhu di ruang makan terasa turun drastis. Arkan merasakan sensasi terbakar di punggungnya—sebuah reaksi terhadap kemarahan Nyonya Besar yang mulai memicu energi gelap.
"Berani sekali Anda melakukan proyeksi narasi rakyat di yurisdiksi rumah ini!" bentak Nyonya Besar, tangannya gemetar menahan amarah.
"Nayara hanya memaparkan fakta objektif. Dan kebenaran memang selalu terdengar korosif di telinga High Tower," Arkan menyela, tangannya di bawah meja menggenggam tangan Nayara yang dingin.
"Arkan, jika Anda tidak segera melakukan terminasi hubungan dan pemulangan subjek ke panti, saya akan mencabut seluruh otoritas logistik untuk proyek Desa Sunyi. Anda akan kehilangan status komando dalam waktu singkat."
Arkan menyesap kopinya yang sudah dingin, lidahnya merasakan getir logam yang sama dengan yang dirasakan Nayara. "Kalau begitu, lakukan inisiasi surat pencabutan tersebut, Ibu. Karena saya lebih memilih memimpin di tengah puing daripada berkuasa di atas tumpukan fitnah."
Hening yang mematikan menyelimuti ruang makan. Nyonya Besar terpaku, matanya menyipit menatap Arkananta seolah sedang melihat orang asing. Di bawah meja, genggaman tangan Arkan pada Nayara semakin erat, menyalurkan panas yang melawan dinginnya marmer High Tower. Arkan sedang mempertaruhkan segalanya—logistik, posisi politik, dan kenyamanan kasta—hanya untuk mempertahankan seorang gadis yang baru beberapa pekan keluar dari panti asuhan.
"Anda melakukan provokasi demi subjek ini, Arkan? Demi distorsi berita hoax yang mampu mengakhiri karier politik Anda secara permanen?" suara Nyonya Besar kini merendah, namun penuh ancaman yang bergetar.
"Ini bukan soal individu, Ibu. Ini soal konsistensi prinsip Iron Bone Marrow yang Anda tanamkan. Bukankah Anda yang menginstruksikan bahwa seorang pemimpin dilarang tunduk pada intimidasi lawan?" Arkan berdiri, menarik Nayara ikut bangkit bersamanya. "Erlangga menggunakan buzzer karena dia berada dalam fase ketakutan. Dia takut pada fakta bahwa saya memiliki aset yang tidak bisa diakuisisi: integritas yang menyatu dengan tanah Terra."
"Integritas tidak akan memberikan konversi suara pada pemilihan nanti!" teriak Nyonya Besar saat mereka melangkah pergi, namun Arkan tidak menoleh sedikit pun.
Mereka berjalan menyusuri lorong panjang menuju lift pribadi. Di sana, Bayu sudah menunggu dengan wajah pucat, tangannya terus menggeser layar tablet yang menampilkan video viral terbaru. "Lapor Tuan Muda, eskalasi semakin buruk. Mereka mulai mendistribusikan audio editan saat di Desa Sunyi. Frekuensi suara Anda dimanipulasi seolah-olah Anda melakukan penghinaan terhadap tetua panti."
Arkan mengambil tablet itu, matanya memindai dengan cepat. Ia bisa merasakan getaran di pergelangan tangan Nayara. Tasbih kayu di tangan istrinya itu mengeluarkan bunyi krek yang halus—sebuah tanda bahwa batin Nayara sedang berada di ambang batas.
"Bayu, siapkan unit kendaraan. Kita batalkan rute kantor partai. Tujuan utama: The Red Line sekarang," perintah Arkan dengan nada komando yang tidak bisa dibantah.
"Namun Tuan Muda, The Red Line telah dikepung unit media. Mereka menunggu Anda melakukan malfungsi prosedur. Media Erlangga telah melakukan instalasi kamera di setiap sudut," Bayu mencoba memperingatkan.
"Justru itu target operasionalnya. Kita akan memberikan suplai data yang mereka inginkan, namun dengan protokol kita sendiri," Arkan menatap Nayara. "Nayara, apakah sistem Anda siap menghadapi intensitas lampu kilat yang akan menyerang visi Anda?"
Nayara menarik napas manual yang dalam, mencoba meredakan sirkulasi darahnya yang bergejolak. "Visi saya telah memproses kebenaran yang lebih destruktif di hutan semalam, Arkan. Stimulasi cahaya kamera tidak akan mampu membutakan batin saya."
Di dalam mobil menuju zona publik, cahaya biru dari ponsel Arkan terus berkedip. Ribuan pesan kebencian masuk seperti air bah. Arkan merasakan sensasi tercekik di lehernya semakin menghebat—Shared Scar sedang mentransfer beban mental Nayara ke paru-parunya. Arkan terbatuk kering, tangannya mencengkeram dasinya yang terasa mencekik.
"Arkan, lakukan dekoneksi resonansi. Anda berisiko mengalami kolaps sebelum mencapai target," bisik Nayara cemas, tangannya menyentuh pundak Arkan yang kaku.
"Biarkan saja... biarkan stimulasi nyeri ini menjadi pengingat... mengapa saya harus menghancurkan struktur Erlangga hari ini," Arkan mengatur napas, wajahnya pucat namun matanya mendingin. "Bayu, instruksikan unit siber kita untuk tidak melakukan respon terhadap komentar apa pun. Biarkan mereka merasa mencapai puncak kemenangan. Semakin tinggi mereka melakukan elevasi fitnah ini, semakin destruktif benturan tulang mereka saat jatuh nanti."
Saat mobil memasuki kawasan The Red Line, lautan manusia dan barisan wartawan sudah menunggu. Cahaya lampu kilat kamera mulai meledak-ledak di kaca jendela mobil, menciptakan kilatan putih yang memusingkan. Nayara merasakan ulu hatinya ditinju oleh kebencian massa yang terasa seperti energi hitam yang pekat.
"Pertahankan postur punggung Anda, Nayara. Jangan melakukan kontak dengan tasbih di depan lensa mereka. Tunjukkan bahwa Anda adalah permaisuri yang tidak memerlukan belas kasihan," bisik Arkan sesaat sebelum pintu mobil dibuka.
Arkan turun lebih dulu, mengabaikan serbuan mikrofon yang nyaris mengenai wajahnya. Ia berbalik dan mengulurkan tangan pada Nayara. Di bawah sorotan ribuan lensa yang mencari celah, Arkan membimbing istrinya berjalan menembus kerumunan. Tidak ada kata-kata, tidak ada klarifikasi. Arkananta hanya berjalan dengan martabat yang sunyi, sementara di sampingnya, Nayara berdiri tegak dengan mata abu-abu yang menatap lurus ke depan—menembus segala kepalsuan berita hoax yang sedang mencoba menelan mereka hidup-hidup.