NovelToon NovelToon
Apa Yang Terjadi Padaku, Kim?

Apa Yang Terjadi Padaku, Kim?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Mantan / Romansa / Cinta Murni
Popularitas:41
Nilai: 5
Nama Author: Chndrlv

Mereka bersama hanya sebentar, namun ingatan tentang sang mantan selalu memenuhi pikirannya, bahkan sosok mantan mampu menembus alam mimpi dengan membawa kenangan-kenangan manis ketika masa-masa sekolah dan saat mereka menjalin kasih.
Pie meneruskan hidupnya dengan teror mimpi dari sang kekasih. Apakah Pie masih mencintai sang mantan? Atau hati Pie memang hanya terpaku pada Kim?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Adik Lainnya

Sudah seperti kebiasaan, setiap mereka bertemu selalu ada kegiatan mengecek ponsel pasangan.

Sembari kepalanya bersandar di bahu Oto, Pie menggulir layar ponsel milik pacarnya. Ia berharap tak menemukan yang ditakutinya.

"Dik, gimana kalau kita tukeran ponsel?"

Pie terkejut mendengar ucapan Oto. Ia merasa keberatan karena ponselnya adalah hadiah saat kenaikan kelas dua SMA dari kakaknya, ia sangat menyayangi benda tersebut, dan tak rela jika dipegang oleh Oto yang notabene bekerja di lapangan.

"Kenapa?"

"Sepertinya seru."

"Tidak mau."

"Kenapa, dik? Apa karena ponsel mas jelek?"

"Bukan. Aku takut ponselku rusak. Aku tahu masa pakai ponsel ketika di tangan laki-laki. Tidak semua tapi rata-rata cepat rusak, lecet. Aku sayang."

"Masa sih? Apa adik takut kalau ada cowok yang hubungi tapi Mas yang nerima?" Oto tersenyum kecil ia menatap body ponsel milik Pie yang masih mulus padahal sudah bertahun-tahun.

"Kalau itu, silakan cek dengan teliti. Di sana hanya ada nomor teman sekolah. Aku tidak macam-macam, Mas. Menginap saja biar tahu ada yang menghubungiku atau tidak."

"Duh, dik. Mas hanya bercanda, jangan marah. Mas percaya adik setia." Oto mengusap pipi Pie, kekasihnya itu terlihat cemberut.

Pie hanya diam enggan menjawab lagi.

Lagi, Pie mengantar kepergian Oto yang harus bekerja di luar kota. Mereka akan bertemu kembali beberapa minggu lagi.

"Pie, boleh aku meneleponmu?" Pesan dari teman lama sejak sekolah masuk menyapa Pie yang sedang asyik scroll facebook.

"Kenapa? Pesan saja. Aku malas mengobrol."

"Kau diam saja, aku yang berbicara."

"Kalau begitu kirim pesan suara saja."

"Aku ingin mendengar suaramu."

"Itu mengharuskan aku bicara dan aku sedang malas."

"Ish, kau sedang period?"

"Kenapa bertanya itu?"

"Kupikir cewek akan sangat malas jika sedang kedatangan tamu."

"Kau harus banyak membaca tentang perempuan lagi, Zou. Hahaha."

"Sial. Aku salah?"

"Tidak tapi iya."

"Apa-apaan itu?"

"Hahaha."

Pie ingin makan sesuatu ketika sudah malam. Dirinya tak bisa tertidur, ia akan membuat camilan gurih dengan bahan yang ada di kulkas.

"Maaf, Mas baru selesai bekerja. Baru sampai di mess. Adik, sudah tidur?"

Pie yang sibuk di dapur tak mengetahui ada pesan dan satu panggilan tak terjawab dari Oto.

Sekitar satu jam berkutat di dapur, akhirnya Pie bisa mencicipi atau lebih tepatnya menghabiskan camilan yang ia buat. Perut kenyang mata pun langsung mengantuk. Ia bergegas membereskan semua bekas memasaknya lalu kembali ke kamar setelah menggosok gigi.

"Tidak. Belum tidur." Pie membalas pesan Oto setelah membereskan tempat tidur.

"Kenapa belum tidur? Adik sedang apa? Kenapa baru balas?"

"Makan."

"Mas boleh menelepon?"

"Jangan, sudah malam."

"Kenapa adik selalu menolak jika menelepon malam?"

"Suaraku berubah serak ketika malam."

"Kenapa begitu?"

"Entahlah."

"Lalu, adik tidak bisa bicara jika serak?"

"Bisa, tapi dengan sedikit usaha."

"Adik, bosan ya?"

"Bosan?"

"Iya, bosan sama Mas."

"Tidak. Kenapa?"

"Ingat tidak? Waktu pertama kita bertukar nomor, kita mengobrol sampai pagi."

"Itu Mas yang berpidato, aku hanya mendengarkan."

"Nah, ayo begitu lagi. Mas punya banyak cerita."

"Aku mengantuk. Lain kali saja, Mas."

"Oke. Selamat tidur, adik sayang."

"Bye, Mas."

"Bye, sayang."

Pie ingin mencari nomor Kim kepada teman-teman SMP tapi ia terlalu gengsi. Pie tidak mau jika teman-temannya akan mengira bahwa Pie belum move on. Namun, semakin ditahan ia semakin gelisah. Hampir tiap minggu ia bermimpi Kim dengan mimpi yang mirip-mirip.

Bulan berganti tahun, Pie lelah menunggu kepastian hubungannya dengan Oto. Sejak bersama Tama, ia menjalani hubungan dengan serius karena ingin segera menikah. Dan pria itu dengan tega menipunya, memberi janji-janji manis sampai Pie terbuai dengan waktu yang terbuang sia-sia.

"Mas, kapan mau lamar aku?"

"Sabar, dik."

Pie mengerucutkan bibirnya. Ia sudah berapa kali meminta Oto segera melamarnya. Hanya melamar, bukan segera melangsungkan akad, agar hubungannya terasa jelas akan ke arah mana.

"Sampai kapan sabar? Ini mau satu tahun. Mas ingat kan aku cuma kasih waktu 1 tahun?"

"Iya, dik. Tapi gimana mas belum ada modal."

"Mas, lamar dulu. Nanti mikir akadnya, yang penting status kita jelas."

"Iya, nanti dik."

Jawaban Oto yang hanya mengiyakan membuat Pie kembali diam. Ia lelah menunggu dan terus didesak oleh orang tuanya.

Bulan berikutnya, Oto menemui Pie. Ia baru saja datang dan sedang berbincang dengan ayah Pie. Sedangkan gadis itu sedang bermain game cacing di ponsel Oto. Tiba-tiba ia ingin mengirimkan sebuah foto di ponsel Oto ke ponsel dirinya, ia keluar dari game dan masuk ke pesan. Di sana berderet pesan dari rekan kerja Oto, Pie sudah hafal semua percakapan itu, lalu ia menggulir layar ke bawah untuk mencari nomornya.

Matanya menangkap nomor asing tanpa disimpan yang mengirimkan pesan. Ia membuka pesan tersebut, terlihat baru semalam terjadi percakapan.

"Malam ini kau singgah ke tempatku?"

"Lihat nanti, aku masih bekerja."

"Kutunggu, serviceku akan memuaskanmu."

"Hahaha, Temanku menyukaimu, Rin. Dia saja yang kau layani."

"Tidak. Aku ingin kau. Haha."

Pesan terakhir hanya dibaca tanpa dibalas oleh Oto. Perasaan Pie campur aduk, tangannya gemetar. Ia menatap Oto yang masih berbincang ringan dengan ayahnya.

Saat fokus Ayah teralihkan pada panggilan Mama, Pie mencolek Oto, pria itu menoleh ke arah Pie.

"Apa, Dik?"

Pie menyodorkan ponsel Oto yang masih menampilkan percakapan nomor asing.

"Ini siapa?"

Oto diam sejenak, ia menatap Pie.

"Adikku." Oto kembali berbicara dengan Ayah.

Pie diam menatap Ponsel Oto. Di kepalanya banyak pertanyaan namun mulutnya sulit berucap.

Setelah Oto pulang, pikirannya masih bergelut dengan isi pesan tadi.

Ia mengirimkan pesan pada Oto.

"Itu adikmu yang mana?"

"Adikku."

"Berani kau berbohong di depan orang tuaku?"

"Maaf. Mas tak ingin bertengkar ketika kita bertemu, Dik."

"Siapa dia?"

"Psk."

Pie syok dengan balasan Oto yang terkesan tak memiliki hati.

"Tapi Mas hanya mampir untuk minum, bukan jasanya. Itu hanya sekali."

"Dan kalian bertukar nomor telepon?"

"Dia meminta."

"Lalu kau memberi begitu saja?"

"Teman mas menyukainya, sayang."

"Kenapa tidak temanmu saja yang bertukar nomor telepon?"

"Apapun alasannya, Mas sudah berbohong. Terlebih di depan orang tuaku!"

"Maaf, sayang. Mas tidak bermaksud begitu."

"Sayang? Mas sudah hapus nomornya. Maaf."

Hubungan mereka sudah menginjak satu tahun lima bulan. Mama mendesak Pie untuk meminta dilamar oleh Oto. Ayah tak suka putrinya terlalu lama berpacaran, itu membuat nama mereka jelek.

Sudah satu bulan Oto belum menemui Pie, pria itu beralasan pekerjaannya sedang padat hingga tak bisa ditinggalkan.

"Ma, aku ingin putus."

Mama berhenti menyendok makanan yang akan ia suapkan ke mulut Pie. Saat ini Pie sedang sakit, putrinya sudah dua hari tak berdaya di atas tempat tidur. Wajah yang biasanya ceria kini terlihat pucat tak bersemangat.

"Ada apa?"

"Aku sudah lelah menunggu. Rasanya tak berujung."

Kedua mata Pie berkaca-kaca.

"Sudah yakin?"

"Iya, Mama. Aku sudah pikirkan sejak lama."

"Ya sudah, Mama hanya mendukung apapun keputusanmu selagi itu baik untukmu, Pie." Mama mengelus kepala Pie dengan lembut. Terlihat air mata yang menetes pada pipi putrinya. Mama tahu, putrinya berat namun juga sudah lelah untuk menunggu.

"Nanti Mama bantu bicara pada ayah."

Pie menggeleng.

"Biar dia yang bicara langsung. Pie akan memanggilnya kemari."

"Untuk apa?"

"Untuk mengambil ATMnya yang dititipkan pada pie, Mama."

"Kenapa ATMnya ada padamu?"

"Dia ingin menabung untuk menikahiku."

"Dia ada usaha, kenapa kau melepasnya?"

"Lelah. Aku meminta untuk dilamar dulu dia tak mau."

Mama menghela napasnya, tangan yang sedikit keriput itu mengusap air mata Pie dengan lembut.

"Ya sudah. Minum obat lalu istirahat lagi. Jangan berpikir yang berat." Mama keluar membawa piring dan menutup pintu.

Pie terisak pelan, ia mengasihani dirinya yang selalu berharap pada lelaki. Begitu lemah hatinya pada cinta.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!