NovelToon NovelToon
Menjadi Tawanan Monster Tampan

Menjadi Tawanan Monster Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Reinkarnasi / Cintapertama
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ummu_Fikri

Seorang gadis cerdas, tetapi Cupu bertemu tanpa sengaja dengan seorang laki-laki dengan aura tidak biasa. Pertemuan itu adalah awal dari kisah panjang perjalanan cinta mereka. Laki-laki itu menunjukkan sikap tidak sukanya, tetapi dibelakang ia bak bayangan yang terobsesi pada kelinci kecil. Akankah kelinci itu terperangkap, atau justru mencoba kabur dari pengejaran si dominan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu_Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fragmen Memori

Malam itu adalah malam Jum'at paling gelap dalam hidup Sesilia Kira. Ayahnya, Bambang pulang dalam keadaan mabuk seperti biasanya dengan tubuh basah kuyup akibat hujan deras, sejak tadi sore. Wajahnya babak belur, mungkin karena dipukuli temannya atau oleh rentenir yang menagih tunggakan utangnya. Mata lelaki itu juga semerah darah, hembusan napasnya berbau alkohol pekat. Ia berjalan pincang saat kembali ke rumah.

Sesilia kecil sedang meringkuk kedinginan di teras rumah. Gadis itu baru saja di pukuli oleh Lina, ibu tirinya dan berakhir di kunci dari dalam dan tidak diberi izin masuk sampai besok pagi.

Saat sedang menangis diam-diam, ia dikejutkan oleh bentakan keras milik ayahnya.

"Dasar anak sialan!"

Mendengar itu Sesilia segera bangkit. Alarm peringatan bahaya sudah meraung-raung dalam kepalanya. Tubuh kecinya gemetar, bukan hanya karena menggigil kedinginan, tapi juga karena trauma akan pukulan sang ayah.

"A..ayah...su..sudah pulang?" Ia bertanya dengan terbata-bata.

"Tentu saja, sialan! Lihat ini, lihat!" Bambang menunjuk semua luka-luka miliknya.

"Ini semua gara-gara kamu, anak sialan! Dasar anak pembawa sial!!"

"Ampun ayah, ampun." Sesilia berteriak, memohon ampun untuk kesalahan yang tidak pernah dilakukannya. Gadis itu sudah berlutut di depan sang ayah, tangan kecilnya yang gemetaran menangkup ke depan.

"Sesi salah ayah. Tolong.... tolong jangan pukul lagi..." Pipi gadis itu sudah basah oleh air mata.

"Apa kamu bilang, anak sialan?! AMPUN!!" Bambang kembali berteriak. Lalu tanpa aba-aba lelaki itu melepas ikat pinggangnya, dalam sekali hentakan keras benda itu terlepas. Hentakan selanjutnya sudah mengarah pada tubuh kecil yang sedang berlutut di depannya. Tepat mengenai perut gadis kecil itu.

Pukulan itu, membuat tubuh Sesilia linglung sesaat. Pandangannya mendadak gelap. Napasnya terjeda, gadis kecil itu lupa cara untuk bernapas. Ia terjatuh ke lantai marmer yang dingin. Tubuhnya terkapar, mencoba meraup udara dengan kesusahan, persis seperti ikan yang diangkat paksa ke darat.

Detik-detik itu begitu menyiksa. Tubuh mungil Sesilia sedang berusaha mati-matian untuk tidak menyerah. Selama hampir setengah menit, gadis itu kehilangan napasnya. Hingga akhirnya tubuh itu kembali menarik udara panjang dari mulut.

"Haaaa....haaaaaa" Sesilia mencoba meraup udara sebanyak mungkin. Ia benar-benar hampir mati di tangan ayahnya sendiri.

Belum sempat napas itu kembali stabil, pukulan kedua kembali mendarat di tubuh itu. Kali ini mengenai punggungnya. Sedetik kemudian pukulan lain kembali mengenai paha hingga bokong gadis itu. Semua pukulan itu diterimanya tanpa suara. Hanya bunyi napas terengah-engah yang terdengar. Gadis kecil itu sudah pasrah. Jika ini memang sudah waktunya, maka ia telah siap meninggalkan kehidupannya yang suram. Berharap di alam keabadian bisa bertemu kembali dengan ibu tercintanya.

Lina, istri kedua Bambang hanya mendengar penyiksaan itu dari dalam rumah. Tidak sedikitpun berniat membantu. Wanita itu mati rasa pada anak tirinya. Hatinya yang hitam tidak memiliki sedikitpun ruang bagi gadis kecil itu. Ia malahan senang mendengar penyiksaan dan berharap agar suaminya bisa secepatnya mengakhiri nyawa parasit kecil itu.

Pasangan suami istri yang sangat serasi.

Bambang memukuli anak kandungnya, tanpa tahu bahwa gadis kecil itu juga baru saja mendapatkan luka-luka dari penyiksaan ibu tirinya. Atau mungkin Bambang hanya berpura-pura tidak tahu.

Sesilia kecil hanya bisa meraung kesakitan saat mendapatkan pukulan demi pukulan. Bibirnya berteriak minta tolong pada siapapun. Tapi, bahkan para tetangga yang menyaksikan penyiksaan itu tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka takut pada kengerian Bambang.

Seorang ibu paruh baya yang sudah tidak tahan melihat gadis kecil itu disiksa, memberanikan diri menolong. Ibu itu berlari kencang dan memeluk tubuh mungil Sesilia yang gemetaran. Melihat itu, Bambang makin murka. Lelaki kejam itu tidak peduli pada apapun dan malah menambah keras pukulannya. Ibu malang itu berteriak histeris, badannya mengalami luka-luka parah karena menjadi tameng bagi Sesilia. Kejadian itu memicu kemarahan warga setempat, bahkan sampai membawa pak RT untuk melerai. Akhirnya, malam itu Bambang dibawa paksa untuk mendekam di kantor polisi.

Hal ini terus berulang. Belum sembuh luka lama pada tubuh Sesilia, luka baru kembali di torehkan oleh ibu tiri dan juga saudara tirinya.

Kekejaman ayah dan ibu tiri Sesilia berlanjut hingga anak itu berusia sekitar lima belas tahun. Saat gadis itu akhirnya memutuskan melawan. Ia yang terusir, dengan senyum terukir di bibirnya memungut barang-barang miliknya yang dibuang Bambang. Dengan langkah kecil yang penuh harapan, gadis kecil bernama Sesilia Kira meninggalkan neraka itu. Hidup dimanapun tidak masalah baginya, asalkan jauh dari sang Ayah.

Beberapa tahun, anak kecil itu tinggal di kolong jembatan bersama para pengemis dan pemulung. Bersahabat dengan hal-hal kotor bagi kebanyakan orang. Hanya untuk bertahan hidup. Hingga akhirnya ditemukan oleh Steel Group dan mendapat beasiswa.

Tuhan juga mengirimkan hadiah, berupa sahabat cantik bernama Uni Steel.

Sesilia akhirnya bisa tersenyum cerah. Dunianya yang gelap perlahan-lahan menghilang, digantikan dengan cahaya hangat kebahagiaan.

.....

"Aku bersumpah atas nyawaku, baby girl. Penderitaanmu akan kubalas setimpal, hingga keparat itu memohon kematian dengan mulutnya sendiri." Bisik Axel Steel pada gadis yang terisak dalam tidurnya itu.

1
partini
baca sinopsisnya penasaran
Lusy Kunut: Stay tune yah kak, supaya rasa penasarannya terobati👍
total 1 replies
merdi Yanto
cuit cuit cuit😍🤣
merdi Yanto
duh🤭
merdi Yanto
Bau-bau mulai berbalas perasaannya Axel
merdi Yanto
/CoolGuy//CoolGuy/
merdi Yanto
Plot twist banget keluarganyaa
merdi Yanto
🤭🤭🤭🤭
bau bau bucin😍😄
merdi Yanto
Suka cerita dari sok benci jadi bucin akut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!