NovelToon NovelToon
Rembulan Tertusuk Ilalang

Rembulan Tertusuk Ilalang

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romantis / Cintapertama / Nikah Kontrak / Dendam Kesumat / Roh Supernatural
Popularitas:106
Nilai: 5
Nama Author: Cathleya

Rembulan Senja adalah anak yatim-piatu di sebuah panti di kota pesisir pantai. Hidupnya selalu diliputi kemalangan. Suatu hari, dirinya melihat mobil mewah terbalik dan mengeluarkan api, milik orang kaya dari kota.

Dibalik kaca, dia mengintip, tiga orang terjebak di dalamnya. Tanpa keraguan, tangan mungilnya membuka pintu yang tak bisa dibuka dari dalam. Akhirnya terbuka, salah satunya merangkak keluar dan menolong yang lainnya. Kedua orang kaya itu ternyata pemilik panti dimana dia tinggal. Lantas, dirinya dibawa ke kota, diadopsi dan disematkan nama marga keluarga angkat. Tumbuh bersama anggota keluarga, jatuh cinta dan menikah dengan salah satu pewaris. Malangnya, ada yang tak menyukai kehadirannya dan berusaha melenyapkannya!

Tiga tahun menghilang, kemudian muncul dan menuntut balas atas 'kematiannya'. Bangkit dan berjaya. Harus memilih antara cinta dan cita. Yang manakah pemenangnya!? Siapa jodoh yang diberikan Tuhan padanya? Akankah dia menjemput kebahagiaannya!?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cathleya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21. Kisah anak pemberani.

POV Jonathan Ambrosia (On).

Namaku adalah Jonathan Joseph Ambrosia (72 tahun) seorang Blijvers (asli keturunan Belanda, lahir dan besar di Indonesia) hingga menikah. Isteriku, Marina Fredericka Vandenburg (68 tahun), wanita cantik keturunan (Indo-Belanda).

Ayah Marina, Belanda tulen ( Jansen Frederick Vandenburg) dan Ibunya pribumi (Raden Ajeng Siti Arnasih Setyo Menggolo) puteri bungsu Sultan Jawa.

Keluarga kami berteman (sebelum mertua naik tahta) karena berdomisili di daerah dan sekolah yang sama, sama-sama pengusaha, bergerak di bidang yang sama yaitu sektor perkebunan (kayu jati, mebel, teh, kopi, palawija, rempah dan sebagainya) sektor pendidikan (pendiri sekolah swasta Pilar Bangsa) dan minyak bumi yang diekspor ke negeri Belanda dan negara eropa lainnya (tidak melalui VOC).

Ayahku Belanda asli (Herman Armano Ambrosia) dan ayah Marina (Raden Mas Haryo Menggolo), turut berjuang bersama rakyat Indonesia, tentunya keluargaku berada di belakang layar (penanggung dana) hal itu dilakukan agar tidak diketahui oleh petinggi Belanda. Kalau ketahuan pasti dirampas.

Ayah Marina, mengikuti agama yang dianut isterinya (ibu Marina) Menggolo begitu pun denganku mengikuti agama Marina karena ayah mertuaku hanya meminta mahar sederhana, uang 5 gulden (setara 5 juta rupiah pada saat ini) dan dua hafalan ayat Al-quran beserta artinya, surah ke 5 (An-Nisa), tentang pernikahan dan surah ke-3 (Ali Imran).

Cerdik sekali ayah mertuaku ini agar aku masuk agama yang dianutnya. Kata mertuaku, wanita muslim tidak boleh menikahi pria di luar agama yang dianutnya. Masuk akal juga. Mungkin orangtuaku pun begitu bila memiliki anak perawan. Kalau pria boleh. Kata mertuaku, termasuk siar agama dan tanpa paksaan.

Karena mertuaku memiliki tiga anak wanita maka tidak merestui kami sebelum satu keyakinan. Ayah mertuaku juga kakek Marina meminta agar aku pindah keyakinan murni dalam hatiku bukan karena wanita atau keterpaksaan.

Aku pun menyanggupi karena rasa cintaku yang begitu besar pada Marina, gadis bangsawan Jawa berparas bule. Istilah sekarang bucin (budak cinta). Ha ha ha ha ada-ada saja istilah anak zaman now (versi cucuku). Aku sempat bingung juga dengan keinginan mereka. Tidak merestui karena beda agama. Setelah satu keyakinan pun belum juga diizinkan menikahinya!

Akhirnya aku mempelajari keyakinan calon isteriku selama 2 tahun dan 1 tahun setelah memiliki keyakinan (bukan karena pernikahan), aku pergi ke Saudi Arabia selama 2 tahun lamanya dengan catatan jangan menikahkan pujaan hatiku dengan siapapun! Mereka setuju dan menepati janji. Sepulang 'mondok' di Arab Saudi kami pun menikah.

Akhirnya, aku bisa bersanding dengan bidadari surgaku setelah perjalanan spiritualku selama 5 tahun. Dari pernikahan tersebut, kami memiliki 4 orang anak (tiga anak wanita dan satu putera). Jarak antara anak pertama dengan putera bungsu terpaut jauh, beda 20 tahun. Aku sangat menginginkan anak laki-laki maka isteriku kembali mengandung di usia 40 tahun dan Tuhan mengabulkan permohonanku, memiliki seorang putera!

Kami menamainya Reynand Armano Ambrosia. Nama tengahnya diambil dari nama tengah ayahku Herman Armano Ambrosia karena nama marga kami, Ambrosia (Ambrosius/dekat dengan Ilahi) adalah nama Belanda. Walau begitu, kami tidak membedakan satu dengan lainnya semua dibagi rata, baik kasih sayang dan cinta juga harta benda. Memang kami akui, perhatian terhadap si bungsu agak berlebih sebab ketiga kakaknya sudah menikah.

Saat itu, tahun 2009, hari masih pagi dan udara cerah. Aku dan isteriku tercinta Marina, pergi ke arah timur menuju kota hujan dan kota di tepi pesisir pantai, Sukabumi kota, untuk meninjau renovasi panti asuhan.

Sebenarnya ada banyak panti yang kami dirikan di beberapa kota di setiap provinsi yang ada di negeri ini sebagai amanat dari mertua dan ayahku. Dan panti asuhan ini adalah yang keenam setelah di Jakarta dan Bogor. Selanjutnya Sukabumi lalu Bandung keesokan harinya dengan kereta cepat.

Kami tiba di Sukabumi pukul 15:30 WIB. Setelah cukup lama berada di panti yang berada di Sukabumi dan meninjau bangunan dalam progres pembangunan kami hendak undur diri. Panti ini sekarang dipimpin oleh Wati Supriati, sepupu dari pengasuh lama.

Ibu Ratna Sumirat meninggal karena sakit, menyusul suaminya yang terlebih dahulu berpulang ke Rahmatullah.

Sebelum pulang, aku pun tak lupa memberikan sepeda, bingkisan (berupa perlengkapan sekolah), banyak yang dibutuhkan anak sekolah juga perlengkapan bayi (susu, popok, bedak, kasur baru) dan mencukupinya untuk 6 bulan dan akan datang lagi 6 bulan berikutnya.

Kami keluar panti pukul 19:17 WIB seusai menunaikan sholat Isya. Suasana memang cukup sepi dan lengang serta minim pencahayaan pada saat itu. Baru saja kami berjalan 15 menit di jalan yang menurun dan menukik tajam, tiba-tiba seorang anak balita melesat ke tengah jalan.

Saat itu kendaraan melesat cukup cepat karena dirasa sepi dan ingin segera tiba di mansion tidak terlalu malam. Sopir kami bernama Yudistira, 37 tahun, terkesiap kaget dan membanting stir ke sebelah kanan. Ku dengar Marina menjerit dari jok belakang.

Karena mengerem mendadak, akibatnya, mobil terguling empat kali hingga berhenti di pinggir jalan. Tak ada seorang penduduk karena di kanan kiri sawah. Asap tipis sudah masuk ke dalam kabin dan kaca tak bisa diturunkan karena mengalami gangguan di fungsi elektrik.

Kulihat, api menyala dari kap mesin. Marina di jok belakang, hanya bisa mengerang kesakitan. Terdapat luka di keningnya, paling parah adalah sopirku yang pingsan dengan luka serius di kepala. Aku pun terbentur tapi tak separah sopir di sebelahku. Dalam keadaan yang chaos, aku sudah pasrah bila takdir kami sampai disini. Aku terus berdoa ada yang menemukan.

Tiba-tiba, sayup-sayup merasakan getaran pada kaca mobil rupanya diketuk seseorang. Kulihat ada seorang gadis kecil menggedor kaca mobil berulang kali. Aju tersenyum kearahnya. Sepertinya doaku terkabul. Dan aku berkata pelan.

"Nak! Menjauhlah dari sini. Mobil ini akan meledak. Nanti kamu terpercik api. Kamu harus tetap hidup masa depanmu masih panjang. Orangtuamu akan sedih kehilanganmu, kataku.

Entahlah. Apa dia mendengar suaraku. Rasanya mustahil sebab mobil ini keluaran mutakhir.

Kedap suara.

Tak lama, gadis itu terdiam. Dan memanjatkan doa. Cukup lama. Mungkin dia mendoakan agar kematian kami indah dan tak menyakitkan. Aku terkesan akan sikap dan ketulusannya. Sekecil itu sudah berempati pada kesusahan dan penderitaan orang lain. Berani dan sabar.

Sementara itu, api mulai membesar melahap kap mobil. Aku pun terdiam karena pusing menyerang kepala (mobil terbalik). Tapi mataku tak lepas mengikuti gerak-geriknya.

Setelah berdoa, kulihat dia berusaha membuka pintu mobil yang macet. Pasti sia-sia. Jangankan tangan mungil berusaha membuka pintu, belum tentu orang dewasa berhasil.

Dia terus mengucek tuas pintu. Aku pun tersenyum kembali melihat kegigihannya. Aku pun menggelengkan kepalaku yang lemah agar dirinya menghentikan usahanya dan berlalu. Tapi dia terus berusaha pantang menyerah. Aku pun tersenyum kembali.

Sia-sia!" kataku.

Dan mulutnya terus bergerak dan bisa ku baca karena aku pun bisa fonetik (ilmu membaca gerakan bibir).

"Dia berkata, sabar pak! Aku sedang berusaha!"

Kemudian dia mengangkat tangan dan berdoa kembali. Entah lafal doa apa yang dia ucapkan. Kemudian dia mengusap wajahnya sekali lagi. Aku pun terpejam.

Trekkk!

Pintu pun terbuka! Aku pun membuka mata!

Tangan kecil itu berusaha membuka lebar daun pintu. Aku terbelalak kaget. Tak bisa berkata-kata. Tanpa menyia-nyiakan waktu, ku buka seatbelt. Gadis kecil itu berusaha menarikku. Aku mengikuti gerakannya dan berhasil merangkak keluar.

Terdengar bunyi letupan kecil dari kap mobil. Api sudah menjalar ke tengah (dekat tangki bensin). Posisiku sudah di luar kabin berkat gadis itu yang menarik tubuhku keluar dengan susah payah.

Aku segera menuju jok tengah dimana Marina berada tepat di belakangku. Aku berusaha membuka pintu tapi tak kunjung terbuka. Dia mencolekku untuk bergeser.

Aku pun bergerak mundur dan memberi tempat untuknya. Dia berdoa di depan pintu. Kemudian membuka pintu dengan sekali hentakan.

Trekkk!

Ajaib!

Pintu terbuka!

Aku pun segera membuka lebar pintu dan menarik Marina keluar (dalam keadaan pingsan) dan menempatkan agak jauh. Lalu aku berlari ke pintu kemudi. Sebelumnya aku pun berdoa, seperti gadis itu dan menarik tuas pintu sekuat tenaga.

Trekkk!

Pintu terbuka!

Tanpa membuang kesempatan, ku tarik supirku dan membawanya menjauh mendekati Marina.

Tak lama ...

Duarrr!!!

Mobil meledak dan api melahap habis mobil tersebut hingga menyisakan bangkai mobil yang gosong dan tak berbentuk.

Aku bersujud syukur karena masih diberi nafas. Kemudian menangis. Gadis kecil pemberani itu memelukku dari samping dan menepuk pundakku. Dan berkata.

"Alhamdulillah! Bapak dan ibu selamat!" ucapnya tulus.

Aku pun membalas memeluknya dengan erat. Sebagai tanda terima kasih.

"Bapak berhutang nyawa padamu, nak. Siapa namamu? Biarkan aku mengantarmu ke rumahmu. Pasti orangtuamu sedang menunggumu dengan cemas!" ucapku.

Gadis kecil itu hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaanku. Dia pun tahu kami tak bisa pulang ke rumah. Tangan mungilnya menari tanganku kami untuk menginap di rumahnya. Aku pun mengangguk.

Dengan tenaga yang tersisa, aku menarik dan membaringkan isteri dan sopirku di pematang sawah agar tak menghalangi jalan atau terlindas kendaraan yang lewat. Memang suasana masih sepi. Bahkan setelah berlalu dua jam, tak ada satu kendaraan yang lewat baik motor maupun mobil.

Anak itu bercerita di sepanjang jalan menuju rumahnya, kalau tempat itu jarang dilewati kendaraan. Kalaupun ada, jarang sekali. Nisa dihitung jari. Kami melalui jalan pintas dan sampai di rumahnya.

Aku terkejut. Rupanya rumahnya adalah panti milik kami, yang tadi kami kunjungi dan anak ini absen ketika ku panggil namanya!

Namanya Rembulan Senja. Lahir di bulan Juni tanggal 23, tahun 2002, hari Senin saat bulan muncul di senja hari (tanggal dia dibuang ke panti dan bertemu ibu peri). Begitulah dia mengisahkan tentang kelahiran dirinya. Aku pun terenyuh dan jatuh sayang dengan gadis kecil nan pemberani ini.

Ternyata jam itu, dia baru pulang mengaji dari mesjid (jauh dari panti) sekalian sholat Isya. Pengurus panti menyambutku dan ku ceritakan yang terjadi. Mereka pun kaget dan beramai-ramai menjemput isteri dan sopirku yang ku tinggalkan di pematang sawah.

Dengan mobil bak milik tetangga, kami menjemput isteri dan supirku, lalu menuju rumah sakit agar keduanya mendapatkan pertolongan. Aku menghubungi anak-anakku (kecuali si bungsu yang berada di luar negeri).

Malam itu, semuanya datang. Isteri dan sopirku sudah siuman keesokan harinya. Marina bertemu dengan Rembulan Senja, dewi penolong kami.

Setelah seminggu di rumah sakit daerah, kami pun diperbolehkan pulang. Tibalah kami di panti dan berkeinginan mengadopsi Rembulan Senja. Pengurus panti melepaskannya untuk ikut kami ke Ibukota.

Tibalah waktu pergi semua anak melambaikan tangannya melepaskan temannya. Karena terbentur usia, maka kami memasukannya ke dalam Kartu Keluarga puteri sulungku, Ellena Carletha Ambrosia dan Damian Orion. Dan namanya berganti menjadi Rembulan Senja Orion Ambrosia.

Itulah cerita tentang kami dan perjumpaan dengan anak kecil pemberani bernama Rembulan Senja.

Pov off.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!