Di kehidupan sebelumnya, Li Hua adalah wanita yang dihina, dikucilkan, dan dianggap "buruk rupa" oleh dunia. Ia mati dalam kesunyian tanpa pernah merasakan cinta. Namun, takdir berkata lain. Ia terbangun di tubuh seorang Ratu agung yang terkenal kejam namun memiliki kecantikan luar biasa, mengenakan jubah merah darah yang melambangkan kekuasaan mutlak.
Kini, dengan jiwa wanita yang pernah merasakan pahitnya dunia, ia harus menavigasi intrik istana yang mematikan. Ia bukan lagi wanita lemah yang bisa diinjak. Di balik kecantikan barunya, tersimpan kecerdasan dan tekad baja untuk membalas mereka yang pernah merendahkannya. Apakah merah jubahnya akan menjadi lambang kemuliaan, ataukah lambang pertumpahan darah di istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitrika Shanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Permaisuri Berjalan di Atas Api
Langit di atas Ibu Kota Jing berubah menjadi kelabu pekat, bukan karena hujan, melainkan karena awan sihir yang diciptakan oleh Tuan Shen. Di depan gerbang utama "Gerbang Kemenangan", ribuan prajurit aliansi berdiri tegak dengan busur panah yang sudah terpasang. Di atas menara pengintai, Tuan Shen berdiri dengan senyum menyeringai, menanti "hantu" yang dikabarkan akan datang.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di jalanan utama yang kosong. Suaranya ritmis, tenang, namun menggetarkan tanah.
Dari balik kabut, muncullah seorang wanita. Ia tidak mengenakan baju zirah, melainkan gaun putih panjang yang berkibar ditiup angin kencang. Rambutnya yang tadinya beruban, kini kembali hitam legam dengan ujung-ujung yang berpendar emas. Di tangannya, ia memegang cermin merah Aruna yang kini telah meleleh dan menyatu menjadi sebuah tongkat pendek berwarna darah.
Itu adalah Li Hua.
Keajaiban di Depan Gerbang
"BERHENTI! ATAU KAMI TEMBAK!" teriak komandan penjaga gerbang dengan suara gemetar.
Li Hua tidak berhenti. Ia terus berjalan dengan tatapan mata yang kosong namun bercahaya emas tajam. Ingatannya tentang desa nelayan, tentang tawa anak-anaknya saat mengejar kucing, mulai memudar, digantikan oleh kekuatan kuno yang dingin dan tak terbatas.
"LEPASKAN!" perintah sang komandan.
WUSH! Ribuan anak panah melesat menutupi langit, mengincar tubuh ramping wanita itu. Rakyat yang mengintip dari balik jendela rumah mereka menjerit, mengira sang Permaisuri akan segera tercabik-cabik.
Namun, beberapa inci sebelum anak panah itu menyentuh kulit permaisuri Li Hua, waktu seolah melambat. Li Hua mengangkat tangannya sedikit, dan setiap anak panah itu berhenti di udara, membeku oleh tekanan energi emas. Dengan satu kibasan tangan, ribuan panah itu berbalik arah dan jatuh ke tanah menjadi abu.
"Aku tidak datang untuk membunuh kalian," suara Li Hua bergema, terdengar di setiap sudut kota, masuk ke dalam sanubari setiap rakyat. "Aku datang untuk mengambil kembali apa yang telah dicuri dari rakyatku."
Tuan Shen di atas menara berteriak murka, "PENYIHIR! Dia menggunakan sihir hitam! Hancurkan dia dengan meriam!"
Penyerbuan dari Kegelapan
Sementara perhatian seluruh pasukan terpusat pada Li Hua di gerbang depan, di bawah tanah kota, Tian Long tidak tinggal diam. Bersama Jenderal Kael dan Garda Bintang Merah, mereka bergerak seperti tikus tanah di dalam selokan rahasia.
"Sekarang!" perintah Tian Long.
BOOM! Lantai aula utama istana meledak. Tian Long melompat keluar dari bawah tanah dengan pedang Naga Hitam yang membara. Para prajurit dalam istana yang terkejut tidak sempat bersiap.
"UNTUK KAISAR! UNTUK KEADILAN!" teriak Jenderal Kael.
Pertempuran jarak dekat meletus di dalam istana. Tian Long bergerak seperti badai hitam, menebas setiap penghalang menuju ruang takhta. Namun, ia merasa perih di dadanya. Lewat ikatan jiwa mereka, ia bisa merasakan ingatan Li Hua mulai terhapus satu demi satu. Setiap tebasan pedang yang ia lakukan terasa seperti kehilangan satu kenangan manis bersama istrinya.
Duel di Ruang Takhta: Antara Darah dan Sihir
Tian Long mendobrak pintu emas ruang takhta. Di sana, Tuan Shen duduk dengan tenang di atas kursi kaisar, sementara kaisar boneka pingsan di sudut ruangan.
"Kau terlambat, Tian Long," ucap Shen. Ia mengangkat sebuah bola kristal hitam. "Istrimu telah menukar jiwanya demi kekuatan ini. Saat dia sampai di ruangan ini, dia tidak akan mengenalimu lagi. Dia akan menjadi senjataku untuk membunuhmu."
"Kau salah, Shen," geram Tian Long. "Cinta kami tidak tersimpan di ingatan, tapi di dalam darah dan jiwa!"
Shen melepaskan gelombang api hitam dari tangannya. Tian Long menangkisnya, namun kekuatan Shen jauh lebih besar karena ia menyerap energi dari penderitaan rakyat kota. Di saat Tian Long mulai terdesak, dinding ruang takhta hancur berkeping-keping.
Li Hua masuk. Aura emas di tubuhnya begitu kuat hingga lantai marmer di bawah kakinya retak.
"Li Hua! Ini aku!" teriak Tian Long.
Li Hua menatap Tian Long. Matanya emas murni, tanpa emosi. Ia mengangkat tongkat merahnya ke arah Tian Long. "Siapa kau... yang berani menghalangi jalanku menuju takhta?"
Ciuman di Tengah Badai
Tuan Shen tertawa terbahak-bahak. "Lihat! Dia sudah lupa! Bunuh dia, Permaisuriku! Bunuh pria yang mengaku suamimu ini!"
Li Hua melepaskan ledakan energi emas ke arah Tian Long. Tian Long tidak menghindar. Ia menjatuhkan pedangnya dan membiarkan energi itu menghantam bahunya hingga ia berdarah. Ia terus berjalan mendekati Li Hua meskipun tubuhnya terluka parah.
"Kau bisa melupakan namaku, kau bisa melupakan wajahku," ucap Tian Long dengan suara lembut di tengah gemuruh sihir. "Tapi ingatlah rasa ini."
Tian Long meraih wajah Li Hua dan mencium bibirnya dengan penuh keputusasaan dan cinta. Itu adalah ciuman yang membakar, sebuah upaya untuk mentransfer kembali sisa-sisa kenangan yang tersimpan di dalam hatinya ke dalam jiwa Li Hua yang kosong.
Seketika, cahaya emas di mata Li Hua bergetar. Bayangan tentang pondok kecil di desa nelayan, tangisan bayi mereka, dan hangatnya pelukan Tian Long berkelebat kembali seperti kilat.
"Tian... Long?" bisik Li Hua, air mata mulai mengalir di matanya yang kembali menghitam.
Li Hua berbalik dengan amarah yang murni ke arah Tuan Shen. "KAU... BERANI MENCURI KENANGANKU!"
Dengan satu teriakan yang menggetarkan seluruh istana, Li Hua menghantamkan tongkat merahnya ke lantai. Cahaya emas meledak, menghancurkan bola kristal hitam milik Shen dan melemparkan pria licik itu keluar dari jendela istana menuju jurang di bawah sana.
Kemenangan yang Pahit
Tuan Shen telah jatuh, aliansi tiga kerajaan kocar-kacir setelah melihat pemimpin mereka kalah. Rakyat bersorak di jalanan saat melihat bendera Naga kembali berkibar.
Namun, di dalam ruang takhta, Li Hua jatuh pingsan di pelukan Tian Long. Rambutnya kembali putih perak seluruhnya. Kekuatannya habis total.
"Tian Long..." bisik Li Hua dengan mata terpejam. "Aku mengingatmu... tapi aku tidak bisa merasakan kakiku lagi."
Tian Long memeluknya erat, menangis di bahu istrinya. "Tidak apa-apa, Li Hua. Takhta ini milikmu kembali. Kita sudah pulang."
Di luar, Mu Feng datang membawa Tian Shu dan Li Mei. Kedua balita itu berlari menuju orang tua mereka, tidak menyadari bahwa orang tua mereka baru saja menyelamatkan dunia dengan harga yang sangat mahal.