Saat si badboy jatuh cinta pada kebaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aarav Rafandra01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tugas tambahan yang canggung.
Keesokan harinya.
Kepala sekolah memutuskan untuk merapikan arsip lama yang ada di perpustakaan. Faisal, yang akhir akhir ini berubah pesat menjadi siswa teladan, ditunjuk untuk memimpin proyek itu.
Namun, ia tak sendiri. Kepala sekolah menyebut akan ada siswi yang membantunya. Tugasnya sederhana, hanya mencocokan kode kode katalog lama dengan sistem digital baru. Pekerjaan yang membosankan dan membutuhkan ketelitian luar biasa.
" Faisal, kamu rapihkan saja arsip arsip yang berantakan itu. Saya akan memanggil siswi yang akan membantu kamu. " Ucap Pak Surya, kepala sekolah.
" Baik, Pak." Faisal mengangguk dan bergegas merapihkan tumpukan berkas arsip yang sudah berdebu.
Faisal merapihkan tumpukan arsip yang berada dibagian paling ujung perpustakaan, mencoba memilah arsip arsip tersebut sesuai dari tahunnya. Sambil sesekali melirik ke handphonenya untuk melihat jam.
" Faisal, " Sapa Aruna, suaranya formal. " Kita akan kerja sama menyusun arsip ini selama tiga Minggu kedepan. "
Faisal mendongak, terkejut melihat Aruna.
" Oh iya, selama tiga Minggu kedepan. Aku udah menyiapkan daftar tugas. Kita fokus pada tugas kita masing masing, ga perlu ada interaksi lebih dari yang dibutuhkan pekerjaan. "
Aruna hanya mengangguk.
Faisal telah berhasil mendirikan tembok tebal diantara mereka. Ia memperlakukan Aruna persis seperti ia memperlakukan siswa lainnya. Penuh dengan rasa hormat, logis dan tanpa emosi sedikit pun.
Aruna sebenarnya berharap Faisal akan menunjukan sedikit sisa amarah dan penyesalannya, sedikit bara api lama, tapi yang ia dapatkan hanyalah es.
Mereka mulai bekerja. Faisal di rak paling ujung perpustakaan dan Aruna di rak lainnya. Jarak mereka tak begitu jauh, tapi tak terdengar ada obrolan apapun, hanya terdengar suara buku buku yang digeser.
Setelah beberapa saat, Aruna menemukan sebuah buku yang sudah sangat usang, sampulnya nyaris sobek.
" Faisal, " Aruna berbisik pelan.
Faisal menoleh, alisnya terangkat sedikit.
" Ada apa? " tanya Faisal, kembali ke formalitas.
" Buku ini ga ada kodenya, tapi isinya penting. " Aruna sambil menunjukan bukunya.
Faisal mendekat. Ia meneliti buku itu dengan seksama, mata mereka bertemu sejenak dan untuk sepersekian detik, Aruna melihat kilasan Faisal yang dulu. Sorot mata yang bersemangat, yang hanya menyala saat membahas hubungan dengannya.
" Ini berharga, kamu harus mendigitalkan nya utuh. Bukan cuman kodenya. " ucap Faisal, suaranya datar.
" baiklah, terima kasih. " Aruna merasa kecewa dengan jawabannya yang formal, Faisal benar benar sudah mengubur emosinya dibalik logika.
Interaksi profesional Faisal dan Aruna yang kini dekat secara fisik, mulai menguji hubungan Aruna dengan Arya.
Arya, yang logis dan terstruktur, benci dengan ketidakpastian.
" Kenapa mesti kamu yang ditugaskan sama Faisal? Maksudku, kenapa bukan siswi lain? " tanya Arya saat menjemput Aruna digerbang perpustakaan.
" Cuman kebetulan, Arya. Mungkin bagi kepala sekolah, Faisal adalah peneliti yang baik, dia juga keliatan efisien. " Jawab Aruna, membela Faisal acara profesional.
Arya mengerutkan kening,
" Aku tau sekarang dia udah berubah, sekarang dia logis dan berprestasi. Tapi masa lalu kalian.... Bukannya itu resiko emosional? "
Nada nya sedikit meninggi.
Faisal keluar dari perpustakaan. Mendekat ke arah Arya.
" Lo santai dikit kalo ngobrol sama cewe, gue udah ga ada hubungan apa apa sama Aruna. Gue juga tau dia cewe Lo, gue bukan tipikal orang yang suka ganggu hubungan orang lain. Tapi kalo sekali lagi gue liat Lo ngomong pake nada kaya gitu ke Aruna, Lo bakal ngeliat gimana Faisal yang dulu. " tegas Faisal sambil mendorong sedikit badan Arya yang menghalangi jalannya.
Arya mematung, badannya gemetar. Ia tahu masalalu Faisal seperti apa. Sedangkan Aruna, tersenyum lega mendengar perkataan Faisal yang masih memperdulikannya.
" Arya, kita cuman interaksi soal kode katalog, ga ada yang lain. Faisal udah berubah, dia malah cenderung diemin aku. " ucap Aruna.
" Bagus kalo gitu, karena buat aku. Hubungan kita adalah investasi yang udah teruji. Aku ga akan pernah ngelakuin tindakan apapun yang bikin kamu rugi, aku percaya sama kamu. Aku cuman ga percaya sama situasi. " ucap Arya, mencium punggung tangan Aruna untuk menenangkan.
Kata kata Arya terdengar masuk akal dan logis. Tapi Aruna justru merasa tertekan. Arya seperti menuntut 100% bahwa tidak akan ada emosi yang terjadi, sementara Aruna. Justru merindukan ketidak logisan dari masa lalunya bersama Faisal.
Malam yang dingin.
Malam itu, mereka harus kembali ke sekolah untuk lembur. Hanya Faisal dan Aruna yang tersisa di lorong arsip yang panjang. Lampu lorong yang berkedip membuat suasana agak mencekam dan dingin.
Aruna sedang berjuang dengan sistem database yang eror.
" Kenapa ga bisa masuk sih, padahal formatnya udah bener." Aruna Frustasi, memukul meja pelan.
Faisal yang sedang menyusun arsip arsip lama tiba tiba berhenti. Ia tidak menghakimi Aruna karena telah menganggu fokusnya. Ia hanya berdiri dibelakang Aruna, sedikit mengintip.
" Sistemnya kuno, errornya bukan karena input. Itu karena bug di compiler utama."
Faisal membungkuk, tangannya menyentuh punggung tangan Aruna diatas keyboard. Sentuhan itu hanya sebentar, hanya untuk menekan tombol enter dan shift secara bersamaan. Tapi sentuhan itu mengirimkan gelombang getaran yang hangat ke tangan Aruna. Sistem itu langsung bekerja, error nya hilang.
Faisal menarik tangannya.
" Selesai, kamu bisa lanjutin. "
Aruna menoleh, jantungnya berdebar kencang. Itu adalah sentuhan paling intim yang mereka miliki selama beberapa bulan terakhir.
" Sal,..... Kenapa kamu tau semua shortcut aneh ini? " Tanya Aruna, mengalihkan fokusnya dari sentuhan tadi.
Faisal bersandar di rak buku, tatapannya bukan dingin tapi kosong.
" Beberapa bulan ini, aku ngabisin semua waktu aku buat belajar tentang kode dan mesin komputer. Mereka lebih bisa diprediksi daripada emosi manusia, aku belajar semua celah dan bug di sistem ini. "
Faisal kemudian mengucapkan kalimat yang tidak disangka Aruna.
" Aku udah terlambat dan mungkin ga akan bisa lagi memperbaiki emosi dihubungan kita yang dulu, jadi sekarang aku lebih milih buat belajar memperbaiki bug di komputer, jadi.... fokus aku sekarang cuman disini. Di bidang ini. "
Sebuah pengakuan yang tersembunyi. Faisal mengakui kegagalan di masa lalunya, tapi ia menggunakan pengakuan itu sebagai alasan untuk menjauh, untuk tetap berada di zona stabilnya.
Aruna menatapnya, ia melihat luka Faisal yang tidak pernah hilang. Hanya tertutupi oleh lapisan kesuksesan yang sangat mengkilap.
" Faisal...."
" Selesai, Aruna" Potong Faisal, kembali ke formalitas. " kerjain sisanya besok, aku harus pulang. Arya pasti udah nungguin kamu. "
Faisal berbalik dan berjalan dengan langkah cepat meninggalkan lorong arsip yang gelap, meninggalkan Aruna. Yang kini menyadari,
- Faisal tidak setenang itu, ia hanya membangun penjara logis untuk mengunci kesedihan dan cinta nya, dan sepertinya, ia tak punya niat untuk membuka nya.
Faisal bergegas menuju parkiran, dia melihat Arya sedang duduk diatas motornya.
Arya menoleh sekilas,
" Mana Aruna?"
Faisal mengabaikan Arya dan menyalakan mesin motornya.
" Eh, Sal. Gue nanya mana Aruna! " Arya sedikit berteriak lalu menghampiri Faisal. " Gue tau masalalu Lo kaya apa, tapi itu semua. Ga akan bikin gue takut sama Lo! "
Arya mencengkram kerah seragam Faisal.
Faisal mendongak, tatapan matanya kembali ke stelan awal. Tegang dan dipenuhi amarah.
Faisal mendorong Arya hingga tersungkur. Lalu membungkuk,
" sekali lagi Lo usik ketenangan gue, gue ga akan segan segan buat ngabisin Lo! " Nadanya tajam dan mengintimidasi.
Aruna yang melihat kejadian itu langsung menghampiri. Aruna mendorong Faisal dengan kasar.
" Apa apaan sih kamu, Sal. Aku pikir kamu udah berubah, ternyata engga. Kamu sama aja kaya dulu, selalu kasar! " Aruna sedikit berteriak." Pergi sana! "
Faisal menatap Aruna dengan sorot mata yang memerah, seperti hampir menangis.
Sebelum pergi, Faisal menoleh sekilas ke arah Aruna,melempar senyum sinis. Lalu bergegas menyalakan mesin motor dan pergi meninggalkan mereka berdua diparkiran.