Andrew selalu percaya bahwa hidup adalah tentang tanggung jawab.
Sebagai pewaris perusahaan keluarga, ia memilih diam, bersifat logis, dan selalu mengalah,bahkan pada perasaannya sendiri.
sedangkan adiknya, Ares adalah kebalikannya.
Ares hidup lebih Bebas, bersinar, dan hidup di bawah sorotan dunia hiburan. Ia bisa mencintai dengan mudah, tertawa tanpa beban, dan memiliki seorang kekasih yang sempurna.
Sempurna… sampai Andrew menyadari satu hal yang tak seharusnya ia rasakan:
ia jatuh cinta pada wanita yang dicintai adiknya sendiri.
Di antara ikatan darah, loyalitas, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Andrew terjebak dalam pilihan paling kejam,
apa Andrew harus mengorbankan dirinya,
atau menghancurkan segalanya.
Ketika cinta datang di waktu yang salah,
siapa yang harus melepaskan lebih dulu?
Novel ini adalah lanjutan dari Novel berjudul "Istri simpananku, canduku" happy reading...semoga kalian menyukainya ✨️🫰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fauzi rema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Suasana hangat di meja makan perlahan berubah menjadi sunyi yang tenang. Elena, yang sejak tadi berusaha mempertahankan keceriaannya, akhirnya menyerah pada rasa lelah yang menghantam. Kepalanya perlahan terkulai ke samping, mendarat di sandaran kursi kayu yang keras sebelum akhirnya hampir merosot.
"Lho, Elena?" Mommy Revana terkesiap kecil.
Andrew, yang duduk paling dekat, dengan refleks yang tak ia duga sendiri, mengulurkan tangannya menahan kening Elena agar tidak terbentur meja. Gadis itu sudah terlelap sepenuhnya. Napasnya teratur, dan wajahnya yang biasanya penuh ekspresi kini terlihat sangat damai, meski gurat kelelahan tidak bisa disembunyikan.
Ares segera mengeluarkan ponselnya, mencoba menghubungi asisten pribadi Elena berkali-kali. "Asisten El nggak angkat telepon aku, Mom. Mungkin sudah tidur juga atau ponselnya mati. Aku juga beneran udah mau tepar nih, mata aku juga udah lima watt," keluh Ares sambil mengucek matanya.
"Andrew, kamu antar Elena pulang ya? Kasihan dia," pinta Papi Adrian.
Andrew mengerutkan kening, menatap gadis yang masih bersandar di tangannya itu. "Suruh Pak Dadang saja, Pi. Aku masih ada beberapa berkas yang harus dibaca di kamar."
"Jangan begitu dong, Ndrew," sahut Mommy Revana dengan nada tegas namun penuh kasih sayang. "Nggak sopan membiarkan tamu wanita pulang dalam keadaan tidur hanya ditemani sopir. Bagaimana kalau dia jatuh dari kursi atau terjadi sesuatu di jalan? Kamu harus ikut menjaga di sampingnya. Pastikan dia sampai di dalam rumahnya dengan aman."
Andrew menghela napas panjang, tipe helaan napas yang menunjukkan bahwa ia tidak punya kekuatan untuk membantah perintah ibunya. "Baiklah. Tolong bantu dia ke mobil."
Dengan bantuan Ares dan seorang pelayan rumah, Elena dipapah masuk ke kursi penumpang depan mobil Andrew. Andrew sengaja menurunkan sandaran kursi Elena agar gadis itu bisa tidur lebih nyaman.
Selama perjalanan menembus jalanan Jakarta yang mulai lengang, Andrew hanya terdiam. Suasana di dalam mobil biasanya hanya diisi oleh suara musik kesukaannya dari radio, kali ini ia mematikan semuanya. Hanya ada suara mesin mobil yang halus dan deru napas teratur Elena.
Andrew sesekali melirik ke samping setiap kali mobilnya melewati lampu jalan. Cahaya lampu yang masuk ke dalam kabin menyinari wajah Elena secara bergantian. Rambut hitam legamnya sedikit berantakan, dan kain sapu tangan biru navy itu masih terikat manis di sana, meski kini posisinya sudah agak miring.
"Dasar gadis aneh," gumam Andrew sangat pelan. "Bisa-bisanya kamu tidur senyenyak ini di mobil orang yang baru saja kamu panggil 'Mas Kanebo'."
Tiba-tiba, mobil melewati sebuah gundukan kecil. Tubuh Elena sedikit terguncang, dan kepalanya terkulai ke arah bahu Andrew. Andrew membeku. Ia merasa otot-ototnya menegang melebihi saat ia menghadapi audit eksternal. Aroma sakura yang lembut dari rambut Elena kini menyerang indra penciumannya dengan jarak yang sangat dekat.
Andrew ingin memindahkan kepala Elena kembali ke sandaran kursi, namun saat ia melihat wajah lelah itu dari dekat, tangannya terhenti di udara. Ia membiarkannya. Untuk pertama kalinya, Andrew merelakan bahunya menjadi bantal bagi seseorang yang biasanya ia anggap sebagai "gangguan".
Setelah tiga puluh menit perjalanan, mereka sampai di lobi apartemen mewah tempat Elena tinggal. Andrew mencoba membangunkan Elena dengan suara lembut.
"Elena... bangun. Kita sudah sampai," ucap Andrew sambil menepuk bahu gadis itu pelan.
Elena melenguh, matanya mengerjap perlahan. Ia tampak linglung, menatap sekeliling sebelum menyadari bahwa ia berada di dalam mobil Andrew dan kepalanya baru saja bersandar di bahu pria itu.
"Eh... Mas Kanebo?" suara Elena serak khas orang bangun tidur, terdengar jauh lebih lembut dan tidak "berisik" seperti biasanya. "Lho, kok Mas yang nyetir? Ares mana?"
"Ares sudah tidur di rumah. Mommy memaksa aku mengantarmu karena kamu tidur seperti orang mati di meja makan," jawab Andrew, kembali ke mode dinginnya meski hatinya sedikit berdesir saat Elena menatapnya dengan mata sayu.
Elena tertawa kecil, ia merapikan rambutnya dan menyadari pita birunya masih ada di sana. "Maaf ya, Mas. Aku beneran drop banget hari ini. Makasih ya udah mau jadi sopir dadakan buat artis cantik kayak aku. Pasti mahal ya tarifnya?"
"Jangan mulai lagi, Elena. Cepat turun dan istirahatlah," perintah Andrew.
Elena membuka pintu mobil, namun sebelum turun, ia berbalik dan menatap Andrew dengan senyum tipis yang tulus. "Mas... makasih buat bahunya ya. Aku sadar kok tadi kepalaku nyender di sana. Ternyata bahu Mas nyaman juga, nggak sekaku mukanya."
Sebelum Andrew sempat membalas, Elena sudah turun dan melambaikan tangan ceria ke arahnya dari lobi. Andrew hanya bisa menatap punggung gadis itu sampai menghilang di balik pintu kaca, Ia menyentuh bahu jasnya yang tadi menjadi tumpuan kepala Elena, lalu tanpa sadar, ia tersenyum. Sebuah senyuman kecil, tulus, dan sangat langka.
"Tantangan Ares sepertinya mulai berbahaya," bisik Andrew pada dirinya sendiri sebelum memutar balik mobilnya menuju rumah.
----
Pagi harinya, Andrew terbangun dengan perasaan yang sedikit aneh. Sisi tempat tidurnya yang biasanya rapi kini terasa berbeda sejak ia mengantar Elena semalam. Baru saja ia selesai mengenakan jam tangannya, ponselnya berdenting.
Sebuah pesan dari nomor "Si Berisik" (nama yang baru saja ia simpan secara diam-diam) muncul di layar.
📲Elena: "Pagi Mas Kanebo! ☀️ Gimana tidurnya? Nyenyak nggak setelah menjadi sandaran gratis semalem? Bahunya pegel nggak? Kalau iya, bilang ya, mau aku kirimin tukang pijat langgananku atau mau aku pijetin sendiri lewat video call? Hehe. Makasih ya buat semalem, Mas Andrew yang baik hati tapi sombong!"
Andrew menatap pesan itu sambil menahan sudut bibirnya agar tidak terangkat. Ia mengetik balasan dengan ekspresi sedatar mungkin.
📲Andrew: "Bahaya kalau kamu yang memijat, bisa-bisa bahu saya lepas karena kamu kebanyakan bicara. Cepat berangkat ke lokasi, jangan sampai Ares menunggu."
📲Elena: "Cieee, perhatian banget nyuruh berangkat! Siap, Bos! Jangan kangen ya sama aku! 😜"
Andrew menggelengkan kepala, meletakkan ponselnya ke dalam saku jas, dan melangkah turun untuk sarapan. Namun, ia tidak tahu bahwa "medan perang" sesungguhnya sudah menunggunya di bawah.
Begitu Andrew sampai di ruang makan, suasana mendadak hening. Papi Adrian sedang asyik dengan kopinya, Mommy Revana tersenyum lebar sambil menata roti, dan Ares... Ares duduk dengan dagu bertumpu pada kedua tangan, menatap Andrew dengan tatapan menyelidik yang sangat menyebalkan.
"Selamat pagi, Sopir Pribadi Elena Valeska," sapa Ares dengan nada yang dibuat-buat manis.
Andrew menarik kursi dan duduk dengan tenang. "Selamat pagi. Jangan mulai, Ares."
"Gimana semalam, Ndrew?" Mommy Revana bertanya sambil memberikan piring berisi omelet. "Elena sampai di rumah dengan aman kan? Kasihan dia, sepertinya kelelahan sekali sampai pulas begitu tidur di bahumu."
Andrew hampir tersedak air putihnya. "Dia... dia tidur di sandaran kursi, Mom. Bukan di bahu aku."
"Bohong lo Kak!" potong Ares cepat. "Tadi Alena telepon gue, katanya dia kelelahan, sampai tidur nyenyak, kepalanya nggak sadar mendarat mulus di bahu lo. Dan yang paling ajaib... Katanya lo nggak mindahin kepalanya!"
Papi Adrian terkekeh, melirik Andrew dari balik korannya. "Oh ya? Wah, rekor baru. Biasanya kalau ada lalat nempel di jas kamu saja, kamu sudah panggil dry cleaning. Ini ada kepala aktris cantik, kamu biarkan?"
"Itu karena aku lagi nyetir, Pi. Bahaya kalau aku bergerak sembarangan," bantah Andrew membela diri, meski telinganya mulai memerah.
"Halah, alasan klasik!" Ares semakin bersemangat. "Tadi El juga cerita kalau lo udah mulai luluh, nggak kaku kayak kanebo kering."
"Ares, berhenti ngomong yang nggak jelas begitu," seru Andrew, suaranya mulai naik satu oktaf.
"Bukan nggak jelas kalau ada faktanya, Kak," ledek Ares lagi. "Mommy tahu nggak, Mom? Kak Andrew semalem pas turun dari mobil itu mukanya nggak ketekuk kayak biasanya. Kayak ada aura-aura habis dapet pencerahan gitu."
Mommy Revana mengusap lengan Andrew dengan lembut. "Andrew, Mommy senang kalau kamu mulai bisa terbuka. Elena itu gadis yang baik, dia tulus. Nggak ada salahnya kalau kamu memang merasa nyaman."
"Mom, aku hanya mengantar tamu yang kelelahan. Tidak lebih," Andrew berdiri, meraih tas kerjanya dengan cepat. "Aku mau berangkat ke kantor sekarang. Ada rapat pagi."
Saat Andrew melangkah menuju pintu, Ares berteriak dengan kencang, "Jangan lupa cek bahu kanan lo, Kak! Siapa tahu ada bekas air liur Elena yang tertinggal !"
Andrew mempercepat langkahnya, mengabaikan ledekan Ares, namun di dalam mobil, hal pertama yang ia lakukan adalah bercermin dan memeriksa bahu jasnya. Saat ia tidak menemukan apa-apa, ia justru merasa ada sedikit kekecewaan yang aneh menyelinap di hatinya.
Ia kembali teringat pesan Elena tadi pagi. Pijat sendiri lewat video call? "Gadis gila," gumam Andrew, tapi kali ini ia benar-benar tersenyum, sebuah senyuman yang jika dilihat Ares, mungkin akan membuat adiknya itu syukuran tujuh hari tujuh malam.
...🌼...
...🌼...
...🌼...
...Bersambung......